
Seruan Nini Ai itulah yang membuat Euis kaget. Tak hanya suara, tetapi kehadiran Nini Ai yang tiba-tiba dan juga bangunnya Dina dengan wajah lebih segar dari sebelumnya.
Namun terbangunnya Dina, malah membuat beberapa orang tua dari kampung Cidaun tak terlalu senang, karena mereka berpikir apa yang terjadi pada Dina itu sudah sering mereka lihat.
Mereka menatap Dina dengan wajah sedih, karena gadis cantik itu akan mati saat kembali ke rumahnya. Sebab korban sebelum Dina pun seperti itu, jatuh di kampung Cidaun setelah dengan rakus memakan dan meminum pemberian warga kampung, lalu bangun untuk berdiri pulang dan tak lama mati. Selalu saja ada satu orang warga kampung yang mengikuti si korban sampai ke rumahnya sendiri. Jadi kabar kematian si korban terus berdatangan, belum ada yang selamat.
"Kita pulang!" Nini Ai menggandeng tangan Dina.
Lalu mata Nini Ai menatap Ki Roto.
"Mulai sekarang, kalian harus bertobat dan perbanyak ibadah. Satu lagi, kalian harus memulai hidup seperti orang biasanya, bekerja dan bekerja, tak perlu andalkan istri rahasia kalian," ucap Nini Ai tegas, lalu berjalan keluar dari rumah Endang dengan menggandeng tangan Dina.
Ki Roto ingin berbicara, tetapi mulutnya terasa kaku.
Hingga mendadak terdengar suara gemuruh yang keras.
"Hore, rumah angker itu ambruk. Eh, rumah Ki Sangaji sudah hancur!" teriak seseorang kencang.
Nini Ai dan Dina sudah menghilang sejak tadi. Mereka bergerak sangat cepat, sampai Euis kaget karena dia ditinggal seorang diri.
Sementara Ki Roto berserta yang lain, berlarian keluar dari rumah Endang. Mereka semua bergegas menuju ke arah di mana rumah Ki Sangaji berdiri, rumah angker yang tak pernah ambruk, meski rumah itu sudah tak karuan bentuknya.
Endang dan Euis ikut bersama rombongan itu. Mereka sama melihat, betapa rumah Ki Sangaji sudah rata oleh tanah.
"Ki Roto ke sini!" teriak Ki Alam dari belakang rumah yang ambruk.
Ki Roto bergegas ke arah Ki Alam, diikuti beberapa orang lainnya. Begitu dia melihat telunjuk Ki Alam mengarah ke mana, tubuhnya bergetar dan air matanya turun.
Yang ditunjuk Ki Alam itu kuburan dari Ki Sangaji. Kuburan yang ratusan tahun lamanya tak pernah ada rumput yang tumbuh di atasnya dan sekarang kuburan itu seperti permadani rumput.
"Kita selamat, kita tak perlu lagi basuh tangan dengan darah, tetapi air wudhu!" teriak seseorang.
"Darimana kamu bisa tahu?" tanya yang lain.
__ADS_1
"Aku baru saja memanggil istri jin-ku. Tetapi dia tak bisa datang dan tak akan bisa datang. Aku hanya mendengar, ikatan kita sudah habis itu katanya. Kamu bisa coba sendiri," jawab yang pertama kali berteriak itu.
Semua pria dewasa yang kebetulan hadir di situ, termasuk Ki Roto dan Ki Alam mencoba memanggil istri rahasia mereka dari jenis jin. Ternyata semua mendapatkan pengalaman yang sama. Tak ada tanda-tanda para istri rahasia mereka itu mendekat.
Isak tangis pecah. Doa berhamburan dan wajah-wajah lega bermunculan. Sudah lama mereka ingin terbebas dari nafsu jahat yang tak bisa mereka cegah, muncul saat melihat ada orang asing masuk kampung, kecuali orang asing tersebut mempunyai tujuan.
"Apa dia keturunan Ki Samiaji?" tanya Ki Roto pada Euis.
Euis tak tahu, tetapi dia menganggukkan kepala.
*
Makan malam telah usai.
Suta naik ke lantai atas untuk mengambil gitarnya di kamar. Dia ingin memetik senar gitar sambil duduk di jendela lantai atas, menatap langit. Dia ingin menyanyikan lagu rindu bagi Dina.
Dalam hati Suta hanya ada Dina. Walau di dunia ini terdapat banyak sekali gadis yang cantik, seperti Ami dan Maya. Namun kecantikan mereka tak dapat menggoda benih cinta Suta untuk Dina.
Bahkan Suta hampir setiap malam menjelang tidur atau di saat dia sedang rindu, menatap Dina. Foto Dina yang berada di ponselnya, itu yang dia lihat. Banyak foto yang diambil secara diam-diam, meski begitu ada juga foto yang sengaja diambil atas ijin Dina. Ada dua foto Dina yang menjadi favorit Suta.
"Dina, kamu semakin cantik kan?" desis Suta, lalu memulai memetik gitar.
"Lo ngapain di sini?" tanya Ami yang sudah berada di lantai atas.
Seharusnya Suta mendengar langkah kaki Ami. Tetapi karena dia sedang teringat pada Dina, jadinya tak mendengar suara sama sekali.
"Oh, mau mancing, Kak," jawab Suta sambil turunkan gitarnya bersandar dinding. Sementara dia masih duduk di jendela.
"Mancing apa? Jelas-jelas pegang gitar gitu."
"Mancing keributan Kak. Kan dengan aku gonjrang-gonjreng gitar, jadi berisik. Belum lagi suara kaleng rombengku bikin pusing yang mendengar," jawab Suta.
"Hihihi, bisa aja lo. Oya, gue cantik nggak?" tanya Ami mendadak.
__ADS_1
Suta bengong. Tak ada angin tak ada hujan, mendung pun tidak. Tetapi tahu-tahu Ami bertanya dia cantik atau tidak.
"Gue cantik apa nggak?" Ami mengulang pertanyaannya.
"Cantik kok, Kak." Suta akhirnya menjawab.
"Dibanding Maya, cantik mana?" tanya Ami lagi dengan pipi bersemu merah.
"Keduanya sama cantik," jawab Suta tanpa pikir panjang.
"Gue minta lo pilih satu, gue apa Maya yang cantik?" tanya Ami dengan jarak semakin dekat dengan Suta.
Suta turun dari duduknya di jendela. Dia awasi wajah Ami sedemikian rupa, sampai-sampai Ami tertunduk malu.
"Kak Ami itu punya dua kelebihan dibanding Maya. Tapi kalah satu bagian dari Maya," jawab Suta.
"Kalau begitu gue lebih cantik, dong?" tanya Ami dengan hati senang.
Suta mengangguk.
"Kelebihan gue dari Maya apa?" desak Ami.
"Kak Ami itu punya mata bintang, kalau Maya lebih besar bola matanya. Maaf, bibir Kak Ami menurutku lebih bagus dari bibir Maya yang tebal. Hanya saja Kak Ami hidungnya lebih pesek dari Maya," jawab Suta.
"Wah, jadi lo suka gue kan?" Ami main peluk Suta saja.
Suta kaget, beruntung dia sudah turun dari duduknya di jendela. Kalau tadi dia masih di tempatnya yang tadi dan mendadak ditomplok Ami, bisa-bisa malah jatuh ke genteng.
"Lo mau kan jadi pacar gue? Lagian kita kan nggak ada hubungan darah. Kalau lo mau dan kita sampai menikah nanti, eh kalau udah pada gede, ya. Kita masih bisa tinggal di rumah ini. Rumah ini kan bakal jadi hak gue. Keturunan Oma Wati ya gue, Dina mah orang lain," ucap Ami setelah melepas pelukannya.
Namun belum lagi Suta menjawab, terdengar teriakan panjang.
"Ulaaar!"
__ADS_1
Suta bergegas berlari ke lantai bawah, karena dia ingin melihat keadaan 'dia' yang berteriak tadi.
Ami kesal, karena merasa waktunya terganggu. Tetapi karena penasaran akan teriakan 'dia' yang juga dikenalnya, Ami pun menyusul Suta turun ke bawah.