ISTRI RAHASIA

ISTRI RAHASIA
Istri Rahasia Bab 44


__ADS_3

Dina menatap Bwalika sekejap, lalu dia berjalan ke arah kamarnya, tak peduli pada kehadiran Bwalika.


"Diamnya dirimu, aku artikan iya." Bwalika bergerak ke arah kamar Ami.


"Berhenti!" teriak Dina kencang di pintu kamar.


Kebetulan Ami saat itu sedang keluar dari kamarnya. Dia tampak sudah rapi, celana pendeknya diganti celana panjang. Meski Ami masih berusia sekitar tiga-empat belas tahun, tetapi bentuk tubuhnya mulai terbentuk, karenanya bajunya yang dipakai terlihat mencetak badannya.


"Ngapain lo teriak nyuruh gue berhenti, heh!" Mata Ami mendelik besar.


"Kak Ami mau ke mana?" tanya Dina berdiri diam di tempatnya, dekat dengan lemari pajangan.


"Ngapain nanya? Jawab, tadi ngapain teriak nyuruh gue berhenti?" Ami melangkah maju dan berhenti selangkah di depan Dina.


Dina tak mampu menjawab. Tak mungkin dia menerangkan kata berhenti tadi tertuju untuk Bwalika.


"Lo kecil-kecil berani ya ngelawan orang lebih gede. Harusnya lo hormat sama yang tua!" bentak Ami.


"Aku hormat kok sama Kak Ami. Lihat, nih!" Dina memberi hormat dengan menaruh sisi jemari kanan di pelipis kanannya, seperti orang lagi upacara.


"Hmm," gumam Ami kesal.


"Lagian juga, yang tua harusnya sayang sama yang muda. Jadi kan seimbang, Kak. Bukan karena yang tua harus dihormati, eh yang tua sewenang-wenang sama yang kecil," ucap Dina berani.


"Oh, lo mau bilang gue itu jahat sama lo, gitu?" Ami mulai angkat tangan kanannya ke atas.


"Kak Ami yang tahu sendiri, kenapa aku harus jawab? Kalau aku bilang Kak Ami baik, apa itu artinya aku jujur?" tanya Ami putar kayuh.


Napas Ami terdengar memburu, tak menyangka ternyata mulut Dina lihai juga. Pintar memainkan kata.


Sampai akhirnya.


Dina terdorong ke belakang dan jatuh terduduk. Tulang ekornya membentur lantai, terasa sangat sakit.


"Bwalika jangan!" teriak Dina dengan tangan kanan terangkat bermaksud memberi tanda berhenti.


Tetapi terlambat.


Sebab Bwalika telah mendorong Ami ke arah lemari pajangan.


Ami menjerit kaget, dia sempat memutar sedikit tubuhnya. Hingga wajahnya yang harusnya terkena sudut atas lemari pajangan setinggi pinggang itu berganti dengan kepalanya.

__ADS_1


Ami masih sempat menyelamatkan wajahnya, tetapi tidak dengan kepalanya yang membentur keras.


"Ami!" teriak Wati yang kebetulan membuka pintu rumah dan menjadi saksi terpelesetnya Ami.


Wati pulang ke rumah untuk mengambil tepung. Pisang untuk digoreng masih banyak dan tepungnya kurang.


Dina cepat bangkit dari jatuhnya. Dia memburu ke arah Ami dan melihat ada darah mengucur keluar dari luka di kepala Ami.


"Cepat panggil Opa!" teriak Wati ke Dina.


Dina sekilas menatap Ami yang terduduk pingsan bersandar badan lemari, lalu melirik Bwalika dengan sorot mata tak senang. Baru dia berlari mencari Sanusi.


*


Ular itu kecil sebesar jari orang dewasa, bersisik belang hitam putih. Tubuhnya merayap cepat menaiki kasur dan bersembunyi di balik bantal, di dekat ponsel yang tak bisa dibilang baru dan bagus, hanya saja ponsel sepertinya dirawat dengan baik. Buktinya ada tisu basah di sebelah ponsel.


Kamar terlihat sepi, entah di mana si pemilik kamar berada.


Tetapi si ular dengan sabar menunggu, karena dia tahu suatu waktu si pemilik kamar dan pemilik ponsel akan datang juga memasuki kamar.


Kesabaran ular sedang diuji, tetapi dia yakin akan menang dan bisa menjalankan aksinya dengan baik.


Sebelumnya, beberapa waktu yang lalu.


Di rumah tak ada orang.


Sanusi dan Wati membawa Ami ke klinik terdekat, guna menjahit luka robek di kepala Ami.


Dina tak diajak ikut. Tetapi itu malah yang diharapkan anak itu.


"Aku kecewa padamu, Kak Lika!" ucap Dina setelah sekian lama menatap Bwalika.


"Hihihi, aku tahu kamu kecewa, karena aku gagal mengambil jiwa Ami, kan?" jawab Bwalika sekaligus bertanya.


"Aku tak mau jadi pembunuh, aku juga tak mau Kak Lika jadi pembunuh. Kak Lika harus tahu, nyawa itu mahal harganya!" seru Dina tegas.


Bwalika terdiam, dia ingin membantah. Namun dia merasakan betapa Dina berbeda saat ini, terlihat jauh lebih besar badannya. Aura Dina menekan dirinya.


"Aku harap Kak Lika tak berbuat jahat lagi pada Kak Ami!" pinta Dina.


"Tapi dia jahat padamu. Orang jahat itu harus dibalas!" sanggah Bwalika.

__ADS_1


"Kalau jahat dibalas jahat, berarti aku sama jahatnya dong, Kak. Tidak, aku tak mau!" Dina menggeleng.


"Terus, jika ada orang jahat yang menginginkan nyawamu, kamu akan diam saja begitu? Membiarkan orang jahat itu mengambil nyawamu?" tanya Bwalika kesal.


"Aku kan sudah bilang, nyawa itu mahal harganya. Jika memang ada orang jahat mau ambil jiwaku, ya aku lari. Jika sudah tersudut, aku akan sekuat tenaga untuk melawan. Tikus saja akan melawan kucing ketika tersudut, Kak," jawab Dina.


Bwalika diam.


"Lagipula aku percaya, jika aku berbuat baik tak akan ada orang jahat padaku!" seru Dina lagi.


"Hihihi, nyatanya tidak kan? Kamu sudah berbaik hati pada Ami, tetapi dia masih jahat padamu."


"Mungkin caraku yang salah, Kak. Kalau caraku tepat, tak akan Kak Ami marah dan berbuat jahat padaku," jawab Dina tenang.


"Anggap saja kamu benar. Baiklah, aku pergi saja!" Bwalika ngambek.


"Aku tak merasa diriku benar, Kak. Karena kebenaran itu bukan urusanku. Aku hanya berusaha untuk berbuat baik saja. Masalah benar atau tidaknya, itu aku serahkan pada Dia. Karena apa yang aku anggap benar itu, belum tentu benar di mata orang atau makhluk lain, seperti Kak Lika kan! Kita berbeda pendapat, Kak!" Dina membentuk garis pembatas yang tegas. Berbeda pendapat.


"Ya, betul. Kita berbeda pendapat!" Bwalika belum jadi pergi.


"Tetapi kita masih bisa berteman, asal Kak Lika berjanji tak akan ganggu Kak Ami lagi. Kalau tidak, aku pun malas berteman dengan Kak Lika." Dina semakin mempertegas garis batasannya dengan Bwalika.


"Kita lihat saja nanti! Ami mungkin saja akan menjadi pengecualianku, tetapi orang lain... aku akan kasih pelajaran untuknya!" Bwalika pun menghilang dengan wajah masih menunjukkan rasa kesal.


Rasa kesal Bwalika itu harus hilang dan dia tahu pada siapa kekesalannya itu harus ditumpahkan.


Bwalika telah melihat dan menyaksikan, pertengkaran antara Dina dan Ami dimulai dari satu orang remaja pria. Karena pemuda itu, masalah pun merembet. Ami dan Dina semakin bertengkar, lalu dia yang ingin membela Dina malah kena dinasehati Dina.


Bwalika tak terima, dia harus membalas pada Rey.


Karena itu Bwalika pun hadir di dalam kamar Rey. Dia mengubah wujudnya menjadi seekor ular yang bisa dilihat Rey. Racun ularnya pun akan dirasakan Rey.


Saat ini.


"Kamu jaga rumah baik-baik dan jangan bawa temanmu main ke rumah. Terutama anak cewek, Papa sama Mama sudah kena tegur tetangga, yang melihat kamu sering bawa teman cewek ke rumah. Ingat, ya!"


"Baik, Ma!"


"Ya, sudah. Mama pergi dulu. Papamu sudah menunggu di luar!"


"Hati-hati di jalan ya, Ma!"

__ADS_1


Suara pembicaraan itu terputus dan pintu pun tertutup.


"Biarin aja tetangga mau ngomong apa, kan rugi kalau suruh Ami batal ke sini! Hahaha!"


__ADS_2