
Nyi Malini dengan mudah masuk ke rumah Maya. Hanya sebentar saja dia berdiri di depan pintu rumah Maya yang dilewatinya begitu saja, seolah pintu tersebut tak ada sama sekali.
Sekilas berdiri dan setelah mendapati di mana letak kamar Maya, Nyi Malini lalu bergerak ke arah kamar tengah. Kamar yang berada di dekat ruang televisi.
Ada tiga kamar di rumah Maya, hanya saja yang terisi itu dua kamar. Satu kamar lagi itu khusus untuk kamar tamu, tetapi sangat jarang tamu yang datang.
Rumah terasa sepi. Karena tiga orang penghuninya sedang tertidur lelap. Selain Maya, masih ada orang tuanya.
Nyi Malini merayap dan keluarkan suara desis, tubuhnya berlenggak-lenggok dan berhenti ketika sampai di depan kamar Maya.
Sejenak Nyi Malini berhenti. Dia seperti merasa ada bahaya, tetapi apa?
Nyi Malini tak tahu ada bahaya apa yang sedang mengintip dirinya berbuat kesalahan. Karena hawa itu hanya tipis saja. Datang dan lantas pergi berlalu.
Karena itu Nyi Malini sedikit meragu, apa bahaya itu benar ada atau hanya timbul disebabkan dia teringat pada kegagalan waktu dulu. Gagal mengambil jiwa Ami sebagai budaknya.
Di dalam kamar tidak terjadi apa-apa, Maya tidur dengan pulas. Dinding tipis berwarna hijau keputihan itu kini malah sudah tak ada. Namun secara samar-samar, ada satu bayangan yang berdiri di sudut kamar, menatap ke arah pintu. Jika nanti pintu itu terbuka, maka sosok itu akan terhalang oleh pintu.
Perlahan-lahan pintu terbuka dengan sendirinya. Derit pintu pelan terdengar, namun cukup menggidikkan hati.
Jika saja Maya masih terjaga dan melihat pintu membuka dengan sendirinya, jika dia tak menjerit itu hebat. Karena saat pintu benar-benar terbuka lebar, maka bisa terlihat Nyi Malini berdiri dengan wajah angker.
Tak hanya wajah angker Nyi Malini yang akan membuat Maya menjerit dan jatuh pingsan, tetapi juga bentuk tubuh Nyi Malini yang setengah manusia dan setengah ular. Belum lagi ada ular putih yang menjadi kalung bagi Nyi Malini.
Ya, mendadak saja ular putih tersebut hadir, menjelma dari kalung besi berbentuk ular yang dipakai Nyi Malini.
Kali ini Nyi Malini bertindak cerdas. Meski dia cukup mengangkat tangan dan menghantam ke perut Maya, maka Maya akan terlihat mati bagi orang lain, padahal jiwanya sudah dibawa Nyi Malini, tetapi Nyi Malini sedikit ragu.
Karena itu Nyi Malini perintahkan ular putih jelmaan kalungnya itulah yang bekerja.
Ular itu merambat turun, ekornya masih menempel di badan Nyi Malini, tetapi dengan tubuh yang meliuk-liuk, kepala ular itu berada di atas kepala Maya.
Ular putih itu tampaknya mengincar dan mengunci targetnya, yaitu ubun-ubun kepala Maya.
Namun.
__ADS_1
Pintu tertutup dengan suara keras. Ular putih yang menyerang ubun-ubun Maya jatuh ke bawah dan mendadak terbakar.
Nyi Malini pun tertolak mundur ke belakang, terpental oleh sinar hijau keputihan yang keluar dari perut Maya.
Maya sendiri masih tertidur pulas. Tak tahu jika dirinya selamat dari bahaya.
Nyi Malini mendadak memutar tubuhnya ke belakang.
"Siapa?" bentak Nyi Malini sambil menahan rasa sakit akibat sinar yang secara tiba-tiba itu menyerangnya.
"Pergilah, karena bukan aku yang akan menghancurkan dirimu," ucap seorang tua, sosok yang tadi berdiri di sudut kamar.
Mata Nyi Malini terbelalak lebar. Dia ketakutan, karena mengenal kakek itu. Dia Ipoy, sesepuh kampung di mana Abay tinggal. Meski Ipoy tak mengacak-acak istana Nyi Malini yang berada di tengah-tengah hutan dekat kampung, tetapi Ipoy telah membuat semua pendukung kampung tak ada yang berani memasuki hutan. Bahkan juga melarang orang-orang yang mau masuk hutan.
Hingga terpaksa Nyi Malini mengandalkan Abay untuk mencari hamba baru. Setelah nanti Abay mati, Nyi Malini harus mencari juru kunci yang baru dengan cara yang lebih sulit lagi. Karena juru kunci itu haruslah warga penduduk kampung yang terdekat dengan istananya.
Betul Ipoy sudah mati, tetapi ada beberapa kunci gaib yang telah ditanam di sekitar batas kampung dan hutan. Hingga penduduk kampung tak akan berani memasuki hutan, sebab sebelum masuk saja sudah dibuat bingung terlebih dahulu, sampai akhirnya membatalkan niatnya memasuki hutan.
"Cepat pergi dari sini dan lupakan niatmu mengambil jiwa budak ini!" Ipoy menunjuk ke Maya.
Tanpa pedulikan rasa sakitnya, Nyi Malini siap menyerang Ipoy.
"Matilah!" teriak Nyi Malini dengan mulut terbuka lebar.
Dari dalam mulut Nyi Malini keluar gumpalan bola, ada tiga bola dan bola itu bukan sembarang, sebab itu adalah sekumpulan ular-ular kecil.
Begitu berada di tengah jalan, bola ular itu meledak. Ular-ular kecil itu menyebar ke arah tubuh Ipoy, layaknya hujan jarum. Berusaha menggigit tubuh Ipoy.
Tetapi yang terjadi, sebelum gigi taring ular-ular kecil itu yang jumlahnya puluhan. Mereka semua sudah rontok terbakar.
Bau daging panggang yang memuakkan hidung.
"Tak enak rasanya setelah dikasih, aku tak balas memberi." Ipoy tersenyum. Lalu tangannya mendorong pelan ke depan.
Nyi Malini merasakan ada pusaran angin keluar dari telapak tangan Ipoy. Hingga tubuhnya terpental dan menabrak atap kamar. Tetapi setelah itu, dia menghilang. Kabur melarikan diri dari Ipoy.
__ADS_1
Saat nanti Maya terbangun, dia akan melihat ada kalung berbentuk ular yang gosong terbakar di lantai kamarnya.
*
Abay terdiam. Dia telah mendengar cerita Nyi Malini dan yang bisa dia ucapkan hanya rasa penyesalannya.
"Maaf ya, Nyi. Aku tak pintar memilih korban untukmu," ucap Abay. Tetapi dalam hatinya dia berkata. "Kenapa kamu tak mati saja!"
"Bukannya kamu sengaja ingin mencelakai aku?" tanya Nyi Malini dingin dan ketus.
"Tidak berani Nyi!" Abay menjawab cepat. Kepalanya tertunduk.
"Padahal, jika aku hancur lebur, dirimu juga yang untung. Karena tak perlu menjadi budak di istanaku. Tetapi sayangnya, Mang Ipoy telah melepaskan aku pergi. Apa kamu tak puas?" tanya Nyi Malini mengejek.
"Aku telah menerima kebaikan harta benda dari Nyi Malini. Jadi aku sudah siap menjadi budak bagi Nyi," jawab Abay masih dengan kepala tertunduk.
"Kalau begitu, kamu ikut denganku malam ini. Apa kamu bersedia?" tanya Nyi Malini.
Abay terdiam. Kaget hatinya karena ucapan Nyi Malini tersebut.
"Angkat kepalamu dan jawab aku!" bentak Nyi Malini.
Abay mengangkat kepalanya dan menatap Nyi Malini.
"Apa kamu siapa mati malam ini?" tanya Nyi Malini dengan senyum kejam.
"Aku... siap!" jawab Abay lesu.
"Baik, apa kamu mau mati dengan mata terbuka atau mata tertutup?" tanya Nyi Malini dingin.
"Mata tertutup saja Nyi. Karena aku...."
"Tak perlu banyak bicara, cepat tutup matamu!" potong Nyi Malini dingin.
Abay tak berkutik. Dia pun menutup matanya. Menunggu kematiannya, oh bukan... menunggu jiwanya dibawa pulang Nyi Malini ke dalam istana Nyi Malini, berkumpul bersama jiwa-jiwa yang telah dia korbankan selama ini.
__ADS_1