
Bagaimana Abay bisa hadir di rumah Yuri?
Abay juga pulang dari rumah sakit. Dia pergi setelah Suta menghilang lebih dulu, 15 menit sesudah anaknya Sasan itu.
Sama dengan Suta, Abay naik ojek. Tetapi dia tak langsung pulang ke rumah. Dengan perban di kepala, dia meminta tukang ojek mengantarnya ke rumah Yuri.
Abay tahu rumah Yuri, karena dia diam-diam membuntuti gadis itu waktu pulang.
Seusai Abay memberikan hadiah uang, sebagai cara dia menentukan korban bagi Nyi Malini, Dia pun mencari tahu kabar Yuri. Sebab melihat Nyi Malini datang padanya dengan wajah masam dan galak, dia lantas curiga.
Apa Yuri baik-baik saja?
Ternyata Abay memang melihat tak ada bendera kuning, tak ada tenda di depan rumah Yuri. Seharusnya dia sudah tahu Yuri masih hidup.
Namun manusia punya rasa penasaran tinggi, Abay belum puas jika tak melihat keadaan Yuri.
Karenanya Abay meminta turun dari ojek, tetapi tak menyuruh ojek itu matikan mesin motor. Dia beralasan hanya sebentar saja menengok keponakannya ada di rumah atau tidak.
Begitu melihat Yuri ternyata baik-baik saja dan duduk di teras sedang berbincang, Abay tak merasa kaget. Namun saat dia perhatikan kalau yang duduk menemani Yuri dan membelakanginya itu Suta, Abay baru kaget.
Meski saat itu Suta sedang setengah menunduk, jadi tak melihat Abay melalui pantulan kaca jendela teras rumah Yuri, tetapi Abay berpikir dia harus cepat pergi.
Daripada Suta curiga padanya. Sayang, Yuri melihat dan mengenal Abay.
Karena itu Abay buru-buru naik ke atas motor ojek lagi.
"Jalan Mas, keponakan saya ada di rumah!" pinta Abay.
Tukang ojek pun tarik tuas gas. Hingga motor menjauh.
"Jadi kita ke mana lagi Pak?" tanya tukang ojek itu.
"Ke warung kopi aja, saya butuh kopi!"
"Loh, bukannya enak ngopi dibikin sama keponakan, Pak?"
"Keponakanku itu galak. Tadi aja pas aku melihat dia, dia langsung nguber," jawab Abay kesal.
__ADS_1
"Hah, kok aneh. Paman takut keponakan?"
"Masalahnya saya janji mau kasih hadiah. Kalau dia merengek, nggak enak di dengar tetangga. Saya belum ada uang," jawab Abay cepat.
Jawaban itu dirasa tepat oleh si tukang ojek yang berusia sekitar 30an itu.
"Iya, ya Pak. Saya juga punya keponakan masih balita. Baru 5 tahun. Kalau saya janji sama dia dan nggak ditepatin, bisa guling-guling dia nangis di lantai. Kayak risol di atas tepung roti. Habis badannya kotor sama debu. Hahaha."
"Itu warung kopi, berhenti Mas!" Abay minta turun.
***
Dina dibangunkan Meri. Tadi habis makan dan meminta ijin gunakan kamar Meri untuk sholat, Dina malah ketiduran.
Meri biarkan Dina tidur sampai terbangun sendiri. Tetapi hampir sejam hujan berhenti, Dina belum juga bangun.
Mengingat sudah mau ashar, Meri pun bangunkan Dina. Rencananya dia mau ikut ke rumah sakit bareng Dina.
Setelah ashar yang bertepatan dengan meleknya mata Dina, Meri pun setuju berjamaah.
Setelah itu, mereka pun berpamitan pada ibunya Meri dan menunggu mobil yang akan menjemput mereka. Hujan dan becek, mereka putuskan untuk naik mobil taksi online ke rumah sakit, meski bisa saja naik angkot.
Saat mobil mulai melaju, berpapasan dengan motor yang membawa pulang Suta. Hanya saja waktu itu Meri dan Dina sedang sama-sama menunduk. Dina sedang perhatikan Meri yang mencari ponsel di tas tangannya. Jadi Suta tak terlihat.
Kalau saja mobil telat beberapa menit, Dina dan Meri yang menunggu di depan pagar rumah, akan bertemu dengan Suta yang sudah pulang dari rumah Yuri.
Namun saat Meri sudah mengambil ponselnya dan menelepon Maya, Dina sempat melihat ada nenek-nenek berjalan ke arah gang rumah. Dari bayangannya, Dina merasa itu Nini Ai.
Tetapi karena hati Dina sedang mencemaskan Wati, dia pun tak begitu memperhatikan. Dia hanya menyangka, mungkin karena dia rindu pada Nini Ai, jadi dia mengganggap nenek itu Nini Ai.
Meri sudah selesai menelepon Maya. Dia menatap gelisah Dina.
"Maya ngomong apa?" tanya Dina.
"Oma Wati koma," jawab Meri.
Tadi waktu hujan, Dina memang tak meminta Meri menelepon Maya. Padahal kalau saja dia tahu lebih dulu, tak akan mungkin dia tidur agak lama. Bisa jadi setelah ada tanda-tanda hujan mau berhenti, dia akan segera pergi ke rumah sakit.
__ADS_1
"Koma? Terus siapa saja yang ada di sana?" tanya Dina cemas.
"Selain Maya ada Ami. Tadinya ada Pak RT dan istri sama orang tua Maya. Kini mereka sudah pada pulang," ucap Meri.
"Nah, itu mobil Pak RT!" Meri menunjuk ke arah mobil yang berpapasan jalan sebelum mobil mereka memasuki jalan raya.
Dari gang rumah sampai ke jalan raya, butuh perjalanan sekitar 3-5 menit, bahkan lebih. Tergantung kondisi jalan kompleks.
*
Abay tak jadi masuk ke warung kopi. Karena dia melihat pelayan kopi mirip dengan Nyi Malini.
Karena itu Abay memilih untuk pulang. Tetapi dia bingung harus pulang ke mana, karena dia tak berani kembali ke rumahnya.
Yuri masih hidup. Itu tandanya Abay yang harus menggantikan Yuri.
Abay masih ingat ancaman Nyi Malini, jika gagal memberikan tumbal sampai ketiga kalinya, jiwanya lah yang akan dibawa ke kerajaan Nyi Malini.
Dalam kebingungannya, Abay malah berkali-kali melihat wajah Nyi Malini. Setiap wanita yang dia temui, besar dan kecil parasnya mirip Nyi Malini.
Abay seperti orang yang dikejar-kejar. Lari ke sana salah, lari ke sini juga salah.
Hingga Abay semakin dekat ke rumah Wati. Tanpa pikir panjang lagi, dia melangkah lebar ke rumah Wati. Dia punya kunci serep rumah Wati, diberikan si pemilik rumah. Karena itu dia memilih pergi ke sana.
Kehadiran Abay ke rumah Wati tak terlihat Dina dan Meri yang masih berjamaah.
Tetapi saat Abay berada di dalam ruang tamu rumah Wati, dia pun mendapat apa yang dia takuti. Padahal dia sudah merasa lega karena tak melihat Nyi Malini lagi. Bahkan masih sempat-sempatnya membikin kopi.
Saat Abay sedang meneguk kopi, dia melihat Nyi Malini berdiri di depan pintu rumah Nyi Malini yang tertutup.
Spontan, Abay melempar gelas ke arah Nyi Malini.
Percuma.
Gelas itu tak membahayakan Nyi Malini. Gelas itu menembus badan Nyi Malini.
Suara beradunya gelas dan papan pintu membuat Suta yang baru turun dari motor semakin kaget.
__ADS_1
Suta yang baru sampai sudah curiga melihat pintu pagar terbuka. Semakin curiga ketika mendengar suara ribut dari dalam rumah.
"Pergi! Jangan dekati aku! Pergi sana, pergi!