ISTRI RAHASIA

ISTRI RAHASIA
Istri Rahasia Bab 48


__ADS_3

"Sini, Bandi. Teman Mang Jajang mau ngopi," teriak Jajang.


"Iya, sini dibeli kopinya. Ini uangnya buat kamu semua!" Abay keluarkan uang selembar lima puluhan dan dilambaikan di udara.


Bandi punya mata dan karena dia melihat uang berasal dari kantung Abay, dia pun mendekat.


"Tapi Mang, aku kan nggak bawa gelas. Ini juga karena kebiasaan si Bapak, yang suka lupa membawa termos cadangan dan beberapa renceng kopi," jelas Bandi.


"Tenang, kan Mang Jajang punya gelas!" Jajang berdiri untuk mengambil dua gelas.


"Uangnya simpan dulu!" Abay sodorkan uang ke tangan Bandi.


"Terima kasih ya, Oom." Bandi pun mengambil uang dengan wajah ceria. Uang pun sudah aman berada dalam kantungnya.


Bandi juga tak perlu repot-repot kembalikan uang kembali Abay. Karena Abay sudah menyuruh simpan uang kembalian.


Tak seberapa lama, Bandi pergi menuju tempat bapaknya berjualan kopi pinggir jalan. Meninggalkan Abay dan Jajang berdua.


"Kan kalau ada segelas kopi ngobrol pun jadi lebih enak." Abay tertawa.


"Kang, terima kasih sudah mau berbaik hati padaku," jawab Jajang dengan suara bergetar sendu.


"Eh, kenapa?" tanya Abay yang kaget melihat raut wajah Jajang yang tampak sedikit berubah.


Jajang menghela napas, dia tak menjawab pertanyaan singkat Abay.


"Tadi aku lihat si Bandi itu agak segan menemui Kang Jajang. Ada apa sih? Apa Kang Jajang galak sama itu anak? Apa ada permusuhan sama orang tuanya? Terus juga, kok aku tak melihat ada orang yang berhenti membeli ketupat Kang Jajang lagi?" Hujan pertanyaan meluncur dari mulut Abay.


"Tiga hari yang lalu di pagi hari, semua masih baik-baik saja Kang. Tetapi, pas menjelang jam sembilan hancur semua," ucap Jajang sedih.


"Ada kejadian apa Kang?" Abay menatap heran dan mau tahu.


"Aku kena fitnah, Kang. Jadi waktu itu ada dua orang beda usia jalan kaki dan berdiri tak jauh dari gerobak, sekitar tiga meter jauhnya. Nah si kecil yang aku tebak berusia enam-tujuh tahun, tiba-tiba berteriak keras." Jajang menghela.


"Dia teriak apa Kang?" tanya Abay penasaran.

__ADS_1


"Dia bilang, 'Papa itu kok ada anak kecil cewek berdiri melayang di dekat gerobak sambil lambaikan tangan ke kita!'. Dari situ, si besar langsung berkata, 'Itu pesugihan! Ayo, cepat pergi dan jangan pernah makan di situ, nanti sakit perut!'. Keduanya lalu pergi." Jajang berkaca-kaca matanya.


"Hah, jahat amat itu mulut!" teriak Abay marah.


Sungguh hebat peran yang dibawakan Abay. Sampai Jajang merasakan perhatiannya itu, di hatinya pun dia memuji kebaikan Abay.


"Apes. Mendadak satu dari lima orang yang sedang makan ketupat memegang perutnya dan berteriak, 'Aduh, perutku sakit!'. Terus dia lempar piring ke tanah. Di sini tepatnya!" Jajang menunjuk ke atas tanah, lalu dia turun dari kursi dan berjongkok.


Saat Jajang berdiri, dia perlihatkan pecahan kecil piring.


Abay mengangguk percaya dengan cerita Jajang.


"Terus apalagi Kang?" tanya Abay dengan wajah simpatik.


"Keempat pelanggan lain pun berhenti makan. Mereka bubar, dari lima orang itu yang membayar hanya dua orang. Satu membayar dengan marah-marah dan tak ikhlas, satunya lagi termasuk langganan tetap. Tetapi...."


"Apa Kang?" Abay semakin menunjukkan perhatiannya dengan sorot mata sedih dan penasaran.


"Pelanggan tetap itu sempat bilang padaku, dia percaya aku tak memakai pesugihan. Tetapi sejak itu dia tak pernah datang. Biasanya sebelum jam sembilan sudah ke sini dan kadang menjadi pembeli terakhir. Kalau pun kehabisan, dia akan duduk ngobrol sambil minum kopi samaku. Beli di tempatnya Bapaknya Bandi yang sepuluh meter dari sini," tutur Jajang menceritakan kesedihan hatinya ditinggal pelanggan setia sekaligus teman bicaranya itu.


"Oh, jadi sebelum kejadian Kang Jajang kena fitnah, bisa dibilang jam sembilan sudah pulang rumah gitu?" tanya Abay memastikan.


"Terus beberapa hari ini, Kang Jajang rugi besar, dong?" tanya Abay seperti lagak wartawan.


"Dari biasanya seratus piring terjual dan paling sedikit sisa sepuluh piring. Sekarang bisa jual sampai sepuluh piring aja susahnya minta ampun. Kang Abay saja jadi pelanggan ketiga hari ini."


"Terus yang tak terjual itu gimana Kang?" tanya Abay.


"Terpaksa dibuang dan aku turunkan omset untuk dua puluh piring aja hari ini. Kalau sampai setengahnya tak terjual, mungkin besok aku tak akan jualan lagi," jelas Jajang.


"Kasihan nasibmu, Kang." Abay mendadak keluarkan lagi uang, kali ini berjumlah satu juta.


"Ambil, Kang!" Abay taruh uang di atas bangku kayu.


Mata Jajang menatap hijau pada uang, tetapi kepalanya menggeleng.

__ADS_1


"Aku rela kok, Kang. Ikhlas, ambil aja!" seru Abay.


"Hei, Bang... hati-hati jangan mau makan ketupat di sini. Ada pakai pesugihannya. Bisa sakit perut nanti!" teriak seorang pemuda.


Jajang menengok dan dia melihat pemuda yang sama, yang waktu itu mendadak sakit perut dan sudah beberapa hari ini selalu datang mengganggu. Tetapi dia tak bisa berbuat apa-apa, karena dia bukan orang yang suka adu mulut dan mengajak ribut.


"Urusan gue, kenapa lo yang ribut? Minggat sana! Apa mau kena ini?" Abay menunjukkan tinjunya di udara.


Si pemuda iseng dan jahil itu kaget, karena reaksi Abay itu diluar perkiraannya. Dia pun memutar tubuhnya dan berjalan cepat. Tetapi mendadak, dia terpeleset jatuh ke depan.


"Aduh! Ular!" teriak si pemuda yang segera melarikan diri.


Teriakan itu membuat Jajang berdiri. Tetapi dia tak melihat adanya ular.


Abay tersenyum keji di belakang punggung Jajang. Karena dia sudah melihat, si pemuda tadi dipatuk ular yang juga anak buah Nyi Malini. Jadi mana mungkin ular itu bisa terlihat mata Jajang, kecuali si pemuda yang tak sadar jatuhnya tadi itu karena digigit ular di betisnya.


Sekitar seratus meter kemudian, tanpa Jajang tahu, si pemuda yang iseng mulutnya itu jatuh terduduk di emperan toko tertutup di sebelah toko beras. Hingga nanti orang akan menemukan dirinya tertidur dan dianggap mati seperti orang keracunan bisa ular, padahal dia hanya tertidur dengan jiwa terbelenggu di dunia jin. Karena tak ada yang tahu rahasia itu, dia pun mati terkubur hidup-hidup.


Kembali pada Abay dan Jajang.


"Terima kasih ya, Kang... sudah mau tak percaya pada pemuda tadi. Dia sering ke sini, berteriak mencegah orang untuk beli ketupat."


"Kang Jajang tak menegur?" tanya Abay.


"Sudah, tapi urusan berikutnya bikin ribet."


"Kenapa lagi?" Abay kembali bertanya.


"Pemuda itu ternyata masih ada hubungan dengan mantan bos-ku dulu. Bisa dibilang yang juga menyarankan, mengajak dan mengajarkan aku segala macam proses jualan ketupat ini. Kalau tidak, mungkin aku akan tinggal di kampung, keluar masuk hutan mencari kayu bakar dan lainnya. Pemuda itu datang bersama mantan bos-ku yang menegurku dengan keras. Aku pun tak bisa berbuat apa-apa lagi, kecuali membiarkan pemuda tadi berkoar-koar."


"Kalau begitu kita sama, Kang!" seru Abay.


"Sama apa nih Kang?" Gantian Jajang yang merasa heran mendengar celotehan Abay.


"Itu, dulu aku juga keluar masuk hutan di kampung. Tapi lihat sekarang, aku sudah punya cukup uang!" Abay tersenyum.

__ADS_1


Jajang menatap tak percaya.


"Kalau Kang Jajang mau, aku punya jalan yang bisa Kang Jajang coba!" bisik Abay.


__ADS_2