
Di dalam kamar.
Ami yang sedang tertidur, tampak bergerak-gerak tubuhnya. Sebentar ke kiri, tak lama ke kanan. Kadang kakinya menendang, kadang bergesek. Tampak tak tenang.
Mendadak.
Ami terbangun tiba-tiba dan melihat ke arah sudut kamar.
"Oh, siapa?" tanya Ami kaget.
Di sudut kamar ada bayangan hitam lurus seperti tiang. Namun perlahan-lahan bayangan itu membentuk sebuah wujud, bentuk manusia yang aneh, karena bagian bawah tubuh itu adalah ekor ular.
Manusia ular hadir di kamar Ami.
"Kamu siapa?" tanya Ami dengan wajah ketakutan. Keringat dinginnya mengucur deras.
"Aku Nyi Malini, dirimu sudah ditetapkan sebagai tumbal. Aku senang menerima dirimu yang cantik jelita menjadi budak di kerajaan yang aku pimpin. Hehehe." Nyi Malini merayap mendekat.
"Aku tak mau!" teriak Ami.
"Menolak? Tak akan bisa. Nasibmu sudah ditentukan, wahai anak perawan!" bentak Nyi Malini.
Mendengar bentakan Nyi Malini, Ami bukannya takut malah tertawa.
"Kenapa tertawa? Apa kamu tak takut mati?" tanya Nyi Malini heran.
"Tadi kamu panggil aku apa?" Ami tersenyum lebar.
"Aku panggil apa?" Nyi Malini masih belum paham.
"Kamu tadi panggil aku anak...." Ami sengaja menggantung ucapannya.
"Anak perawan," sambung Nyi Malini.
"Hihihi, kalau begitu... kamu boleh membunuh diriku!" Ami meloncat turun dari kasurnya.
Ami tak hanya berdiri di dekat kasur, tetapi dia berjalan menghampiri Nyi Malini.
"Apa kamu tak takut mati?" tanya Nyi Malini.
"Siapa bilang aku tak takut mati? Aku sangat takut, tapi setiap makhluk yang bernyawa pasti akan mati, seperti kamu juga! Hanya saja kapan ajal itu tiba, tak ada yang tahu. Nah, kalau kamu mau mengambil jiwaku si anak perawan ini, aku sudah siap!" tegas Ami dengan sorot mata berani, seakan dia punya pegangan Nyi Malini tak akan mengambil jiwanya.
Nyi Malini meragu, wajahnya terlihat bingung dan heran. Baru pertama kali ini dia dapati calon korban dan tumbalnya tak takut mati. Setahu dia, selama ini seluruh korban yang berhasil dia tarik jiwanya dan ditahan di kerajaan sebagai budak, selalu ketakutan melihat kedatangannya dan memohon ampun agar tak dijadikan tumbal.
Kali ini berbeda, Ami yang secara tak sadar telah ditetapkan sebagai tumbal dari selembar uang yang diberikan Abay, tak takut mati.
__ADS_1
Di uang yang diberi tanda gambar ular itulah sebagai bukti pemegangnya telah ditetapkan sebagai korban.
Ami yang beruntung mendapatkan uang itu. Walau sejatinya Abay tak berniat itu, hanya saja kesalahpahaman telah tercipta. Tak bisa dicegah dan ditarik.
Ami ditetapkan sebagai tumbal. Tetapi dia sesaat lagi akan menjadi tumbal yang jiwanya tak bisa diambil, karena suatu sebab.
"Apa kamu pikir aku tak berani mengambil jiwamu?' gertak Nyi Malini.
"Ambil saja, aku ini anak perawan kan?" Ami mengejek.
"Hmm," gumam Nyi Malini. Tangannya terulur untuk mencekik Ami.
"Tahan!" bentak Ami.
"Kenapa? Apa kamu takut mati? Memohon saja padaku," ejek Nyi Malini.
"Apa setelah aku memohon, kamu akan melepaskan aku?" Ami benar-benar berani.
"Tentu saja tidak!" tawa Nyi Malini.
"Kalau begitu, aku ingin bertanya satu saja!" Ami tertawa.
"Tanyalah!" Nyi Malini setuju.
"Siapa yang menjadikan aku tumbal?" tanya Ami.
"Kenapa? Aku ini sudah hampir mati kan, kenapa tak kamu beritahu? Apa kamu takut?" Ami menatap hina Nyi Malini.
"Siapa bilang tak berani, baiklah... yang menjadikan dirimu itu tumbal adalah Abay!" jawab Nyi Malini tanpa ragu sedikitpun.
Terdengar dua teriakan. Tetapi yang didengar Nyi Malini hanya teriakan Ami. Bukan yang berasal dari luar kamar.
Tanpa sepengetahuan Nyi Malini dan Ami, di luar kamar ada saksi mata dan telinga. Siapa lagi kalau bukan Dina.
Dina yang disuruh berdiri di depan pintu kamarnya sendiri oleh Bwalika. Dari tempatnya dapat melihat seisi kamar Ami. Entah apa yang terjadi, pintu dan tembok kamar Ami di mata Dina telah berubah menjadi kaca. Hingga apa yang sedang terjadi di dalam kamar Ami dapat terlihat jelas.
Tak hanya Dina dapat menyaksikan keberadaan Nyi Malini, dia pun mampu mendengar pembicaraan antara Nyi Malini dan Ami.
"Kamu bohong!" Ami berkata tak percaya. "Papa Abay tak seperti itu! Dia bukan orang jahat!"
"Ya, Papaku bukan orang jahat!" desis Dina di dalam hatinya, dia bergeming di tempatnya. Tak beranjak sama sekali.
"Hihihi, Abay itu baik? Tak salah, tapi juga tak benar. Kamu sudah tak bisa dibilang anak-anak lagi. Tentunya kamu tahu, cara apa yang membuat manusia bisa mendapatkan uang, kan?"
"Tahu, kerja atau dagang," jawab Ami pasti.
__ADS_1
"Betul, bekerja atau dagang. Tetapi masih ada satu lagi, yaitu bersekutu dengan jin seperti aku. Pesugihan!" seru Nyi Malini dengan nada dingin.
"Apa Papa Abay melakukan itu?" tanya Dina yang ternyata diwakili Ami di dalam kamar.
Dina bertanya dalam hatinya, tetapi Ami sepertinya mendengar dan telah menjadi juru bicaranya yang handal.
Bwalika telah berbisik pada Dina agar tak mengeluarkan suara sedikitpun, atau semuanya akan menjadi berantakan. Dina pun menurut.
"Jika tidak, darimana Abay bisa mempunyai uang yang tak ada habis-habisnya? Hihihi. Dia bersekutu denganku dan aku akan berikan satu rahasia untukmu yaitu pertemuan...." Nyi Malini menggantungkan ucapannya dengan sengaja.
"Pertemuan apa?" tanya Ami menunjuk rasa ingin tahunya.
"Pertemuan kamu dan Ibumu."
"Maksudnya apa?" Ami merasa tak enak dalam hatinya. Timbul rasa takutnya.
"Ibumu telah menjadi budak di tempatku. Tugasnya mudah, menjadi salah satu kaki meja di kamarku. Berikut Adik berbeda Ayah denganmu," jelas Nyi Malini.
Untuk sesaat Ami tak bisa berkata-kata, tetapi matanya berkaca-kaca.
"Apa kamu mau tahu siapa Ayah dari Adikmu itu?" tanya Nyi Malini.
"Apa mungkin Papa Abay?" tebak Ami.
"Hihihi, anak yang cerdas. Betul, Abay itu telah menjadi suami untuk Ibumu, juga yang telah mengotori tangannya untuk menjadikan Ibumu berserta anak yang dikandungnya menjadi tumbal. Adikmu ikut berkorban. Bonusnya, Abay mendapatkan banyak uang. Uang yang tak ada habisnya, uang yang disimpannya untuk di hari tua. Mungkin kamu kebagian, tetapi aku pikir... Dina akan mendapat lebih banyak dari Abay. Bagiamana? Apa kamu mau berkumpul dengan Ibumu?"
Wajah Ami telah basah oleh air mata, tetapi bukan berarti dia sedih. Karena rasa sedih itu telah menghilang, berganti dengan rasa amarah yang besar.
Ami benci Abay, dia pun benci pada Dina.
"Aku mau jiwamu!" teriak Ami kalap, lalu dia menerkam ke arah Nyi Malini.
Hal yang sia-sia.
Ami tak bisa menyentuh tubuh Nyi Malini, malah dia terpental ke atas kasur.
Sambil tertawa terkekeh-kekeh, Nyi Malini mendekati Ami dengan kuku-kuku tangannya yang tajam.
"Sekarang kamu harus mati hei anak perawan!" Nyi Malini menurunkan tangan jahatnya ke arah jantung Ami.
Niat Nyi Malini itu untuk mengorek keluar jantung Ami.
Tetapi yang terjadi.
"Aduuuh!" Nyi Malini terpental ke belakang, lalu lari terbirit-birit ke arah pintu kamar Ami.
__ADS_1
Nyi Malini melarikan diri dengan wajah kesal dan mengernyit kesakitan.
Sebenarnya apa yang terjadi?