
Dina baru saja sampai. Dia melihat di tenda, Sasan sedang asyik ngobrol dengan bapak-bapak yang lain. Tetapi tak ada Dayat, hanya ada pak RT Andi dan lainnya.
Begitu Dina masuk ke rumah, dia melihat Maya dan Ami terlihat akrab bicara di ruang tamu yang belum lama menjadi tempat menaruh jenazah Suta dan Said.
"Dina di kamar ada Nenek kandungmu, tuh!" ucap Maya.
"Nenek kandungku?" Dina bingung, terlihat dia mengangkat alisnya. Perasaan dia belum pernah bertemu dengan neneknya.
"Iya, ada di kamar lu, tuh!" timpal Ami.
Dina tak langsung masuk ke kamar. Dia duduk di depan Ami dan Maya, duduk di lantai beralas tikar.
"Kak, aku kan tak kenal siapa Nenek kandungku, ketemu aja belum. Apa Nenek berasal dari Bapak?" Dina bertanya ke Ami.
"Bukan, katanya sih dari jalur Ibumu. Siapa namanya May?" Ami menatap Maya.
"Endah," jawab Dina dan Maya bersamaan.
Dina sudah tahu lama siapa nama ibunya dari Sasan. Maya baru saja kenal nama itu beberapa waktu lalu.
"Nah, iya. Bapak Sasan juga kaget, ternyata Nini Ai itu mengaku sebagai Adik dari Kakek lu. Jadinya kan Nini Ai juga Nenek lu," jelas Ami.
"Nini Ai!" Dina berseru tertahan. Lalu dia bangkit berdiri dan berlari ke arah kamarnya.
"Nini," panggil Dina begitu dia membuka pintu.
NIni Ai saat itu sedang duduk di tepi kasur. Wajahnya terlihat serius.
"Habis darimana cucu cantik." Senyum Nini Ai terkembang.
Dina tak menjawab, karena dia memburu masuk dan memeluk Nini Ai, neneknya sendiri.
"Kenapa Nini baru bilang, kalau Nini itu Nenekku sendiri?" tanya Dina menatap wajah Nini Ai.
"Sengaja, agar kamu tidak manja dan benar mau belajar. Nah, sekarang kita pergi. Nanti saja bicaranya, yang perlu itu selamatkan Papa tirimu, anak dari temen Nini," ucap Nini Ai, lalu berdiri dan memegang tangan Dina.
"Kita pergi ke mana Ni?" tanya Dina.
"Ke rumah Abay. Telat, bisa bahaya!" Nini Ai lalu menyeret Dina pergi.
Anehnya, Ami dan Maya sama sekali tak melihat bayangan Dina dan Nini Ai. Padahal Dina dan Nini Ai berjalan pelan lewat di depan mata mereka.
__ADS_1
Begitu juga Sasan yang tak melihat kepergian Dina dan Nini Ai, padahal mereka berselisih jalan.
"Apa Dina sudah pulang?" tanya Sasan pada Ami dan Maya.
"Baru aja ke kamar tuh, Pak. Temui Nini Ai," jawab Maya. "Biar aku panggil, deh!"
Sasan mengucap terima kasih. Bagaimana pun rumah Wati bukan rumahnya. Dia mencari Dina untuk minta tolong bicara sama Ami, dia butuh ruang untuk tidur. Matanya sudah mulai mengantuk.
"Bapak kayaknya ngantuk, tuh. Tidur aja di kamar atas Pak. Bekas kamar Suta," ucap Ami sambil awasi wajah Sasan yang matanya lima watt.
Sasan baru mau menjawab, dikejutkan sama teriakan Maya.
"Heran, Dina sama Nini Ai tak ada di kamar. Mereka hilang, kayak main sulap," ucap Maya dengan suara keras.
Ami kaget. Tetapi tidak dengan Sasan, dia menebak Nini Ai dan Dina memakai ilmu halimun, ilmu kabur agar tak dilihat orang lain.
Ami dan Maya sibuk mencari, sementara Sasan duduk bersandar tembok ruang tamu.
"Iya, aneh banget! Dina sama Nini Ai bisa nggak ada. Lewat mana tadi mereka berdua kalau betul pergi? Masa iya terbang? Kan nggak punya sayap," ucap Maya.
"Kalau lu nggak bisa jawab, gimana gue!" Ami juga bingung.
"Kasihan, Pak Sasan pasti lelah banget. Nggak tidur dari malam," bisik Ami melihat Sasan duduk tidur bersandar tembok.
*
Dina dan Nini Ai hampir sampai ke rumah Abay. Dari arah jalan menuju rumah Abay, Dina pun baru sadar yang dikatakan Bwalika ada benarnya, rumah Abay dekat kuburan dan kuburan itu baru saja dia datangi tadi pagi.
Bahkan saat mengantar jenazah Wati, dia juga sudah lewati. Begitu juga waktu antar jenazah Suta dan Said beberapa jam sebelumnya.
"Nah, itu rumahnya. Wah, cepat-cepat, itu ada banyak orang," ucap Nini Ai.
Saat itu di depan rumah Abay berdiri tiga orang, dua pemuda berusia 20an dan seorang pria berusia 40an.
"Betul kan Pak RT, bau amis berasal dari sini," ucap pemuda berwajah hitam.
"Iya, Pak. Kayaknya bau amis ular. Aku sempat lihat ada ular di teras rumah. Ular segede betis, jenis ular sendok," sambung pemuda berwajah lonjong.
"Apa rumah Pak Abay jadi sarang ular? Kamu Cok apa lihat Pak Abay? Bagaimana sama kamu Dewa?" tanya pak RT waktu panggil Cok menatap si wajah lonjong, sebut Dewa ke si wajah hitam.
Cok dan Dewa menggeleng.
__ADS_1
"Maaf, Bapak dan Mas-nya, ada apa ya di depan rumah Papaku?" tanya Dina disuruh Nini Ai.
Ketiga orang itu melihat ke Dina dan Nini Ai. Jika pak RT menatap seperti orang curiga, Cok dan Dewa menatap terpesona. Mulut kedua pemuda itu saja terbuka, kalau ada lalat masuk bisa berabe tuh.
"Kamu sendiri siapa? Memangnya Pak Abay itu Papamu?" tanya pak RT.
"Namaku Dina, Pak. Betul, Papa Abay itu Papa tiriku," jawab Dina tenang.
"Eh, betul namamu Dina?" tanya pak RT dan nadanya terkesan lebih bersahabat.
"Betul, Pak. Tapi sayang, aku belum waktunya punya KTP. Bulan depan, baru dapat. Jadi tak bisa tunjukkan KTP," ucap Dina.
"Nama Nenekmu siapa?" tanya pak RT.
"Nini Ai," jawab Dina salah tebak maksud pak RT.
Pak RT kembali menatap curiga.
"Oya, Oma Wati, Pak." Dina cepat sebut nama Wati.
"Kalau begitu betul, Pak Abay pernah bilang padaku, dia punya anak tiri bernama Dina dan tinggal bersama Oma Wati. Ternyata kamu orangnya," cerita pak RT.
"Cantik lagi orangnya. Hai, aku Dewa." Dewa sodorkan tangan ke depan.
"Aku, Cok. Nama asli Raden Mas Cokroningrat Prawira Rahaja Adi Saputro bin Raden Saleh," ucap Cok dengan senyum lebar.
"Udah, kalian nggak perlu salaman. Kasihan Dina harus cuci tangan di tujuh samudera. Kan jauh tuh samudera Atlantik-nya," goda pak RT.
Semua orang tertawa, tetapi Dina mau juga bersalaman dengan Dewa dan Cok yang nama aslinya panjang hampir semeter.
Setelah berbincang sejenak, pak RT lalu mengajak pergi Dewa dan Cok.
"Hampir saja," ucap Nini Ai setelah dia dan Dina ditinggalkan berdua.
Keduanya masih di depan pagar rumah. Tadi Dina terpaksa mengaku punya kunci rumah dan disuruh Abay mengambil barang di dalam rumah.
"Hampir apa Ni?" tanya Dina.
"Kalau mereka sampai membuka pintu rumah, terus melihat ada banyak ular di dalam rumah, bisa heboh dan gempar. Lalu tubuh Abay dimasukan ke kubur. Selesai sudah," ucap Nini Ai.
Dina paham maksud ucapan Nini Ai. Jika tubuh Abay dikubur, maka Abay akan mati padahal saat ini belum mati.
__ADS_1
"Oya, kamu ada bawa cincin milik Suta?" tanya Nini Ai ke Dina.