ISTRI RAHASIA

ISTRI RAHASIA
Istri Rahasia Bab 21


__ADS_3

"Kamu tahu, kalau bukan karena surat yang ditinggalkan Lala, jiwamu bisa jadi amblas setelah mengalami siksa santet dari Mang Ipoy. Kamu kebangetan main apinya!" Medi meniup air kopinya, lalu meneguknya sedikit.


"Tak perlu bahas Lala. Wanita itu membikinku kesal saja!" Sasan dari pucat berubah merah warna mukanya.


"Kenapa dengan Lala?"


"Dia pergi membawa anakku dengan pria lain!"


"Hmm," gumam Medi.


"Aku lihat rumah Endah hancur, ke mana dia? Lalu anakku?" tanya Sasan.


"Saat kamu pergi membawa kabur Lala dan membuat hati Endah terluka, dia menikah dengan Abay. Tetapi hanya sebentar saja usia pernikahan mereka. Karena...."


"Abay bisa apa? Dia kan pria pemalas!" potong Sasan.


"Abay pemalas. Tetapi masih lebih baik dia daripada dirimu. Kamu kabur, kamu melarikan diri dengan membawa anak gadis orang. Jadi apa kamu masih berpikir dirimu itu lebih baik dari Abay?" ketus Medi.


Sasan menutup mulutnya.


"Endah dan Abay lalu berpisah. Hingga terjadi satu insiden," lanjut Medi.


"Insiden apa?" tanya Sasan.


"Abay dituduh Idang mencuri emas. Eh, kamu jangan potong dan jelekkan nama Abay!" Medi menatap tajam Sasan.


Sasan memilih meminum kopinya.


"Setelah tuduhan Idang. Abay diputuskan diusir dari kampung. Besoknya terjadi kehebohan. Abah Entis, Endah dan Idang ditemukan mati mengenaskan. Mereka mati secara aneh, seperti terbunuh dan tak terbunuh. Sementara Abay dan Dina hari itu juga menghilang dari kampung ini!"


"Seperti terbunuh dan tak terbunuh itu apa artinya? Lalu Dina itu siapa?"


"Ketiga orang itu seperti terbunuh, tetapi anehnya bukan manusia yang membunuh mereka. Mereka mati karena diserang siluman ular dan kemungkinan suruhan Abay." Medi memandangi wajah Sasan yang berhawa takut. Dia menarik napas panjang, lalu berkata. "Dina itu anakmu!"


"Apa? Dina itu anakku dan dia bersama Abay. Oh, nasib anakku akan seperti apa?" Sasan termenung.


"Mungkin lebih banyak celakanya. Tetapi bukan berarti Dina tak selamat. Setahuku, Abay mencintai Dina."


"Apa kamu tahu ke mana perginya Abay dan Dina?" tanya Sasan.


"Pertanyaan apa itu? Darimana aku bisa tahu?"


Sasan tak lagi menuntut jawaban dari Medi.

__ADS_1


"Asal kamu tahu, di sekitar hutan itu menurut Mang Ipoy berdiri kerajaan ular. Hutan pun sudah tak boleh lagi dimasuki terlalu dalam. Cukup di dekat batas kota saja," jelas Medi.


"Aku tak mau tahu hal itu. Apa boleh aku bertanya tentang Dina?"


"Apa yang kamu mau tahu?"


"Seperti siapa wajah Dina?"


"Seingatku lebih banyak mirip Endah. Hanya bagian matamu yang serupa."


Sasan mencoba membayangkan wajah Endah di pelupuk matanya.


"Oya, buat apa kamu kembali pulang?" tanya Medi.


"Aku juga tak tahu untuk apa! Tadinya aku takut untuk pulang, karena kesalahan yang aku perbuat. Tetapi setelah aku ditinggal pergi Lala, aku berpikir untuk kembali menemui Endah. Ya, aku ingin meminta maaf pada Endah dan orang kampung, termasuk Mang Ipoy."


"Sebaiknya, kamu pergi saja pagi nanti. Daripada akhirnya kamu harus menderita. Malam ini kamu tidur di sini saja, di dapur. Besok subuh, pulang!" Medi berdiri.


"Apa ini yang namanya teman baik?" Sasan mengejek.


"Jika kamu menganggap aku teman baik, kenapa tak ada sedikitpun pertanyaan yang menyangkut kabar diriku, semuanya yang kamu tanya hanya kepentingan dirimu." Medi tersenyum hambar.


"Oh!" Sasan lalu tertawa dan dia minta maaf sambil meminta Medi duduk lagi.


"Apa kamu sudah menikah?" tanya Sasan memulai bertanya.


'Ya, sama Iis. Aku juga sudah punya satu anak. Baru saja lahir dua minggu yang lalu," jawab Medi.


Pembicaraan selanjutnya pun terjalin lebih akrab dan hangat lagi. Kadang diselingi tawa kecil. Hingga harus berakhir ketika subuh tiba.


Sasan pun pamit untuk kembali ke kota. Tetapi entah mengapa dia batalkan niatnya itu dan berbelok ke arah makam. Pikirnya, dia tak akan bertemu orang lain.


Namun akhirnya Sasan ditemukan Ipoy dan diajak pulang ke rumah Ipoy.


"Hei, Sasan pulang! Kumpul semua kumpul!" teriak seseorang begitu melihat Sasan ditarik Ipoy.


"Tak perlu! Jika ada yang berani usik Sasan, berhadapan denganku!" bentak Ipoy.


Beberapa pendukung kampung yang baru saja mau berkumpul, mendengar teriakan Ipoy segara bubar jalan. Kembali pada kesibukan mereka sebelumnya.


Dalam hatinya Sasan mengucap syukur. Kalau tak ada Ipoy, dia yakin wajahnya akan berona biru lebam dan bertahan beberapa hari.


*

__ADS_1


"Jadi Lala sudah tak bersamamu lagi?" tanya Ipoy setelah menatap Sasan yang menundukkan kepala dalam-dalam.


Sasan hanya bisa mengangguk.


"Kamu sudah tak punya mulut atau sudah bisu?"


"Aku punya mulut dan bisa bicara." Sasan mengangkat kepalanya.


"Itu baru benar. Minum dulu!" Ipoy menunjuk ke gelas kopi yang ada di depan Sasan.


Sasan meragu. Hatinya takut di dalam kopinya itu ada sedikit permainan Ipoy. Karena dia tahu dan paham, di kampung hanya Ipoy yang paling ditakuti karena ilmunya yang tergantung situasi dan kondisi. Bisa menjadi ilmu putih ketika mengobati sakit yang tak biasa, berbalik menjadi ilmu hitam saat ada yang berbuat salah padanya.


Ipoy berada di tengah antara baik dan sesat.


"Kamu takut habis minum kopi, gigimu tanggal dan isi perutmu terbakar? Hahaha!" Ipoy tertawa.


Sasan mengiyakan.


"Kalau kamu tak punya nyali, wajar Lala pergi meninggalkan dirimu. Apa kamu pikir, untuk menghukum dirimu aku harus menunggu saat kamu pulang?" Ipoy mengangkat gelas kopinya, lalu tanpa ragu dia main minum saja padahal asap terlihat masih mengebul keluar dari dalam gelas kopi.


Sasan membenarkan dalam hatinya. Tak perlu dia pulang terlebih dahulu untuk Ipoy memberi hukuman padanya.


"Coba ceritakan pengalaman hidupmu secara garis besar!"


Sasan menurut, dia pun mulai berbicara.


"Aku mengajak Lala pergi ke Ibukota. Di sana kami hidup berpindah kontrakan. Untuk bertahan hidup, aku bekerja apa saja hingga bisa kerja sebagai sekuriti di yayasan. Hanya untuk bisa kerja, aku meminjam uang. Ini awal petaka dimulai. Dari pinjaman yang tak seberapa, membengkak menjadi belasan juta." Sasan menarik napas panjang.


"Teruskan!"


"Hutang yang teramat banyak itu pun dijadikan lunas oleh si peminjam Mang. Tapi syaratnya, aku harus serahkan Lala dan Suta padanya. Ternyata Lala sudah ada janji dengan dia. Akhirnya, Lala pergi dari sisiku membawa Suta."


"Oh, jadi kamu pinjam uang sama rentenir?" tanya Ipoy.


"Dia bukan rentenir. Tetapi dia mencari celah untuk merebut Lala dariku Mang. Dengan aku terbelit hutang besar, Lala bisa berlega hati memilih bercerai dariku. Sekarang mereka resmi menikah secara KUA, tak seperti aku!"


"Terus, apa kamu menyesal dan marah pada Lala?" Ipoy menatap tajam, seakan dengan sorot matanya itu dia bisa membaca hati Sasan.


"Tidak, Mang! Karena aku lihat Lala bisa bahagia dengan suami barunya itu. Suta anakku pun bisa membeli mainan yang mana dia suka."


"Apa kamu menjawab jujur?" Nada suara Ipoy tajam dan kaku.


Sasan menelan ludahnya.

__ADS_1


__ADS_2