
"Maaf, Pa... aku sudah bandingkan Papa dengan orang tua yang lain. Aku...." Dina takut dan bingung mau berkata-kata lagi, karena dia merasa apa yang akan dia ucap tak pantas.
Dina merindukan kasih sayang seorang ayah yang bisa hadir setiap saat dan waktu. Seperti Lalang yang tampak sayang pada anaknya, Lani. Meski sedang bicara dengan dirinya dan Abay, Lalang masih sempat mencuri-curi cium ke Lani, tangannya pun sering membelai kepala Lani.
Tidak, Dina tak meminta dicium Abay. Tetapi sekedar elusan di kepala, dia rindu itu.
Dina juga tak berharap Abay punya istri lagi. Sudah cukup, seingatnya bukan hanya Santi yang meninggal dunia saat menjadi istri ayahnya. Tetapi ada satu orang wanita lain yang diingat wajahnya, namanya dia lupa. Dia bisa mengingat karena beberapa kali sering bermimpi buruk melihat ular memeluk tubuh wanita itu di kuburan. Mimpi yang menggangu dirinya di kala masih kecil dulu.
"Meski Papa bukan orang pintar, apa kamu pikir Papa tak punya perasaan? Papa bisa maklumi keresahan hatimu." Abay mendadak mengelus kepala Dina, seakan dia bisa menebak keinginan anaknya itu.
"Oh, benarkah Pa?" Dina mengangkat kepalanya dan tersenyum selebar mungkin. Dia senang, hatinya gembira karena akhirnya Abay mengelus kepalanya.
"Kamu ingin Papa bisa seperti Oom Lalang Tadi kan? Tapi kamu harus juga mengerti Dina, Papa itu ada banyak urusan dan tak bisa ditinggal. Mungkin nanti, saat kamu sudah melewati usia delapan belas tahun atau sudah menikah, kita bisa hidup bersama." Abay tersenyum.
"Hah? Menikah? Aku kan masih kecil Papa. Terus juga, kenapa harus menunggu aku berusia minimal delapan belas tahun dulu, baru bisa tinggal bersama Papa?" Dina terheran-heran paras wajahnya.
"Apa kamu tak kuatir pada Oma Wati? Dia kan butuh teman, nanti saja setelah Ami dan kamu tumbuh besar, Papa akan ajak kamu keluar dari rumah Oma-mu," ucap Abay membawa nama Wati.
Dina menyerah, dia tak bisa lagi mendesak Abay. Karena ada Wati disebut-sebut.
Ketika itulah masuk dua orang dan berada di meja belakang Abay serta Dina.
"Duh, bau amis ular. Sayang, sulit dibuang ular-nya. Aku juga tak bisa, kecuali nanti si kecil beranjak dewasa. Hanya harus hati-hati, bisa-bisa si besar pun hancur bersama ular."
Telinga Abay dan Dina mendengar perkataan orang yang baru datang itu. Dina tertarik, Abay memucat wajahnya.
"Lo ngomong apa sih? Jangan nggak jelas gitu deh! Ini warung mie ayam, mana ada ular. Setahu gue, danau di sini juga bersih dari ular."
__ADS_1
"Hahaha, mulut-mulut gue, kenapa lo yang repot? Lagian, meski gue nggak bisa kalahin itu ular, bukan berarti ular itu bisa menang dari gue!"
"Kita pulang yuk, Dina! Sudah cukup lama kita di sini!" ajak Abay berdiri lebih dulu.
Dina ikut berdiri dan memutar tubuhnya setelah Abay. Kedua mata mereka melihat ada dua orang pria berusia sekitar dua puluhan duduk berhadapan. Satu pria berwajah mulus bersih tanpa jenggot dan kumis, satunya dihiasi kumis dan jenggot tipis.
Abay menebak, si berjenggot dan berkumis lah yang tadi menyinggung tentang ular. Karena tatapan mata pemuda itu sinarnya tajam. Dia salah terka, ketajaman mata si pemuda itu karena senang melihat kecantikan Dina, masih kecil saja sudah terlihat pesonanya dan saat besar nanti akan ada banyak pria yang berebut ingin kenal.
Ketika Abay dan Dina berjalan mendekati pedagang mie ayam untuk membayar, kedua pemuda itu tak bersuara.
Namun begitu Abay selesai membayar, dia pun mendengar lagi ucapan tentang ular.
"Kalau mau menderita sedikit, bisa saja sih usir itu ular!"
Ternyata yang bicara itu si pria berwajah mulus. Saat ini matanya dan mata Abay saling bentrok.
Ular, apa ular yang disebut-sebut itu ada kaitannya dengan Abay?
Abay ingin menegur si pemuda, tetapi dia keburu dipanggil Dina. Dia lantas berlalu pergi mengarah ke motornya.
"Untung itu Bapak tak menanya nama gue. Kalau dia sampai tahu nama gue, bisa-bisa dia kirim pasukan jin ular menyerang gue. Hiii, kan ngeri!" desah si pemuda berwajah mulus.
"Oh, jadi tadi lo itu ngomong hal gaib, toh! Saran gue, lebih baik jaga mulut benar-benar deh! Takutnya orang yang lo omongin itu sakit hati, terus ngamuk. Ok, taruh kata lo bisa menang... tapi apa lo sanggup terus-menerus hidup diserang orang lain dengan cara gaib? Kita kan manusia, ada batas waspada dan suka lengah," sahut si pemuda berjenggot.
*
Di sepanjang jalan menuju rumah, Dina bertanya tentang kesehatan Ami pada Abay.
__ADS_1
Tetapi sebisa mungkin, Abay menutupi berita tentang apa yang dialami Ami sebenarnya. Bukan dia tak percaya Dina tak bisa menjaga rahasia. Namun takutnya ketika Dina dan Ami bertengkar mulut, eh kabar tentang apa yang diderita Ami itu tercetus keluar.
Abay bukan tak tahu, Dina dan Ami sering beradu mulut, bertengkar hanya karena masalah sepele. Tetapi dia berpikir, wajar saja mereka ribut saling bertukar kata pedas, karena sama-sama masih berusia kecil. Seiring waktu berjalan, semua akan baik-baik saja. Selain itu, selama tak saling bergantian mencakar dan menjambak, maka dia berpikir tak perlu ikut campur.
Satu sisi, Abay telah bersama Dina sejak bayi. Lainnya, dia teringat pada Poppy yang juga ibunya Ami. Kalau saja Poppy tak diambil sebagai tumbal Nyi Malini, dia akan punya anak dan anaknya itu satu ibu dengan Ami. Sayang itu tak terwujud.
Sayangnya pula, ada permainan nasib yang terjadi. Sebenarnya Abay dan Lala saling berpapasan. Namun mereka berdua sama-sama tak melihat waktu itu Lala kepalanya menengok ke kiri jalan, tertarik pada lapak pedagang sendal dan sepatu pinggir jalan.
"Iya, Ma. Kata Milo di sini dia beli sepatunya!"
Dina menengok ke belakang, karena dia mendengar suara Suta. Tadi waktu motor Abay dan Lala bertemu di jalan berlainan arah, kebetulan dia sedang menunduk.
"Suta!" teriak Dina dengan kepala menengok ke belakang dan melambaikan tangan.
Tetapi Suta tak mendengar, karena bisingnya suara pedagang sepatu kaki lima yang menyambut kedatangan dirinya, pembeli potensial.
"Kamu panggil siapa, Dina?" tanya Abay.
"Itu, Pa. Aku panggil Suta, teman SD dulu," jawab Dina.
"Cukup teman saja ya, Dina. Jangan pacaran dulu, tadi saja Papa sudah usir pacarnya Ami!" seru Abay.
"Siap, Bos!" teriak Dina kencang.
"Wah, lantang sekali. Apa kamu mau jadi polwan?" tanya Abay cepat.
"Untuk sekarang, aku belum punya cita-cita," jawab Dina sama cepatnya.
__ADS_1
"Semoga Papa bisa berhasil membantu kamu wujudkan cita-citamu, ya!" ucap Abay dan mendadak saja hatinya mengeluh.