
Pagi-pagi buta Abay baru pulang ke rumah, menemui Poppy yang menyambut dirinya di depan pintu.
Mendadak.
"Kang!" jerit Poppy kaget karena tak menyangka dirinya dipeluk sangat erat oleh Abay.
"Kang, jangan kencang-kencang peluknya. Kasihan Dede bayi!" pinta Poppy, padahal dirinya juga sesak napas saking kuatnya Abay memeluk.
"Oh, Dede bayi!" Abay lepaskan pelukannya, lalu berlutut dan tempelkan wajahnya di perut Poppy.
Seakan-akan Abay ingin melihat bentuk wajah bayinya dengan cara itu.
Poppy kebingungan dan keheranan mendapati tingkah laku Abay yang tak sewajarnya. Perasaan tak enak pun muncul di hatinya, seolah ini sebuah firasat akan perpisahan mereka.
"Anakku, maafkan Papamu, ya!" Isak Abay terdengar.
"Kang, apa artinya ucapanmu?" tanya Poppy.
Abay tak menjawab.
Kesal, Poppy mundurkan tubuhnya.
Abay tak patah semangat, dengan berjalan menggunakan dengkulnya, dia maju ke depan.
"Bawa sini perutmu! Aku mau melihat anakku!" pinta Abay mengiba.
"Tidak, kamu sudah gila Kang!" Poppy mulai dihinggapi rasa takut.
"Bawa sini perutmu, cepat!" bentak Abay.
Poppy memutar tubuhnya dan berlari masuk ke dalam kamar.
"Bawa sini, eh kamu mah kabur ke mana Pop?" Abay meloncat berdiri.
Abay pun mengejar Poppy. Namun usahanya gagal, karena pintu kamar telah dibanting dan dikunci Poppy dari dalam.
"Poppy, buka pintu!" Abay menggedor-gedor pintu kamar.
"Tidak mau!" teriak Poppy kencang.
"Aku bilang buka pintunya, aku mau melihat anakku!" bentak Abay.
"Anak kita masih dalam perutku, Kang. Mana bisa kamu melihatnya? Apa kamu mau merobek perutku?" tanya Poppy.
__ADS_1
"Ya, eh tidak, tidak!" jawab Abay serba salah.
"Kamu kejam Kang! Perutku mau kamu robek!" jerit Poppy dan dia mulai menangis.
"Tidak, Poppy. Aku salah bicara, aku hanya mau mengelus perutmu. Buka pintu ya, Sayang," ucap Abay dengan nada yang diturunkan.
"Tidak, sekali tidak tetap tidak! Pergi dari hadapanku, sebaiknya kita cerai saja!"
"Cerai? Kenapa harus cerai?" tanya Abay kalap.
"Kamu mau membunuhku, merobek perutku! Daripada aku mati di tanganmu, sebaiknya kita bercerai saja! Pergi Kang, keluar dari rumah ini!" jerit Poppy.
"Tapi ini rumahku!" jawab Abay.
"Ya, ini memang rumahmu. Aku tak akan tinggal di sini. Tapi kamu keluar dulu, agar jiwaku bisa selamat dari tanganmu. Atau aku telepon polisi!"
Abay tertawa keras, tetapi nadanya getir dan sedih.
"Ok, aku akan keluar dari rumah ini. Tetapi kamu tak usah pergi dari sini. Ini rumahmu, kamu rawat anak kita sampai batas waktunya tiba!" seru Abay lantang.
Setelahnya, Abay benar-benar pergi dari depan kamar tidurnya. Dia pun segera naik ke atas motornya dan pergi dari rumah.
Poppy melihat dari kaca jendela kamarnya. Dia bisa menarik napas lega karena Abay benar-benar pergi.
"Ah, kunci pagar!" Poppy teringat, kalau pagar tak dikunci, tentu Abay bisa masuk lagi ke rumah.
Poppy pun bertindak cerdas, dia pakai gembok yang lain untuk mengunci pagar. Kalau pakai gembok yang sudah tercantel di pagar, Abay punya kuncinya. Sementara gembok yang dia gunakan itu gembok tambahan mengunci motor yang lain, yang mana kuncinya ada di rumah.
Setelah merasa dirinya aman, Poppy lantas duduk seorang diri di ruang tamu. Air matanya membasahi pipinya.
"Kang, aku ini istrimu dan juga bakal jadi Ibu dari anakmu. Kenapa kamu tega mau merobek perutku, Kang?"
Hening.
"Tahu begini, kenapa aku tak pergi saja ke Kuwait sana. Malah aku harus menikah denganmu, Kang dan menjalani hidup penuh kebohongan. Meski aku tak terlalu jauh dari Ami, tetapi anakku itu sulit aku temui!"
Air mata Poppy tampak belum mau berhenti.
"Ami, maafkan Mama ya, Nak. Sejak Mama dan Papamu berpisah, sejak itu pula Mama menjadi pembohong besar. Tak pernah Mama berkata jujur padamu, tentang pekerjaan Mama di panti pijat itu dan sekarang tentang Mama yang sudah menikah lagi. Oh, Ami anakku... maafkan Mama!"
Poppy mengeluh.
"Apa aku harus ke rumah Paman Sanusi? Ah, tidak... aku akan bertemu dengan Abay!" Poppy menggeleng.
__ADS_1
Tak lama Poppy berdiri, tetapi dia kembali duduk lagi.
"Besok saja aku ke rumah Paman Sanusi. Pergi ke sana menyamar dan biarlah aku bercerita sejujurnya. Meski untuk itu aku harus menerima kemarahan Paman Sanusi dan kebencian Ami. Aku pikir itu jauh lebih baik dan sudah waktunya aku berubah. Demi hidup masa depanku dan anakku."
*
Abay tak berlama-lama di rumah Sanusi. Dia datang hanya untuk memberikan ponsel baru untuk Ami, sebagai ganti rugi atas kesalahan yang dilakukan Dina.
Meski Abay tahu, Dina tak akan mungkin berbuat sesuatu hal yang jahat pada Ami.
Mata Abay belum buta, dia bisa melihat dan menilai perilaku Ami yang hanya pura-pura baik di depan. Acap kali setiap dia datang menemui Dina, Ami terkesan bermanis-manis muka dan kata pada Dina.
Memang Dina tak pernah menceritakan keburukan Ami. Hanya saja, Abay pernah mendengar secara tak sengaja Ami berkata di dapur rumah Sanusi tempo dulu.
"Kalau nanti Dina dikasih uang jajan yang lebih banyak dari padaku sama Papanya, aku akan minta bagian dari Dina!"
Perkataan Ami itu di dengar Abay yang sedang ada di kamar mandi. Setelah Ami pergi dari dapur, barulah Abay keluar dari dalam kamar mandi.
Tadinya Abay ingin menegur Ami. Namun dia teringat Ami itu juga anaknya, anak tiri sama seperti Dina. Namun sikapnya sangat jauh berbeda bagai bumi dan langit.
Satu hal yang tak diketahui Dina dan Ami, ponsel Ami yang jatuh dan pecah itu sebenarnya pemberian Abay. Hanya saja diakui kalau itu dari pemberian Poppy. Caranya mudah, membeli via toko online dan tinggal bilang Poppy yang belikan.
Sebenarnya Abay mau belikan ponsel yang sama untuk Dina. Tetapi anak itu bukan anak yang suka foya-foya dan banyak meminta, Dina hanya akan meminta jika benar-benar merasa butuh.
Setelah memberikan ponsel pengganti ke tangan Wati, Abay pun pergi seorang diri untuk mencari tempat yang tenang.
Abay pun pergi ke danau buatan sebuah perumahan, yang menjadi tempat memancing dan tongkrongan banyak orang. Wisata murah meriah di tengah kota, akses yang mudah dan banyak tukang jajanan.
Namun Abay memilih untuk membeli kopi di pedagang kopi keliling yang menggunakan sepeda ontel.
Di bawah pohon besar menghadap danau, Abay pun duduk menikmati segelas kopi hitamnya.
Tetapi tiba-tiba Abay mendengar ucapan pedagang kopi keliling yang menyuruhnya cepat pergi. Setelah berucap itu, si pedagang kopi sudah pergi lebih dulu.
Abay tak paham mengapa dia disuruh cepat-cepat pergi. Tetapi ketika melihat ada dua orang yang mendatangi dirinya, dia pun mulai bisa menebak.
Abay tak tahu, kalau di sekitar danau sedang rawan. Ada penjahat kecil yang suka main todong.
"Bang, motor lo bagus. Orang kaya, ya?" tanya salah satu pria yang rambutnya gondrong sebahu dengan wajah hitam.
Sementara temannya yang berambut botak dengan tato di leher tersenyum mengejek.
"Udah, suruh dia buka dompet. Kalau nggak mau ceburin ke danau!" seru si botak.
__ADS_1