ISTRI RAHASIA

ISTRI RAHASIA
Istri Rahasia Bab 85


__ADS_3

Setahun berlalu dengan cepat.


Perubahan pastinya terjadi pada setiap manusia, terutama bertambahnya usia.


Dina yang kini berusia enam belas tahun, terlihat semakin matang. Walau belum bisa dibilang dewasa, tetapi apa yang dia lalui selama bersama Nini Ai tidaklah mudah.


Selain harus belajar ilmu agama sebaik mungkin, beribadah dengan hati ikhlas, dia pun sebisa mungkin menjalani ritual puasa. Meski begitu, dia tak boleh malas melakukan pekerjaan rumah.


Gemblengan Nini Ai luar dan dalam membuat Dina semakin matang jiwanya, hingga dia terkesan lebih tua dari usianya.


Pagi ini di hari minggu, matahari baru saja menyibak awan pagi yang sedikit lebih tebal. Hingga beberapa waktu, pagi tak terlalu terik oleh sinar matahari.


Sasan tampak telah siap mendorong gerobak untuk menjual cilok. Sejak dia menumpang di rumah Nini Ai, dia pun berjualan cilok keliling. Hasilnya lumayan, bisa buat jajan sekolah Dina.


"Bapak sudah mau berangkat?" tanya Dina melihat Sasan yang sedang memompa angin ke ban sepeda.


Sasan menunggu dia selesaikan terlebih dahulu pekerjaan kecilnya, lalu menatap Dina.


"Iya. Kamu pagi ini mau ke mana?" tanya balik Sasan sambil dia menyimpan alat pompa sepeda ke dalam gerobak.


"Euis rencananya mau mengajak aku pergi ke rumah Bibinya di Kampung Cidaun. Apa boleh aku pergi Pak?" Dina berharap Sasan memberikan persetujuannya.


"Kalau Bapak sih boleh saja. Kamu bisa kan jaga diri?"


"Semoga saja ya, Pak. Kan tidak lupa berdoa." Dina tersenyum.


Sasan terpesona menatap Dina.


"Bapak kenapa bengong?" tanya Dina.


"Kamu cantik, mirip Ibumu. Tetapi kamu lebih bagus sedikit nilainya." Sasan kasih dua jempol.


"Ih, Bapak apaan sih? Yang lebih cantik dari aku kan banyak di luar sana."


"Betul. Tetapi yang jadi anak Bapak ya cuma kamu." Sasan tertawa.


Dina tersipu malu.


"Oya, apa kamu butuh uang jajan buat ke tempat Bibinya Euis?" Sasan bersiap buka resleting tas pinggangnya


"Tak perlu Pak. Uang yang kemarin masih ada." Dina menolak halus.


"Kalau begitu Bapak pergi dulu. Eh, iya... kapan kamu berangkat?"


"Sebentar lagi Pak. Terus juga sudah pamit sama Nini Ai," ucap Dina sekaligus menerangkan kalau sudah diperbolehkan pergi oleh Nini Ai.

__ADS_1


Sasan mengangguk. Setelah mengucap doa, dia pun berkata salam pada Dina dan mulai berangkat.


Dina menatap punggung Sasan yang perlahan mulai menjauh. Saat itulah dia melihat ada seorang pemuda yang senyam-senyum di jalan depan rumah Nini Ai.


"Pagi Donat."


"Namaku Dina, bukan Donat! Kamu kan tahu sudah tahu namaku, gimana sih kamu Kukun? Seenaknya saja ganti nama orang?" Dina tersenyum.


"Hehehe, maaf deh. Habis kamu itu terlihat manis seperti donat yang dikasih gula halus." Kukun balas tersenyum, lalu berjalan mendekat dan berhenti di pagar rumah. Dia tetangga depan rumah Nini Ai, seusia dengan Dina.


"Terima kasih sudah bilang aku manis." Dina tersenyum lagi.


"Dina, please deh stop smile-smile ke aku. Bisa jatuh cinta eh pingsan, nih!' goda Kukun.


"Jatuh cinta jangan deh!" Dina menggeleng.


"Loh, kenapa? Normal kan kalau cowok jatuh cinta sama cewek. Yang penting lawan jenis," ucap Kukun sedikit merayu.


"Wajar. Tapi maaf, aku belum mau kenal apa itu cinta. Paling sekedar teman, boleh."


"Ya, aku tahu. Cowok seburuk aku mana bisa dipandang cewek secantik kamu. Ibaratnya gagak tak bisa bersanding sama merak," kata Kukun dengan nada sedih.


"Bukan begitu. Tetapi aku memang belum mau kenal cinta. Bagiku, cowok berhati baik dan mau beribadah tulus itu punya poin tersendiri. Ditambah mau bekerja keras dan penuh semangat. Cuma yang terpenting itu satu...." Dina menatap Kukun, pria bertubuh jangkung kurus dengan kulit sawo matang dan rambut ikal halus.


"Oya, apa itu?" Kukun penasaran.


"Hahaha, betul betul. Sama seperti aku, meski cewek itu cantiknya melebihi bidadari, tapi kalau sudah mati... wah, itu bahaya! Kan aku nggak terkenal cuma gara-gara pacaran sama mayat. Maunya sih sesuai prestasiku!"


"Kamu punya prestasi apa Kun?" tanya Dina.


"Sekarang sih belum. Tapi nanti pasti ada. Lagi dipikirin." Kukun merapikan rambutnya.


Dina tak berkomentar.


"Oya, kamu sudah rapi. Memangnya mau ke mana?" tanya Kukun.


"Ke Kampung Cidaun. Diajak Euis," jawab Dina.


"Eh, hati-hati ya di sana! Kamu harus bisa bawa diri," ucap Kukun cepat.


"Kenapa?" Dina menatap Kukun meminta penjelasan.


"Di sana itu...." Kukun tak jadi bicara karena melihat Euis berjalan mendekat.


Euis juga tetangga rumah Nini Ai. Tetapi rumahnya berjarak sekitar lima rumah. Teman sekolah Dina.

__ADS_1


"Eh, ada Kukun," sapa Euis.


Kukun mendadak berbisik pada Euis.


Dina mengernyitkan keningnya. Penasaran dan curiga, apa yang dibisikkan Kukun ke telinga Euis.


"Iya, sudah tahu. Aku juga nggak lama-lama kok di sana!" jawab Euis dengan suara yang agak keras, hingga bisa didengar Dina.


"Ok, kalau kamu sudah paham, aku pulang deh!" Kukun terus berpamitan pada Dina dan berjalan pulang.


"Kalian berdua ngomong apa tadi?" tanya Dina.


"Nanti saja di jalan aku jelasin. Yuk, berangkat!" ajak Euis.


Dina pun beranjak pergi dari rumah Nini Ai. Pagar yang terbuat dari kayu dan berbentuk pintu setengah pinggang pun ditutup Dina terlebih dahulu, baru dia dan Euis berjalan kaki menuju jalan raya. Rencananya mau naik angkot.


*


Suta menatap Ami yang sedang berbincang dengan seorang pemuda di parkiran minimarket yang belum buka. Ami memakai kaos oblong dengan celana pendek selutut, sepatu olahraga dan kaos kaki. Di tangan Ami ada handuk kecil warna biru.


Sementara pemuda yang bersama Ami itu duduk di atas motornya yang baru diparkir.


Tadinya Ami dan Suta sedang berjalan pulang, setelah merasa cukup berlari pagi di minggu yang cerah. Tetapi pemuda itu yang dikenal Suta bernama Leo memanggil Ami.


Ami pun menyuruh Suta menunggu sejenak.


Tetapi dari kejauhan, Suta merasa ada hal yang aneh sedang terjadi antara Ami dan Leo.


"Lo itu harusnya nggak perlu marah gue mau jalan sama cewek lain! Gue itu cowok, wajarlah punya pacar lebih dari satu," ucap Leo.


"Lucu lo! Gue itu punya hati! Gue mana rela berbagi. Sekarang udah jelas kan, gue minta putus!" tegas Ami dengan nada tinggi.


"Kalau gue nggak mau putusin lo?" Leo turun dari motornya.


"Itu sih masalah lo sama keluarga lo yang metal-metal. Masalah gue jelas, lo-gue end!" Ami sudah memutuskan.


"Ah, sok kecantikan lo!" dengus Leo.


"Memang gue cantik! Kalau lo cantik baru bahaya!" ejek Ami.


"Eh, jaga itu mulut!" bentak Leo.


Suta kaget dan dia berjalan mendekat, berjaga-jaga agar Ami tak kenapa-napa.


"Seharusnya lo tuh yang jaga itu mulut, biar nggak gampang bilang di sini cinta, di sana sayang!" Ami semakin berani.

__ADS_1


Mendadak.


Ami menjerit....


__ADS_2