
Jam istirahat belum berbunyi lama. Tetapi kelas 7 - C, sudah terlihat luas dan hampir kosong. Tinggal Dina dan Eci yang belum keluar. Pasalnya, Dina sedang galau hatinya.
Wati, neneknya masih tak mau bicara pada Dina. Sejak kejadian bakso iga yang dibawa Ami jumat siang lima hari yang lalu. Sebab itu akibatnya Dina tak bersemangat beberapa hari terakhir.
"Ada sih sama lo, Din? Bukannya tadi pagi udah ketemu sama Pangeran pujaan hati, ya? Kok, nggak ada ceria-cerianya? Kan diajak makan bakso, tuh! Memangnya lo mau tolak apa?" Sekali Eci buka mulut, telinga Dina mendengar runtutan pertanyaan.
"Nah, itu anaknya!"
Dina yang baru mau menjawab pertanyaan Eci, kaget mendengar datangnya teriakan dari pintu kelas. Terlihat tiga wajah kakak kelas datang berkunjung, dilihat dari garis muka mereka bertiga, kedatangan mereka tak bisa dibilang bermaksud baik.
Eci juga ikut melihat, lalu berbisik pada Dina.
"Bahaya, Kak Gina datang! Dia kan naksir sama Kak Aro."
Dina pun teringat kejadian tadi pagi, di gerbang pintu sekolah.
Pagi itu Dina berjalan sedikit menundukkan kepala. Sebab dia merasa ada beban di kepalanya, memikirkan bagaimana cara untuk membuat Wati mau bicara lagi padanya, lalu menjelaskan apa yang dikatakan Ami tentang bakso iga itu tak benar. Tetapi seharian itu kalau Wati tak dikamar, ya dia bersama Ami.
Dina pun tak kuasa bicara, jika ada Ami di sebelah Wati. Malas untuk berdebat kusir dengan Ami, itu alasannya.
Mendadak, langkah Dina terhenti.
"Aduh, kayak jalan cerita di sinetron, nih. Ada cewek cantik nabrak Pangeran. Terus, jadi deh pacaran."
Dina mengangkat kepalanya. Dia melihat Aro Bruma Satya, kakak kelas tingkat akhir yang juga siswa paling populer di SMP 3 Nasional. Menurut info, katanya Aro masih keturunan darah biru. Entah benar atau tidak, siapa yang tahu.
"Maaf, Kak Aro. Aku mau masuk ke sekolah dan buru-buru ke kelas. Ada jadwal piket," ucap Dina.
"Piket apa? Sepuluh menit lagi kan mau masuk jam pertama. Ayo, kok cantik-cantik bohong, sih?" tegur Aro dan dia tersenyum.
Dina suka melihat senyum Aro, membuat remaja itu jauh lebih tampan. Tetapi itu hanya sebatas suka, tak lebih.
"Ini hari apa ya, Kak?" tanya Dina.
"Rabu."
"Oh, aku pikir selasa. Tapi tetap saja, aku permisi minta jalan."
"Jalan mah jalan saja, Din." Aro mengangguk.
__ADS_1
Dina pun mulai melangkah untuk melewati Aro. Tetapi dia kaget, karena Aro memegang tangan kirinya.
"Nanti siang, jam pulang sekolah kita kencan makan bakso, yuk!" ajak Aro.
"Aku tak bisa! Tugasku sebagai siswi itu belajar, bukan berkencan." Dina menjawab ketus, lalu dia menarik tangannya terlepas.
Aro tak marah, malah dia tertawa dan berteriak.
"Jangan lupa, siang nanti aku tunggu ya, Dina! Kita makan bakso dan jalan-jalan."
Teriakan Aro itu di dengar tak hanya oleh telinga Dina saja, ada banyak orang ikut mendengar. Termasuk sepasang dayang alias teman paling akrab Gina, Delisa dan Tia. Juga Eci teman sekelas Dina ikut tahu.
Lamunan Dina akan kejadian pagi tadi itu buyar, sebab suara tepukan keras di meja sekolahnya. Tangan Delisa yang montok yang menggebrak meja.
Gina terlihat tinggi dan cantik, kalau jadi model foto akan menarik.
Delisa boleh dikata yang paling montok dan besar dari kedua temannya. Tak terlalu gemuk, hanya padat berisi dan sedikit kekar. Gayanya seperti cowok saja, dengan rambut pendek dan suara yang berat.
Satu lagi Tia yang bersama Delisa menjadi teman sekaligus dayang-dayang Gina. Pasalnya, Gina punya uang jajan lebih dibanding Tia dan Delisa yang hobi makan. Bedanya apa yang dimakan Delisa itu menjadi daging, yang dimakan Tia entah lari ke mana. Karena Tia itu gadis remaja yang bertubuh kecil mungil, malah masih lebih besar Dina daripada tubuhnya.
"Jawab, benar apa nggak lo mau makan bakso dan jalan-jalan sama Aro?" tanya Delisa.
"Jangan bohong lo, ya! Awas, nanti bisa ditelan bulat-bulat lo sama Delisa!" ancam Tia.
"Lo tahu gue siapa kan?" tanya Gina dingin.
Dina sampai detik ini menutup mulutnya rapat-rapat.
"Yaelah, pura-pura bisu lo! Jawab!" bentak Delisa.
Dina tak menjawab, malah dia mengajak bicara Eci.
"Petugas piket hari ini kamu kan, Ci? Kalau bersih-bersih kelas itu pastikan tak meninggalkan bau yang disukai lalat. Kan jadinya berabe, di kelas banyak lalat." Dina kibas-kibaskan tangannya.
Eci kaget setengah mati. Karena baru kali ini dia mendengar Dina bisa bicara menyindir seperti ini. Biasanya Dina itu bicara lemah lembut dan tak suka mencari ribut. Tetapi sekarang.
"Wah, cari mati ini anak!" pikir Eci.
"Lo anggap kita bertiga lalat apa?" Tangan Delisa mencengkeram kerah baju seragam Dina.
__ADS_1
Antara Delisa dan Tia, Delisa bisa dikata sebagai tukang pukul untuk Gina, Tia sebatas tim hore dan sorak belaka.
"Jangan di sini kita bikin perhitungan. Nanti aja pulang sekolah, kita tarik dia ke lapangan!" Gina cepat melarang Delisa yang tangannya siap memberikan hadiah ke pipi Dina.
Tangan Delisa yang sudah terangkat itu kembali turun.
"Nah, betul kan kata gue! Lo udah bikin Delisa marah, siap-siap aja lo ditelan bulat-bulat. Padahal tinggal jawab betul atau tidak mau jalan sama Aro aja susah. Terima deh nasib buruk lo!" seru Tia.
"Eh, Tia... gue itu bukan ular ya!" keki Delisa yang dua kali dibilang bisa menelan bulat-bulat Dina oleh Tia.
Dina diam saja, tetapi matanya menatap ke arah pintu kelas. Ada sosok yang dikenalnya berada di sana.
"Ayo, kita keluar. Pulang nanti, dia tak akan selamat!" Gina berjalan lebih dulu.
Delisa mengikuti di belakang Gina, lalu Tia di paling ujung.
"Dorong saja mereka sampai jatuh tumpang tindih," lirih Dina.
"Eh, lo ngomong apa?" tanya Eci yang melihat bibir Dina bergerak tanpa suara.
Dina bukan menjawab, malah berdiri dan menatap ke arah pintu kelas. Eci juga ikutan berdiri.
Tepat pada saatnya, terdengar teriakan Gina, disusul Delisa dan diakhir Tia.
Gina terjatuh, Delisa menabraknya dari belakang, Tia yang mendorong Delisa. Jadi ketiga gadis remaja itu jatuh tumpang tindih dengan Gina berada di paling bawah.
"Woi, cepat bangun! Sakit, nih!" teriak Gina.
Sebenarnya bukan rasa sakit yang dialami Gina, tetapi rasa malu karena jatuhnya dia dan kedua temannya itu ditonton banyak orang. Suara tawa menggema mengiringi langkah kaki Gina, Delisa dan Tia yang dianggap lagi bikin tips cara jatuh bareng-bareng.
Setibanya ketiga gadis remaja itu di tempat yang sepi, Gina melotot pada kedua temannya.
"Jangan salahin gue, Gina! Ini si Tia yang mendorong gue!" Delisa tunjuk Tia.
"Enak aja lo! Gue mana mungkin bisa dorong lo jatuh. Yang ada kaki gue seperti ada yang narik dan ada yang dorong punggung gue! Eh, tahunya di belakang tak ada orang!" Tia memegang leher belakangnya, bulu kuduknya berdiri.
"Nah, sama tuh!" Kaki gue juga seperti nabrak sesuatu, sampai hilang keseimbangan gue!" Delisa pun ceritakan pengalaman anehnya.
Gina menatap kedua temannya tajam, lalu dia menghembuskan napas berat.
__ADS_1
"Kalau begitu, sama juga. Gue juga ngerasa kayak injak kulit pisang, bikin gue kepleset. Tetapi mana ada kulit pisang di depan pintu kelas tadi." Gina ikut bercerita apa yang dia alami.
"Kalau begitu, apa ada setan di kelas itu?" tanya Tia dengan wajah pucat.