ISTRI RAHASIA

ISTRI RAHASIA
Istri Rahasia Bab 66


__ADS_3

40 hari malam kematian Sanusi tiba. Dasar Abay, bukannya hadir di acara pengajian, malah dia duduk-duduk di sebuah cafe yang termasuk mahal harga makanan dan minumannya.


Abay beralasan, ada bisnis yang tak bisa dia tinggalkan. Kalau hasilnya 'gol' aliran uang akan mengalir tanpa henti.


"Ya, Papa tak bisa datang. Karena uang sudah dekat!"


Kata-kata itulah yang diucapkan Abay pada Dina, ketika Dina bertanya apa dia bisa datang di acara pengajian mendoakan Sanusi di hari ke-40.


Sempat Dina bertanya, kenapa Abay terlalu berpikir tentang uang saja?


"Kamu mau makan batu? Kamu mau mengemis di jalan untuk bisa makan? Oma Wati saja tak ada kerjaan? Darimana datangnya uang untuk biaya makan, uang sekolah, bayar rekening listrik dan ***** bengek lainnya? Sudahlah, Oma Wati-mu saja tak masalah Papa mau hadir atau tidak, kenapa kamu yang harus ribut mendesak Papa turut duduk bersama Bapak-bapak dan berdoa untuk Opa Sanusi-mu?"


Abay sesungguhnya tak tahu, jika Dina merasa malu punya ayah seperti Abay. Bukan hanya tak ikut pengajian tahlil Sanusi, malah Dina curiga jika ayahnya tak pernah ibadah.


Kecurigaan yang tersimpan cukup lama di dalam hati Dina.


Kembali pada Abay yang saat ini duduk seorang diri menyantap steak tenderloin yang dimasak rare, salah satu cara masak steak daging. Daging akan dimasak bagian luarnya saja di suhu 50-55 derajat celcius, di mana sekitar 75 persen bagian dalam daging masih berwarna merah, hanya bagian luar berwarna coklat. Begitu daging diiris, tekstur daging lembut dan masih juicy alias berair, tak jarang masih tersisa darah.


Sambil makan dan minum, mata Abay melihat dan telinganya mendengar. Di depan mejanya itu ada seorang pria berdandan jauh lebih rapi dan necis daripadanya, gaya orang kaya yang jauh lebih kental dari dirinya.


Abay itu dasarnya orang berharta, tetapi dia bukan orang yang bergaya kaya, sebab lebih banyak berdandan sederhana. Dia bersikap layaknya orang yang tak punya itu ada satu maksud dan tujuan, yaitu biar bisa menjaring orang-orang putus asa yang sedang terkena masalah ekonomi. Karena dia kurang pendidikan, hanya berpikir orang-orang miskin itulah orang yang paling sering pusing karena urusan kantong. Hingga mudah dihasut untuk ikut mengabdi bersamanya pada Nyi Malini.


Harta benda di dapat dengan mudah, tetapi dibayar dengan menjadi budak di kerajaan Nyi Malini suatu saat nanti. Hanya saja itu urusan nanti, bagi yang gelap mata dan ingin cepat-cepat keluar dari lubang kemiskinan, tak akan pedulikan urusan di belakang, apa yang ada di depan sikat saja dulu.


Beruntung bagi mereka yang masih bisa bertahan dengan prinsip, boleh hidup miskin asal tak meminta tolong pada jin.


Saat ini Abay sedang pasang telinganya lebar-lebar, menguping pembicaraan pria berusia sekitar empat puluhan itu yang didatangi temannya.


"Bagaimana? Apa ada kabar baik?" tanya si pria necis pada temannya.


"Baik dan buruk, Bang. Bang Igor harus siap dalam waktu tiga hari ke depan."

__ADS_1


"Maksudmu apa Jibon?" tanya si pria necis yang ternyata bernama Igor.


"Bang Igor harus lenyap, pergi sembunyikan diri. Kalau masih sayang nyawa, sebab Bang Ton sudah habis kesabarannya menunggu uangnya dikembalikan," bisik Jibon pelan.


Tetapi bagi pendengaran Abay, perkataan Jibon itu dapat didengar jelas.


"Oh, itu kabar buruknya?" tanya Igor dengan wajah pucat.


"Iya, aku sudah berusaha untuk meminta tempo bulan depan. Tetapi Bang Ton menolak, dia hanya beri waktu lima hari ke depan. Maaf ya, Bang... aku sudah berusaha membujuk dia!"


"Kamu tak salah! Ini salahku yang mengambil langkah catur terlalu berani. Aku pun tertipu investasi bodong dan judi online, aset-aset sudah banyak yang lepas. Sekarang yang aku punya hanya mobil butut, rumah kecil dan istri yang setia saja. Sepertinya aku harus melepas rumah dan mobilku. Tapi apa kamu punya ide ke mana aku dan istriku harus kabur? Apa ke hutan?" tanya Igor dengan suara lemah.


Jibon mengawasi wajah Igor terlebih dahulu. Dia melihat betapa pucat dan lesunya Igor. Dia pun ikut sedih dengan nasib yang menimpa Igor.


Jibon dulu pernah jadi anak buah Igor, sampai akhirnya dia pindah menjadi anak buah Ton seorang rentenir kelas kakap.


Buktinya, saat Igor tiba-tiba curhat masalah keinginan ikut menanamkan modal pada kebun sawit milik rekannya dan kurang modal, Ton berani keluarkan uang pinjaman sepuluh miliar melalui tangan Jibon.


Igor mulai menjual aset hartanya, benda bergerak maupun tak bergerak. Tetapi hasil dari penjualan itu hanya mampu menutup kurang dari setengah nilai hutang dari kesepakatan pelunasan hutang sebesar dua belas miliar. Ton memberi bunga hutang sebesar dua puluh persen, beruntung karena Igor kenal Jibon, dia tak diberikan bunga yang terus berjalan.


Meski begitu, Igor tetap kesulitan membayar. Tadinya dia berpikir, hasil keuntungan dari kebun sawit bisa dia pakai untuk membayar hutang. Nyata-nyatanya, dia baru diberikan keuntungan sebesar lima ratus juta, setelah itu lenyap tanpa kabar.


Sekarang hutang masih tersisa sekitar tujuh miliar. Bukan perkara mudah untuk Igor membayar, karena itu dia meminta waktu untuk bisa melunasi hutang pada Ton.


"Tadi kamu bilang ada kabar baiknya, apa itu?" tanya Igor.


"Karina," jawab Jibon.


"Karina?" Igor bertanya menegaskan.


"Iya, istri Bang Igor itu bisa jadi penyelamat. Kalau Bang Igor setuju melepas Karina untuk satu bulan bersama Bang Ton, nilai hutang akan dikurang satu miliar. Apa Bang Igor setuju?"

__ADS_1


"Gila! Aku menolak! Karina itu wanita baik. Dia setia padaku, meski aku ini suami yang tak bisa diharapkan. Lebih baik aku mati saja!" Igor menolak keras.


Bagi Igor, Karina itu mutiara berharga mahal. Meski Karina mengetahui harta benda mereka amblas disebabkan kalah judi dan kena tipu, tetapi istrinya itu masih mau bersamanya dan berjuang untuk bisa membayar hutang.


Orang tua Karina pun mau membantu, hanya saja Igor menolak sebab sudah tak enak hati terlebih dahulu pada Karina.


Kini, Igor merasa sudah tiba waktunya dia tebalkan muka meminta tolong mertuanya.


"Bilang sama Bang Ton, aku siap mencicil dua miliar dulu dalam waktu lima hari ke depan. Sisanya akan aku usahakan dalam waktu setahun ke depan," ucap Igor.


"Begini, Bang... Bang Ton sih ok saja kalau Bang Igor mau mencicil. Cuma ada syarat yang harus Bang Igor penuhi!"


"Apa syaratnya?" tanya Igor cepat.


"Syaratnya itu mudah... bunga berjalan sebesar sepuluh persen dari nilai yang kurang."


"Apa? Kan perjanjiannya...."


"Perjanjian lama itu sudah berakhir Bang! Tinggal dua pilihan saja untuk Bang Igor," potong Jibon cepat. "Pertama itu tentang Karina dan kedua itu nyawa Bang Igor. Tetapi aku pikir, sebaiknya Bang Igor pilih yang pertama saja. Karena pilihan kedua pun nantinya Karina akan tetap diambil Bang Ton juga."


"Apa ini ancaman? Kalau iya, aku akan lapor polisi!" seru Igor.


"Sebelum Bang Igor sampai ke kantor polisi, Karina akan dibawa pergi dan juga jiwa Bang Igor akan amblas. Anak buah Bang Ton bukan aku saja. Mereka punya mata yang tajam. Jadi sebaiknya Bang Igor menurut!" Jibon berdiri, dia menatap sedih pada Igor, lalu pergi meninggalkan Igor seorang diri.


Dulu sebelum Igor bertemu Ton, Jibon sudah berkata jangan coba-coba meminjam uang pada Ton. Hanya saja Igor bersikeras. Sekarang Igor tahu rasa.


Igor tempelkan kedua sikutnya di meja, kesepuluh jarinya berada di kepala mengurut agar pusingnya cepat hilang. Tetapi bagaimana bisa pusing itu hilang.


"Apa punya waktu?"


Igor mengangkat kepalanya dan melihat Abay sudah duduk di depannya.

__ADS_1


__ADS_2