ISTRI RAHASIA

ISTRI RAHASIA
Istri Rahasia Bab 56


__ADS_3

Saat jam menunjukkan pukul lima sore, Dina sedang melangkahkan kakinya bukan untuk mengukur jalan, dia hanya sedang kesal saja dan memutuskan berjalan sore.


Bwalika dipanggil tak kunjung datang, sampai Dina bingung sendiri. Suasana rumah juga sedang tak bersahabat, efek dari keributan kecil yang terjadi. Ami dengan berani bicara sedikit kasar pada Sanusi dan Wati.


Saat ini pintu kamar Ami terkunci dari dalam. Meski Wati beberapa kali memanggil Ami untuk membuka pintu.


Dina mendengar, tapi dia tak bisa berbuat apa-apa. Kalau saja Bwalika bisa dipanggil datang, mungkin ada gunanya.


Sempat dari kamar Dina mendengar kepanikan Wati, saat perempuan tua itu teriakan kerisauan hatinya takut Ami di dalam kamar bunuh diri.


"Opa, cepat dobrak pintu! Ami bisa saja bunuh diri!"


Tetapi teriakan Wati itu dibalas Ami dengan teriakan dari dalam kamar.


"Aku tak bunuh diri, aku hanya malas bertemu Oma dan Opa saja!"


Setelah itu, Dina tak lagi mendengar gedoran di pintu kamar Ami. Dia juga tak lagi menangkap suara Wati. Hanya helaan napas belaka, berikut dua pasang mata yang seperti orang bingung.


Sorot mata Sanusi dan Wati yang tampak tak bersemangat itu bisa dilihat Dina, ketika Dina mengambil pesanan es boba yang dia pesan lewat online.


Untuk mengambil pesanannya, Dina harus melewati ruang tamu lebih dahulu. Di sofa panjang duduk Sanusi dan Wati yang sama-sama menyandarkan punggung, tangan kanan Wati menggenggam tangan kiri Sanusi, tetapi mata mereka berdua menyorot kosong. Malah tak menegur ketika Dina lewat.


Hingga waktu pun terus beranjak. Dina memutuskan untuk jalan-jalan sore, siapa tahu beban pikirannya hilang.


"Apa yang harus aku lakukan? Apa ini waktunya aku tinggal bersama Papa? Tetapi Papa tak pernah menyinggung masalah ini, dia tak pernah berbicara tentang tinggal serumah. Di sisi lain, aku juga belum bisa meninggalkan Opa dan Oma," lirih Dina pelan sambil terus berjalan di gang perumahan.


Dina menarik napas panjang.


Mendadak.


"Dina kan?"


Dina berhenti berjalan. Di depannya berdiri menghadang seorang ibu yang sedang menggandeng bocah cantik berusia enam tahunan.


"Tante, Ibunya Suta kan?" Dina menatap pada Lala.


"Panggil Bibi saja. Oya, kamu mau ke mana?" tanya Lala.


"Tak tahu Bi. Aku cuma mau jalan-jalan saja."


"Apa mau mampir ke rumah Bibi?" ajak Lala.

__ADS_1


"Kakak cantik, main yuk ke rumah Sasa. Main boneka," celetuk si kecil yang menyebut dirinya Sasa.


"Kamu ini, Kak Dina itu sudah besar. Masa diajak main boneka. Kalau minta diajarin belajar, baru boleh. Kata Aa Suta, Kak Dina ini pintar loh!" puji Lala.


"Belajar? Malas ah, Ma. Aku pusing hitung angka." Sasa tertawa kecil.


Lala ikut tertawa, begitu juga Dina yang merasa Sasa itu lucu dan imut.


"Ayo, main ke rumah Bibi. Biar Sasa mengenal Kakak Dina-nya." Lala ulurkan tangan memegang tangan Dina.


Dina pun menurut. Ternyata rumah Lala tak terlalu jauh dari tempat pertemuan. Hanya berjalan sekitar tiga puluh meter, di mana Dina memasuki lagi gang yang baru saja dia lewati sebelumnya.


Sesaat baru saja sampai di depan pagar rumah, datang menghampiri motor warna hitam yang memiliki tangki besar dan berada di dekat stang, motor yang lebih cocok untuk pria karena bodinya yang tak ringan.


"Papa datang!" teriak Sasa sambil melepas pegangan tangan Lala.


Lala dan Dina menengok.


"Papa, jalan-jalan!" Sasa meminta naik ke atas motor.


Helm dibuka dan Dina melihat wajah pria seusia Abay. Tetapi kulitnya hitam dan terlihat manis. Pantas saja Sasa terkesan cantik dan imut, ternyata ayah dan ibunya memiliki paras yang terbilang cantik dan tampan.


"Titip helm sama tas, Ma. Papa mau ajak Sasa jalan-jalan sebentar ke taman."


"Ayo, masuk!" Lala membuka pagar.


Mata Dina melihat di dalam pagar ada motor lain yang parkir. Motor matic yang dikenalnya, karena sering dipakai menjemput Suta, tetapi dia tak melihat adanya sepeda listrik yang pernah dia naiki bersama Suta dulu.


"Tenang saja, Suta sedang tak ada di rumah. Tadi dia pamit mau main futsal katanya. Paling pulang setelah maghrib, setelah dia istirahat sebentar di rumah temannya," ucap Lala, lalu menyuruh Dina duduk di kursi teras.


Dina kaget, Lala seperti bisa membaca isi hatinya. Tadi dia sempat memikirkan Suta, tetapi bukan bermaksud untuk bertemu. Malah dia berharap Suta tak ada, karena segan melihat wajah penuh cinta pemuda itu.


Lala masuk ke dalam rumah, menaruh tas dan helm di bangku ruang tamu terlebih dahulu, lalu dia terus masuk ke dapur.


Dina tak melihat ada yang aneh di halaman dan pekarangan rumah yang tampak luas. Karena cuma ada tiga pot besar yang berisi tiga macam tumbuhan. Ada palem merah kecil, bambu kuning dan bunga mawar.


Halaman juga bersih dari sampah, apik dan resik keadaan depan rumah Lala.


Tuan rumah pun keluar. Lala membawa nampan berisi teko kaca kecil berisi air putih dingin, dua gelas kosong dan sepiring kecil agar jelly warna merah berbentuk boneka beruang.


"Di kulkas sedang tak ada makanan lain, kecuali agar jelly. Tak apa-apa kan makan makanan kesukaan Sasa?" Lala tersenyum lebar.

__ADS_1


Dina hanya mengangguk.


"Kamu sepertinya sedang ada beban pikiran, lagi ada masalah apa di rumah?" tanya Lala dengan jitu.


Dina kaget, dari mana Lala bisa tahu dirinya sedang punya pikiran.


"Wajahmu itu kusut, meminjam kata Sasa... mirip kanebo kering." Lala tertawa.


Mau tak mau Dina juga ikut tertawa.


"Kamu berantem sama Papa dan Mamamu?" tanya Lala.


Dina menggeleng.


"Lalu ada apa?" Lala penasaran.


"Di rumah itu...." Dina menutup mulutnya. Dia memilih tak bercerita.


"Kalau kamu bisa menyimpan masalah itu seorang diri, tak perlu kamu katakan pada Bibi. Cerita saja kalau memang kamu anggap perlu."


Dina mengangguk, lalu meminta maaf karena belum mau berterus terang atas masalah yang sedang dia hadapi.


Bagi Dina, apa yang dilakukan Ami pada Sanusi dan Wati itu aib yang tak boleh dibuka keluar.


"Kabar Papa dan Mamamu baik-baik saja kan?" tanya Lala.


"Papaku baik, tapi Mamaku... dia sudah lama meninggal dunia."


"Oh, apa wajah sedihmu saat ini karena teringat pada Mamamu?"


"Tidak, Bi! Bagaimana aku bisa rindu pada Mama, jika aku saja tak tahu wajah asli Mama."


"Mama meninggal saat kamu masih bayi?" tebak Lala.


"Aku tak tahu. Yang aku tahu, saat aku mulai bisa memanggil Mama, ada banyak Mamaku itu. Terakhir Mama Santi, entah apa masih ada lagi atau tidak, aku tak tahu!" Dina menghela napas.


"Eh, apa Papamu tukang kawin?" tanya Lala kaget.


Wajah Dina berubah tak senang, tetapi itu hanya sekilas. Selanjutnya dia hanya bisa tersenyum getir.


"Aku tak mau urus masalah pribadi Papa, Bi. Lagipula aku juga tak tinggal bersama dia. Aku bersama Opa dan Oma," ucap Dina menerangkan.

__ADS_1


"Kalau boleh tahu, nama Papamu siapa?" tanya Lala yang curiga pada Abay. Masalahnya wajah Dina jika diperhatikan lebih lama, semakin mirip Endah.


Tetapi belum lagi Dina menjawab, di depan pagar rumah ada kejadian aneh.


__ADS_2