
Waktu terus berjalan.
Hubungan segitiga Suta, Ami dan Maya Semakin rumit. Jika Suta sedang bersama Ami, Maya hanya mampu melihat dari kejauhan dengan sepasang mata menyorot sedih.
Ketika Suta sedang bicara dengan Maya, sebisa mungkin Ami akan mengganggu.
Namun begitu, Ami dan Maya tak pernah beradu fisik, paling sekedar perang mulut. Sementara itu cincin yang dipinjamkan Suta
ke Maya telah dikembalikan.
Bicara hubungan ketiganya, hanya Suta yang terkesan tak terlalu peduli. Karena baginya Dina dan Dina saja yang ada di dalam hatinya.
Hingga sebentar lagi Dina akan muncul dan ini akan merubah segalanya.
*
Kala itu senja mulai turun. Tetapi malam sepertinya jatuh lebih awal, karena awan mendung tebal menutupi peran matahari yang sebenarnya masih tersisa beberapa waktu untuk menerangi bumi. Hanya saja tebalnya dinding awan membuat sinar matahari tak dapat menembusnya.
Suta berjalan kaki seorang diri. Dia baru saja selesai bermain bola basket di lapangan RW sebelah. Diajak temannya.
Tadinya ada yang mau mengantarnya pulang. Namun berhubung motor yang mau dipakai mengantar itu ngadat tiba-tiba, Suta pun memutuskan untuk jalan kaki saja.
Hingga hujan turun mendadak. Suta yang mendadak bingung, tanpa pikir panjang berlari ke sebuah rumah yang kebetulan memiliki toko yang sedang ditutup. Ada ruang baginya untuk berteduh.
Toko itu dibangun dengan memakai lahan depan rumah, hanya setengah dari enam meter lebar rumah. Di sebelah toko ada pagar dengan pintu kecil. Pintu itu terbuka setengah.
Jika Suta mau, bisa saja dia masuk ke pekarangan rumah yang beratap, hingga dia bisa terbebas dari curah hujan. Bisa juga duduk di kursi teras. Tidak seperti saat ini, di mana meski dia bisa berteduh, tetap saja terkena cipratan air hujan.
"Hei, kenapa berteduh di sana? Ayo, masuk sini!"
Suta yang sedang merapat ke pintu toko, lalu menoleh ke arah kanan asal suara itu bermula.
Mata Suta terpaku pada sosok gadis manis berusia sekitar 15 tahunan, rambut berkepang dua dan memiliki kulit kuning Langsat. Yang menarik dari gadis itu sinar matanya yang bening dan jeli.
"Masuk saja Bang. Aku nggak gigit kok," tawa si gadis itu, gadis si tuan rumah.
Suta masih mengawasi si gadis itu. Mendadak dia melihat suatu bayangan yang aneh. Lintasan sinar berbentuk ular. Tanpa sadar, Suta melirik ke cincin yang dipakainya. Sejak Maya mengembalikan cincinnya, sejak itu pula cincin tersebut menghiasi jemari Suta.
__ADS_1
"Kamu harus masuk dan tolong gadis itu Suta."
Suta kaget, hatinya bersuara aneh.
"Namaku Yuri, Bang. Anak dari pemilik rumah ini, jadi ya setengah tuan rumah. Ayo, masuk saja. Daripada di situ kehujanan," ajak Yuri.
Kali ini Suta tak menolak.
*
Dina sedang menatap kalung dan tasbih yang baru saja diberikan Sasan padanya.
Mereka duduk berdua di ruang tamu rumah Nini Ai. Sudah sebulan ini mereka hanya tinggal berdua. Karena Nini Ai sudah pergi, sebab merasa waktunya sudah cukup untuk bersama-sama dengan Dina dan Sasan.
Rencananya besok, Dina akan berpisah dengan Sasan. Usia Dina sudah cukup 17 tahun. Sudah waktunya diberikan benda peninggalan Ipoy yang dititipkan pada Sasan.
Kalung pemberian Ipoy itu kalung berantai besi putih, mulus dan terang dengan mata kalungnya yang menawan. Sementara tasbih yang diberikan merupakan rangkaian batu yang bercahaya cemerlang.
"Dua benda ini buatmu dari Mang Ipoy, sesepuh kampung kelahiran Bapak. Beliau berpesan, setelah usiamu 17 tahun kedua benda ini harus diberikan kepadamu. Entah apa artinya, Bapak tidak tahu," ucap Sasan.
Dina tak banyak berkomentar. Tetapi kalung itu segera dipakainya dan begitu juga tasbih yang berjumlah 33 batu itu bisa dipakai sebagai gelang.
"Aku berusaha semampuku saja Pak. Bisa atau tidaknya aku pasrahkan pada kehendak-Nya," jawab Dina tenang.
Sasan mengangguk.
Sejenak suasana mendadak hening.
"Apa Bapak tak ikut saja ke kota?" tanya Dina.
"Nini Ai telah memberikan rumah ini buat Bapak. Jadi sudah tak bisa ke mana-mana. Apalagi...."
"Hihihi, aku lupa. Kan aku mau punya Ibu baru. Ibu Witri," ucap Dina menggoda.
Ya, beberapa bulan terakhir Sasan sudah dekat dengan seorang janda, yang juga masih keluarga dari Kukun.
"Kamu ini, kalau memang jodoh ya bolehlah Bapak menikah lagi. Tetapi kalau tidak, Bapak sudah cukup puas dengan hidup seperti ini. Karena anak Bapak dua-duanya sudah besar," jawab Sasan.
__ADS_1
"Anak Bapak dua?" kaget Dina, karena dia baru tahu kabar ini.
"Ah, Bapak lupa cerita padamu. Beruntung tadi Bapak keceplosan bicara dan kamu bertanya ulang. Ya, Bapak punya anak dua. Kamu yang pertama dan Suta yang kedua," jelas Sasan.
"Nama Suta serasa tak asing. Aku punya teman bernama Suta," jawab Dina.
"Apa nama lengkapnya Suta Ajidarma? Nama Ibunya Lala?" tanya Sasan dengan sinar mata penuh harap.
"Setahuku namanya itu Suta Handoko. Nama Ibunya, aku tak tahu."
"Ah, kalau begitu bukan. Jika kamu nanti bertemu dengan adikmu itu yang bernama Suta Ajidarma, bawalah ke mari," ucap Sasan.
"Wah, hanya berdasarkan nama kan agak berat Pak. Apa ada ciri khususnya?" tanya Dina.
"Ada, tanda lahir. Tetapi tanda lahir itu sulit dilihat," jelas Sasan.
"Apa tanda lahirnya Pak?"
"Tompel besar di sekitar pusarnya," terang Sasan.
Dina coba mengingat apa Suta yang dia kenal mempunyai tompel di dekat pusar. Tetapi rasanya tidak punya. Karena dulu waktu sering acara berenang di sekolah waktu SD dulu, kan Suta buka baju. Tetapi waktu itu Suta memang senang memakai celana pendek sampai di atas pusarnya. Apa karena Suta malu punya tompel atau karena memang itu gayanya memakai celana. Entahlah.
"Semoga saja aku bisa bertemu dengan adik se-ayah denganku itu ya, Pak." Dina tersenyum pada Sasan.
Sasan mengiyakan. Mereka berdua pun berpisah untuk sementara karena waktu azan maghrib telah terdengar.
*
Suta terus mengawasi wajah Yuri. Sampai-sampai Yuri memerah wajahnya dan berpikir lain.
Yuri ketakutan. Suasana sedang hujan deras. Tak ada orang di luar rumah. Sementara waktu maghrib sebentar lagi datang. Di rumah pun hanya ada dia dan adiknya yang baru berusia enam tahun. Kedua orang tuanya belum pulang dari kantor mereka masing-masing.
Sementara itu tatapan mata Suta semakin tajam. Ada niat Yuri berteriak, tetapi dia ragu dan takut salah paham. Karena Suta belum memberikan tanda-tanda akan berbuat jahat padanya.
"Apa kamu beberapa hari ini mimpi buruk?" tanya Suta dengan nada tajam pada Yuri.
"Maksudnya apa ya, Bang?" tanya Yuri heran.
__ADS_1
"Kamu mimpi buruk apa tidak?" Suta sedikit menaikkan nada suaranya.
"Kalau iya kenapa dan kalau tidak kenapa?" tanya balik Yuri.