ISTRI RAHASIA

ISTRI RAHASIA
Istri Rahasia Bab 43


__ADS_3

Saat Abay pulang ke rumah, dia melihat mayat Poppy terbaring di lantai kamar dengan perut robek besar. Di sebelah tubuh istrinya itu terdapat sebuah pisau dapur yang besar.


Abay tahu pisau dapur itu ulah dari Nyi Malini, yang menutupi kematian Poppy yang sebenarnya. Jadi polisi yang datang dan saksi mata yang melihat, semua akan mengambil kesimpulan Poppy mati bunuh diri.


Faktanya, Abay tak ada di rumah. Jadi analisa kematian bunuh diri Poppy bisa diterima.


Melihat keadaan Poppy, air mata Abay tak terbendung dan dia pun jatuh pingsan.


Ketika Abay tersadar, dia berada di dalam kamar tamu bersama Toto.


"Bagaimana mayat istriku?" tanya Abay.


"Masih ada ditempatnya, menunggu ijin Kang Abay dibawa ke rumah sakit. Oya, Bang Rey dan yang lainnya sudah ditanya polisi. Semua berkata, Kang Abay tak ada di rumah."


"Apa aku dijadikan tersangka?" tanya Abay tak senang.


"Ya, tidak Kang. Hanya saja keterangan Kang Abay dibutuhkan. Alasan apa yang sekiranya membuat istri Kang Abay memutuskan untuk bunuh diri," jelas Toto.


Abay terdiam.


"Oya, Kang... sebelumnya kami, eh aku dan Hasan sih... berdua melihat ada banyak ular di rumah ini," bisik Toto.


"Apa, kamu melihat ular?" tanya Abay dengan wajah kaget.


"Tetapi Kang Abay tenang saja, tadi kami sudah mencari... ular itu sudah tak ada. Kang Abay tak perlu takut lagi!" jelas Toto yang menyangka wajah kaget dan pucat Abay itu karena takut ular.


Padahal bukan, Abay merasa kaget karena Toto dan Hasan bisa melihat ular dan takut mulut kedua orang itu mengabarkan gosip miring.


"Aku harus jual rumah ini!" bisik hati Abay.


"Kalau Kang Abay sudah kuat, yuk kita keluar! Polisi menunggu keterangan Kang Abay," ajak Toto.


"To, setelah ini aku mau ajak kamu bisnis," ucap Abay pelan.


"Nanti saja Kang. Kan ini masih dalam masa sedih," tolak Toto halus.


"Ya, aku tahu. Tetapi bisnisku itu hanya minta padamu menjadi calo menjual rumah ini. Aku tak akan mungkin sanggup tinggal di sini lagi, setelah kematian istriku!"


"Oh, tentang itu tak bisa cepat Kang. Tetapi sambil jalan, aku akan tawarkan pada orang yang berniat mencari dan membeli rumah."

__ADS_1


"Masalah harga, nanti kita bicarakan. Paling harga miring, biar cepat laku!" Abay pun berjalan keluar lebih dulu dari Toto.


Setibanya di depan kamar, Abay menemui polisi yang bertugas mencari keterangan darinya.


***


Waktu tak akan pernah berhenti berjalan. Tak akan ada yang sanggup mencegah datangnya pergantian hari. Tak terasa sepuluh hari sudah sejak kematian Poppy.


Ami sudah kembali sehat dari sakitnya yang diderita akibat ulah nakal Bwalika. Kebetulan hari ini hari libur sekolah.


Hari masih terbilang pagi, baru jam sembilan. Namun di teras rumah sudah berdatangan teman sekolah Ami.


Ada tiga orang yang datang. Seorang teman cewek dan dua orang teman cowok. Tetapi anehnya, yang cowok terlihat lebih tua daripada Ami dan teman ceweknya.


"Lo udah sehat kan Mi?" tanya salah satu cowok dengan tatapan mata penuh rindu ke Ami. Wajah yang cukup tampan dengan alis mata tebal dan mata menyorot tajam.


"Sudah Bang Rey," jawab Ami malu-malu.


"Kalau begitu bisa dong kita double date," ucap cowok lainnya yang mempunyai tubuh agak gemuk dan berkulit hitam.


"Ih, mana enak!" sahut teman Ami.


"Ya, jalan sendiri-sendiri aja. Lo pacaran sama Bang Rey, gue sama Bang Farid," jawab Rini sambil melirik ke Farid.


"Setuju, biar tak ada yang ganggu kita, Mi. Gue itu rindu banget sama lu!" sahut Rey.


"Kak Ami, tak boleh!" Dina keluar dari dalam rumah.


Waktu Ami dan teman-temannya bicara di teras, Dina sedang di ruang tamu membaca komik. Jadi dia bisa mendengar ucapan Ami dan kawan-kawannya.


"Apa yang tak boleh?" tanya Ami.


"Itu, pergi pacaran. Kan Kak Ami masih kecil, kalau Opa sama Oma tahu, mereka pasti akan marah!" jelas Dina.


"Ya, lo jangan kasih tahu mereka. Gampang kan?" ucap Ami ketus.


"Ini siapa sih Mi?" tanya Rey sambil menatap Dina. Tetapi tatapan matanya itu tak menunjukkan rasa marah, malah bersinar suka. Dina meskipun lebih muda dari Ami, tetapi kecantikan melebihi Ami.


"Orang lain," jawab Ami asal.

__ADS_1


"Aku kan Adikmu, Kak!" bantah Dina.


"Adik darimana? Lo aja bukan anak Tante Santi. Lo anak Bapak yang nggak ada hubungan sama keluarga ini dan gue. Jadi lo nggak usah ikut campur! Paham lo!" bentak Ami berani.


Ami bisa seberani itu karena Sanusi dan Wati sedang sibuk bergotong royong. Yang pria sibuk membersihkan lingkungan, terutama di lapangan tempat anak-anak main, yang wanita sibuk mempersiapkan makanan kecil dan besar untuk santap siang nanti.


"Nggak, nggak paham! Pokoknya Kak Ami belum boleh keluar rumah. Baru sembuh dari sakit dan dilarang pacaran! Masih kecil!" Dina bersikukuh.


"Apa? Lo itu siapa gue? Bukan orang tua gue berani main larang!" Ami berdiri dan dia menatap penuh ancaman pada Dina.


Tetapi hari ini Dina sama sekali tak takut. Karena dia mempunyai rasa sebal melihat Rey yang matanya menatap liar padanya.


"Kita pulang saja, yuk. Biar Ami selesaikan urusan sama Adiknya dulu!" ajak Rey.


"Kok, pulang? Kan kita belum...."


"Nanti siang, gue tunggu di rumah Siang nanti rumah sepi, orang tua gue ada kondangan ke luar kota. Jadi lo sama gue bisa..." Rey memutus ucapan Ami dan dia menggantung ucapannya.


"Iya, paham Sayang. Tunggu, ya!" seru Ami malu-malu.


Ami tak menunggu Rey dan yang lainnya menghilang dari hadapannya, karena dia sudah menarik masuk Dina ke dalam rumah dan menutup pintu.


"Gue kasih tahu sama lo, ya. Gue sama Bang Rey itu udah resmi pacaran. Bang Rey itu cowok populer di sekolah. Senior pemain tim basket yang banyak disukai cewek. Gue beruntung bisa jadi pacarnya. Gue larang lo bermulut jahil dan usil seperti tadi, paham lo!" ucap Ami kasar.


"Kak Ami kan masih kecil. Baru juga masuk SMP. Tugas Kak Ami kan belajar, biar bisa meraih cita-cita, bukan pacaran," debat Dina.


"Cita-cita? Hahaha, dulu gue punya cita-cita jadi dokter. Tetapi otak gue nggak mampu menyerap pelajaran tinggi. Jadi cita-cita gue ubah, jadi pacar Bang Rey." Ami tertawa.


"Mana ada cita-cita seperti itu?" tanya Dina heran.


"Ada. Kan tadi gue bilang begitu!" Ami melotot.


"Tetap saja Kak. Tak boleh pacaran. Oma sama Opa harus tahu!" Dina sudah memutuskan dan dia takut.


"Berani lo melapor?" Ami mendorong Dina hingga jatuh. "Kalau sampai Oma sama Opa tahu, gue nggak cuma bakal dorong lo lagi, tapi gue bakal siksa lo!"


Dina menatap kepergian Ami yang berjalan menuju kamar.


"Anak itu lebih pantas mati dibanding hidup!" bisik Bwalika yang mendadak hadir di samping Dina.

__ADS_1


__ADS_2