
"Kenapa lu?" tanya Ami menatap Dina heran.
Tumben Ami tak marah pada Dina. Sebab dia melihat wajah panik Dina. Sementara itu Maya dan Meri yang ikut duduk bersama mereka berdua, membantu menata makanan bagi para tamu tahlil, hatinya berdebar-debar.
Takut ada keributan lagi.
"Aku mendadak teringat Papa Abay," ucap Dina menutupi kejadian yang sebenarnya.
Dalam pikirannya, Dina menduga-duga Abay berada di dekat kuburan mana?
"Kenapa? Apa lu punya firasat Papa Abay udah mati?" tanya Ami.
"Ih, Kak Ami ngomongnya parah!" celetuk Meri yang sukses mendapat cubitan Maya di betisnya.
Posisi duduk Maya lebih dekat ke Ami, tetapi di sebelah Meri.
Meri yang mendapat cubitan Maya, lalu tersadar kalau dia kemungkinan besar sudah berucap hal yang bisa bikin Ami tambah senewen. Alarm bahaya.
"Loh, apa gue salah ngomong? Siapa yang hidup kan bakal mati juga. Bedanya berapa usia yang dilewati di dunia. Seperti Oma Wati, akhirnya meninggal dunia juga kan? Bikin gue sama Dina harus hidup tanpa orang tua sama sekali. Bahkan sampai sekarang, gue aja nggak tahu gimana nasib Mama gue!" Ami mulai menangis.
Semua tampak heran, karena Ami tak marah-marah malah menangis.
Dina yang duduk berhadapan dengan Ami, lalu menggeser tubuhnya ke dekat Ami.
Ami yang melihat Dina berada di dekatnya, lalu memeluk Dina dan benamkan kepalanya di bahu anak tiri Abay itu. Dia masih menangis.
Beruntung tamu undangan belum ada yang datang. Karena masih belum waktunya. Belum masuk waktu isya, tahlil digelar setelah isya.
"Gue kangen Mama, Din. Mana Mama gue? Mana Oma Wati? Mana Papa Abay? Tak ada, semua tak ada! Yang ada cuma lu aja!" isak Ami.
"Iya, Kak." Dina meraba bahu Ami. Memberi tanda, kalau dia ada untuk Ami.
"Lu nggak usah tidur di atas, nggak perlu tinggali kamar bekas Suta itu, biar aja itu kamar jadi tempat setan. Lu di kamar yang dulu aja, biar gue ada teman ngobrol!" seru Ami.
Perubahan yang sangat drastis dan besar. Sikap Ami yang berganti baju ini sungguh membuat hati Dina tentram.
__ADS_1
Maya dan Meri juga ikut menarik napas lega. Walau Maya ingin Dina tidur sekamar dengannya, tetapi dia tak mau memaksa apalagi menggosok Dina.
Terpenting Ami dan Dina bisa dapat bersatu hati, tak ada keributan dan yang ada hanya kebersamaan. Karena kedua gadis itu harus saling mendukung, mereka tak punya orang tua sebagai sandaran hidup.
"Kak, aku boleh kan nginap sewaktu-waktu?" tanya Maya.
"Nggak ada yang ngelarang, kok. Oya, maaf gue kayaknya masih kepikiran tentang Mama gue." Ami lalu berdiri. "Gue butuh waktu, nggak apa-apa kan kalian bertiga yang urus masalah sajian makanan?"
"Iya, Kak. Aman!" seru Meri cepat mewakili semuanya.
Ami tersenyum dan malam ini senyum yang paling terbaik dan termanis yang pernah di lihat Dina, Maya dan Meri.
Begitu Ami masuk ke kamar Wati dan menutup pintunya, Maya dan Meri lalu memeluk Dina.
"Selamat ya Din! Akhirnya kamu sama Kak Ami tak perlu harus menjaga jarak dan berada di benteng masing-masing untuk selalu siap berperang," ucap Maya.
"Busyet, itu ngomong apa kumur-kumur? Bahasanya ketinggian, bilang aja udah nggak musuhan lagi," ralat Meri.
Ketiganya lalu tertawa dan meneruskan menaruh kue dan buah ke piring-piring yang sudah disiapkan.
Sambil bekerja, pikiran Dina terus menerus terganggu oleh apa yang dia dengar. Dia tahu suara tadi milik Bwalika.
Hanya saja, kuburan yang mana?
Apa di dekat kuburan di mana Wati dikubur?
Dina tak tahu, yang dia tahu dia harus cepat mencari agar bisa segera bertemu Abay.
Sementara di dalam kamar, Ami sedang menatap foto Poppy. Dia benar-benar rindu pada mamanya itu. Namun kabar berita barang satu titik pun tak pernah dia dapat. Sekarang usianya 18 tahun, kurang lebih 6-7 tahun dia tak pernah menerima lagi kabar akan Poppy.
Apa Poppy telah menikah dan tinggal di Timur Tengah sana, Ami tak tahu. Yang Ami tahu, Poppy akan berangkat menjadi TKW.
"Mama di mana?" isak Ami.
Ami lalu berpikir tentang tindakannya tadi pada Dina, apa dia telah melakukan hal yang tepat dengan membiarkan Dina bersama dengannya?
__ADS_1
Namun saat ini, Ami merasa kesepian dan dia pun mengusir bisik-bisik setan di dalam hatinya.
Ami menyadari, dia benci pada Dina karena cemburu, kakek-neneknya lebih sayang pada Dina. Lalu dia tahu Abay ternyata memiliki banyak uang yang mampu membelikan apa saja untuk Dina.
Tetapi Dina tak pernah meminta yang berlebihan. Dina anak baik, wajar jika mendapat kasih sayang yang lebih, dibanding Ami.
Waktu itu kecemburuan Ami lebih kuat. Sekarang dia dan Dina serupa, tak punya siapa-siapa lagi.
Betul Dina masih punya Abay. Tetapi dengan tidak hadirnya Abay sampai saat ini, Ami berpikir Abay mempunyai masalah yang berat.
Kalau pun nanti Abay kembali, Ami masih bisa berharap kebaikan Abay. Karena itu dia harus bisa berteman dengan Dina.
Meski niat Ami berbaik hati terkesan karena ada Abay, tapi itu tak seluruhnya benar. Yang tepat, Ami butuh dukungan dan bersama dengan Dina timbul keyakinan, keduanya akan bisa menjalani hidup lebih baik, setidaknya sampai nanti mereka berpisah saat dewasa dan saat bertemu jodoh masing-masing.
*
"Siapa dia?" tanya Nyi Malini.
Bwalika yang telah tertangkap dan diseret ke hadapan Nyi Malini, mengangkat wajahnya.
"Ah, kamu... gadis ular yang aku usir itu!" kaget Nyi Malini.
"Ya dan aku berdoa, istana bobrok ini suatu hari akan hancur dan itu tak akan lama lagi," umpat Bwalika.
"Hahaha, hancur katamu? Itu tak akan mungkin terjadi. Siapa yang bisa membuat hancur istanaku?" Nyi Malini merasa lucu dengan ucapan Bwalika.
"Keturunan Mang Ipoy atau mungkin yang lain," jawab Bwalika.
Wajah Nyi Malini berubah kelam. Dia tak mendengar perkataan terakhir Bwalika, yang dia tahu hanya keterangan tentang keturunan Ipoy.
Bwalika telah salah berucap, dia telah membuat nyawa Suta dalam bahaya.
Karena Nyi Malini sangat benci pada Ipoy, kalau saja dia bisa mengambil jiwa salah satu keturunan Ipoy dengan tangannya sendiri, dia akan sangat senang.
Nyi Malini teringat pada pemilik cincin dengan batu hijau keputihan dan dia rasanya pernah bertemu dengan Suta, pria remaja itu.
__ADS_1
"Lapor Ratu, gadis ular ini kami tangkap saat mengintip rumah Abay, apa yang harus kami lakukan terhadapnya?"
"Cambuk dia sampai mati dan gantung mayatnya di pintu gerbang!" ucap Nyi Malini dingin dan sadis.