
Suara berisik di pagar membuat Lala dan Dina berdiri. Mereka pun berlari untuk melihat siapa yang mengaduh.
Begitu sampai di depan pagar, Lala menjerit kaget karena melihat salah satu anak tetangga yang sedikit lebih besar dari Sasa sedang menangis kesakitan, tertindih sepedanya.
Sepertinya sepeda itu baru saja menabrak pagar rumah Lala.
"Kamu kenapa Adit?" tanya Lala menghampiri Adit.
Dina ikut menghampiri, dia membantu mengangkat sepeda roda tua kecil yang ban depannya rusak, karena jari-jari ban ada yang patah.
"Rem sepedanya tak ada Mama Sasa," jawab Adit sambil melihat ke arah lutut kirinya yang terluka berdarah.
"Ayo, Mama Sasa antar pulang," ajak Lala sambil menarik bangun Adit.
Dina bersiap membantu membawakan sepeda milik Adit.
Tetapi belum juga Lala dan Dina berjalan, sudah keburu didatangi orang rumah Adit yang berlarian datang. Rumah Adit tepat berada di depan rumah Lala.
"Adit, kamu kenapa?" tanya seorang perempuan tua. Sementara yang satunya remaja tanggung seusia Dina, yang matanya tak berkedip menatap Dina.
"Adit bilang rem sepedanya tak berfungsi," jawab Lala.
"Oh, begitu. Mama Sasa, biar aku saja yang membawa Adit pulang. Kamu bawa sepeda Adit, Dul!"
Dina pun serahkan sepeda Adit ke tangan remaja yang sepertinya kakak dari Adit.
"Terima kasih ya, aku Adul. Namamu siapa?" tanya Adul sempat-sempatnya bertanya nama Dina.
"Adul, cepat pulang!" teriak Ibunya.
"Aku pulang dulu ya, peri cantik!" Dasar Adul, dia malah memuji Dina sebelum akhirnya memutar tubuhnya pulang.
Bertepatan dengan itu, motor berhenti di depan rumah. Sasa telah pulang bersama ayahnya.
"Ada apa barusan Ma?"
"Mama jahat ya sama Bang Adit?" tanya Sasa karena melihat Adit jalan terpincang-pincang.
"Itu, si Adit kecelakaan tunggal. Rem sepedanya blong, jadi nabrak pagar rumah, deh. Nah, Sasa... Mama tak jahat kan?" Lala menatap Sasa.
"Hihihi, maafin aku ya Ma!" Sasa terkekeh minta maaf.
__ADS_1
"Bibi, aku pamit pulang ya! Mari, Paman." Dina merasa sudah cukup waktunya untuk berdiam di rumah Lala.
"Hei, cepat sekali! Kamu saja belum minum dan makan agar jelly-nya." Lala menatap kecewa pada Dina.
"Nah, itu betul! Kalau pun kamu mau pulang, setidaknya minum dan makan dulu walau sedikit. Kasihan kan Bibimu, nanti dia berpikir air minum yang dimasaknya kurang matang, agar jelly-nya tak enak. Bisa-bisa Paman juga yang repot, kalau Bibimu ngambek... yang beruntung toko emas. Bisa jebol dompet Paman beliin Bibimu kalung."
"Idih, kayak pernah beliin aja! Minta jajan bakso aja, malah dibeliin mie rebus rasa bakso." Lala tertawa.
Tawa pun meledak di depan pagar rumah Lala.
"Oya, Dina kenalkan ini Paman Teddy nggak pakai Bear," canda Lala.
Dina pun menyebut namanya pada Teddy. Lalu dia ikut masuk ke teras rumah terlebih dahulu, meminum segelas air dan memakan satu agar jelly. Selanjutnya dia pamit pulang dan menolak diantar Teddy. Dia memilih jalan kaki, biar sehat alasannya.
Tak lama bayangan Dina pun menghilang dari pandangan Teddy dan Lala. Sementara itu Sasa sudah masuk rumah, mencari krayon untuk mewarnai buku gambar yang baru dibeli di pedagang kaki lima dekat taman.
"Semoga dia bukan seperti yang aku pikirkan," desis Lala.
"Mama ngomong apa?" tanya Teddy yang berdiri di samping Lala di teras. Keduanya menatap ke arah menghilangnya Dina.
"Berdoa aja kok, Pa. Biar Dina selamat sampai rumah," ucap Lala tak jujur.
Lala tak berkomentar.
"Si Dina itu cantik ya, Ma. Papa suka melihatnya," ucap Teddy memuji.
"Eh, Papa nggak boleh! Mama larang Papa menikah lagi, apalagi sama daun muda!" Wajah Lala memerah.
"Nah, cemburu buta. Siapa bilang Papa mau menikahi Dina? Cukup Mama saja Papa udah pusing, habisnya alat kosmetik Mama mahal. Hahaha. Belum lagi biaya pendidikan Suta dan Sasa."
"Jadi nggak mau nih lihat Mama tampil cantik dan wangi? Apa mau Mama terlihat kucel dan bau bawang?" Mata Lala mendelik.
"Udah jangan ngambek, nanti Papa ajak ke tempat yang dingin, biar panas kepala Mama hilang."
"Ke mana Pa?"
"Minimarket Pilih Aja, kan AC-nya itu paling dingin di antara minimarket lain dekat-dekat sini." Teddy tertawa.
Lala mencubit bahu Teddy saking gemasnya dia.
"Ma, kalau Papa ada niat mau jodohin Suta sama Dina... apa Mama setuju? Papa lihat Dina sepertinya gadis yang baik dan cantik juga. Kan bangga tuh, punya anak mantu cantik sekaligus memperbaiki keturunan Suta nantinya."
__ADS_1
"Mama tak setuju!" Lala menggelengkan kepalanya, lalu menarik napas panjang dan membuangnya perlahan-lahan.
"Loh, kenapa? Apa Mama berpikir Suta tak pantas buat Dina? Walau Suta itu bukan anak kandungku, tetapi aku ingin dia mendapatkan hal yang baik-baik di perjalanan hidupnya. Salah satunya itu Dina! Atau Mama berpikir niat Papa ini terlalu cepat, karena usia Suta dan Dina yang masih muda?" tanya Teddy.
"Kita duduk dulu, Pa. Pegal juga berdiri dari tadi!" Lala terus saja duduk lebih dulu di kursi teras.
Teddy mengikuti.
"Mama bukan tak mau Dina jadi jodoh Suta. Mama senang-senang saja kalau memang Suta bertemu jodoh di usianya yang masih muda, asal dia mau saja. Kan nanti kita bisa dorong dia untuk lebih semangat belajar demi masa depannya itu, wanti-wanti dia kalau sudah ada jodohnya hingga dia tak perlu jadi kumbang yang datang ke bunga-bunga lain," ucap Lala.
"Terus, kenapa Mama tak suka?"
"Karena Mama masih ragu dengan darah yang mengalir di tubuh Dina."
"Maksud Mama itu apa?" tanya Teddy dengan wajah heran.
Lala tak menjawab langsung. Dia butuh asupan oksigen lebih dulu agar dia bisa jauh lebih tenang.
"Mama curiga Dina itu Kakaknya Suta, Pa."
"Eh, tunggu... kenapa bisa seperti itu?" kaget Teddy.
Lala mau menjawab, tetapi dia keduluan Teddy.
"Apa maksud Mama, Dina itu anak Sasan juga?" tanya Teddy dan dia berharap itu tak benar.
"Wajah Dina itu mirip sama Endah, tetangga Mama di kampung dulu. Sebenarnya Mama ini dulu pantas disebut pelakor, Pa. Karena tahu Sasan sudah bersama Endah, eh malah mau-maunya bermain cinta sama Sasan." Lala berhenti untuk menarik napas.
"Saat Sasan mengajak Mama kabur itu, Endah ketahuan hamil. Berapa bulan usia kandungan Endah, Mama tak tahu. Karena sudah kabur lebih dulu sama Sasan. Waktu di kota, baru Mama juga tahu kalau dalam keadaan hamil. Itu cerita Mama," tutup Lala.
"Apa Mama yakin Dina itu anak dari Sasan dan Endah itu?" tanya Teddy yang sebagian besar kisah masa lalu Lala sudah dia ketahui.
Malah bisa dibilang, dulu Lala jadi pelakor eh Teddy gantian jadi pebinor alias perebut bini orang. Namun pada akhirnya, mereka berdua bisa hidup bahagia sampai detik ini.
"Kalau saja Mama tahu siapa nama Papanya Dina, maka kecurigaan Mama itu akan terbukti kebenarannya."
"Memangnya siapa nama Papanya Dina itu, bukannya Sasan?" tanya Teddy tak mengerti.
"Maksud Mama nama Papa keduanya Dina, kalau dia sebut nama Abay... itu tandanya dia benar anak Sasan dan Endah. Karena kabar yang aku terima, Abay menikahi Endah yang sedang hamil itu."
Teddy pun mengingat-ingat nama Abay dalam hatinya.
__ADS_1