
Dina duduk menghadap dua orang kakek tua yang sekilas wajahnya terlihat mirip. Bukan kembar, hanya saja kedua paras kakek itu seperti kakak-adik. Ketiganya berada di dalam kamar yang asing. Kamar yang seluruhnya terbuat dari batu alam, dinding tebal dan keras. Meja dan kursi pun terbuat dari batu, berikut kasur di belakang kedua kakek pun terbuat dari batu.
Kakek yang memakai baju hitam bertubuh tinggi besar, kakek yang memakai baju putih sedikit lebih pendek dengan badan kurus.
Kedua kakek itu sama-sama memakai ikat kepala warna biru. Rambut mereka sama putih, namun anehnya jenggot si kakek berbaju putih berwarna hitam, matanya pun menyorot lebih tajam dibanding si kakek baju hitam yang lebih teduh sinar matanya.
"Sudahlah, kamu pulang. Akhiri permainanmu. Apa kamu tak iba pada mereka?" tanya si Kakek berbaju putih.
"Aku akan pulang, Kakek Sangaji tenang saja. Sebabnya, aku belum bisa pulang karena...." Dina menatap pada si kakek baju putih, seperti berharap sesuatu.
"Karena apa?" tanya Ki Sangaji si kakek berbaju putih.
"Apa betul, setelah aku bangun nanti, mereka semua akan terlepas dari sumpah dan kutuk Kakek? Kan kasihan kalau ternyata tidak!" tanya Dina.
"Kamu lihat itu!" Telunjuk kakek berbaju hitam menunjuk ke arah dinding batu di sebelah kiri Dina.
Dina menengok ke kiri. Dia melihat dinding batu itu menghilang dan berganti dengan kaca bening.
Yang aneh, di dalam kaca itu berkumpul banyak makhluk aneh, sekilas berwujud seperti perempuan. Namun bentuk tubuhnya beraneka macam, rata-rata berbentuk binatang beracun.
"Apa sudah lihat?" tanya Ki Sangaji.
"Aku sudah lihat!" Dina mengangguk.
"Samiaji, apa aku yang menerangkan atau dirimu?" tanya Ki Sangaji sambil menatap Ki Samiaji si kakek berbaju hitam.
"Kanda, semua masalah berawal dari Kanda. Meski aku tahu cara membuka simpul itu, tetapi aku tak mau mendahului Kanda. Jadi...."
__ADS_1
"Baiklah, aku yang akan bicara!" potong Ki Sangaji cepat.
Lalu mata Ki Sangaji menatap ke arah dinding batu yang kini telah berubah menjadi cermin besar.
Meski di balik dunia cermin itu ada banyak makhluk menjijikkan dan mengerikan seperti wanita bertubuh ular, perempuan berbadan kelabang dan ada juga yang berwujud kalajengking dan lainnya, tatapan mata Ki Sangaji tertuju pada makhluk cantik dengan badan berbentuk ular bersisik emas.
Dina juga ikut menengok. Malah cukup lama dia menatap penampakan yang bisa membuat jantung sejenak berhenti. Para makhluk aneh tersebut berteriak-teriak marah, ada juga yang menangis dan hampir rata-rata ketakutan, seperti tak rela berpisah dengan sesuatu hal.
"Mereka para istri jin saat ini sedang berusaha untuk mempengaruhi aku. Aku telah salah, salah besar. Meski aku telah mati di dunia nyata, sesungguhnya jiwaku tertahan di sini. Di dunia yang entah apa namanya. Menjadi budak mereka, oh bukan... budak dari istriku si wanita ular bersisik emas itu," tutur Ki Sangaji tanpa menengok ke Dina. Sebab matanya seakan terikat dengan sorot mata si wanita ular emas.
Ki Samiaji gerakan tangannya, mengusap pundak kiri Ki Sangaji, sebagai caranya memberikan dukungan pada sepupunya Ki Sangaji.
"Dulu, karena rasa cemburu pada sepupuku, aku pun berubah kejam dan jahat. Padahal meski aku menguasai ilmu sesat, bukan berarti hatiku hitam. Hanya saja kegagalan cinta mengubah segalanya." Ki Sangaji menatap Dina.
Dina pun balas menatap, karena cermin itu sudah menghilang. Menjadi dinding batu lagi.
"Itu masa lalu. Jika saja aku tahu Kanda mencintai istriku itu, aku akan mengalah," jawab Ki Samiaji.
Ki Samiaji terdiam. Sesungguhnya dia telah berbuat salah pada istrinya itu. Saat Ki Sangaji mengajaknya bertemu secara rahasia, Ki Sangaji membakar hatinya dengan mengatakan anak yang dikandung Antari itu adalah anaknya. Sebab Ki Sangaji telah memaksa Antari untuk memenuhi hasratnya.
Padahal kisah itu tak pernah ada. Walau Ki Sangaji jahat dan pernah memiliki kesempatan untuk berbuat kotor pada tubuh Antari yang telah menjadi istri Ki Samiaji, tetapi demi melihat paras Antari yang lembut, hatinya pun luluh.
Kejahatan Ki Sangaji pun berubah, tak lagi mau memaksa dengan cara main kekerasan dan kekasaran, tetapi dia berusaha merayu dan membuat cerita bohong. Tetapi hati Antari demikian keras, sulit untuk dihancurkan rasa cintanya pada Ki Samiaji.
Hingga Ki Sangaji mendengar kabar Antari mengandung. Kemarahannya memuncak dan menantang Ki Samiaji bertarung.
Tetapi tak mudah membakar hati Ki Samiaji. Sementara Ki Sangaji berketetapan hati untuk mati di tangan Ki Samiaji. Secara ilmu kanuragan yang mereka kuasai, Ki Sangaji selalu kalah satu langkah dari Ki Samiaji. Pun secara ilmu gaib, ilmu hitam Ki Sangaji tak menang melawan ilmu putih Ki Samiaji.
__ADS_1
Jalan satu-satunya untuk membuat Ki Samiaji gusar dan marah, yaitu dengan mengaku kalau anak yang dikandung Antari itu adalah anak Ki Sangaji.
Ki Sangaji tak asal bicara, dia berikan bukti yaitu sepasang anting Antari yang dia curi. Dia pun beberkan perbuatan serong bersama Antari di kala Ki Samiaji berkunjung ke padepokan menengok wajah terakhir gurunya.
Ki Samiaji gusar bukan kepalang. Amarah memuncak dan dia menyerang Ki Sangaji dengan kekuatan penuh.
Awalnya Ki Sangaji akan bersungguh hati melawan. Perlahan dia akan menurunkan sedikit demi sedikit tenaganya, lalu bersiap mati dihantam pukulan Ki Samiaji.
Alasan Ki Sangaji ingin mati di tangan Ki Samiaji, karena dia tak mau hidup hanya untuk melihat kebahagiaan Ki Samiaji dengan Antari.
Namun rencana Ki Sangaji gagal total. Dia tak menyangka, jika Ki Samiaji selama ini menyembunyikan ilmu pukulan bertenaga raksasa, menyambar cepat seperti kilat dan bersuhu panas.
Cukup sekali melontarkan pukulan, tubuh Ki Sangaji terbang dengan sebagian tubuh gosong. Dia terbaring di tanah sekian lama, baru terbangun ketika hujan deras turun.
Ki Sangaji masih bisa bernapas. Setelahnya, dia berjalan tertatih-tatih melarikan diri. Tanpa mengetahui Ki Samiaji mulai detik itu menghilang.
Ki Samiaji merasa malu dan kecewa, karena kehormatannya sebagai suami dinodai Antari yang berhati bercabang.
Hingga akhirnya Ki Sangaji mengakui terus terang sebelum kematiannya datang, jika Antari masih suci bersih. Tetapi semua sudah terlambat, Ki Samiaji tak tahu di mana Antari tinggal, bahkan dia tak tahu anaknya itu laki-laki atau perempuan.
Sementara Ki Sangaji yang membawa luka, bertemu dengan jin wanita ular emas, yang akhirnya menjadi istri rahasianya. Selanjutnya dia menjadi pemimpin di kampung Cidaun dan mengeluarkan sumpah kutuk dan larangan bagi para penduduk kampung, hingga turun temurun. Bahkan dia juga memaksa para penduduk untuk mempunyai istri rahasia dari kalangan jin, semua itu dilakukan agar para penduduk bisa kaya tanpa perlu kerja keras dan juga demi mendapatkan kekuatan sihir jin.
"Sudahlah, kini Kanda bisa terbebas dan tak harus berada di sini lagi. Meski aku tak tahu Dina ini generasi ke berapa dari keturunanku. Tetapi darahku ada pada dirinya. Kanda harusnya senang, kutukan akan terlepas!" seru Ki Samiaji.
"Belum tentu, kecuali kamu mau memaafkan aku!" seru Ki Sangaji.
"Baik, aku maafkan Kanda!" sahut Ki Samiaji mantap dan tegas.
__ADS_1
Kedua kakek itu lantas berpelukan dan ketika itulah....
"Dina bangun! Jangan tidur terlalu lama, ayo kita pulang!"