ISTRI RAHASIA

ISTRI RAHASIA
Istri Rahasia Bab 73


__ADS_3

Pintu kamar Dina terbuka secara paksa, menerbitkan suara yang keras.


"Dina!" teriak Ami.


Dina yang sudah selesai mengganti seragam sekolah dan bersiap membawa seragamnya itu ke tempat cucian kotor, pun kaget melihat wajah merah Ami.


"Ada apa Kak Ami?" tanya Dina.


"Pasti lo, kan? Pasti lo yang ngadu?" Ami melangkah masuk.


"Ngadu apa Kak?"


"Ngadu ke Papa Abay, kalau gue itu udah punya pacar?" bentak Ami.


"Loh, buat apa aku ngadu? Lagian...."


"Ah, bohong lo!" Ami mendorong Dina.


Dina yang tak siap, badannya pun jatuh. Untungnya dia jatuh ke kasur. Tetapi serangan Ami belum berakhir.


Ami menerkam Dina, lalu menjambak rambutnya.


"Hei, ada apa ini?" teriak Wati yang berdiri di depan pintu. Matanya terbelalak melihat Ami sedang menjambak Dina.


"Ami lepaskan!" teriak Wati.


Tapi mendadak, Ami malah berteriak mengaduh. Dengan pintarnya dia buat tangan Dina meninju perutnya.


Kejadian itu bertepatan dengan Ami melepaskan tangannya dari rambut Dina, lalu dia raih tangan kiri Dina untuk diarahkan ke perutnya. Karena tubuhnya membelakangi Wati, membuat Wati tak bisa melihat.


"Dina, apa yang kamu lakukan?" Wati menjerit kaget.


"Aduh, Dina meninju perutku Oma!" Ami meringis kesakitan.


Wati terkesiap, dia pun melotot pada Dina.


"Aku... aku... tidak meninju Kak Ami, Oma," ucap Dina.


"Bohong, Oma! Aduh... perutku sakit banget!" Ami mendadak pingsan.


Wati menjerit tertahan, lalu dia berjongkok. Dina pun ikut panik dan cemas.


"Cepat bantu Oma angkat Kakak Ami mu ke kasur!" pinta Wati.


"Iya, Oma." Dina bersiap mengangkat kaki Ami, di mana Wati menaruh tangannya di kedua ketiak Ami.


Ami mendadak membuka matanya.


"Oma, perutku sakit banget! Dina jahat Oma, dia... dia... dia berkata padaku, katanya dia yang menyuruh Adul tak usah menemui aku lagi! Aku dilarang berteman sama Adul olehnya," ucap Ami yang lalu menutup matanya lagi.


"Kak Ami...."


"Diam, Dina!" bentak Wati, tapi matanya mengedip.

__ADS_1


Dina paham dan mengerti, tanpa perlu Wati bicara, dia sadar kalau Wati tak percaya pada ucapan Ami.


Dengan hati riang Dina pun mengangkat tubuh Ami, membawa Ami sampai ke dalam kamarnya sendiri.


"Dina, ambil minyak kayu putih!"


Dina bergegas keluar kamar mengambil minyak kayu putih yang berada di kamar Wati. Setelah itu dia kembali ke kamar Ami dan memberikan botol minyak kayu putih.


"Sudah sana keluar! Mulai sekarang, Oma larang kamu ganggu Kak Ami lagi!"


"Iya, Oma." Dina sebenarnya ingin tersenyum, karena dia tahu kemarahan Wati bukan sebenar-benarnya.


Namun demi melihat gerakan pelupuk mata Ami, Dina batal tersenyum dan pergi keluar kamar Ami dengan langkah cepat.


"Oma, aku main ke rumah Maya!" seru Dina dari luar kamar.


Wati tak menjawab, karena dia sedang sibuk mengusap-usap perut Ami dengan olesan minyak kayu putih.


Pada dasarnya Ami sama sekali tak pingsan. Perutnya pun tak sakit, meski dia telah meminjam tangan Dina.


Namun demi kesuksesan perannya, Ami masih tampilkan wajah sakit dan menderita.


"Oma, maafkan Ami, ya!" ucap Ami sendu.


"Maaf kenapa?" tanya Wati.


"Aku sudah buat keributan di rumah. Bukan maksudku untuk menyakiti Dina, tapi aku terlalu kesal!" Ami mulai rintikan air matanya.


"Karena Adul?" tanya Wati lembut.


"Baiklah, nanti Oma bicara sama Dina." Wati usap kening Ami.


"Terima kasih ya Oma." Ami tersenyum.


"Kalau begitu, kamu tidur dulu! Biar Oma bicara sama Dina!" Wati pun berdiri.


Ami tersenyum licik melihat ke arah punggung Wati.


Wati benar-benar menemui Dina yang sedang duduk di teras rumah Maya. Tetapi dia bukan bermaksud untuk menegur Dina dengan kemarahannya.


"Maya mana?" tanya Wati.


"Lagi keluar beli garam, Oma."


"Oh, begitu. Nanti kalau kamu pulang dan bertemu dengan Kak Ami, kamu pura-pura saja bersedih hati dan mengaku bersalah pada Ami, ya!"


"Kenapa begitu Oma?" tanya Dina heran.


"Tadi Ami bilang ke Oma, dia berkata kamu melarang dia berteman dengan Adul. Oma percaya, kamu tak lakukan itu! Sebisa mungkin, kamu mengalah saja sama Ami!"


"Sampai kapan Oma?" tanya Dina.


Pertanyaan Dina ini sulit dijawab Wati.

__ADS_1


Ya, sampai kapan Dina harus terus mengalah dan bersabar. Dina itu manusia yang terdiri dari darah dan daging, memiliki juga perasaan dan nafsu.


"Oma, Kak Ami sudah membuat aku sakit. Kepalaku sakit karena rambut dijambak. Aku mau saja mengalah, tetapi kalau sekali lagi Kak Ami membuat aku sakit, maaf Oma... aku akan membalas!" Dina menjawab tegas.


Wati terkejut, karena dia merasakan sorot mata Dina itu sangat tajam dan keras.


Wati sama sekali tak menyangka, pada dasarnya Dina punya kekerasan hati yang sangat kuat. Kalau tidak, tak mungkin selama ini Dina lebih banyak bersabar menghadapi sikap Ami.


*


Abay sedang asyik minum kopi di pinggir jalan, membeli segelas kopi hitam dari pedagang kopi keliling yang memakai sepeda.


Abay senang berbuat ini, karena dia punya maksud dan tujuan, yaitu mencari orang yang sedang pusing tujuh keliling dalam masalah ekonomi.


Tetapi ternyata sampai sekarang, baru Abay yang menjadi salah satunya pelanggan si tukang kopi.


"Bang, sepi amat!" tanya Abay.


"Namanya orang jualan Bang. Kadang ramai kadang sepi. Apalagi di sini bukan tempat aku biasa mangkal. Tadi berhenti di sini karena lelah saja. Biasanya sih, aku habiskan waktu setengah jam lebih di sini. Baru habis itu pergi ke tempat biasa. Itu loh Bang, di dekat taman Duren."


"Seperti itu toh ceritanya. Tapi gimana, sehari omset berapa Bang?" tanya Abay.


"Lumayan, Bang. Bisa buat beli beras dan lauk pauknya. Sembako sih dapat, deh!"


"Terus bisa buat beli motor nggak?" desak Abay.


"Habis buat biaya pendidikan anak, Bang."


"Oya, namaku Abay. Nama Abang siapa?"


"Namaku Aep, Bang. Jelek kan?"


"Wah, sayang aku bukan wanita Bang. Kalau aku lawan jenis Bang Aep, aku bakal bilang nama Bang Aep bagus, sesuai sama orangnya yang gagah dan tampan." Abay tertawa.


"Hahaha, bisa aja Bang Abay." Aep tersenyum.


"Bang Aep usia berapa sekarang?" tanya Abay.


"Lima tahun lagi, pas Gocap, Bang!"


"Oh, empat puluh lima toh. Terus, berapa lama Bang Aep jualan kopi seperti ini?"


"Sudah lima tahun, sejak kena PHK dulu."


"Cukup lama ya, Bang. Terus cuma andalkan usaha ini aja?"


"Bang Abay wartawan ya?" Aep malah balik bertanya.


"Bukan, Bang. Aku ini kerjanya marketing," jawab Abay dengan senyum dikulum.


"Marketing apa Bang?" gantian Aep yang bertanya lagi.


"Bisa dibilang marketing untuk bisa kaya cepat. Bang Aep tertarik tidak?"

__ADS_1


Aep terdiam. Tetapi matanya berkilat.


__ADS_2