ISTRI RAHASIA

ISTRI RAHASIA
Istri Rahasia Bab 24


__ADS_3

Acara tahlil malam pertama Santi baru saja selesai. Parahnya tak digelar di rumah Abay, dia pun tak hadir ikut membaca Yasin dan berdoa.


Abay beralasan sakit kepala dan tak enak badan, karenanya sejak sore dia pergi ke rumah sakit. Tetapi sampai acara selesai, dia tak kunjung pulang.


Tidak hadirnya Abay karena tuntutan Nyi Malini. Abay dilarang mendekati ibadah. Buktinya waktu sholat jenazah, dia pun tak ikut dalam barisan jamaah, pura-pura lemas. Pun sama waktu berdoa di kuburan, tak ada kata amin baik terucap di mulut maupun hatinya.


Abay sudah menjauhi ibadahnya dan menghilangkan imannya, demi tetap bisa menjadi orang kaya dan budak Nyi Malini.


Ke mana Abay pergi, tentu saja ke rumah rahasianya, di mana dia berubah menjadi Ki Jabaya. Selama di sana, dia tak sendiri karena ada Garini yang mewakili Nyi Malini.


Mereka berdua, makhluk beda alam itu saling bergesekan tubuh demi mencapai puncak surga dunia. Sungguh perbuatan yang tak bisa dibenarkan.


Setelah merasa cukup waktunya, Abay pergi tinggalkan Garini yang tidur melingkar di atas kasur. Sebenarnya Abay merasa jijik dan mual, ketika melihat wujud ular besar Garini. Hanya saja, dia pun mengakui dirinya ikut menikmati permainan terlarang yang baru saja selesai mereka mainkan, terpenting lagi dia akan mendapat harta dari Nyi Malini.


Saat ini Abay sudah berada di ruang tamu rumah mertuanya. Saat acara tahlil digelar, teras dan halaman rumah yang berlantai keramik dipakai menggelar tahlil. Jadi tak perlu menggeser kursi di ruang tamu segala.


Dina sudah tidur di kamar ditemani Wati yang sedang berbenah pakaian.


Karena itu Abay berdua Sanusi saja duduk di ruang tamu. Demi aktingnya terlihat sempurna di mata Sanusi, Abay memilih minum air mineral gelas yang masih tersedia cukup banyak, tak habis disajikan di malam pertama tahlil Santi.


"Jadi apa kata dokter tentang sakitmu?" tanya Sanusi sambil membersihkan cangklong panjangnya dari puntung rokok.


"Aku terlalu stres dan banyak pikiran, Pak. Timbul dari kesedihan mendalam kehilangan Santi. Aku mencintai Santi teramat berat, Pak. Kalau bisa, ingin rasanya aku dikubur hidup-hidup satu liang dengan Santi," jawab Abay melebih-lebihkan. Paras wajahnya pun dimainkan sedemikian rupa.


Sanusi menghela napas. Dia tertipu dengan peran yang dibawa Abay.

__ADS_1


"Kamu jangan terlalu berperasaan, Bay!" seru Sanusi, lalu berdecak.


Abay mengambil gelas dan menyedot air dari sedotan yang menusuk plastik bungkus gelas.


"Setiap makhluk hidup itu akan menemui jalan kematiannya sendiri-sendiri. Ajal yang pasti datang. Manusia, hewan, tumbuhan bahkan jin sekalipun akan mati. Bumi saja bakal hancur ketika kiamat datang nanti," ucap Sanusi.


Abay tak bersuara, tetapi dia menarik napas panjang dalam-dalam. Wajah sedihnya belum diganti ke rupa yang lain.


"Jadi Bapak harap, kamu jangan terlampau bersedih yang bisa merusak kesehatan hati dan tubuhmu. Ingat, kamu punya Dina yang harus kamu rawat."


"Aku coba ya, Pak. Tetapi rasa sedih ini akan sulit dihilangkan." Abay terharu mendengar perkataan berbau perhatian Sanusi.


"Lalu apa yang mau kamu lakukan selanjutnya?"


"Demi menghilangkan rasa sedih di hati, aku berpikir cara satu-satunya itu pindah rumah, Pak. Rumah yang ini akan aku jual dan mohon pada Bapak untuk mengurus jual-belinya," ucap Abay.


"Loh, kenapa pindah?" tanya Wati yang kebetulan mendengar ucapan Abay, bertepatan dengan keluarnya dia dari kamar.


"Karena itu jalan keluar terbaik bagiku, Bu. Aku tak kuat kalau bertahan di rumah yang pernah aku tempati bersama Santi. Terlalu banyak kenangan yang baik maupun buruk. Tetapi yang buruk biarlah berlalu, aku tak akan ungkit lagi. Hanya saja, aku sudah menetapkan hati untuk pindah, Bu!" Kali ini Abay menjawab tegas dan tak terkesan rasa sedihnya.


Sanusi dan Wati saling memandang. Keduanya sama menyorot sedih, mereka paham apa yang tak akan diungkit Abay itu, tentang Santi yang masih bertemu dan berurusan dengan Berri. Tentu bukan hal yang baik yang terjadi di antara Santi dan Berri, di mana ada satu hati yang terluka, hati milik Abay.


"Terus Dina bagaimana?" tanya Wati.


Sanusi mengangguk, dia setuju dengan pertanyaan Wati.

__ADS_1


"Ya, aku bawa juga Bu!" jawab Abay tanpa pikir panjang.


"Bawa pindah ke mana? Apa kamu sudah tempat berteduh yang baru?" tanya Wati mau tahu.


Tadinya Abay mau bilang sudah ada rumah baru, yaitu rumah rahasianya. Biasanya rumah itu memang dipakai beberapa waktu, sebelum Abay mendapat rumah yang lain. Namun mulutnya yang sudah terbuka itu menutup lagi, berganti dengan gelengan kepala.


"Begini saja, kalau kamu setuju dan Bapak harap kamu mengijinkan, biar Dina tinggal bersama kami dulu. Setidaknya sampai dia berusia remaja. Sementara kamu kalau mau bertemu Dina bisa datang ke sini," ucap Sanusi yang meski lembut, tapi terkesan menekan. Tak memberi ruang bagi Abay membantah.


"Nah, Ibu mendukung permintaan Bapak. Dina biar di sini saja, selain dia cucu kami meski bukan berasal dari rahim Santi. Tapi kamu sendiri tahu kan, betapa Ibu dan Bapak sayang padanya. Dengan kepergian Santi yang tak akan bisa pulang dan kamu, rumah ini terasa seluas lapangan bola saja," sambung Wati.


Abay tertegun. Permintaan Sanusi dan Wati ini diluar perkiraannya. Untuk sesaat, dia membisu.


"Kalau begitu, kamu setuju kan Abay? Biar Dina di sini menemani hari tua kami. Kami tak berjanji Dina akan jadi anak yang baik, tetapi masalah pelajaran dan pengajarannya akan kami perhatikan dengan baik," ucap Sanusi.


"Ibu ingin sekali lanjut mengajarkan baca Iqro buat Dina. Kalau Dina pergi, Ibu malah takut dia tak belajar sama sekali," ucap Wati di mana ada rasa takutnya Dina tak diajarkan ilmu agama sama Abay.


Masalahnya, Dina pernah cerita Abay jarang ibadah. Begitu juga Santi berkata hal yang sama, sampai akhirnya dia sendiri jadi malas ibadah terpengaruh Abay, hanya saja Santi menggunakan sedikit akal bulus dengan cara menutup pintu kamar dan berpura-pura sedang ibadah.


Abay tahu, jika dia menolak permintaan y dan Wati, hanya akan menerbitkan luka saja di hati kedua orang tua yang kasih sayangnya besar pada Dina.


Selain itu, Abay merasa permintaan Sanusi dan Wati juga pantas dan wajar, kerelaan keduanya untuk merawat Dina memberi beberapa poin keuntungan buat Abay.


Abay bisa bebas tinggal di rumah rahasianya, tanpa perlu takut Dina mengganggu. Sebab ada banyak kesempatan Dina suka mengoceh tentang ular yang tak terlihat wujudnya dengan mata kasar.


"Apa kamu menolak permohonan kami?" tanya Wati menuntut jawaban.

__ADS_1


__ADS_2