
"Jadikan anak di sebelahmu itu tumbalku!"
Abay kaget, karena dia mendengar suatu keputusan yang tak bisa lagi ditawar. Walau dia memang ada niat untuk mengorbankan Randi, tapi dia merasa kasihan pada Reni.
Kehilangan Randi tentunya membuat Reni berduka. Meski bukan sekali dua kali ini dia membuat anak orang menjadi tumbal, tetapi kali ini dia mempunyai satu kerisauan sendiri.
Abay mempunyai rasa cinta pada Reni. Karena itu dia juga telah menganggap Randi sebagai anaknya. Seperti Dina.
Tetapi sekarang, dia harus korbankan Randi. Kalau boleh memilih, dia ingin mengambil anak remaja lainnya saja.
"Oya, Oom harus segera pulang! Ada urusan penting." Abay mengeluarkan dompetnya dan memberikan seluruh uang yang ada ke tangan Randi.
Randi kaget, karena uang yang diberikan Abay itu jumlahnya sangat banyak.
"Oom, apa tak salah? Uangnya banyak amat!" tanya dan seru Randi.
"Tak salah, anggap saja uang hadiah terakhir bagimu. Terserah kamu mau buat apa, Oom pergi dulu!" Abay cepat berlalu. Dia pun lupa untuk minum kopinya, hanya membawa botol air mineral.
Randi bingung dengan ucapan Abay, dia tak mengerti apa artinya perkataan Abay. Tetapi yang dia tahu, uang yang sedang dihitungnya saat ini cukup besar nilainya membeli ponsel baru.
'Wuih, Bang Randi uangnya banyak amat?"
Randi mengangkat sedikit kepalanya dan menatap Milo serta Suta berdiri di depannya. Milo bertubuh pendek kekar dan hitam, beda dengan Suta yang sepertinya akan menjadi pemuda bertubuh tinggi di masa depan nanti.
"Iya, nih. Baru dapat rejeki." Randi tersenyum, lalu dia masukan uang ke dalam kantong celana pendeknya, kecuali tiga lembar uang seratus ribu.
"Boleh nemu apa dikasih jin, Bang?" tanya Milo yang lalu duduk di bekas tempat Abay duduk.
"Eh, kira-kira dong Milo! Oom Abay itu bukan jin," jawab Randi.
"Oh, dari Oom Abay yang pacarnya Mamamu, ya?" tanya Milo lagi.
"Banyak nanya lo. Nih, uang buat lo sama Suta. Tetapi bayarin dulu pesanan gue ke Pak Abas, gih!" Randi berikan tiga lembar uang ke tangan Milo.
Milo tentu saja senang, begitu juga Suta. Mereka sama sekali tak menyangka, dikasih uang sama Randi.
*
Tepat seperti apa yang dikatakan Lala pada Dina. Selepas maghrib, sepeda listrik Suta memasuki jalan gang rumahnya.
'Suta, tunggu!"
Suta yang berpapasan jalan dengan Adul pun berhenti.
"Ada apa Dul?"
"Ngobrol yuk, di tempat Bang Jun."
"Duluan, aku mau taruh sepeda dulu. Harus di isi daya, biar besok bisa dipakai ke GOR."
__ADS_1
"Ok, gue tunggu di sana!" Adul cepat berjalan pergi.
Sebenarnya usia Adul itu lebih tua dua tahun dari Suta yang mendekati usia tiga belas. Tetapi Adul tak mau dipanggil kakak atau abang sama teman sesama tongkrongannya.
Suta telah sampai di rumah. Dia masuk ke rumah hanya untuk memperlihatkan mukanya pada Lala dan Teddy, lalu pamit.
"Eh, mau ke mana lagi? Apa tak makan dulu?" tanya Lala.
"Ditunggu Adul di tempat Bang Jun," jawab Suta di depan pintu rumah.
"Yang sopan kamu, Suta. Panggil Bang ke Adul!" sahut Lala.
"Iya, Ma," jawab Suta cepat, secepat langkahnya yang terus saja berjalan pergi dari rumah. Dia enggan menjelaskan kalau Adul itu memilih dipanggil namanya saja, tak perlu memakai embel-embel yang lain.
Suta terus berjalan ke tempat warung Jun, warung rumahan yang menjual aneka minuman dan makanan kecil tempat tongkrongan warga. Kalau masih awal malam akan dikuasai anak remaja, ketika jam sembilan-sepuluh malam akan berganti ke bapak-bapak.
Setibanya di warung Jun, Adul sedang duduk seorang diri di bangku panjang depan pagar rumah Jun. Di belakangnya terdapat banyak pot bunga yang jadi tempat sarang nyamuk. Walhasil siap-siap tangan menggaruk bagian jengkal tubuh yang digigit nyamuk.
Di dekat tubuh Adul telah tersedia dua gelas es dan juga sepiring cilok tusuk, setiap tusuknya terisi empat cilok yang telah diguyur kuah. Ada sepuluh tusuk di piring plastik kecil warna hijau itu.
"Akhirnya datang juga lo!" seru Adul sambil tertawa riang.
"Kayaknya ada perlu banget ya, Dul? Sampai gue ditraktir gini." Suta main minum saja es yang telah tersedia dan main ambil satu tusuk cilok.
"Lapar dan haus banget kayaknya, apa puasa hari ini?" tanya Adul.
"Hahaha, gue belum sanggup untuk puasa sunah, Dul."
"Siap, Dul! Setiap orang kan mempunyai level keimanan yang beda-beda."
"Pintar jawab lo! Oya, gue mau tanya sama lo." Adul menatap Suta tajam.
"Tanya apa?"
"Lo udah punya pacar belum?" tanya Adul.
"Waduh, gue masih kecil. Ada sih cewek yang gue suka, cuma kalau pacar ya belum berani. Mama ngelarang, Papa ikutan juga."
"Nah, kalau begitu cewek yang tadi sore datang ke rumah lo, cuma teman aja kan?" Adul terlihat sumringah.
"Cewek yang mana?" kaget Suta.
"Loh, memangnya Mamamu tak bilang, kalau tadi sore ada tamu?"
"Belum sempat, kan pas pulang langsung ke sini."
"Oh, begitu. Berarti Dina itu bukan teman lo, dong!" seru Adul ngasal.
"Dina?" Wajah Suta berubah.
__ADS_1
"Iya, Dina. Cantik dia, mana tinggi putih. Gue suka sama dia. Kalau lo kenal sama dia, gue minta dong nomor teleponnya."
Suta menggeleng.
"Lo nggak kenal sama Dina?"
"Bukan, gue nggak punya nomor teleponnya."
"Jangan bohong lo!" Adul agak kesal.
"Serius, Dul. Gue kenal dia, tapi nomor telepon nggak dikasih sama dia," jawab Suta jujur.
"Lo bisa nggak minta nomornya buat gue?" tanya Adul.
"Nggak berani. Dia itu anti ditelepon cowok!"
"Tahu darimana lo? Gue curiga ini akal-akalan lo aja!"
"Kok, lo ngomong gitu?" tanya Suta kaget.
"Tadi pas gue sebut nama Dina, muka lo berubah cerah. Tandanya, lo kayaknya suka sama dia!" tebak Adul.
"Jujur, iya. Tetapi percuma, Dul!"
"Percuma apa?"
"Dina itu tak mau kenal sama teman cowok lebih akrab. Pacaran dia ogah, karena pengen fokus belajar. Jadi jangan harap deh, lo bakal jadi pacar dia!"
"Itu urusan gue, yang pasti gue punya cara dong buat jadiin Dina teman akrab gue. Masa iya cewek nggak mempan dipuji dan dirayu?"
"Kalau gue bilang sih, Dina itu beda. Dia sulit dirayu dan dipuji. Gue pernah bilang ke dia, Dina... lo itu cantik amat sih. Dia bilang...."
"Udah dari lahir kan?" tebak Adul.
"Salah. Dia bilang... tandanya mata gue normal. Udah gitu suaranya tenang banget sama wajahnya kayak kulkas, dingin. Jadi gue pikir segala macam rayuan belum tentu berhasil ke Dina."
"Gue nggak percaya!" Adul membantah.
"Terserah, deh! Gue udah nggak bisa ngomong apa-apa lagi!" Suta mengangkat pundaknya.
"Aa Suta, Aa...."
Suta dan Adul menengok. Mereka berdua melihat Sasa berjalan datang dengan membawa ponsel.
"Ada apa?" tanya Suta.
"Tadi teman Aa nelepon. Nih!" Sasa kasih ponsel ke tangan Suta. Matanya menatap ke arah piring cilok dan gelas es.
"Sasa mau?" tanya Adul sambil melirik Suta yang sedang mencari tahu siapa yang meneleponnya dari riwayat panggilan.
__ADS_1
Sasa mengangguk. Ketika dia mengambil dua tusuk cilok, Suta sedang menelepon Maya yang baru saja menelepon dirinya.