
"Dina betul, kamu makan dulu saja! Setelah itu kita bicara, ya!" Wati terus saja masuk ke dalam rumah, dia mau ke kamar mandi.
"Ayo, Pa... kita makan dulu!" Dina menarik tangan Abay.
Abay tak menolak, dia biarkan Dina menarik dirinya sampai keluar rumah. Lalu Dina berlari menemui Sanusi. Sedangkan Abay mulai menyendok nasi dan mengambil lauk, kemudian duduk di dekat Sanusi yang sedang bicara sama bapak lainnya dan memangku Dina.
Selama makan, Abay tersentuh hatinya. Dina begitu suka dekat dengan kakek sambungnya. Seakan tak mau pisah dari Sanusi.
"Oh, apa keputusanku ini tepat? Memisahkan Dina dengan kedua orang tua Santi? Tetapi jika aku masih berada di sini, aku takut orang akan curiga. Karena aku akan mendadak kaya. Meski bisa saja harta yang aku dapat dari Nyi Malini aku pindahkan, namun tetap saja akan memancing rasa curiga orang. Istri baru mati, eh mendadak kaya!" pikir Abay.
"Bingung! Satu sisi aku butuh perhatikan tumbuh kembang Dina. Sisi lain, aku harus hindari mata curiga orang lain." Abay menarik napas panjang.
*
Sasan membuka matanya. Ternyata matahari sudah mulai mengarah ke barat.
"Makan dulu, setelah itu kamu pulang!" Ipoy menunjuk ke arah meja.
Sasan mengarahkan sorot matanya pada meja. Di atas meja sudah tersedia piring dengan sendok berisi nasi putih yang tak lagi berasap, lalu sambal dengan lauk telor dadar. Bukan makanan yang mewah, tetapi cukup menggugah selera perut yang lapar. Di dekat piring ada gelas bertangkai tinggi berisi air teh.
"Aku makan dulu ya, Mang!"
Ipoy mengangguk. Lalu berdiri dan tanpa bicara pada Sasan, dia berjalan masuk ke dalam rumah.
Sasan tak mau bertanya mau apa Ipoy ke dalam rumah. Yang dia tahu, dia harus cepat makan dan cepat pergi dari rumah Ipoy.
Hanya saja, saat Sasan teringat Endah. Air matanya menetes turun. Dia bukan rindu pada Endah, tetapi sedih karena kematian Endah yang tragis.
Selain itu Sasan kecewa, karena dia tak bisa melihat anaknya yang menurut Ipoy bernama Dina dan berwajah mirip dengan Endah. Walau dia kecewa tak melihat Dina, tetapi rasa itu tak terlalu besar. Karena Dina masih hidup dan tugasnya itu untuk menemukan anak itu.
Setelah bertemu nanti, Sasan harus serahkan kedua macam benda pada Dina. Entah apa gunanya kedua barang pemberian Ipoy, karena dia tak mendapatkan keterangan sama sekali dari Ipoy.
__ADS_1
Ketika Sasan menaruh piring kosong dan bersiap meminum air teh, bayangan Ipoy muncul dari dalam rumah.
"Kalau sudah selesai, kamu boleh pergi! Tak perlu takut, jalan saja dengan kepala lurus dan jangan pernah menengok ke belakang, kiri dan kanan!"
"Kenapa seperti itu Mang?" tanya Sasan.
"Kamu mau pulang ke kota dengan tubuh utuh kan? Jika iya, ikuti saja perkataanku!" seru Ipoy sengit.
"Iya, Mang." Sasan berdiri dan dia ingin mencari tangan Ipoy.
"Tak perlu cium tangan! Pulang saja sana dan ingat, cari Dina Mardina selepas dia berusia di atas tujuh belas tahun. Bulan keempat dia lahir. Kamu tentu tahu berapa tahun usianya saat ini kan, tinggal kamu hitung saja! Intinya, berikan kedua benda pemberianku itu saat Dina sudah berusia lebih dari tunggu belas. Pergilah!"
Sasan mengingat nama Dina Mardina yang disebut Ipoy. Nama lengkap anaknya, tinggal ditambah namanya di belakang. Dina Mardina binti Sasan.
Sesuai petunjuk Ipoy. Sasan berjalan pergi dengan kepala tegak dan mata lurus ke depan. Dia tak berani menengok ke belakang, maupun melirik ke kiri dan kanan.
Meski begitu, hati Sasan kebat-kebit tak karuan. Karena saat tatapan matanya yang jauh ke depan itu, dia menemukan ada beberapa kelompok yang berkumpul dengan wajah beringas. Kemungkinan mereka sedang menunggu dirinya.
"Betul, Sasan harus dapat hukuman! Enak saja dia main datang dan pergi ke kampung kita tanpa diberi hukuman, kecuali dia tak pernah berbuat kejahatan di kampung kita."
"Kalian jangan terlalu emosi. Kedua orang tua Sasan itu banyak jasanya pada kita semua. Lalu Mang Ipoy sendiri yang kehilangan keponakannya, ternyata mau memberi maaf pada Sasan. Kenapa kita masih bersikeras memberi dia hukuman?"
"Ah, kalau kamu tak mau ikut! Pulang sana!"
Telinga Sasan mendengar perkataan itu semua yang diucapkan dengan suara lantang. Tetapi dia tak berani menengok ke belakang, karena takut dirinya ketahuan.
Dengan kejadian ini, Sasan pun mengerti petunjuk Ipoy yang menyuruhnya terus berjalan lurus itu demi kebaikannya.
Sasan dibantu Ipoy agar dirinya tak terlihat oleh mata banyak penduduk kampung. Kalau tidak dibantu Ipoy, Sasan percaya dirinya tak akan selamat pulang ke kota dengan tubuh utuh.
Sasan pun semakin tak berani menengok ke belakang, maupun melirik kanan-kiri. Takut ilmu yang digunakan Ipoy untuk dirinya akan luntur.
__ADS_1
Batas desa pun hampir tiba. Sasan yang baru saja melewati batas desa yang berupa batu besar, dari balik batu itu mendadak muncul tiga orang di mana salah satunya Medi.
Sasan sempat berhenti sejenak, namun dia mendengar suara yang menyuruhnya jangan berhenti.
"Pulang saja, aku pikir Sasan sudah pergi jauh dari kampung. Kalian kan tahu Mang Ipoy itu seperti apa? Aku dulu pernah dikagetkan Mang Ipoy dengan ilmu halimun-nya. Tahu-tahu dia ada di depanku. Aku yakin, Mang Ipoy pakai ilmu itu untuk membantu Sasan keluar dari kampung," ucap Medi.
"Ah, bilang saja kamu tak rela Sasan kena tangkap. Dia kan teman baikmu."
"Tetapi aku pikir, Medi benar! Mang Ipoy tak mungkin biarkan Sasan celaka oleh kita semua. Apalagi memang sudah ada ucapan Mang Ipoy kan, kalau Sasan dimaafkan!"
Telinga Sasan mendengar percakapan itu. Dia pun menangkap langkah kaki pergi menjauh. Tetapi yang membuat dia senang, Medi ternyata membela dirinya.
"Berhenti!"
Sasan yang sudah jauh melewati batu besar batas desa, berani berhenti melangkah. Bukan hanya karena dia mendengar perintah itu, tetapi yang bicara itu Ipoy adanya.
Ipoy keluar dari dalam balik pohon besar. Dia menggapai ke Sasan.
Setengah berlari, Sasan menghampiri Ipoy.
"Sekarang kamu sudah bisa berhati lega untuk pulang ke kota!" Ipoy tepuk pundak kanan Sasan.
"Terima kasih atas bantuan Mang Ipoy. Aku juga sekali lagi minta maaf, karena aku pernah berbuat salah melarikan Lala!" ucap Sasan tulus.
"Masalah kamu membawa pergi Lala, itu sebenarnya bukan apa-apa. Karena takdir Lala memang bukan di kampung ini. Dengan kamu bawa Lala, setidaknya dia belajar kenal kehidupan kota dengan seorang teman bersamanya." Ipoy tersenyum.
"Maksud Mang Ipoy?" tanya Sasan kaget.
"Aku sudah meramal masa depan Lala sejak dia mulai mendapatkan masa periodenya. Kamu bukan jodohnya!" Ipoy tertawa, lalu dia berjalan pulang.
Sasan menelan ludah. Dia tak tahu apa dia harus tertawa atau menangis.
__ADS_1
"Kamu jangan pernah pulang lagi ke sini! Karena hidupku tak akan lama lagi!" teriak Ipoy yang pelan-pelan mulai menghilang.