ISTRI RAHASIA

ISTRI RAHASIA
Istri Rahasia Bab 115


__ADS_3

Jenazah Wati telah sampai. Bahkan sudah pula dimandikan di rumah sakit. Tubuh tua Wati telah terbungkus kain kafan yang rapi, hanya saja bagian mukanya masih dibuka. Sengaja agar para pelayat yang datang dan mau melihat wajah terakhirnya, kesampaian cita-citanya.


Lubang hidung Wati pun telah tersumpal kapas. Kini jenazah itu sudah berada di ruang tamu. Terbaring tenang dan diam. Meski ada gempa sekalipun, mayat itu tak akan lari.


Jika Wati bisa terbangun dari tidurnya yang sudah dinyatakan berusia panjang itu, maka akan ada kehebohan dan kegemparan.


Tetapi saat ini sudah ada kehebohan yang lain.


Ami.


Tangis Ami yang keras membuat banyak orang yang melihat dan mendengar, ikut terbawa emosi.


Walau tak menangis seperti gaya Ami, tetap saja beberapa orang yang berada di ruang tamu itu meneteskan air mata, termasuk Yuri yang sebenarnya tak kenal sama sekali dengan Wati dan lainnya. Yuri hanya kenal Suta.


Namun ada sebab lain di hati Yuri, hingga dia menangis.


Yuri yang datang seorang diri diantar papanya itu, kini ikut menangis karena melihat betapa sorot mata Suta tak pernah lepas dari gadis cantik yang bersimpuh di sebelah Ami. Gadis itu Dina.


Yuri juga datang hampir bersamaan dengan kedatangan ambulans. Dia tiba sebenarnya memiliki maksud lain dari sekedar menjadi salah satu pelayat.


Ada dua hal yang ingin Yuri lakukan, yakni memberi perhatian pada Suta dan juga mengembalikan cincin Suta yang jatuh tadi sore.


Sore tadi waktu Yuri mau berpamitan pulang, Suta mendadak berlari ke arah kamar mandi karena merasa mulas. Ketika itulah cincin Suta terjatuh dan diambil Yuri.


Awalnya Yuri menunggu, tetapi temannya datang menghampiri dan mengajak pulang. Karena hari sebentar lagi mau berganti malam.


Karena berpikir dirinya akan kembali malam nanti, Yuri pun merasa tak perlu lagi menunggu Suta. Dia pulang dengan jari manis terhias cincin Suta, cincin yang dia sukai.


Kini Yuri sedang bimbang. Dia bermaksud mengembalikan cincin Suta. Namun rasa cemburu membakar hatinya. Walau dia masih gadis remaja, tetapi apa tak boleh cemburu? Bahkan anak kecil yang lebih muda darinya pun memiliki rasa cemburu, meski dalam arti lain.


Cemburu itu sifat alami manusia. Berawal dari banyak hal, bisa benci dan bisa juga karena merasa dicueki. Ada banyak faktor dan itu sulit dilukiskan dengan kata-kata.


Seperti saat ini, dari cemburu buta Yuri, dia pun enggan mengembalikan cincin Suta.

__ADS_1


"Kak Ami, tak baik menangis terlalu berlebihan seperti ini. Kenapa tidak, kita baca Yasin dan kirim doa diniatkan buat Oma," ucap Dina yang bisa didengar banyak orang.


Semua orang setuju dan kuatir karena terlalu berlebihannya kesedihan Ami, malah membuat Ami akan jatuh pingsan.


Ami tak mendengar, dia malah memperkeras tangisnya.


"Kak Ami, apa yang Dina saranin itu bagus, loh!" Suta yang duduk bersimpuh di belakang Ami dan Dina ikut bersuara.


Tentunya mendukung Dina.


"Lu berdua nggak perlu urus urusan gue! Lu kan bukan cucu yang punya hubungan keluarga sama Oma. Cuma gue!" jerit Ami yang membuat banyak orang kaget.


Apa badai akan segera datang?


Dina terdiam. Begitu juga Suta, tetapi matanya sempat melirik Dina.


Yuri melihat itu dan dia yang berdiri bersandar tembok menghentakkan kaki dan mendengus gusar. Cemburu membakar hati Yuri.


"Mau senang kek, mau kagak kek, apa urusan lu? Ini juga semua gara-gara lu! Coba kalau lu nggak datang, Oma belum tentu mati!" semprot Ami.


"Tapi masalah takdir kematian, apa urusan dan hubungannya sama Dina?" tanya Suta.


Ami dan Dina menengok ke belakang. Yang lain tak bisa ikut campur, hanya bisa mendengar dan berjaga-jaga dari kemungkinan yang terburuk.


"Oh, jadi lu sekarang udah masuk tim sorak Dina, ya? Setiap dia bicara, lu dukung dan setuju gitu?" ketus Ami.


"Suta, aku harap kamu tak banyak bicara!" pinta Dina lebih halus.


Meski suara Dina terdengar lembut. Namun di telinga Suta seperti bunyi letusan meriam, sebab Dina tak mau dia membela gadis itu.


Di telinga Yuri malah terdengar ucapan Dina itu sebagai obat bagi rasa kecewanya. Karena dengan itu artinya Dina tak senang Suta ikut campur.


"Dengar tuh! Dina nggak mau lu ikut campur!" ejek Ami.

__ADS_1


"Siapa juga yang mau ikut campur urusan Dina. Aku hanya bicara secara unsur kepantasan saja," ucap Suta tak mau kalah.


Setelah berucap seperti itu, Suta mendapat kode dari Andi dan Dayat agar tak banyak bicara.


Lalu Andi mau membuka suara karena tak baik ada pertengkaran mulut, di depan mayat Wati. Setidaknya ketiga remaja tersebut harus menghargai momen kesedihan ini.


Tetapi suara Andi tak jadi keluar. Pak RT tersebut keduluan Ami.


"Unsur kepantasan apa? Bilang aja karena unsur cinta, lu cinta kan sama Dina? Gue tahu, karena di ponsel lu ada foto Dina. Gue juga pernah lihat lu tulis di kertas, Suta love Dina. Ngaku lu!" sembur Ami.


"Kenapa nggak berani jujur? Ya, aku cinta Dina. Bagiku dia lebih baik dari Kak Ami!" Suta berkata sangat tegas.


Semua orang kaget. Dina terkejut, Maya dan Yuri mengeluh tertahan. Sedangkan Ami tertawa sinis.


Banyak orang yang menyayangkan kejadian ini. Mereka pun membujuk agar keributan ditunda atau tak perlu dilanjutkan, karena lebih baik membaca Yasin dan doa.


Tetapi ada tiga orang yang mengeluh dalam hati. Dina mengeluh karena dia tak bisa menerima cinta Suta, bukan karena dia sudah tahu Suta itu adik beda ibu dengannya. Namun dalam hatinya ada perasaan menolak Suta sebagai kekasih.


Dalam hati Maya dan Yuri hampir sama. Mereka cemburu. Hanya saja Maya jauh lebih mengerti dan paham, jika Suta lebih memilih Dina.


Tetapi hati Yuri selain kecewa, cemburu ada rasa lainnya yaitu marah dan mengejek Dina.


Di mata Yuri, boleh jadi Dina cantik. Tetapi dia merasa dirinya lebih cantik dan muda dari Dina.


"Kalau begitu, lu jangan harap tinggal di sini lagi. Karena rumah ini tak ada lagi orang tuanya!" tegas Ami, lalu dia berdiri pergi ke arah belakang rumah.


"Siapa juga yang mau tinggal di rumah ini lagi. Tetapi aku masih punya hutang sama Oma. Setidaknya aku lebih memahami, Oma butuh doa bukan air mata!" seru Suta.


Tetapi Ami tak menggubris. Karena dia sedang berjalan ke arah kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Dia juga sadar, air mata itu tak cukup buat Wati, itu hanya sekedar ungkapan perasaan sedih saja, yang dibutuhkan Wati itu kiriman doa.


Suasana di ruang tamu pun berubah. Kini tak ada lagi terdengar suara orang ribut. Yang ada hanya terdengar gema lantunan ayat suci, doa untuk Wati.


Hanya ada satu suara yang tak terdengar. Yuri telah pergi, dia memilih pulang ke rumah dan sengaja menahan cincin Suta.

__ADS_1


__ADS_2