
Dina sebenarnya ingin sekali bisa segera bertemu dengan Wati. Kalau perlu malam ini dia bisa berada di rumah Wati. Dia bisa, dia punya kemampuan itu. Karena Nini Ai telah memberikan sedikit pengertian tentang ilmu melipat bumi dan menunggang angin. Sebuah ilmu gaib untuk mempersingkat waktu tempuh.
Hanya saja, Nini Ai telah menegaskan, besok itu hari kepulangan Dina. Dia pun tak diberi ijin memakai ilmu itu. Harus naik kendaraan umum seperti orang normal lainnya.
Meski Dina punya keinginan segera melihat Wati, tapi sisi lain dia tak berani melanggar pesan Nini Ai.
Sasan telah memberikan petunjuk, setelah turun dari mobil travel nanti, arah mana lagi yang harus ditempuh Dina.
Walau Dina mencatat dengan baik petunjuk Sasan dalam hati, untuk naik angkot apa dan turun di mana. Namun dia berkeinginan naik ojek saja, lebih praktis dari naik angkot. Bukan Dina tak mau naik angkot, tapi dia memilih efisiensi waktu, ingin segera sampai.
Malam ini, Dina hanya bisa melantunkan doa bagi Wati. Berharap mereka berdua masih bisa dipertemukan, walaupun hanya sesaat.
*
Jam tengah malam.
Di rumah Wati tak ada kejadian apa-apa. Beberapa orang yang takut malam ini Wati kenapa-napa, bisa menarik napas lega. Wajah pucat janda tua tersebut, perlahan mulai terlihat warna merahnya, menandakan sudah sehat.
Tetapi tetap saja ada yang berjaga-jaga. Suta yang mendapat giliran jaga. Dia semenjak tinggal di rumah Wati, baru malam inilah bisa berada di kamar Wati dalam waktu yang lama.
Suta pernah masuk beberapa kali ke kamar Wati, tapi itu pun kalau ada keperluan mengganti lampu atau pas waktu mengecat kamar. Dia masuk kamar hanya untuk hal yang penting. Beda dengan Ami yang sering keluar masuk.
Sementara itu Ami, sudah tidur sejak tadi. Tetapi tidak sendiri, ada Maya yang menemani. Untuk sesaat kampak perang mereka dikubur terlebih dahulu, gencatan senjata karena kesehatan Wati.
Namun, Andi sebagai ketua RT dan Dayat ayahnya Maya sudah berpesan, jika ada apa-apa, mereka siap terjaga dari tidur mereka kapanpun waktu itu di malam ini.
"Oma, cepat sehat, ya!" bisik Suta.
"Dina," lirih Wati sekali.
"Oma," panggil Suta senang. Dia berpikir Wati akan membuka matanya.
Tetapi tidak. Wati belum membuka matanya. Dia hanya mengigau.
__ADS_1
Suta menghela napas. Lalu matanya menatap ke arah jam dinding di kamar Wati. Tepat jam 12 malam.
Mendadak Suta teringat Yuri. Dia pun berdiri dan berjalan ke arah kamar mandi. Ada keinginan di dalam hatinya untuk menjalani ibadah sunah malam ini, berdoa untuk Yuri dan Wati. Tetapi malam ini sepertinya doanya akan lebih banyak untuk Yuri.
Saat bayangan punggung Suta berada di pintu kamar, mata Wati terbuka.
"Dina, Suta itu adikmu," lirih Wati, lalu menutup mata lagi.
Andai saja Suta mendengar, bisa jadi dia tak akan mau percaya. Sebab dia ingin sekali bisa menjadi kekasih Dina, walau cuma sehari.
*
Dua jam sebelum tidur Yuri, di jam 10 malam tadi. Gadis itu tak melakukan ibadah sunah, tapi dia berdoa sebelum tidur. Bukan apa-apa, dia sedang datang tamu bulanan, periode yang dialami setiap wanita dewasa, kecuali yang sedang hamil atau sudah memasuki masa menopause.
Saat ini tepat jam 12 malam.
Yuri mulai tidur dengan resah dan gelisah. Tubuhnya bergerak, kadang miring ke kiri, lalu pindah miring ke kanan. Sebentar telentang, namun kaki bergerak menendang atau saling bergesekan. Tangannya pun tak bisa diam, kadang terangkat ke atas, kadang menempel di perut.
Hingga Yuri mendadak terbangun.
Lalu Yuri melihat ke arah jari manis kanannya, tempat di mana cincin pinjaman Suta berada. Dia berseru kaget, karena dia sepintas melihat mulai dari pergelangan tangan hingga ke ujung jari tertutup sinar hijau keputihan, mirip seperti dia memakai sarung tinju.
Yuri tak tahu, sebenarnya cincin Suta itu mengapa bisa mengeluarkan sinar. Namun dia pun tak mau melepas cincin itu dari jari manisnya, dia sudah coba tadi sebelum tidur, cincin susah dilepas.
Hingga mendadak tubuh Yuri sedikit bergetar. Karena hembusan angin dingin yang aneh memasuki kamarnya, melalui celah pintu.
Sejenak Yuri merasa dirinya tak berada di dalam kamarnya. Dia seakan berada di ruang asing yang bersuhu dingin dan berhawa menyeramkan, seperti ada maut yang sedang mengintai dirinya.
Sayup-sayup Yuri mendengar suara di telinganya. Mirip suara Suta.
"Yuri, tenang. Begitu datang, hantam saja dengan tinju kananmu. Semoga Allah melindungi dirimu."
"Bang Suta!" panggil Yuri.
__ADS_1
Percuma, Suta tak akan menjawab. Namun Yuri tadi hanya spontan saja memanggil Suta.
"Siapa yang kamu panggil anak manis, calon budak baruku?"
Kali ini Yuri mendengar sangat jelas suara yang barusan datang ke telinganya. Bahkan dia juga melihat siapa yang berbicara.
Sosok itu berwujud menyeramkan, meski cantiknya kelewatan. Namun Yuri tak bisa memuji kecantikan rupa mahkluk asing di dalam kamarnya. Karena bagian bawah tubuhnya itu ekor ular sebesar batang pohon.
Yuri teringat mimpinya.
Yuri teringat pula perkataan sayup-sayup tadi.
"Oh, kamu cantik. Baiklah, aku akan jadikan kamu budak pribadiku. Tugasmu di dalam kamarku saja. Hihihi."
Yuri menatap pada manusia ular yang mendadak muncul di dalam kamarnya. Tetapi dia tak kaget, meski tak tahu darimana masuknya si manusia ular.
"Aku Nyi Malini, mari sini datang dekat padaku dan aku akan mengambil jiwamu, tanpa kamu harus menderita kesakitan yang teramat sangat." Nyi Malini tersenyum.
Sampai detik ini Nyi Malini tak sadar, jika tinju kanan Yuri seperti memilik sarung tinju sinar hijau keputihan, serupa pada saat dia pulang dengan tangan hampa kala mau mengambil Maya sebagai tumbal Abay.
Yuri pada dasarnya gadis yang lincah dan pemberani. Buktinya dia tak ragu mengajak Suta duduk di teras rumahnya saat hujan deras tadi sore sampai maghrib usai.
Lalu Yuri juga terbiasa berdua saja dengan adiknya setelah pulang sekolah, adiknya baru berusia 6-7 tahun.
"Apa betul aku harus datang mendekat?" tanya Yuri berani.
"Ya, ke sinilah!" Nyi Malini tersenyum lebar. Bahkan ular kecil yang menjadi kalungnya seperti ikut tersenyum pada Yuri.
Yuri dengan sengaja menyembunyikan tangan kanannya ke belakang. Dia yang dari tadi duduk di kasur, kini perlahan turunkan kakinya ke lantai dan berdiri sejenak menatap Nyi Malini.
Balutan sutera hitam yang ketat menutupi tubuh Nyi Malini yang ramping seperti model baju renang, karena saking ketatnya sutera tersebut seolah Nyi Malini memakai baju renang saja.
Wajah Nyi Malini yang berbentuk oval dengan dagu runcing, tampak anggun. Tetapi yang menarik di mata Yuri, mata tajam Nyi Malini yang memiliki bola mata kemerahan itu. Rambut Nyi Malini digelung ke atas dengan tusuk konde emas berupa ular.
__ADS_1
"Ke marilah cantik!" Nyi Malini tampak tak sabar.
"Ini yang ke sana!" teriak Yuri sambil keluarkan tinju kanannya.