ISTRI RAHASIA

ISTRI RAHASIA
Istri Rahasia Bab 59


__ADS_3

Wati dan Dina sedang duduk di kursi makan, ketika datang Temon, bocah berusia sepuluh tahunan.


Karena Ami tak membuka-buka pintu, Wati dan Dina memilih duduk untuk menikmati segelas air, tenggorokan terasa kering seusai banyak mengeluarkan tenaga, berteriak tanpa hasil.


"Oma, Oma...." Dua kali Temon memanggil Wati, dia masuk ke rumah tanpa mengucap salam.


Terlihat wajah Temon agak pucat dan napasnya memburu cepat.


Bertepatan dengan itu, Ami keluar kamar dengan membawa tas ranselnya yang menggembung besar. Entah apa isinya, hanya dia yang tahu.


"Oma, Opa... Opa... meninggal dunia!" teriak Temon saat sampai di ruang tamu dan menatap Wati yang duduk di ruang makan.


Dari ruang tamu ke ruang makan tak ada tembok yang menghalangi pandangan.


"Apa?" Wati menjerit kaget dan dia pun berdiri dari duduknya dengan tubuh gemetar.


"Opa meninggal dunia di musholla, setelah habis berdoa," terang Temon.


Anak kecil jarang suka berbohong, meski tak semuanya itu benar. Karenanya kabar yang dibawa Temon itu dipercayai Wati seratus persen.


Berita kematian Sanusi seperti sambaran petir yang meledak di telinga Wati, Dina dan Ami.


Wati jatuh pingsan dan beruntung Dina yang berdiri di belakangnya berhasil menahan tubuhnya.


Ami cepat lepaskan tas ranselnya dan memburu ke Wati.


Temon berteriak kaget.


Ketiga anak itu panik, mereka tak tahu harus berbuat apa. Beruntung ada dua orang ibu yang berlari memasuki rumah.


"Ibu Wati, berita duka Bu...."


"Mama, sini!" Temon melambaikan tangannya, karena yang datang itu salah satunya itu ibunya sendiri.


"Ibu Wati pingsan!" teriak ibunya Temon.


Dengan bantuan ibunya Temon dan seorang ibu tetangga yang lain, Wati pun tersadar dari pingsannya.


Pertama kali yang dilakukan Wati saat sadar, menangis berpelukan dengan Dina dan Ami. Mungkin karena hanyut oleh kesedihan ketiganya, Temon berserta kedua ibu yang datang pertama itu ikut menitikkan air mata.

__ADS_1


*


Sore hari sebelumnya.


Ketika Dina bertamu ke rumah Lala, Abay sedang menemui seorang pemuda remaja tanggung yang sedang istirahat di pinggir lapangan futsal. Pemuda tanggung itu Randi, anak tunggal Reni.


"Oom tumben ke sini." Randi berdiri dari duduknya ketika melihat Abay datang.


Lapangan futsal sedang ramai anak-anak yang bermain. Lapangan yang berada di tengah-tengah permukiman warga, tanah fasilitas sosial dan warga yang dijadikan lapangan olahraga RW.


"Mau bertemu denganmu. Ada yang mau Oom bicarakan. Di mana ya enaknya ngobrol?" tanya Abay.


Randi melihat sekeliling. Biasanya pinggir lapangan futsal dipenuhi banyak orang, meski harus terhalang pagar kawat tinggi yang sengaja dipasang, agar bola yang ditendang tak masuk ke rumah warga.


Karena keadaan sepi, ada beberapa bangku kayu panjang yang tak terisi orang. Dari lima bangku yang ada, hanya ada dua bangku yang terisi dan masing-masing hanya satu orang yang duduk di sana.


Randi yang tadinya berdiri di balik kawat luar lapangan, mengajak Abay duduk di bangku panjang paling ujung dekat pohon mangga yang sedang berbuah lebat.


"Wah, buahnya banyak sekali. Kenapa tak diambil?" tanya Abay dengan kepala terangkat saat duduk.


"Meski pohon mangga ini di tanam di tanah umum, tetapi si penanamannya melarang warga mengambil dari atas pohon, kecuali ada mangga yang jatuh. Baru boleh diambil." Randi mengambil napas terlebih dahulu, lalu meneruskan bicaranya.


"Kalau kita sengaja minta, wah... sulit. Agak-agak aneh orangnya, pelit sih pelit cuma ya itu kalau baiknya lagi kumat, tak cuma mangga dikasih, mungkin seember es buat minum anak-anak yang main bola juga dikasih sama dia."


"Pak Abas, hampir mirip sama nama Oom. Cuma beda sifat, Oom mah baik orangnya." Randi tertawa pada Abay. "Rumahnya yang jual minuman dan makanan kecil itu!"


Abay menengok sesuai arah telunjuk Randi. Dia melihat ada kopi renceng yang digantung.


"Oh, itu kopi bisa diseduh kan?" tanya Abay.


"Bisa, Oom mau pesan?" tanya Randi.


"Boleh, sama kamu juga gih!"


"Aku es aja ya, Oom. Sama sosis gorengnya ya."


"Pesan aja, yang kamu suka beli deh. Ada gorengan nggak?" tanya Abay.


"Ada Oom. Bakwan dan tempe. Lontong isi juga ada. Bihun goreng Oom doyan nggak? Semuanya itu enak, diguyur pakai sambal kacangnya, makin nikmat. Kenyang dan puas." Randi sepertinya berbakat jadi sales.

__ADS_1


"Ya udah, Oom pesan bihun goreng kasih dua lontong isi, sama gorengannya satu-satu. Sambal kacangnya yang banyak dan pedas." Abay pun tertarik.


"Kalau begitu, aku juga mau deh. Sosisnya batal saja. Gorengannya dibikin kecil-kecil atau mau utuh?" tanya Randi.


"Utuh aja!" jawab Abay pendek.


Randi pun berdiri dan berjalan menuju warung rumahan Abas.


Sambil menunggu, Abay melihat ke arah lapangan dan fokusnya tercurah pada seorang pemuda tanggung. Yang membuat dia menaruh perhatian pada remaja itu, karena raut wajah si anak muda itu menyerupai Sasan. Kalau diperhatikan lebih jauh lagi, ada kemiripan juga dengan Lala.


Hati Abay tercekat, dia pun ingin mengenal pemuda itu.


Tak lama kemudian, Randi datang dengan membawa dua piring berisi bihun goreng. Tak hanya bihun saja, masih ada lontong isi dan gorengan bakwan serta tempe. Diguyur dengan sambal kacang yang banyak.


Selera Abay tergugah, perutnya langsung berteriak minta cepat diisi.


Ketika Abay menerima piring dari Randi, pesanan kopi dan es jeruk sachet pun hadir. Selain itu ada sebotol air mineral dingin sebagai tambahan.


"Aku sekalian pesan air mineral buat Oom. Kan mana enak, habis makan minum kopi," ucap Randi cepat, agar Abay tak menyalahkan dirinya yang memesan botol air mineral.


"Cerdas kamu!" Abay tertawa.


Randi pun senang Abay tak marah padanya. Dia memang sudah menganggap Abay itu sebagai yang tua dari keluarganya sendiri. Malah dia berharap dalam hati, Abay akan menjadi bapak sambungnya. Dia bukan tak tahu affair Abay dengan ibunya.


Tetapi Randi tak bisa ikut campur masalah orang dewasa, dia pun tak bisa melarang Reni dan Abay berbuat hal terlarang. Selain takut pada ibunya, dia berharap uang Abay. Selama Abay hadir, kantongnya termasuk penuh isinya.


Perubahan ekonomi yang didapat Randi setelah Abay hadir ke kehidupan Reni, membuat dia gelap mata dan membiarkan saja Abay memasuki kamar ibunya, walau itu hal yang sangat tabu dan dilarang keras oleh agama.


"Pemuda itu siapa namanya?" tanya Abay sambil menunjuk ke pemuda berbaju seragam bola warna kuning.


"Yang mana Oom?" tanya Randi.


"Itu yang pakai seragam tim Brazil yang warna kuning."


"Oh, itu Suta namanya. Kenapa Oom?" tanya Randi.


"Wajahnya mirip sama teman Oom. Apa kamu tahu siapa nama Bapaknya?"


"Nanti deh aku tanya, dia bukan anak komplek RW sini Paman. Cuma sering ikut main aja, di ajak sama Milo, teman sekolahnya," terang Randi.

__ADS_1


"Oh, seperti itu!" Abay mengangguk.


Saat itulah Abay mendengar bisikan di telinganya.


__ADS_2