ISTRI RAHASIA

ISTRI RAHASIA
Istri Rahasia Bab 34


__ADS_3

"Ah, Kang Abay bisa saja. Mana ada aku dibilang cantik, aku ini jelek Kang. Udah tua dan janda juga," ucap Poppy.


"Janda aku suka! Soalnya tak perlu diajari lagi. Mari masuk!" ajak Abay.


"Ini kan rumah orang Bang. Apa enak?" tanya Poppy.


"Tenang saja, yang punya rumah sedang pergi. Masalah enak, kita buat bersama yuk!" Abay terus mengajak Poppy masuk ke rumah.


Poppy tak menolak, malah dia sengaja menempelkan kepalanya di bahu Abay.


Tangan Abay mudah saja membuka pintu rumah yang tak pernah dikunci. Tak ada orang jahat yang berani masuk, kalau pun berani nasibnya akan sial ketemu ular.


"Kang, mobil di luar itu punya siapa?" tanya Poppy waktu Abay menutup pintu.


"Mobilku, kenapa? Apa kamu mau mobil?"


"Memangnya Kang Abay mau belikan apa?" Poppy tersenyum lebar dan matanya bersinar penuh harap.


"Asal kamu tahu apa yang aku mau, mobil itu bisa saja jadi milikmu!" sahut Abay.


"Tapi sayangnya, dua hari lagi aku harus masuk karantina PJTKI yang aku ikuti. Aku kan mau kerja di Kuwait, Kang!" seru Poppy sedih.


"Tak perlu pergi! Tinggal saja bersamaku, mau kan? Aku butuh istri. Tetapi...."


"Apa Kang?" tanya Poppy.


"Kita bicara di kamar saja, mau tidak?" Abay memegang kedua pundak Poppy.


"Ih, di kamar mah bukan ngobrol Kang!" Poppy menggeleng.


"Ya, ngobrol sambil...."


"Ayo, deh!" Poppy menarik tangan Abay.


Poppy bukan wanita baik-baik, tetapi bukan berarti dia wanita yang buruk dan jahat. Jika bukan karena nasib buruknya, dia pun tak punya keahlian apapun untuk melamar jadi karyawan. Jadinya dia terjebak pada dunia hitam.


Pintu kamar pun tertutup, tetapi suara cekikikan Poppy mulai ramai terdengar.


***


Waktu berjalan.

__ADS_1


Sudah hampir setahun Abay dan Poppy hidup bersama sebagai suami-istri di rumah Abay lain yang besar. Hanya saja, pernikahan mereka termasuk aneh dan penuh rahasia.


Mereka berdua menikah tanpa mengundang keluarga, hanya tetangga di seputar rumah yang menjadi wali nikah mereka. Bukan pernikahan yang tercatat secara hukum negara.


Karena itu pernikahan Abay dan Poppy terbilang rahasia. Karena Poppy tak pernah menemui Ami di rumah Sanusi, hanya Abay yang sesekali masih datang ke sana.


Poppy terlanjur bilang mau pergi jadi TKW ke Kuwait. Dia malu kalau bilang batal pergi hanya untuk menjadi istri Abay, mantan suami Santi. Ada rasa tak enak pada Sanusi dan Wati, karena mantan suami Santi malah menjadi suaminya saat ini.


Abay juga mengatakan pada Poppy, kalau dia melarang Poppy memberitahu tentang pernikahan mereka.


Tetapi satu hal yang membuat Poppy senang, Abay bisa memberikan dia banyak harta dan uang. Walau harus berhati-hati ketika mau keluar rumah. Dia pun baru tahu, kalau selama ini Abay sedikit berbohong dengan mengatakan kerja di luar kota.


Abay memang pergi dari rumah untuk kerja, namun apa kerjanya tak pernah Poppy tahu.


Di rumah yang berlantai dua, Poppy hanya ditemani pembantu yang datang pagi pulang sore.


Sore telah tiba, Abay baru saja membuka pintu rumah ketika dia disambut wajah ceria Poppy.


"Kamu terlihat senang, ada apa?" tanya Abay setelah mendaratkan ciuman hangat di kepala Poppy.


"Tadi pagi, sekitar jam sembilan. Aku pergi ke dokter dan hasilnya ini...." Poppy berikan selembar kertas dengan tulisan berbentuk ketikan dan logo sebuah klinik.


"Kamu hamil?" tanya Abay senang.


Poppy mengangguk, lalu menundukkan kepala dan mengelus perutnya.


"Ah, akhirnya aku akan punya anak kandungku sendiri!" Abay bersorak girang, lalu dia menggantikan tangan Poppy mengelus perut.


"Loh, bukannya Dina itu anakmu, Kang?" tanya Poppy heran.


Abay ingin bilang tidak, tetapi dia sudah anggap Dina sebagai anak kandungnya sendiri.


"Oya, kita harus rayakan momen bahagia ini! Kamu mau makan malam di mana?" Abay mengalihkan perhatian Poppy.


"Restoran bintang lima di hotel bintang lima aja, Kang. Ada kan uangnya?"


"Hahaha, uangku berpeti-peti banyaknya. Tak perlu takut jatuh miskin. Ok, nanti malam kita makan di restoran bintang lima!" Abay setuju.


Sementara itu Dina dan Ami terlihat sedang berjalan pulang dari minimarket. Tetapi hanya Dina yang menjinjing tas belanja yang terbuat dari kain berwarna biru dengan tulisan logo 'Save The Earth'.


"Kak Ami, tak baik loh main hape di pinggir jalan kayak gini, apalagi sambil jalan!" tegur Dina.

__ADS_1


Ami sudah berubah, dia mulai beranjak remaja. Dia pun sudah mulai mengenal yang namanya genit, dibanding Dina yang jauh terlihat anggun.


"Kak Ami."


"Bawel amat sih lo! Berisik tahu nggak kuping gue dengar ocehan lo! Suka-suka gue mau main di mana aja, ini hape gue dan boleh dikasih sama Mama gue, kenapa lo iri? Iri bilang bos!" Ami berkata kasar, tetapi dia termasuk bunglon sebab di depan Sanusi dan Wati, dia pandai bersilat lidah.


"Bukan bawel Kak, hanya mengingatkan. Kemarin saja di tempat ini ada yang jadi korban jambret ponsel," terang Dina.


"Mana? Mana? Lo punya mata kan? Jalanan sepi begini!" Ami tunjuk ke kiri dan kanan jalan.


Suasana jalan memang sepi. Tumben sore ini jalanan besar perumahan tak ada motor berlalu lalang. Hanya ada seorang pengemis yang lewat, itu pun masih cukup jauh jaraknya.


"Terserah Kak Ami, deh! Aku kan cuma mengingatkan. Kalau terjadi apa-apa, aku tak mau tanggung jawab!" seru Dina yang tak berhenti melangkah.


"Ah, yes! Love you juga Bang Rey ganteng!" Ami tampak senang menatap layar ponselnya.


Dina kerutan keningnya. Dia menghela napas, kecil-kecil Ami sudah kena virus cinta monyet.


"Dina, lihat deh! Bang Rey, senior gue di tingkat akhir bilang cinta ke gue. Besok gue mau makan bakso bareng dia pulang sekolah!" Ami kasih lihat ponselnya ke Dina.


Dina melirik sekilas. Tetapi cukup baginya untuk membaca pesan dari Rey bertuliskan 'I lope-lope wit u, Ami. Be my GF'.


Dina ketawa dalam hati, tulisan bahasa Inggris apa itu? Masa Love diganti lope, with jadi wit. Rusak habis.


"Kok, muka lo biasa aja? Kenapa nggak ikut senang buat gue?" tanya Ami.


Namun pertanyaan itu tertunda sejenak jawabannya. Karena kehadiran nenek pengemis yang meminta sekedar uang receh. Kebetulan di kantong Dina ada uang lima ribu, dia berikan semuanya.


"Terima kasih ya, Nak." Nenek pengemis itu tersenyum, lalu pergi.


"Lo kasih uang banyak amat!" Ami menatap kecewa.


"Tak masalah Kak. Di rumah kan masih ada uang tabungan." Dina tersenyum.


"Eh, iya... gue mau tanya lo, kenapa sih muka lo biasa aja pas tahu gue dapat pacar?" desak Ami.


"Aku kan masih kecil Kak. Nggak boleh pacaran, karena kewajibanku itu ya belajar. Lagian Kak Ami mau aja kena virus cinta monyet!"


"Biarin, daripada kena cacar monyet!" ketus Ami, lalu mendadak dia menjerit.


"Aduh!"

__ADS_1


__ADS_2