ISTRI RAHASIA

ISTRI RAHASIA
Istri Rahasia Bab 113


__ADS_3

"Dina kapan sampainya?" tanya Ami ke Meri.


"Tadi, Kak. Pas hujan besar. Saat itu aku kebetulan lagi ke arah pagar rumah. Pas hujan turun eh kebetulan juga aku lihat Dina. Ya, udah aku panggil deh masuk ke rumah," tutur Meri.


"Begitu, ya?"


"Iya, Kak. Aku tak bohong," sambar Meri.


"Siapa juga yang bilang kamu bohong." Ami tersenyum.


"Terus gimana Kak, boleh kan Dina datang?"


"Maksud pertanyaan itu apa? Apa kamu mau sebut aku ini jahat?" Ami sedikit kaku wajahnya.


"Oh, tidak! Maksudku...."


"Ya, aku tahu. Tentu Dina yang bilang kalau aku ini jahat kan? Mungkin kamu juga dengar cerita Maya, betapa aku ini jahat. Aku sih tak peduli dengan ucapan orang, karena aku yakin aku ini orang baik. Kamu setuju kan?" Ami menatap tajam Meri, sangat-sangat tajam hingga Meri menelan ludah.


Meri mengangguk. Dia tak mau adu urat leher sama Ami. Dia tak hanya mendengar, tapi juga melihat bagaimana sikap dan tindak tanduk Ami selama ini.


Apalagi waktu Ami sering didatangi tamu-tamu teman prianya dulu. Itu sering dilihat Meri.


Mereka berdua lalu bicara hal lainnya.


*


"Celaka kenapa?" tanya Dina menatap Maya. Tetapi diam-diam dia keluarkan uangnya.


"Aku lupa bawa uang. Eh, lupa minta sama Kak Ami. Dia yang pegang uang," ucap Maya.


"Kamu kapan sih suka bawa uang?" goda Dina sambil memberikan uang ke kasir yang sedang menunggu pembayaran beli minum dan makanan kecil.


"Oh, mau ungkit masa lalu, ya?" Maya pasang muka cemberut.


"Lucunya kalau ngambek, mukanya kayak boneka."


"Boneka putri, ya?" tanya Meri.


"Bukan, tapi jaelangkung. Hihihi." Dina tertawa.


Kasir yang mendengar juga ikut tertawa sambil mengembalikan uang kembalian.


"Puas ya bikin teman malu." Maya melotot, tapi tidak marah. Karena dia rindu bercanda dengan Dina.


Keduanya pun keluar dari minimarket. Setelah itu mengarah ke tukang rujak dan kembali ke rumah sakit.


Maya membawa plastik berisi rujak, dan makanan ringan, sementara Dina yang lebih berat.


*


Abay tak berani mengangkat kepalanya. Dia berjalan menunduk mengarah ke penjara yang berada di belakang istana Nyi Malini.

__ADS_1


Istana Nyi Malini tidak besar, hanya berbentuk kotak bertingkat. Seperti bangunan hotel di dunia. Dari bentuk jendela yang bersusun dari atas ke bawah, Abay sempat menghitung kemungkinan ada 6 tingkat tingginya istana Nyi Malini.


Namun di atas istana itu ada bentuk patung kepala ular besar dengan mulut terbuka. Kemudian saat Abay hampir mendekati bagian belakang istana, dia sempat melihat jika tubuh patung ular yang panjang dari atas hingga menyentuh tanah.


Setelahnya Abay melihat sebuah bangunan batu yang berpagar teralis besi. Sepertinya itu akan menjadi tempatnya.


"Kamu di sini dulu, sampai nanti Ratu Malini datang. Setelah itu kamu akan masuk ke dalam istana dan bekerja sebagai budak," ucap manusia ular yang menarik rantai di tangan Abay.


"Kalau aku sih berharap, dia jadi budak kayu bakar saja. Dibakar sampai gosong tubuhnya. Hihihi," sahut si manusia ular yang memegang tombak.


Abay tak menjawab, karena dia memang tak mau menjawab.


Hingga punggung Abay didorong masuk ke dalam kamar batu. Pintu yang tadinya terbuka kini dikunci.


Abay tetap tak bersuara, karena dia takut sekalinya membuka suara akan ada yang mengenalnya.


Telinga Abay sejak memasuki gerbang istana, lalu berjalan menyusuri jalan lapangan, melihat bentuk istana dan sampai di penjara, sudah mendengar suara-suara yang memanggil namanya.


"Mana Abay, katanya dia ke sini?" tanya Santi.


"Jika dia benar ke sini, aku meminta bayiku? Mana bayiku?" sambung Poppy.


"Siapa itu Abay?" tanya seseorang.


"Dia yang membuat jiwamu berada di sini. Menjadi budak di kerajaan ular ini! Apa kamu tak ingat?" jawab Santi ketus.


"Jika dia berada di sini dan berkumpul dengan kita, sebaiknya kita minta tanggung jawab dia!" sambung Poppy.


"Hajar saja!" sahut yang lain.


'Hei, para budak diam!" bentak manusia ular.


Tetapi suara memanggil Abay itu terus terdengar saat ini. Suara yang bernada marah dan itu membuat Abay takut.


Semua itu suara dari jiwa-jiwa yang telah dikorbankan Abay menjadi budak di istana Nyi Malini.


*


Dina dan Maya sudah tiba. Ketika itu Dina berikan semua plastik ke tangan Maya dan dia berdiri di depan jendela, menatap ke Wati yang terbaring lemah. Wati masih bertahan hidup, karena dibantu dengan alat medis yang mencatat detak jantungnya yang sangat lemah. Plus aliran oksigen yang masuk ke dalam tubuhnya.


Air mata Dina menetes turun tanpa bisa dicegah.


"Din, ngerujak dulu aja bareng-bareng," ajak Maya.


"Meski lu berdiri menangis di sana pun, Oma belum tentu bangun. Cepat ke sini!" seru Ami.


Tidak bisa tidak, Dina memutar tubuhnya dan dia menghampiri Ami. Lalu dia ulurkan tangan ke arah Ami.


"Mau ngapain lu?" Ami menatap Dina.


Maya dan Meri dalam hati mereka berharap Dina dan Ami tak beradu mulut.

__ADS_1


"Aku mau cium tangan Kak Ami." Dina tersenyum.


Maya dan Meri tersenyum lega.


"Oh, adik yang baik. Ini!" Ami berikan tangan kanannya yang segara dijabat Dina dan dicium.


Keempat gadis itu pun meriung untuk makan rujak bersama-sama. Posisinya Ami dan Meri duduk di atas bangku menghadap ke jendela.


Sementara Dina dan Maya cuek duduk di lantai rumah sakit, agar bisa ikut makan rujak yang digelar di bangku kosong.


Mendadak Meri yang kebetulan melihat ke arah jendela kamar Wati menjerit kaget.


"Oma sadar!" pekik Meri.


Ami mengangkat kepalanya. Dina dan Maya menengok ke belakang. Ketiganya melihat Wati berdiri di depan jendela kamar dan dengan alat medis terlepas dari tubuh.


Bibir Wati bergerak, tetapi suaranya sama sekali tak terdengar. Namun dari gerak bibirnya, Dina merasa Wati memanggil namanya.


"Oma!" Ami dan Dina hampir serempak memanggil Wati.


Lalu keduanya pun meloncat berdiri untuk berlari ke kamar Wati. Disusul Maya dan Meri.


Namun saat Maya dan Meri masuk, mereka melihat Dina dan Ami duduk bersimpuh di lantai. Dengan tubuh Wati terbaring di lantai dengan kepala bersandar di badan Dina.


"Dokter, suster tolong!" teriak Ami.


Sementara Dina berbisik di telinga Wati.


Maya mendadak panik. Berbeda dengan Meri yang sigap berlari ke arah kasur Wati. Dia menekan tombol yang disediakan khusus untuk memanggil dokter atau suster agar cepat datang ke kamar.


"Aku sudah panggil, kita tunggu!" teriak Meri.


"Oma, aku pulang. Jika Oma sudah merasa senang melihat aku, Oma boleh segera pulang. Tak perlu ditunda lagi," ucap Dina yang bisa didengar Ami dan yang lain.


Lalu terdengar Dina menyebutkan kalimat tahlil.


"Lu ngomong apa? Oma belum boleh mati, Oma tak boleh mati!" jerit Ami sambil menangis, lalu dia melotot pada Dina.


Dina tak menanggapi.


"Oma, kalau bisa ayo ikut baca," ucap Dina yang mengulang kalimat tahlil agar Wati bisa ikut membaca.


"Dina, kamu dan Ami tak boleh bertengkar lagi," bisik Wati.


"Oma ngomong apa?" tanya Ami yang tak mendengar bisikan Wati.


"Oma bilang, Kak Ami sama Dina tak boleh bertengkar lagi," jawab Maya yang sudah ikut berjongkok di dekat Wati.


Maya mendengar, Dina juga ikut mendengar. Hanya Ami yang sibuk menangis tak mendengar. Begitu juga Meri yang berdiri di depan pintu, menunggu kedatangan dokter dan suster.


"Gue tanya Oma, bukan lu!" sentak Ami ke Maya.

__ADS_1


Maya tak mau melawan, dia menunduk untuk melihat wajah Wati.


Sementara itu saat Ami membentak Maya, Dina mendengar Wati mengucap kalimat tahlil sekali, lalu diam untuk selamanya.


__ADS_2