ISTRI RAHASIA

ISTRI RAHASIA
Istri Rahasia Bab 26


__ADS_3

"Sasan, duduk sini!" Abay berdiri dan dia menggapai pada Sasan.


Perasaan di dalam hati Sasan bergejolak melihat Abay yang tampak sehat, bersih dan terlihat kaya. Jauh berbeda saat mereka masih bersama-sama tinggal di kampung kelahiran yang terpencil dan dikelilingi hutan.


Dalam hati Sasan timbul kemarahan, karena Abay telah membunuh Endah, Entis dan Idang. Walau memang bukan tangan Abay yang melakukan pekerjaan terkutuk itu, tetapi jin ular yang berbuat. Hanya saja menurut Ipoy, Abay yang menyuruh jin ular mengambil jiwa ketiga orang sekampung, yang mana salah satunya wanita yang melahirkan anaknya.


Tetapi di sisi lain, hati Sasan menyuruh bersabar. Karena hanya Abay yang tahu di mana keberadaan Dina. Dia harus mencari tahu dulu hidup dan matinya Dina, baru bisa mengambil keputusan.


Jika Dina masih hidup, Sasan akan mengikuti saran Ipoy yang diingatnya sampai mati. Jika kebalikannya, dia akan beradu jiwa dengan Abay.


Karena Sasan berdiri melamun, Abay bergegas mendatangi dan menarik tangan Sasan untuk duduk semeja dengannya.


Siang ini, Abay belum ada lawan bicara. Jadi pertemuannya dengan Sasan yang tak diduga-duga ini membuatnya senang bukan kepalang. Ada seseorang yang berasal dari satu kampung yang sama dengannya.


Abay dan Sasan duduk saling berhadapan. Untuk sesaat tak ada kata-kata terucap, tetapi ada senyum Abay yang dibalas wajah tegang Sasan.


"San, apa kabarmu?" Abay memulai bicara.


"Tak sebaik dirimu yang terlihat kaya di mataku," jawab Sasan menyindir.


"Hahaha, aku tidak kaya. Tetapi aku akui, kehidupan di kota membuat hidupku jauh lebih baik daripada di tempat yang dulu!" Abay masih belum merasakan keketusan Sasan, karena dia terlampau senang bisa melihat orang sekampung dengannya.


Sasan mau membalas ucapan Abay, tetapi keburu datang pesanan kopi dan mienya.


"Eh, kok nggak pakai telur? Ijon, bikin yang baru!" Abay menatap Ijon, pemuda tanggung.


"Tapi Kang Abay, pesanannya tadi mie tanpa telur!" bantah Ijon.


"Aku yang bayar!" Mata Abay bersorot tajam.


"Tak perlu, Bay! Aku cukup dengan makan ini aja," tolak Sasan.


"Tak bisa! Kamu tadi kan bilang aku terlihat kaya di matamu. Kalau aku tak berikan bukti, nanti mulutmu akan berubah kata, terlihat saja kaya eh kantong kempes. Hahaha!" Abay tertawa terbahak-bahak.


"Jadi ganti apa tak usah nih, Kang?" tanya Ijon bingung, sampai-sampai dia garuk kepala.


"Ganti!"


"Tak usah!"


Jawaban yang datang bersamaan, membuat Ijon semakin bingung. Tetapi mendadak wajahnya cerah.

__ADS_1


"Begini aja Kang! Yang ini tak usah diganti, biar dihabisi dulu. Terus aku bikin yang baru buat nambah. Gimana?" saran Ijon.


"Hahaha, urusan yang ujungnya berbau uang bikin otakmu cerdas ya, Jon! Ok, bikin dua mangkok. Masing-masing dua telur!" pesan Abay.


Sasan tak kuasa menolak. Dia memilih diam.


Ijon tersenyum, lalu memutar tubuhnya.


"Jon, sama es tehnya dua!" teriak Abay.


"Ok, Kang!"


Setelah bicara tadi, Abay menatap Sasan yang sibuk menggerakkan tangan menyendok mie.


Selama acara makan berlangsung, mereka bercakap-cakap santai belaka. Lebih banyak bercerita tentang keadaan kampung saat mereka masih kecil dulu.


Hingga tak terasa acara makan pun selesai juga. Tentunya tak ada pertemuan yang berlangsung abadi, tiba saatnya untuk berpisah. Namun sebelum benar-benar berpisah, Sasan ingin tahu tentang keadaan Dina.


"Oya, tak lama aku pergi bersama Lala ke kota. Kalau tak salah setahun di kota, aku dengar kabar, kamu menikah dengan Endah. Apa itu benar?" tanya Sasan.


"Bukan di sini tempat kita bicara, ayo ikut!" Abay berdiri.


Abay mengambil selembar, lalu uang itu ditindih gelas kopi yang tersisa ampasnya saja.


"Jon, uang di meja!" teriak Abay, lalu mengajak Sasan keluar dari warung.


"Kang kembali apa nggak?" Ijon balas berteriak sambil melangkah ke meja yang ditinggal Abay dan Sasan.


"Buat jajan kamu aja!" Abay membalas tanpa melihat Ijon.


"Terima kasih Kang!" Ijon tertawa.


Abay tak peduli dengan ucapan terima kasih Ijon, karena dia telah naik di atas motor maticnya yang bermesin besar. Keluaran terbaru tanpa kontak kunci.


Dari dalam kantong, Abay keluarkan benda kotak kecil warna hitam, lalu dia tekan benda itu, tak lupa jemarinya menekan tombol starter motor.


"Naik, San!" ajak Abay.


Sasan tak perlu dua kali diminta naik ke motor. Dia pun naik dan duduk di belakang Abay.


Motor melaju pergi.

__ADS_1


*


Semilir angin membawa aroma bunga yang samar-samar terhirup rongga hidung Abay dan Sasan. Kicau burung, kupu-kupu terbang berikut anak-anak kecil ramai bermain menjadi pemandangan bagi kedua mata Abay dan Sasan.


Mereka berada di taman, duduk di kursi besi yang catnya mulai mengelupas.


"Aku sudah lama tak pulang ke kampung. Kamu kan tahu, aku sudah buat marah Mang Ipoy dengan membawa kabur Lala. Jadi waktu aku dengar Endah menikah dengan kamu, aku turut senang. Oya, apa Endah juga ikut denganmu ke kota?" tanya Sasan yang berpura-pura tak tahu kabar kematian Endah.


"Kamu dapat kabar darimana?" tanya Abay dengan tatapan curiga.


"Medi," jawab Sasan yang sudah persiapkan jawaban ini saat berada di atas motor tadi.


"Oh, ya. Dia kan teman paling akrabmu. Beda denganku, yang harus menerima ampasmu! Hahaha." Abay tertawa.


"Ya, aku tahu salah! Tetapi kenapa kamu mau sama Endah?"


"Apalagi kalau bukan cinta. Sejujurnya, saat kita semua beranjak besar, masa remajaku penuh dengan bayangan bisa menjadi suami Endah. Bayangan itu menjadi wujud dan nyata, meski aku harus menerima Endah yang telah kamu rusak, tapi aku rela mencintai dirinya dan juga Dina, anakmu!" ucap Abay berapi-api.


"Terima kasih, kamu mau mencintai anakku," ucap Sasan tulus.


"Kalau kamu mau pulang kampung, kamu tak perlu takut, San! Saat Mang Ipoy tahu Lala kabur bersamamu, dia umumkan kamu tak perlu dihukum baik olehnya maupun warga kampung yang lain. Alasannya apa, tak ada yang tahu!" Abay mengalihkan topik.


Sasan mau menjawab karena surat yang ditinggalkan Lala, tetapi dia berpikir untuk tak menjawab saja. Biarlah Abay menerka-nerka dalam hati misteri kemurahan hati Ipoy.


"Tetap saja, aku tak berani! Oya, terus bagaimana kisah tentang Endah dan Dina?" tanya Sasan mengembalikan topik.


"Apa aku harus bercerita?" tanya Abay dengan wajah sedih.


"Ya, aku mau tahu!" tegas Sasan.


"Baiklah, meski dengan cerita ini hatiku akan menangis sedih. Tetapi demi dirimu, aku terpaksa membuka mulut!" Abay menghela napas.


Sasan mengejek dalam hatinya, dia tak terharu dengan raut sedih wajah Abay.


"Endah memilih pergi dari rumahku, dia memutuskan ceria untuk bisa bersama-sama Idang sampai mati! Sementara Dina, aku tak tahu."


"Apa ceritamu benar?" tanya Sasan tajam.


"Maksudmu, aku berbohong?" bentak Abay marah.


"Aku...." Sasan tercekat karena melihat sesuatu.

__ADS_1


__ADS_2