ISTRI RAHASIA

ISTRI RAHASIA
Istri Rahasia Bab 120


__ADS_3

Di dalam kamar mandi ada Bwalika yang berdiri di sudut kamar.


"Ada apa Kak?" tanya Dina setelah dia menyalakan kran air.


Dina sengaja membuka kran air, agar suaranya saat bicara dengan Bwalika tak terdengar orang lain.


"Aku dapat kabar, Papa angkatmu sudah dijadikan budak di kerajaan Nyi Malini," ucap Bwalika.


"Papa Abay jadi budak? Kok, bisa?" tanya Dina heran. "Terus kerajaan Nyi Malini itu apa?"


"Dina, Papa-mu itu pelaku pesugihan dan dia sedang menerima hukumannya. Tetapi dia belum mati, hanya jiwanya yang tertahan di kerajaan Nyi Malini. Kecuali jika tubuh kasarnya dibenamkan ke dalam bumi, baru dia akan mati."


Dina terdiam.


"Jika kamu mau menyelematkan Papa-mu. Kamu masih bisa!"


"Tapi apa harus?" tanya Dina bingung. Sebab dia mendapat pelajaran, pesugihan itu cara sesat, cara kaya cepat yang berhubungan dengan jin.


"Itu terserah kamu. Manusia kan diberikan kesempatan untuk bertobat, sama seperti jin. Seperti aku! Nah, sudah mau senja, ada hal yang belum aku lakukan, aku harus segera pergi!"


"Kak Lika tahan dulu!" cegah Dina.


"Ada apa?"


"Apa Kak Lika tahu di mana Papaku berada?" tanya Dina yang masih anggap Abay sebagai papanya.


"Di rumahnya."


"Di mana rumahnya?"


"Untuk ini aku tak begitu tahu, ada dimensi gaib yang menjadi penghalang bagiku. Hanya saja ada bau amis ular yang kuat. Sepertinya tak terlalu jauh dari sini!"


"Bau amis ular yang kuat, sepertinya aku pernah mencium bau itu, tapi di mana ya?" tanya Dina pada dirinya sendiri.


Sementara itu Bwalika sudah pergi.


"Dina di kamar mandi udah belum? Aku kebelet!" Maya mengetuk pintu kamar mandi.


"Eh, belum. Tahan dulu!" seru Dina cepat.


*

__ADS_1


Dina sedang duduk di karpet depan layar televisi 32 inch di rumah Maya.


Sebenarnya ada kasur tipis, tetapi kasur itu sedang tidak dipakai, masih digulung rapi. Selain Dina ada Maya dan Marina. Sementara televisi dalam posisi mati.


"Apa rencanamu selanjutnya Dina?" tanya Marina.


"Mau sekolah Ma. Kan aku belum lulus. Kalau boleh mau minta tolong Pak RT, sih."


"Kenapa harus Pak RT, kalau Papaku bisa!" Maya menatap Marina, mencari dukungan.


"Maya betul, asal ada surat pindah lengkap, bisa diusahakan untuk masuk sekolah bareng Maya. Mama sama Papa yang akan pergi ke sekolah," ucap Marina.


"Terima kasih Ma." Dina sangat berterima kasih.


"Sama tinggal di sini aja! Kasurku kan besar, kamar ber-AC lagi. Mama sama Papa pasti nggak keberatan, betul kan Ma?" Maya menatap Marina sekali lagi.


"Kata siapa? Mama nggak kuat kalau angkat kamu sendirian!" canda Marina.


"Ih, Mama mah... aku ini udah kurus dan langsing tahu!" Maya cemberut.


Marina dan Dina tertawa.


"Iya, Ma," jawab Dina pendek.


"Dina sama Kak Ami itu kayak siang dan malam, Ma. Nggak bisa bersatu padu." Maya mengucap asal-asalan.


"Loh, siang bisa kok jadi malam, itu kalau mendung tebal. Begitu juga malam bisa jadi siang, kalau pas purnama bersinar terang banget!" bantah Marina.


"Ah, Mama... masa iya aku harus bilang Dina sama Kak Ami itu selalu berantem dan ribut. Dulu aja waktu Oma Wati masih hidup, Kak Ami berani menjelekkan Dina. Padahal dia saja dapat uang jajan dari Papa Abay," terang Maya berapi-api.


"Oya, ngomong-ngomong kok Papamu itu tak terlihat Din? Mama hanya ketemu saat Oma Wati berada di rumah sakit, setelah itu...." Marina mengawasi wajah Dina.


"Aku juga tak tahu Ma. Aku aja belum ketemu sama Papa Abay," jawab Dina.


"Ma, jadi gimana nih? Dina boleh tinggal di sini apa nggak?" Maya masih terus mendesak keputusan Marina, memberi ijin Dina tinggal atau tidak.


"Maya, Mama ini bukan kepala rumah tangga. Yang berhak memutuskan itu Papamu," ucap Marina memberi penjelasan.


"Ya, tapi kan Mama bisa merayu Papa," ucap Maya.


"Kamu kan juga bisa merayu Papamu." Marina membalikkan ucapan Maya.

__ADS_1


Sementara itu dalam hatinya, Dina tak tahu apa dia harus merasa senang mendapat tema sebaik Maya, atau dia harus sedih karena besar kemungkinan Maya akan jadi musuh Ami.


"Loh, ada apa ini main rayu-rayuan segala?" tanya Dayat yang baru masuk ke dalam rumah.


Semua kepala menengok ke arah Dayat.


"Coba saja tanya sama mutiara hati kita ini!" Marina menunjuk ke Maya.


"Ada apa Maya?" tanya Dayat yang juga ikut duduk di lantai.


Dayat duduk di samping Marina, bahkan tanpa malu-malu, dia merangkul pundak istrinya itu.


Saat itu posisi duduk Dayat berhadapan dengan Maya dan Marina dengan Dina.


"Aku mau ajak Dina tinggal di rumah ini, Pa. Teman sekamarku. Apa boleh?" tanya Maya lugas.


Dayat tak langsung menjawab, dia menatap Dina terlebih dahulu, lalu berpindah ke Marina dan terakhir pada Maya.


Dina menundukkan kepala. Jika menuruti kata hati, dia lebih merasa nyaman tinggal bersama Maya dibanding sama Ami. Kalau dia harus keluar rumah dan keluarga Maya menyuruhnya tinggal, dia tak akan menolak. Tetapi jika nasib berkata lain, mau tak mau dia harus mencari tempat tinggal baru. Kalau pun tidak dapat, dia bisa kembali ke kampung dan tinggal bersama Sasan.


"Kalau Papa sih setuju saja, di rumah ini jadi ramai dan Papa dapat anak baru yang cantik. Tapi Dina itu kan cucu Oma Wati, dia punya hak untuk tinggal di rumah bersama Ami. Saling bantu dan tolong menolong," ucap Dayat.


"Sejujurnya aku ini bukan cucu Oma Wati, Papa kan tahu riwayatku," ucap Dina.


"Betul, kami semua tahu. Kamu itu anak bawaan Abay saat menikah dengan Santi. Tetapi kamu sudah dianggap sebagai cucu oleh Kakek-Nenekmu. Jadi apa kamu merasa tak punya hak di rumah itu?" tanya Dayat.


"Tidak punya Pa. Kan Kak Ami yang lebih berhak, dia masih Keluarga dari Oma Wati. Sementara Oma juga tak meninggalkan wasiat apapun. Meski ada pesan aku harus tinggal bersama Kak Ami, apa Kak Ami mau?" ucap Dina sendu.


"Kamu tak boleh berpikiran buruk dulu. Meski Mama tahu, kamu sama Ami tak cocok. Ya, siapa tahu dengan tak adanya Oma Wati, Ami butuh teman dan kamu berdua bisa saling melengkapi," ucap Marina.


"Begini saja, kalau pun Ami nanti usir kamu. Baru kamu boleh tinggal di sini. Ok, itu keputusan Papa. Mau mandi dulu, tadi cukup lama di pasar pilih-pilih buah dan beli makanan kecil buat pengajian nanti malam di rumah Oma Wati!" Dayat berdiri untuk terus pergi ke arah kamar mandi.


Marina juga ikut berdiri dan masuk ke dalam kamar.


"Gimana?" tanya Maya.


"Ya, aku pulang dulu ke rumah Oma Wati. Mau mandi!" Dina pun pamitan pada Maya.


*


"Mau apa pulang? Bukannya enak tidur di rumah Maya?" ketus Ami begitu melihat Dina masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


__ADS_2