
Suara pintu penjara terbuka. Abay yang duduk di pojokan kamar tahanan dengan kepala tertunduk, malah semakin menundukkan kepalanya.
Abay tak mau melihat siapa yang datang. Dia menebak pasti Nyi Malini yang hadir dan dia enggan menatap istri rahasianya tersebut. Istri jin yang telah membuat dia cukup kaya raya.
Di dunia, terlepas dari dosa Abay, dia pun cukup sering membantu banyak orang dengan uang yang dia dapat dari emas Nyi Malini yang dia jual.
Nyi Malini tak melarang, Abay mau berbuat apa saja pada uang atau harta yang dia berikan. Asalkan dia tetap mendapat tumbal dari Abay.
Tetapi Abay pintar, dia tak mau menjadi orang baik di dekat rumah rahasianya, rumah yang tak diketahui Dina maupun Wati dan yang lainnya. Sebab jika dia berbuat baik pada tetangga sekitar, maka rumahnya akan sering dikunjungi tetangga.
Bukan Abay tak mau menerima kehadiran tetangganya, tetapi dia tak mau tetangganya itu tahu, di dalam rumah Abay ada banyak benda aneh yang semuanya mendekati ke binatang ular.
Seperti di ruang tamu rumahnya, selain ada lukisan ular pun ada ukiran patung ular.
Bahkan tetangga pun pernah melihat ular di teras rumah Abay dan halaman rumah yang masih berupa tanah. Berbeda dengan rumah tetangga lain, yang hampir seluruhnya telah tertutup semen dan keramik.
Karena itu Abay menjadi dermawan di tempat yang lain.
"Abay, angkat kepalamu!"
Abay terkejut, karena suara itu bukan suara Nyi Malini.
"Hei manusia tak punya hati, coba angkat kepalamu!"
Satu suara lagi dan bukan suara Nyi Malini.
Namun Abay kenal dengan dua warna suara yang menyuruhnya angkat kepala tadi. Yang pertama suara Santi dan kedua milik Poppy.
Abay mengangkat kepalanya, tetapi posisinya masih duduk bersandar tembok penjara.
Di depannya berdiri dua wanita, di kiri Santi dan di kanan itu Poppy. Lalu ada Nyi Malini di belakang kedua wanita tersebut.
Santi dan Poppy bukan belum mati. Mereka sudah mati, berbeda dengan Abay yang masih bisa kembali ke dunia, asalkan tubuhnya belum dikebumikan.
Saat ini tubuh Abay masih berada di dalam rumah, ditindih entah berapa banyak ular, hingga menjadi bukit ular kecil.
Sementara itu Abay menyaksikan betapa paras Santi dan Poppy begitu mengerikan. Keduanya masih terlihat cantik, walau mereka hanyalah jiwa belaka.
Waktu ini Abay melihat betapa ada sorot api di bola mata Santi dan Poppy, meski tampak pula keletihan kedua wanita tersebut dan yang menyesakkan hati, tubuh kedua wanita tersebut banyak jalur luka.
Baju yang dipakai kedua wanita itu berwarna putih bernoda merah darah.
"Kalian mau apa?" tanya Abay.
__ADS_1
"Mau apa? Mau menghukum dirimu!" bentak Santi dan dia keluarkan cambuk berduri dari arah belakang tubuhnya.
Sementara Poppy tanpa bersuara juga keluarkan cambuknya.
Kedua cambuk yang dipegang Santi dan Poppy itu dipinjamkan Nyi Malini. Ratu ular tersebut memberi kesempatan pada Santi dan Poppy untuk membalas dendam, memberi hukuman pada Abay yang telah menjual jiwa mereka pada Nyi Malini.
Abay kaget dan selanjutnya dia menjerit ngeri. Karena begitu cambuk menghajar tubuhnya, kulit tubuhnya pun pecah dan mengeluarkan darah.
Ingin Abay meminta maaf, tetapi dia tak bisa. Karena mulutnya sibuk menjerit kesakitan. Santi dan Poppy secara bergantian mencambuk dirinya, seakan keduanya sudah berlatih lebih dulu.
***
Suta tak ikut ke rumah sakit, karena dia harus mempersiapkan rumah menyambut kedatangan jenazah Wati. Yang pergi hanya Dayat ditemani istrinya.
Ruang tamu rumah pun telah kosong, kursi dititipkan sementara ke rumah Dayat atau Maya. Lalu diberikan alas untuk tempat menaruh mayat Wati dan juga untuk pelayat yang ingin duduk membaca doa atau mengaji Yasin.
Sementara Andi berada di jalan gang di depan rumah Wati. Mengomandoi anak-anak muda untuk memasang tenda.
Sedangkan Said bertugas mencari kayu untuk dibuat papan nisan. Serta membeli keperluan lainnya.
Untuk kain kafan sendiri sudah ada, tersimpan rapi di lemari ruangan musholla.
Kala itu Suta sedang berada di luar rumah, setelah dia selesai menggelar tikar di ruang tamu.
Namun saat Suta melihat ada sepasang gadis yang lewat dengan sepeda motor yang berjalan pelan, karena jalanan gang sedang sibuk dipasangi tiang-tiang tenda. Mau tak mau dia harus menerima kedatangan salah satu gadis itu.
Kebetulan Yuri lewat gang rumah Suta. Dia baru pulang dari rumah temannya.
Yuri yang melihat ada Suta, meminta temannya yang membawa motor untuk berhenti sejenak, tak seberapa jauh dari rumah Suta.
Setelah turun dari motor, Yuri mendatangi Suta dan hal itu memancing keriuhan yang lain.
"Waduh, salah goda kita. Udah punya Suta ternyata."
"Hahaha, ambyar sudah. Di sini selain Suta kan yang ganteng gue. Kalau begitu, kalian jangan berharap bisa kenal sama itu gadis, ya!'
"Woi, muji diri sendiri aja. Memang nggak punya cermin ya di rumah?"
"Lah, dia mah bisa dandan di bayangan air. Udah gitu, airnya bergelombang lagi."
"Hahaha, penyok-penyok dong muka gue!"
"Sudah, sudah ayo kerja lagi! Biarin Suta sama pacarnya," ucap Andi menyuruh para anak muda fokus pasang tenda. Tetapi juga dia menggoda Suta dan Yuri.
__ADS_1
Waktu ucapan bernada menggoda itu datang, Suta dan Yuri sedang tidak bicara. Mereka hanya saling menatap dengan wajah sama-sama merah.
"Kita bicara di dalam aja!" ajak Suta.
Yuri mengikuti, sementara temannya yang menunggu di motor sedang didekati salah satu anak muda gang rumah Suta.
Suta menyuruh Yuri duduk di atas lantai, karena memang sudah tak ada bangku di ruang tamu.
"Siapa yang meninggal Bang?" tanya Yuri yang menebak dari suasana di dalam ruangan tamu.
"Oma Wati, Nenek angkat," jawab Suta sedih.
Yuri terdengar mengucap doa.
"Terima kasih," ucap Suta.
"Untuk apa Bang?" tanya Yuri tak mengerti.
"Atas doamu tadi." Suta tersenyum, tetapi rasanya tawar.
"Apa aku boleh membantu Bang?" tanya Yuri.
"Bantu apa?" tanya Suta heran.
"Menemani Bang Suta, biar tak terlalu sedih," ucap Yuri menatap mesra dan kasihan pada Suta, lalu dia menundukkan kepala dengan hati berdebar-debar.
Jika Suta paham, Yuri itu menunjukkan perhatian dan kasih sayangnya pada Suta.
Suta memahami itu. Tetapi ada dua alasan yang membuatnya ragu. Satu, dia tahu ada Dina yang sudah pulang dan dua, mereka masih remaja tanggung dan harus fokus sekolah dulu.
Tetapi berteman dekat tidak salah, hanya saja Suta tak ingin Yuri kecewa karena dia memilih Dina. Kalau saja Dina tak menyebut akan kembali di suratnya dulu itu, Suta bisa saja alihkan rasa sukanya pada gadis lain dan Yuri menjadi pilihan pertama.
Beda usia mereka 2 tahun. Mereka sebenarnya belum mengerti sepenuhnya akan cinta sejati. Seperti pada remaja umumnya baru sebatas cinta monyet.
"Bang, apa boleh?" tanya Yuri yang belum mendapat jawaban dari Suta.
"Terserah kamu," ucap Suta.
"Kalau begitu, aku pamit dulu Bang. Nanti malam ke sini lagi, aku mau minta ijin Papa dan Mama." Yuri bangkit berdiri.
Begitu juga Suta. Namun mendadak Suta berlari ke arah kamar mandi, karena perutnya mulas tiba-tiba.
Saat berlari itulah ada yang terjatuh dari tubuh Suta.
__ADS_1