ISTRI RAHASIA

ISTRI RAHASIA
Istri Rahasia Bab 86


__ADS_3

"Berhenti, jangan berkelahi!" Ami berteriak cemas dan panik.


Meski Ami benci pada Leo yang telah menduakan dirinya, tetapi dia tak mau ada keributan antara Suta dan Leo.


Tetapi Leo dan Suta belum mau berhenti. Mereka saling beradu pukulan. Leo lebih tua dua tahun dari Suta, tetapi badannya sedikit lebih kecil dari Suta. Namun tinggi Leo lebih unggul sejengkal dari Suta.


Keributan antar mereka sangat ramai, ditambah teriakan Ami.


Kalau tak ada orang lain yang buru-buru berlari memisahkan, kemungkinan wajah Suta dan Leo akan lebih banyak lukanya.


"Berhenti, berhenti! Di sini bukan ring tinju!" teriak seorang bapak gemuk dengan marah.


Sementara tubuh Suta dipegangi seorang pria dewasa dan Leo dihadang pria lainnya.


Leo mendengus, lalu berjalan ke arah motornya. Kemudian tanpa bersuara sama sekali, dia nyalakan mesin motor dan menggeber tuas gas tiga kali.


Sebelum pergi meninggalkan lokasi, Leo menatap Suta dengan mata melotot merah.


"Awas lo, kalau ketemu lagi gue bakal...." Leo tak melanjutkan ucapannya, tetapi dia meludah ke tanah.


Suta tak perlu mendengar perkataan Leo sampai habis, sebab dia tahu artinya Leo belum mau mengakhiri perseteruan di antara mereka. Padahal dia hanya mau menolong Ami agar tak disakiti Leo.


"Memangnya ada apa sama kalian berdua?" tanya si bapak gemuk.


"Biasa Pak, aku putusin dia karena aku mau fokus sekolah. Eh, dia marah dan mau pukul aku. Untung ada Adikku!" Ami menunjuk Suta.


"Dia itu siapa?" tanya pria yang memegangi Suta. Kalau dilihat dari air mukanya, terlihat sedikit kurang menangkap otaknya.


Dia yang dimaksud Ami, tentu saja Leo.


"Dia itu ya kamu! Sudah, kita bubar!" ajak si bapak gemuk gemas, lalu berjalan pergi lebih dulu.


"Eh, si Bapak tadi aneh. Kan bukan gue yang berkelahi, masa iya tuh Bapak bilang 'dia' itu gue?" ucap si pria berwajah culun itu pada temannya, si pria yang menghalangi Leo.


"Kayak gitu aja dipikirin. Sekarang gini aja, ada monyet di atas pohon 3, di bawah pohon ada 2. Berapa monyet yang di atas pohon?" tanya temannya itu.


"Gue mana tahu, kan gue bukan monyet!" jawab si pria culun itu.


Selanjutnya, tak ada suara lagi yang terdengar, karena mereka berdua sudah menjauh pergi. Tertinggal Suta dan Ami.


"Kita pulang!" ajak Ami.

__ADS_1


Suta mengiyakan.


*


Ami dan Suta sudah sampai rumah. Saat ini Suta sedang mengompres wajahnya dengan handuk kecil yang didalamnya di kasih es batu. Beruntung Wati sedang tak di rumah, jadi tak perlu menjawab pertanyaan Wati yang kemungkinan akan rewel bertanya ada apa gerangan.


"Suta terima kasih tadi ya, lo udah bertindak bak pendekar pembela kebenaran," ucap Ami.


"Hehehe, sayangnya jurus yang aku pakai cuma jurus tinju tahu aja, Kak. Jadi nggak K.O itu cowok!" jawab Suta yang lalu meringis kesakitan selepas bicara.


"Ya, kalau sampai K.O, mending lo jadi petinju aja. Oh, jadi petarung mixed martial art juga bisa, tuh!" saran Ami.


"Cita-citaku itu mau jadi bos, Kak. Bukan atlit kayak gitu. Sebenarnya aku juga ngeri sih tadi, ternyata beradu pukul sama orang itu bikin badan babak belur, muka sakit-sakit. Kapok, deh!" Suta gelengkan kepalanya. Setidaknya rasa sakitnya banyak berkurang.


Apalagi tadi sebelumnya Suta telah meminum obat pereda rasa nyeri.


Ami tak berikan komentar membalas ucapan Suta. Karena saat ini matanya dipakai menatap wajah Suta.


"Ternyata ini anak ganteng juga," bisik hati Ami.


"Oya, sebenarnya Kak Ami sama cowok tadi itu ribut masalah apa sih?" tanya Suta.


"Dengar, tapi nggak banyak."


"Oh, ya udah gue kasih tahu. Gue itu benci sama dia, karena ternyata punya cewek lain di belakang gue. Enak aja, mau mainin perasaan gue!" ketus Ami.


"Tapi kok apa Kak Ami nggak merasa egois?" tanya Suta heran.


"Maksud lo itu apa?" Ami menatap gusar Suta.


"Bukannya selain cowok tadi itu, pacar Kak Ami juga banyak? Lebih dari satu kan?" Suta balas menatap Ami.


"Eh, itu urusan gue! Jangan ikut campur lo! Lagian gue itu cuma main-main aja, belum mau serius. Kan masih sekolah!" Ami berdiri saking kesalnya dia ditegur Suta.


Saat itulah Maya berlari masuk. Maya di usianya yang setahun lagi sweet seventeen itu, kini berubah bentuk tubuhnya. Lebih montok dan terlihat cantik, meski tinggi tubuhnya termasuk pendek. Lebih pendek sebatas mata dari Ami yang tingginya sekitar 160 cm.


Maya sudah tak gemuk lagi.


"Suta, kamu tak apa-apa kan?" tanya Maya yang masuk rumah tanpa mengucap salam dan main duduk di sebelah Suta.


Tampak sorot mata Maya beraura cinta.

__ADS_1


"Mau ngapain lo ke sini?" Ami terlihat tak senang melihat Maya yang menyimpan cinta bagi Suta.


"Mau rawat Suta. Kan katanya habis berkelahi sama orang. Tadi ada yang lapor, itu si Prio," cerita Maya.


"Ucapan bocah jangan didengar! Suta tak kenapa-napa. Sono gih pulang!" usir Ami. Prio itu bocah berusia sepuluh tahunan, tetangga mereka.


Maya kaget karena baru kali ini dia mendapat perlakuan kasar Ami, berupa pengusiran.


Suta diam saja. Dia tak enak mau membela Maya. Sebab dia kan menumpang di rumah Wati, sementara Ami itu cucu Wati.


"Tapi kalau nggak kenapa-napa, kok wajah Suta dikompres?" bantah Maya.


Baru Ami mau menjawab, datang bintang penolong bagi Maya untuk tetap berada di ruang tamu rumah. Sebab Wati sudah pulang dengan menenteng tas berisi sayur mayur, Wati baru pulang dari pasar.


"Eh, Suta kenapa tuh? Kok, wajahmu memerah gitu?" tanya Wati heran.


Ami mendengus, lalu memutar tubuhnya untuk masuk ke dalam kamar. Dari dalam kamar dia mendengar celoteh Maya yang seperti berada di tempat kejadian perkara saja.


"Huh, cari muka di depan Suta!" ejek Ami pelan.


Ami cemburu.


*


Abay baru saja bisa membuka matanya, setelah semalaman dia harus melayani nafsu liar Nyi Malini.


Wajah Abay tampak jauh lebih tua. Bukan karena malas merawat diri, tetapi dia merasa tertekan dan mulai bosan dengan kehidupannya saat ini.


Jika dulu setiap dapat uang dari Nyi Malini, Abay hamburkan uang itu lebih banyak untuk urusan perut, terkadang dibagi ke orang lain. Kini dia lebih banyak berfoya-foya di dunia malam.


Bahkan Abay sudah mulai jarang ke rumah Wati. Itu pun kalau Wati atau Ami menelepon dirinya, baru dia datang ke sana.


Abay turun dari ranjangnya. Dia tutupi bagian bawah tubuhnya dengan handuk, lalu berjalan masuk ke dalam kamar mandi.


Di dalam kamar mandi, Abay seperti orang gila, membuang-buang air seperti ingin menghapus noda yang melekat di tubuhnya selama ini.


"Aku harus berhenti!" ucap hati Abay.


"Tapi apa aku berani mati?" bisik hati Abay yang lain.


Abay tak tahu, dia bimbang dan resah. Yang pasti, hatinya mulai guncang.

__ADS_1


__ADS_2