
Abay duduk seorang diri di dalam kamar rahasianya dengan wajah gelisah dan serba salah di waktu menjelang pagi, di rumah yang juga menjadi rumah prakteknya saat menjadi Ki Jabaya.
Malam ini tak ada makan malam di restoran bintang lima di hotel bintang lima, yang sekiranya akan menjadi pesta perayaan kabar gembira Poppy hamil.
Ada panggilan dari Nyi Malini menjelang maghrib, sebelum keberangkatan Abay dan Poppy.
Dengan alasan rekan bisnisnya mengundang datang, Abay membatalkan makan malam yang direncanakan secara mendadak itu. Walau begitu, tetap saja dia melihat raut wajah kecewa Poppy.
Sesaat Abay sampai di rumah rahasianya, Nyi Malini telah berdiri di depan pintu kamar.
Tubuh putih pualam Nyi Malini menantang untuk disentuh Abay. Senyumnya memikat untuk Abay cepat berlari ke arahnya.
Sekali lagi dan entah sudah ke berapa kali, Abay dan Nyi Malini saling melepas rindu, membelai sayang dan menumpahkan cinta dengan saling memberi, jual beli sentuhan dan cumbuan.
Ketika semua selesai, kurang dari enam puluh menit lagi bulan berada di atas kepala, awal jam tengah malam.
"Abay, sudah tiba waktunya kamu memberi aku tumbal," bisik Nyi Malini sambil membelit tubuh Abay dari belakang.
Kepala Nyi Malini menumpang di pundak kanan Abay.
"Ya, Nyi. Aku sudah persiapkan seorang anak perawan. Remaja berusia kurang lebih tiga belas tahun. Anakku, Dina... dia meneleponku dan meminta, aku membeli ponsel terbaru. Ponsel baru itu sebagai pengganti ponsel yang dirusak Dina. Nantinya, di ponsel baru itu akan aku kasih tanda dan Nyi Malini bisa mendapat tumbal anak perawan itu, namanya Ami," tutur Abay.
"Oh, anak perawan. Aku suka, aku suka sekali dapat tumbal anak perawan yang kecantikan dan wanginya masih alami. Belum bau pupur dan gincu. Tetapi apa kamu lupa? Aku meminta tumbal istrimu, karena itu aku menyuruhmu menikah lagi. Persiapkan saja apa yang aku mau itu!"
Nyi Malini menjulurkan lidahnya yang memanjang seperti lidah kadal, dengan lidahnya itu dia menjilat pipi kiri Abay. Ya, lidahnya yang panjang dapat bergerak sesuka hati.
"Tapi Nyi, apa tak bisa ditunda untuk tahun depan. Poppy istriku sedang hamil anakku." Abay meminta penuh harap.
"Bukannya kamu sudah punya Dina? Apa itu tak cukup?"
__ADS_1
"Dina bukan anak kandungku, Nyi. Nyi kan tahu itu. Sementara yang dikandung Poppy itu darah daging dari benihku. Aku...."
Abay tak bisa melanjutkan ucapannya, karena tubuhnya didorong jatuh Nyi Malini.
Tubuh Abay berguling-guling dan baru berhenti ketika punggungnya membentur tembok.
Dengan tatapan nanar, Abay melihat Nyi Malini berdiri di depannya, di kawal sepasang ular di kiri-kanan tubuhnya. Ular itu bukan ular dunia nyata, tetapi ular siluman yang bisa dengan mudah datang dan menghilang.
"Aku kecewa padamu, Abay. Kebaikanku selama ini, kamu balas dengan penolakan. Kamu tahu, seharusnya aku sudah lama mengajakmu tinggal di istanaku, menjadi budak yang khusus mencuci kakiku. Tetapi karena kamu manusia pertama, juga pria yang aku cintai membuat aku membiarkan dirimu mengecap manis madunya dunia." Nyi Malini menatap tajam Abay.
Pandangan Abay telah kembali normal, karenanya dia bisa melihat betapa wajah cantik dan tubuh Nyi Malini kini dipenuhi sisik ular. Ada kemarahan di sinar mata istri rahasianya itu.
"Meski aku cemburu melihat dirimu bermain dengan banyak kupu-kupu, bergonta-ganti menghirup wangi bunga-bunga malam, aku tetap biarkan kamu. Aku bebaskan kamu bersenang-senang. Tetapi apa balasan yang aku dapat? Kamu menawar perintahku, kamu menolak untuk menumbalkan istri dan anakmu yang masih di dalam perut. Sekarang...." Nyi Malini menunda ucapannya.
Abay hanya bisa menelan ludahnya, dia paham membantah percuma yang ada malah nyawanya terancam.
"Kamu boleh pilih, membiarkan istri dan anakmu tetap hidup dan kamu mati atau kamu hidup istri dan anakmu mati!"
Lalu datang lagi bisikan hatinya yang berucap, sudahlah Abay lebih baik memberi kesempatan dua jiwa hidup di dunia. Namun yang lain berteriak, jangan... untuk apa membiarkan Poppy tetap hidup, karena wanita itu bukan wanita baik-baik yang ada dia akan kembali menjadi kupu-kupu malam seperti sebelumnya.
"Ah, aku tahu! Meski aku tak rela kehilangan anakku, tetapi jiwaku masih harus hidup. Masalah anak, saat Poppy diambil nanti... aku harus segera menikah lagi dengan lebih dari satu wanita. Agar aku bisa segera punya anak. Ya, aku ingin menggendong bayi kandungku sendiri. Baiklah, begitu saja!" Abay pun telah mengambil keputusan dalam hatinya.
"Bagaimana Abay, apa pilihanmu?" tanya Nyi Malini tajam.
"Aku memilih tetap hidup!" jawab Abay dengan muka tenang.
"Aku senang dengan keputusan yang kamu ambil ini. Baiklah, besok kamu persiapkan semuanya." Nyi Malini tersenyum senang.
"Iya, Nyi." Pendek saja jawaban Abay.
__ADS_1
"Tetapi setelah itu, aku larang kamu untuk menikah lagi. Tunggu perintahku!" seru Nyi Malini yang perlahan-lahan menghilang dari hadapan Abay, tetapi tidak dengan kedua ular yang menjadi pengawalnya itu.
Mendengar perintah Nyi Malini, membuat hati Abay menjerit sedih.
Rusak sudah rencana Abay untuk mempunyai anak kandung, tahu begini sejak dulu saja dia banyak-banyak menikah. Dia punya uang berlimpah dan tak perlu takut anak istrinya tak bisa makan. Namun semua sudah terjadi, masa lalu itu ibarat saudara jauh sulit untuk datang dan sekalinya tiba yang ada hanya cerita kenangan belaka.
"Garini, Ula... layani Abay!" seru suara Nyi Malini di udara.
Kedua ular yang tadi menjadi pengawal Nyi Malini tertawa cekikikan. Keduanya tak lagi berwujud ular, tetapi gadis cantik yang berdiri tanpa kain selembar pun di badan.
Biasanya Abay sudah melotot dan menubruk Garini maupun Ula setiap kali gadis ular itu muncul di depannya.
Tetapi kali ini berbeda harinya, Abay tak punya hasrat untuk bercinta. Dia tenggelam dalam rasa sedih harus kehilangan anaknya, dia tak peduli jika Poppy harus tumbang sebagai tumbal. Namun anaknya... sayang, dia tak akan bisa melihat wujud rupa anaknya lagi. Bahkan tak akan bisa melihat melalui USG, sebab usia kandungan Poppy terbilang muda.
Dari selembar kertas yang diperlihatkan Poppy, Abay membaca usia kandungan Poppy baru sekitar tiga minggu. Belum sampai sebulan.
"Abay, layani kami!" bentak Garini yang kesal karena Abay terkesan dingin.
"Paksa saja!" saran Ula.
"Kamu saja, aku malas sama orang mati!" maki Garini.
Ula terkekeh.
"Sudahlah, kita pergi! Aku pun tak senang memaksa!" seru Ula setelah dia tak berhasil memaksa gairah Abay bangkit.
Meski kedua gadis ular itu pergi dari hadapannya, Abay tetap duduk dengan tatapan mata kosong bersandar tembok.
Barulah menjelang azan subuh datang, Abay berdiri dengan wajah sedih.
__ADS_1
"Maafkan Papamu, Nak!"