ISTRI RAHASIA

ISTRI RAHASIA
Istri Rahasia Bab 32


__ADS_3

"Ular, tolong!" teriak Ami sekali lagi.


Dina cepat berlari lebih dulu ke dalam bekas kamarnya yang sudah diminta Ami.


Mata kecil Dina menangkap di dekat ranjang ada seekor ular warna putih salju dalam posisi siap sedia, menyerang siapa saja yang berani mendekat.


Tetapi Dina tak takut.


"Hei, jangan Dina! Nanti kamu kena gigit!" Ami mencoba menahan tangan Dina yang mau mendekati ular.


Dina menepis tangan Ami, lalu tanpa ragu dan takut dia pun berjongkok menangkap ular yang mendadak jinak di tangannya.


"Dina, jangan!" teriak Sanusi yang baru tiba bersama Wati, Poppy dan Maya.


"Tidak apa-apa Opa. Ularnya jinak, kok!" Dina berdiri, lalu memutar tubuhnya.


Tangan Dina mengelus kepala ular, sementara tangannya dibelit ekor ular.


Semua orang terkejut, kecuali Maya yang sudah tahu kalau Dina tak takut ular.


"Wah, dua kali kamu menangkap ular. Jangan-jangan kamu Ratu Ular lagi," canda Maya.


"Dua kali? Kok, bisa?" tanya Wati ke Maya.


Maya pun bercerita tentang perjalanan pulang sekolah, di mana Dina menyelamatkan Suta teman sekolah mereka dari kemungkinan di gigit ular di teras rumah kosong yang penuh sampah.


Mendengar cerita Maya, Sanusi berserta Wati dan Poppy kaget. Hanya Ami yang terlihat tak suka.


"Ah, paling ular ini peliharaan Dina. Jadi dia tak takut! Coba kalau ular liar, bisa kabur dia!" seru Ami ketus.


"Apa benar itu ular peliharaan mu?" tanya Sanusi terpancing ucapan Ami.


"Pelihara kucing saja, Opa tak kasih. Masa iya aku berani pelihara ular?" Dina berbalik bertanya pada Sanusi.


Sanusi terdiam.


"Dina, cepat kamu buang ular itu!" pinta Wati.


"Buang ke mana Oma? Apa aku pelihara saja?" Dina tersenyum, tangannya masih mengelus kepala ular.


Wati tak bisa menjawab.


"Baiklah, aku bawa pergi ular ini!" Dina berjalan maju.


Serempak semua orang yang ada di depan pintu, menggeser tubuhnya.


"Apa aku ikut Dina?" tanya Maya.


"Tak usah! Aku mau melepas ular ke kebun kosong," jawab Dina terus berjalan pergi.


"Aku masih yakin, ular itu Dina yang pelihara!" cetus Ami.

__ADS_1


Tetapi tak ada satupun yang menanggapi ucapannya. Kecuali mata Poppy yang melotot ke Ami, sebagai tanda anak itu untuk tutup mulut.


Sementara itu Dina terus berjalan keluar. Namun ular putih yang dipegangnya sudah tak ada. Karena ular itu bukan ular asli, penjelmaan dari Bwalika. Tetapi demi akting yang sempurna, Dina masih terus berjalan menuju ke warung, ya dia memutuskan untuk jajan ke warung.


"Kenapa kamu cegah aku menggigit bocah itu Dina?" tanya Bwalika yang telah berubah wujud menjadi gadis yang cantik.


Tetapi tak ada orang yang mampu melihat Bwalika, kecuali Dina. Bwalika sendiri melayang di sebelah Dina.


"Tak usah. Aku tak mau kamu jadi ular yang jahat!" bisik Dina pelan, agar orang tak curiga padanya karena bicara sendiri.


"Oh, kamu ingin aku menjadi baik?" tanya Bwalika haru.


"Ya, Lika. Jika kamu mau jadi temanku, kamu harus jadi jin ular yang baik!"


"Hihihi, kamu lucu! Aku ini jin, kebaikan yang aku berikan pun tentu ada syaratnya. Aku terbiasa meminta imbalan atas kebaikanku itu."


"Lalu kamu mau apa dariku?" tanya Dina cepat.


"Aku...." Bwalika malah tak bisa bicara.


"Sekali lagi, jika kamu masih mau menjadi temanku, berbuat baiklah tanpa mengharap imbalan apapun. Kalau kamu tak mau, pergi saja sana!"


"Kamu mengusirku?" tanya Bwalika tak senang.


"Ya," jawab Dina cepat.


"Kalau aku tak mau pergi?"


"Maka jadilah jin ular yang baik!" tegas Dina.


"Tak perlu berpikir, karena baik itu perbuatan yang nyata. Kalau sekedar dipikir saja tanpa berbuat, kebaikan itu mentah adanya!" jawab Dina santai.


"Oh, berapa sih usiamu saat ini? Kenapa pikiranmu seperti orang dewasa saja?" Bwalika tertawa kecil.


"Sebentar lagi sebelas tahun. Ah, kamu benar Lika... aku kadang memang berpikir sedikit lebih dewasa dari usiaku. Apa aku ini anak yang aneh?" Dina mengeluh.


Bwalika tak menjawab. Karena dia keburu pergi ketika melihat sebuah sepeda motor datang mendekat.


"Dina, kamu mau ke mana?"


Dina mengangkat kepalanya, menatap pada si pengendara motor.


"Papa." Dina berlari ke arah Abay yang baru datang.


"Mau ke mana kamu siang terik seperti ini jalan sendirian? Kalau kamu diculik, nanti Papa bisa nangis tujuh tahun lamanya," canda Abay.


"Mau jajan Pa. Papa pergi yuk, beli es kelapa!" ajak Dina.


"Ayo, naik!"


Dina langsung meloncat ke jok belakang motor Abay.

__ADS_1


Motor pun berputar arah dan pergi ke warung es kelapa. Tak butuh waktu lama, mereka pun sampai ke lapak es kelapa.


"Bang, es kelapanya tujuh bungkus!" pesan Dina begitu turun dari motor ke pedagang es kelapa.


"Tujuh, kenapa banyak sekali?" tanya Abay.


"Kan buat aku, Papa, Oma dan Opa. Terus ada Maya, juga Tante Poppy sama Kak Ami," terang Dina yang tak melupakan Maya, Poppy dan Ami.


"Tante Poppy sama Ami itu siapa?" tanya Abay sambil keluarkan uang selembar lima puluh ribu.


"Aku juga tak begitu kenal sih, Pa. Mereka baru saja datang. Rencananya Ami itu mau tinggal di rumah Opa dan Oma," jawab Dina santai.


"Oh, begitu." Abay mengangguk.


Tiba-tiba Abay terdiam, karena telinganya mendengar bisikan Nyi Malini.


"Sayang, sudah lama aku tak menerima istrimu sebagai korban tumbal."


"Papa lagi dengar apa?" tanya Dina mendadak.


Abay kaget, begitu juga Nyi Malini.


"Hei, heran... kenapa anakmu seperti mendengar aku berkata padamu?" tanya Nyi Malini.


Abay tak bisa menjawab, karena di dekatnya ada Dina.


"Papa lagi apa sih?" tanya Dina dengan mata menyorot tajam.


"Tak ada apa-apa. Eh, Bang... apa sudah siap es kelapanya?" tanya Abay mengalihkan perhatian Dina padanya.


"Satu bungkus lagi Pak!"


"Oh, ini buat bayaran. Kembalian ambil saja!" Abay taruh uang di atas termos es, lalu dia berjalan ke motornya.


Dina menunggu, sekilas dia menengok ke Abay.


"Nyi, apa kamu ada maksud untuk berbuat hal tak baik pada anakku?" bisik Abay.


"Dia bukan anakmu!"


"Tapi bagiku, dia anakku!" tegas Abay.


"Sudah, aku tak urus dia mau anakmu atau bukan. Tetapi yang akan aku lakukan padanya, tergantung pada dirinya. Jika dia usil, maka aku akan memberi hukuman padanya. Dia sudah datang, nanti saja kita bicara lagi di kamar rahasia."


Abay mengangguk pelan.


"Papa mengangguk kenapa?" tanya Dina yang sudah datang.


"Oh, itu tadi Papa berpikir untuk menikah lagi. Apa kamu setuju, kalau Papa cari Mama untukmu?" tanya Abay.


"Aku tak setuju!" jawab Dina.

__ADS_1


"Kenapa?"


"Entahlah, aku hanya merasa Papa tak perlu menikah lagi!" Dina pun naik ke atas motor.


__ADS_2