
Ami dan Maya yang hampir saling jambak-jamabakan itu berhenti. Keduanya menatap Suta yang datang menghampiri.
Jika Maya menundukkan kepala karena malu, maka Ami tampak berani menentang Suta.
"Mau apa lo?" tanya Ami tanpa rasa takut maupun bersalah.
"Kenapa berantem Kak?" tanya balik Suta dengan senyum hambar. Perasaannya berkata, kedua gadis itu ribut karena dirinya.
"Semua karena lo, paham kan?" Ami kesal dan membanting kakinya.
Lalu Ami bergerak maju untuk mendorong tubuh Suta, kemudian berjalan ke arah teras rumah.
"Kalau lo suka sama Maya, sono tinggal di rumah Maya aja," ketus Ami ketika dia berada tiga langkah jauhnya dari Suta.
Ami bicara tanpa menengok ke belakang. Setelah selesai ungkap isi hatinya yang sedang kesal dan emosi itu, dia lalu masuk ke dalam rumah.
"Sebaiknya kamu tak perlu suka padaku. Daripada kamu harus terusir dari rumah," ucap Maya yang baru berani mengangkat kepalanya.
Wajah Maya basah oleh hujan air matanya.
"Suatu hari nanti aku juga akan pergi dari rumah ini. Rencananya sih setelah lulus sekolah dan bisa dapat kerja. Tetapi kalau pun ternyata harus secepatnya pergi dari sini, kenapa aku harus takut. Aku bisa hidup di jalan," ucap Suta yakin.
"Hidup di jalan? Kamu mau jadi apa? Penjahat, pengemis atau apa?" Maya terlihat semakin sedih.
"Lihat bagaimana nanti saja. Oya, ini aku pinjamkan ke kamu!" Suta berikan cincin bermata batu hijau keputihan ke tangan Maya.
"Buat apa?" tanya Maya heran.
"Aku curiga ular tadi itu bukan ular sembarangan. Sebaiknya kamu pegang dulu cincin ini," jelas Suta.
"Sampai batas waktu kapan?" Maya memasukan cincin ke jari manis kirinya. Dia terlihat suka memakai cincin tersebut.
Sinar batu cincin yang masuk ke mata Maya, lalu turun ke arah hatinya dan membuat emosi dia yang memuncak tadi, perlahan-lahan turun dan membuat suhu tubuh panasnya berubah adem dingin.
"Sudah malam, aku harus tidur. Kamu juga dan lupakan masalah malam ini. Kalau bisa, menjauh saja dari Kak Ami," ucap Suta dengan tangan kanannya terulur menyentuh pundak Maya.
Maya mengangkat kepalanya lagi, tadi dia sedikit menunduk saat melihat cincin pinjaman Suta. Seandainya saja cincin ini diberikan kepadanya, hatinya akan bertambah senang.Tetapi untuk saat ini juga sudah cukup baginya.
Maya lalu mengangguk pada Suta.
"Terima kasih," ucapnya lirih.
Suta menemani Maya sampai batas pagar rumah. Setelahnya tanpa berkata-kata lagi, keduanya berpisah.
__ADS_1
***
Sudah jam 1 pagi.
Abay berjalan keluar dari pintu keluar masuk karaoke. Tubuhnya sedikit limbung, bau alkohol.
Tetapi Abay tak keluar sendiri. Tangannya menggandeng pinggang ramping seorang gadis yang lebih pantas jadi anaknya. Gadis muda sekitar usia 20an.
Gadis berwajah manis, tetapi mempunyai lirikan mata genit tak merasa risih Abay sedikit menggeledot di pundaknya. Uang, semua demi uang Abay.
"Oom, kita ke mana sekarang?" tanya si gadis itu merayu.
"Kita ke...." Abay tak melanjutkan ucapannya.
Mata Abay tertuju pada sesosok yang tak asing baginya. Nyi Malini.
Nyi Malini berdiri melayang di dekat motor Abay. Menatap dengan sorot mata gusar dan penuh amarah. Dingin, kejam dan sadis.
Kesadaran Abay dari pengaruh alkohol segara hadir. Dia cepat lepaskan pegangannya pada si gadis, bahkan sedikit mendorong.
Gadis itu memekik pelan, karena kaget dan hampir saja jatuh.
"Ini buat kamu!" Abay keluarkan beberapa lembar uang dan melempar ke arah si gadis.
Lembaran uang berterbangan.
"Ih, orang yang aneh. Tapi lumayan deh, dapat 2 juta tanpa perlu keluar keringat," desis si gadis yang telah mengumpulkan uang yang dilempar Abay tadi.
***
Baru saja Abay memasuki kamarnya, dia sudah terbang ke atas kasur.
Suara berisik, kasur ambruk dan Abay terguling ke lantai. Dia menjerit kesakitan dan ketakutan.
Nyi Malini yang baru saja melempar Abay, merayap masuk ke dalam kamar. Tubuh bagian bawahnya tubuh ular.
"Kenapa Nyi marah padaku? Aku ini kan suamimu dan aku sudah bekerja keras untuk memberikan korban untukmu. Apa salahku?" tanya Abay takut-takut.
Sebagai jawaban, terdengar suara teriakan Abay. Sebab ekor ular Nyi Malini menyabet pipi Abay.
Segaris darah menghiasi pipi kanan Abay.
"Dua kali kamu melakukan kesalahan, Abay!" dengus Nyi Malini.
__ADS_1
Lalu terdengar lagi bunyi cambuk ekor ular Nyi Malini. Kali ini mengarah ke pipi kiri Abay.
"Kesalahan apa?" tanya Abay sambil menggeserkan tubuhnya ke belakang dalam posisi duduk.
"Kamu hampir membuatku mati kali ini!" Nyi Malini berteriak marah. Rambut panjangnya yang tadinya tergelung, kini lepas dan riap-riapan.
"Mati, siapa yang bisa bikin Nyi mati?" tanya Abay tak mengerti.
"Kenal nama Ipoy?" tanya Nyi Malini dengan kepala mendekati wajah Abay.
Leher Nyi Malini memanjang seperti karet, hingga saat ini wajahnya dan wajah Abay hanya berjarak sejengkal saja.
Tercium aroma busuk amis ular menyergap hidung Abay.
"Oh, selama ini aku telah berbuat salah," bisik hati Abay.
"Kamu kenal tidak dengan Ipoy?" bentak Nyi Malini.
Saking kerasnya teriakan Nyi Malini, Abay yang punggungnya sudah bersandar tembok kamar itu tersentak kaget.
Spontan Abay mengayunkan kepalanya ke belakang. Walhasil yang dia dapat adalah rasa sakit akibat kepala terbentur tembok.
"Aku kenal, dia sesepuh di kampungku," jawab Abay sambil menahan rasa sakit di kepalanya.
Nyi Malini berdahem.
"Tetapi bukannya Mang Ipoy sudah meninggal?" tanya Abay.
"Sudah lama dia meninggal. Tetapi Kakek tua itu mempunyai beberapa peninggalan. Kali ini aku bertemu dengan satu diantara peninggalannya itu. Hingga aku tak dapat mengambil korban yang telah kamu tandai itu," tutur Nyi Malini.
"Maksudnya apa Nyi?" Abay tertarik mau tahu.
*
Sebelum tidur, Maya sempat ingin menarik keluar cincin pinjaman Suta. Tetapi cincin itu seperti merekat di jarinya. Tak mau terlepas. Karena itu dia pun tidur dengan memakai cincin.
Waktu berjalan, suara napas Maya terdengar lembut. Tidurnya tampak pulas. Hingga tak sadar, jika di sekeliling tubuhnya tercipta selapis dinding cahaya berwarna hijau keputihan yang tipis, setipis kulit ari.
Jika suasana di dalam kamar Maya tampak tenang, berbeda dengan keadaan malam di luar rumah.
Bulan yang perlahan-lahan menuju titik puncaknya, mendadak tertutup awan hitam pekat. Padahal bulan baru sampai di atas kepala manusia. Tepat di jam tengah malam, pukul 00.00.
Angin berhembus kencang, suasana mencekam.
__ADS_1
Hingga mendadak di kegelapan malam yang tak sewajarnya, merayap cepat sosok wanita bertubuh bagian bawah tubuh ular. Satu manusia ular, jin perempuan berwujud setengah manusia setengah ular.
Manusia ular itu Nyi Malini dan tujuannya rumah Maya.