ISTRI RAHASIA

ISTRI RAHASIA
Istri Rahasia Bab 131


__ADS_3

Di kerajaan Nyi Malini tampak kesibukan manusia ular, mereka berkumpul membentuk lingkaran besar seperti ular yang sedang melingkar, dengan bagian kepala itu Nyi Malini.


Namun kala itu di depan Nyi Malini berdiri manusia ular berbadan besar dengan sisik yang tebal.


"Ratu, kirim aku berhadapan satu lawan satu dengan anak manusia itu!"


Nyi Malini menatap ke anak buahnya, yang tak hanya berbadan besar, tapi juga memiliki suara yang besar.


"Apa karena anakmu mati terbakar, kamu ingin bertarung dengannya?" tanya Nyi Malini.


"Itu satu urusan, urusan yang lainnya karena aku yakin bisa kalahkan manusia itu. Tak perlu kaki manusia itu menginjak lapangan istana ini."


"Rogo, kamu ini salah satu panglima yang paling aku percayai. Tetapi apa kamu mampu menghadapi manusia itu, aku...." Nyi Malini berhenti bicara, dia tak mau keraguan hatinya di dengar anak buahnya.


Nyi Malini takut jika Dina membawa cincin peninggalan Mang Ipoy yang dia takuti. Tetapi dia tak tahu, Dina malah memilki tasbih batu pemberian Mang Ipoy, juga sebuah kalung bermata merah.


"Aku Rogo yakin dapat menghancurkan manusia itu!" Rogo meraung dan ekor ularnya mencambuk kiri-kanan tanah di belakang tubuhnya.


Pecahan tanah berhamburan.


"Pergilah!" Nyi Malini lalu menatap ke arah langit di sebelah kanannya.


Di sana tergantung Abay yang menolak untuk bekerjasama dengannya. Di sebelah Abay itu masih ada mayat Bwalika yang belum diturunkan. Sementara itu para budak yang lain telah dipindahkan ke dalam gedung yang biasa mereka tempati.


"Satu penawaran terakhir, apa kamu mau bekerjasama denganku Abay?" tanya Nyi Malini.


Meski Nyi Malini tidak berteriak, tetapi suaranya terdengar jelas di telinga Abay.


"Hahaha, Dina akan hancurkan kerajaanmu. Jadi buat apa aku bekerjasama denganmu?" ejek Abay dan dia harus berteriak agar suaranya terdengar.


Begitu Abay selesai berbicara, lesatan cambuk menghajar tubuhnya dari arah bawah.


"Aduh!" teriak Abay.


"Hei Abay, aku menawarkan ini bukan hanya untuk dirimu. Tetapi juga untuk Dina, lihat anak buahku sangat banyak, sementara Dina hanya seorang diri!"


Nyi Malini menunjuk ke arah anak buahnya yang jumlahnya ratusan atau mungkin ribuan tersebut, jika ular-ular besar kecil ikut dihitung.

__ADS_1


"Hahaha, tetapi meski sendiri Dina memberikan rasa takut untukmu. Tidak, aku yakin Dina akan menghancurkan dirimu. Yang jahat akan kalah oleh yang benar. Salahku mengenal dirimu, hei wanita ular!" teriak Abay lagi.


Cambukan pun berdatangan menghajar tubuh Abay. Tetapi kali ini Abay tak menjerit, dia malah tertawa terbahak-bahak. Karena dia tahu, dirinya tak akan hancur meski disiksa bagaimana pun juga. Karena dia bukanlah tubuh kasar, dia hanyalah jiwa yang tertawan di istana Nyi Malini.


Tawa Abay terus berkumandang sampai cambuk yang menderanya pun berhenti dengan sendirinya.


*


Dina berhenti sejenak, dia menarik napas lebih dahulu. Kepalanya terangkat dengan mata menatap jauh ke depan. Ke arah gedung bertingkat yang memiliki patung ular besar.


Saat itu mendadak batu merah dari kalung yang dipakai Dina menyala.


Ketika Dina tak tahu apa yang terjadi, dia kaget karena sinar merah meluncur keluar dari kalungnya.


Sinar merah itu lalu membentuk sosok yang aneh, ketika sinar merah hilang, di depan Dina kini berdiri satu manusia harimau putih yang terlihat kuat.


"Daulat, Tuanku. Aku Harma telah lama menanti waktu keluar dan bertarung," ucap manusia harimau putih itu.


Baru saja Dina mau membuka mulut, Harma mendadak memutar tubuhnya dan menerkam ke arah bayangan yang menerjang datang.


Dina melihat bayangan yang diserang Harma itu terpental. Ternyata Rogo yang kaget, karena ternyata Dina tak sendiri.


Saat Rogo melihat ke arah sisik di perutnya, ada sebaris cakar yang membuat sisik ular besinya rontok.


"Aku Harma dan aku tangan maut bagimu!" Harma perlihatkan cakar tangan kanannya yang bersinar merah, sinar api.


Rogo menjerit, dia takut pada api. Tetapi bukan berarti dia takut untuk menyerang, setidaknya dia berharap dapat memberikan serangan yang membuat Harma si manusia harimau putih terluka.


"Tuanku, cepat pergi ke istana. Semakin cepat dirimu ke sana semakin baik. Karena waktu tak memungkinkan, semakin lama dirimu di sini, sulit untuk pulang kecuali ada yang berkorban jiwa. Di sini, biarlah jadi urusanku!" ucap Harma.


Meski Dina tak paham seluruh perkataan Harma, tetapi dia tak membantah. Cepat dia berlari menuju istana yang kurang lebih sekitar 500 meter lagi.


"Jangan lari, bayar jiwa anakku!" teriak Rogo yang anaknya telah menjadi gadis ular bakar oleh Dina.


Anaknya Rogo yang berbicara dengan Dina dan menjadi pemimpin dari 20 gadis ular.


Tetapi Rogo melupakan Harma. Saat tubuhnya melesat ke arah Dina, Harma menubruknya.

__ADS_1


Namun kali ini Rogo mempunyai sedikit persiapan. Walau dia harus menderita karena terjangan Harma, setidaknya dia tak terluka terkena cakar Harma.


Hanya saja Rogo menderita perisai ularnya harus hangus terbakar api dari cakar Harma.


Kedua jin itu pun bertarung, Harma yang memakai cambuk berduri berusaha menjaga jarak dari Harma yang bergerak lincah.


Pertarungan yang ramai, karena Harma kesulitan untuk mendekati Rogo. Lalu ekor Rogo yang menyabet pun bukan sesuatu yang mudah dihadapi Harma.


Hingga Harma terjungkal karena kakinya terkena sapuan ekor ular Rogo.


"Hahaha, mati kamu!" Rogo lalu membelit tubuh Harma.


Harma melotot, kedua bola matanya seperti mau keluar dan tiba-tiba saja dia menutup mata dengan kepala terkulai.


Rogo tertawa senang, karena musuhnya bisa dia buat tak berdaya. Tetapi satu hal yang dia lupa, dia tak mendengar ada suara tulang yang hancur dan patah-patah, tak terdengar suara 'kretek'.


Ekor Rogo yang membelit Harma pun mendekat ke arah kepalanya sendiri. Dia ingin melihat wajah kematian Harma.


"Hahaha, aku pikir kamu manusia harimau kuat. Nyatanya hanya lemah saja. Baru kamu tahu betapa Rogo itu kuat, heh!" ejek Rogo yang telah melepas belitan ekornya.


Sementara tubuh Harma berada di bawah Rogo yang sedang tertawa puas.


Hingga tawa Rogo berhenti ketika matanya melihat Harma melompat bangun.


"Kamu!" Rogo tak bisa berbicara lagi.


Hanya saja mata Rogo menatap ke arah cakar Harma yang telah memasuki jantungnya.


"Terbakarlah!" Senyum Harma terkembang


Lalu Harma melompat mundur dan cakarnya yang tadi menerobos jantung Rogo pun ikut tercabut.


Tanpa melihat Rogo lagi, Harma lalu mengaum dan meloncat ke depan. Berlari ke arah istana untuk membantu Dina.


Mayat Rogo yang ditinggal perlahan mulai terbakar. Ada api yang muncul dari dalam tubuhnya.


Rogo menjadi manusia ular panggang, persis seperti anaknya yang lebih dulu mati terbakar Dina.

__ADS_1


Sementara itu Dina sedang mengamuk di lapangan istana Nyi Malini.


__ADS_2