
"Ada perintah apa Nyi?" tanya Abay.
Abay tak sabar menunggu Nyi Malini berbicara.
"Aku butuh anak perawan, berikan aku satu." Dingin nada suara Nyi Malini.
"Tapi bukannya tiga bulan lalu sudah?" Abay mencoba membantah. Karena dia merasa lelah harus terus menerus memberikan korban tumbal bagi istri rahasianya Nyi Malini.
"Jika aku bilang butuh, tak ada alasan kamu menolak atau menawar. Atau kamu ingin cepat-cepat mati dan menjadi budak di kerajaanku?" Nyi Malini membesarkan pelupuk matanya.
"Tidak, berani!" Abay menundukkan kepalanya.
"Oya, bukan hanya anak perawan, aku juga butuh anak perjaka. Dalam waktu tiga hari ini kamu harus serahkan mereka!"
Abay mau bertanya lebih jauh, tetapi Nyi Malini lebih dahulu menghilang.
Kepergian Nyi Malini seharusnya membuat Abay senang. Tetapi tidak, saat ini Abay sedang dilanda perasaan yang tak mengenakan hatinya.
Ada rasa gelisah dan bingung, ditambah rasa takut mati dan menjadi budak bagi Nyi Malini.
"Apa yang harus aku lakukan?" Abay pegangi kepalanya. Pusing.
*
Dina dan Euis kembali melanjutkan perjalanan mereka, setelah sempat tertunda dihadang ular welang besar.
Namun ternyata kehadiran ular tersebut sekedar menyapa Dina dengan caranya. Tanpa Euis tahu, Dina mendapat pesan dari ular itu.
Pesannya hanya satu kata 'hati-hati'.
"Itu ular kayaknya jinak banget sama kamu, rahasianya apa?" tanya Euis kagum pada Dina.
"Tak ada rahasia, mungkin aku dulu pernah berbuat baik pada ular itu kali," jawab Dina semaunya.
"Bisa jadi. Kadang kan binatang seperti itu. Aku pernah lihat video di media sosial. Singa kecil dipelihara sampai dewasa, terus dilepas ke alam liar. Setahun kemudian, singa yang dikasih tanda itu ketemu lagi sama si pengasuhnya. Eh, aku pikir bakal diterkam, kan tuh singa udah dilepas liarkan. Tahunya malah bercanda. Padahal tuh singa udah meloncat kayak mau menerkam gitu," tutur Euis panjang.
"Ya, bisa jadi itu insting si binatang untuk tahu kalau manusia yang ada didekatnya bukan manusia jahat," balas Dina.
"Sama kayak binatang peliharaan ya. Kalau dipelihara dengan baik, mereka nggak akan nakal." Euis tersenyum.
"Tapi kok kamu nakal padaku?" tanya Dina menggoda.
__ADS_1
"Eh, berani ya!" Euis berusaha mencubit Dina.
Tetapi Dina sudah berlari lebih dulu sambil tertawa lepas dan panjang.
Euis lantas mengejar Dina. Hingga tak terasa mereka mendekati gapura kampung Cidaun.
Dari arah dalam kampung, berjalan keluar seorang kakek dengan wajah yang terlihat biasa saja. Tak ada roman jahatnya.
"Oh, anak manis kenapa lari-larian. Tentu haus kan? Nah, Kakek punya botol minum berisi air kelapa muda segar. Mau kan?" tangan keriput si kakek asing terulur ke arah Dina.
Entah darimana asalnya, ada botol plastik di tangan si kakek asing. Warna air di dalam botol putih kehijauan.
"Terima kasih, Kek. Apa boleh aku minum ini? Kakek kasih ijin kan?" Dina sepertinya lupa dengan pesan Euis.
"Boleh, ya ijin diberikan," tawa si kakek terdengar setelah dia selesai bicara.
Euis berikan tanda batuk kecil bagi Dina, agar tak menerima botol minum si kakek. Wajahnya tampak pucat pasi. Namun untuk bicara dia tak berani, karena mata tajam si kakek mengawasinya.
"Apa kamu juga mau minum, hei keponakan Endang?" tanya si kakek itu pada Euis.
"Aku tak haus, Kek. Terima kasih," jawab Euis hingga dia tak tahu Dina telah selesai minum air kelapa muda.
"Wah, air kelapa mudanya enak sekali Kek. Terima kasih!" Dina lalu tersenyum pada si kakek. "Kita jalan lagi, yuk!" Dina menarik tangan Euis.
"Kenapa kamu minum air itu? Kan aku sudah bilang...."
"Air kelapa mudanya enak dan segar. Aku juga pas haus, jadi tak salah kan aku terima kebaikan orang. Hitung-hitung kasih pahala buat si kakek, karena aku terima kebaikannya," jawab Dina memotong ucapan Euis. Dia terlihat tenang-tenang saja.
Di belakang Dina dan Euis, si kakek asing itu menatap punggung Dina dengan senyum sinis.
"Hehehe, jangan salahkan aku kalau terpaksa mengambil jiwamu dengan sihir racunku. Salahkan sumpah nenek moyangku, yang memberi perintah menguji manusia rakus sepertimu hei gadis cantik. Setelah sepuluh langkah, kamu akan mati kesakitan!" desis si kakek yang berakhir dengan sorot mata herannya.
Si kakek itu melongo bengong, sebab dia melihat Dina sudah lebih dari sepuluh langkah berjalan pergi, tetapi baik-baik saja kondisinya.
Seharusnya Dina setelah sepuluh langkah berjalan, akan berjongkok memegangi perutnya yang terasa sakit. Lalu menjerit untuk selanjutnya berguling-guling di tanah, sampai berhenti bergerak dengan darah memancur keluar dari lubang mulut, hidung, mata bahkan telinga.
Tetapi Dina malah terlihat santai berjalan terus.
"Ah, apa anak itu yang pernah dibicarakan orang tua terdahulu. Jika penduduk asli kampung ini harus berhenti melakukan sihir, jika mendapati ada seseorang asing yang datang ke kampung ini, lalu keadaannya baik-baik saja setelah menerima pemberian makanan atau minuman yang telah diberi racun sihir. Kalau betul, betapa senangnya. Kami akan terbebas dari belenggu sumpah nenek moyang," ucap si kakek asing, lalu dia terburu-buru berjalan masuk ke dalam Kampung Cidaun.
Tujuan si kakek itu rumah orang yang dituakan warga kampung Cidaun.
__ADS_1
*
Dina telah berada di ruang tamu rumah bibinya Euis. Ruang tamu yang sempit dan hanya punya satu bangku panjang. Karena itu Dina mengikuti cara Euis duduk di lantai yang beralas tikar.
Di tengah-tengah ada kardus berisi air mineral gelas.
Sementara itu Endang bibinya Euis sedang di dapur, sedang memasak pisang goreng.
"Heran, deh!" desis Euis.
Dina tak menjawab, karena dia tertarik pada foto yang terpajang di dinding di atas pintu kamar. Entah kamar siapa.
Foto itu pria tua dengan kumis tebal, bersorot mata yang aneh bagi Dina. bola mata kanan terkesan jahat dan yang kiri sebaliknya. Wajahnya tampak kejam, tetapi senyumnya membuat teduh.
"Kamu tadi lihat kan, aneh banget mendadak kampung ini seperti kampung mati. Padahal biasanya kalau ada tamu baru, banyak orang yang muncul," cerita Euis.
Dina masih menatap foto pria tua itu.
"Oya, satu lagi yang aku bikin heran. Kamu kok baik-baik saja? Kan tadi aku lihat sendiri, kamu minum sampai habis begitu. Bahaya, loh!" seru Euis.
"Pria tua di foto itu siapa?" Dina malah bertanya tentang sosok pria di foto, dia tak merespon ucapan Euis sebelumnya.
"Mana tahu, mungkin Bibi Endang tahu. Dia kan menikah sama pria dari kampung sini," jawab Euis agak kesal, soalnya tadi Dina sama sekali tak tertarik dengan ucapannya.
"Kirain kamu tahu," ucap Dina.
"Sebaiknya tak perlu tahu banyak tentang kampung ini. Cukup kamu tahu, ada banyak bahaya di kampung ini." Euis mengawasi wajah Dina, kali saja ada perubahan.
"Yang lebih bahaya itu ketika hati yang jujur mencoba belajar untuk bohong. Orang yang terbiasa berbuat baik, eh malah ingin mencoba berbuat jahat. Itu bahaya!" jawab Dina tenang-tenang saja.
Tetapi apa benar kata Euis, kampung Cidaun berubah menjadi kampung mati?
Tidak.
Di kampung Cidaun ada rumah yang paling besar, satu-satunya dan rumah yang berbentuk kotak itu saat ini di ruang tamunya yang luas sedang ramai penduduk kampung Cidaun.
Si kakek asing yang bertemu Dina dan Euis duduk seorang diri di tengah-tengah seperti sedang disidang. Dia baru saja selesai bercerita tentang Dina yang tak mati setelah menerima pemberian darinya.
"Ki Alam bicara jujur kan?" tanya seorang wanita separuh baya.
"Aku ini dari dulu tak pernah bicara bohong pada orang sekampung. Bahkan aku pikir tak akan ada yang berani orang asli kampung sini bicara bohong pada sesama orang asli. Apa kamu berani berkata bohong padaku, hei Tiyah?" Ki Alam menatap wanita yang tadi bertanya padanya.
__ADS_1
"Kami percaya karena itu...." Tiyah menatap pada pria tua yang duduk dengan mata terpejam. Pria yang duduk diam seperti patung.