
"Ami," kaget Abay yang melihat Ami sedang melambaikan tangan di dekat gerobak pedagang batagor.
"Siapa dia?" tanya Lala.
"Keponakanku," jawab Abay cepat. Pastinya dia tak akan mengakui Ami sebagai anak tirinya.
Begitu juga Ami, tak akan tahu Abay itu bapak sambungnya. Bahkan kematian Poppy saja sampai sekarang, Ami tak tahu. Poppy tak ada kabar beritanya sedikitpun.
"Oom, kok nggak sholat jumat?" tanya Ami.
Lala cepat berpamitan pada Abay, karena tak enak menggangu pertemuan antara paman dan keponakan.
"Sebentar, La!" tahan Abay.
"Mau apa?" Kening Lala sedikit berkerut.
Tetapi mata Lala melihat tangan Abay mengeluarkan dompet dan membukanya. Terlihat isi dalam dompet yang dipenuhi uang berwana merah. Ada banyak.
Tanpa main hitung, Abay tarik uang yang ketika Lala cari tahu di rumahnya nanti, uang sejumlah dua juta tiga ratus dari Abay telah berpindah ke dalam saku Lala.
"Terima ini, buat jajan anakmu!" paksa Abay.
"Baik, aku terima. Kalau begitu, aku pamit dulu. Terima kasih ya, Abay!" Lala terus saja naik ke motornya. Dia telah membeli tiga bungkus batagor, buat dirinya dan Suta serta si kecil Dania, anaknya bersama suaminya yang sekarang.
Namun saat sampai di rumah, Lala baru sadar dia tak punya nomor telepon Abay. Tak ada niat lain, hanya sekedar ingin berbagi kabar sesama teman sekampung dan sesekali mengundang Abay berkunjung ke rumahnya.
Saat Lala beranjak pergi itu, Ami dengan tenangnya duduk di sebelah Abay.
"Kamu ngapain ke sini?" tanya Abay.
"Mau beli batagor, sama seperti Oom. Bedanya sih aku nggak kabur dari jumatan kayak Oom." Ami tersenyum.
"Hush! Kamu jangan bilang-bilang sama Dina, ya!"
"Duh, gimana ya Oom. Aku....
"Ini buat kamu!" Abay keluarkan sepuluh lembar uang dari dompetnya yang belum dimasukan ke dalam saku celananya.
__ADS_1
"Ih, aku kan nggak pengin minta uang dari Oom. Mana banyak lagi!" Ami menggeleng, tetapi matanya bersinar hijau melihat ke uang yang masih berada di jepitan jari Abay.
"Iya, kamu tak minta. Oom yang kasih, apa kurang?" Abay tambahkan lagi sepuluh lembar.
"Oom mah baik, pantas Dina bangga punya Papa seperti Oom. Tak seperti aku, Mamaku saja sudah lama tak memberi kabar. Papa kandungku seperti orang mati, mana ada mencariku! Aku ini anak yang kurang perhatian, Oom." Ami tampak bersedih hati, tetapi tangannya tanpa malu-malu mengambil uang di jepitan jari Abay. Uang sebanyak dua juta pun berpindah tempat ke kantung seragam Ami.
Ya, Ami belum mengganti seragam sekolahnya.
Abay tersenyum, lalu dia mengelus kepala Ami.
"Kamu jangan kuatir, biar aku ini bukan Papa kandungmu, aku bisa menjadi Papamu juga. Tetapi, kamu juga harus tutup mulut, ya! Paham kan?"
"Tanggung beres Oom! Aku tak akan kasih tahu Dina sama Opa dan Oma, kalau Oom itu malas jumatan. Masalah ibadah kan urusan masing-masing. Cuma ya cuma, apa Oom tak takut dosa?" tanya Ami.
Abay sedikit kaget mendengar teguran Ami. Tetapi dia malah tertawa, karena dia juga tahu Ami ini termasuk anak yang suka cari gara-gara pada Dina.
Sebenarnya ada keinginan Abay untuk menjadikan Ami itu tumbal. Tetapi Nyi Malini sudah tetapkan tumbal berikutnya itu seorang perjaka.
"Ah, kayak kamu takut dosa saja!" Abay tersenyum.
"Takut dong, Oom. Tetapi...." Ami menunduk.
"Tetapi aku itu cemburu pada Dina." Ami semakin dalam menundukkan kepalanya.
"Cemburu, kenapa?" Abay meminta Ami mengangkat kepalanya.
Ami tak membantah. Malah dia biarkan Abay melihat air matanya menetes turun.
"Soalnya, pertama kali aku melihat Dina... dia itu anak yang cantik dan pintar, mendapatkan kasih sayang yang penuh dari Opa dan Oma, punya Papa yang baik hati. Tak seperti aku, Mamaku bukan wanita baik-baik, aku tahu itu karena pernah melihat Mama di... di...." Ami tak bisa berkata kalau pernah melihat Poppy di panti pijat yang tak cuma menjual jasa pijat.
"Sudah, jangan diteruskan!" pinta Abay.
"Tetapi Oom... sekarang ini aku malah tak pernah dapat kabar dari Mamaku. Aku curiga, Mama itu tak pernah pergi ke Kuwait. Tetapi masih ada di sini. Mungkin Mama sengaja tak mau lagi bersamaku, kan aku sudah dititipkan ini ke Opa dan Oma. Mama lepas tanggung jawab, seperti Papa. Oh, aku ini anak yang punya orang tua, tetapi serasa yatim piatu saja." Air mata Ami semakin menderas.
"Kamu hapus air matamu, kalau dilihat banyak orang akan timbul salah paham!" Abay keluarkan tisu yang di ambil dari saku kaos-nya.
Ami menurut. Dia hapus air matanya dengan tisu.
__ADS_1
"Oom, maaf ya aku jadi curhat. Habisnya aku sudah tak tahan sama perlakuan Mama sejak dulu. Dia berbohong padaku, bilang kerja di tempat ini, padahal ada di tempat lain. Aku mungkin masih kecil tak tahu apa-apa, tetapi setelah sering lihat Mama bergonta-ganti pasangan pria, aku merasa... ah, aku malu mengucapkannya!" Ami tertunduk.
"Sudah, lupakan saja masa lalu burukmu itu, melangkah ke depan jangan mundur ke belakang. Sekarang, kamu sudah punya Papa dan Adik," ucap Abay sok bijak.
"Jadi aku boleh panggil Oom sebagai Papa?" tanya Ami dengan mata bersinar terang.
"Boleh." Abay mengangguk.
Ami bersorak girang, tetapi dalam hatinya dia tertawa mengejek. "Hihihi, kamu lihat saja Dina, Papamu akan aku kuasai pelan-pelan!"
"Kalau begitu kita pulang, ini sepertinya sudah masuk jam orang pulang dari jumatan," ajak Abay.
"Iya, Pa. Tapi kita mampir ke bakso iga dulu ya, Pa," ucap Ami.
"Kamu tak jadi beli batagor?" tanya Abay.
"Bakso iga bukan untuk aku, Pa. Tapi Dina, dia menyuruhku untuk mampir ke warung bakso iga."
"Dina cuma suruh kamu aja, apa sekaligus menyuruh kamu beli bakso iga juga?" tanya Abay.
"Dina mana punya uang banyak Pa. Ya, dia sekedar menyuruh saja, kan aku sejalan pulang. Karena itu, aku cuma bisa beli batagor pakai uang jajanku sendiri. Nanti aku anggap saja batagor yang aku makan itu bakso iga."
"Tak bisa jadi, kamu juga harus makan bakso iga. Ayo, kita pergi!" Abay berjalan lebih dulu ke motornya.
Sementara senyum licik Ami terkembang sempurna, tetapi dia tak bisa berlama-lama tersenyum bangga, sebab Abay menyuruh dirinya cepat naik ke atas motor.
*
Sebenarnya Abay ingin bertemu Dina, tetapi begitu sampai di depan pagar rumah, ada yang menelepon dirinya. Jajang meminta bertemu. Walhasil, Ami masuk seorang diri ke dalam rumah.
Sesampainya di dalam rumah, Ami melihat di meja makan sudah berkumpul Sanusi, Wati dan Dina.
"Kamu baru pulang, Mi? Darimana saja?" tanya Wati sambil melihat ke kresek plastik yang dibawa Ami.
"Beli bakso iga dulu Oma. Tadi ketemu sama Papa Abay di jalan, eh mampir deh ke warung bakso. Menuruti kemauan Dina," jawab Ami.
Dina mau membantah, eh keduluan sama Ami.
__ADS_1
"Semalam itu Dina berbisik padaku, Oma. Katanya bosan makan masakan Oma yang itu-itu aja dan berharap bisa makan bakso iga. Tetapi dia bilang juga, mimpinya itu rasanya sulit. Kan Oma membatasi uang jajannya," terang Ami sambil menaruh plastik berisi bakso iga empat bungkus di meja makan.
Wati menatap Dina, lalu dia berjalan masuk ke dalam kamar. Kesal hatinya pada Dina.