ISTRI RAHASIA

ISTRI RAHASIA
Istri Rahasia Bab 36


__ADS_3

Dina dengan wajah kesal dan sedih, masuk ke dalam kamar dan menemukan seekor ular belang hitam putih sebesar lengan bayi melingkar di atas kasur.


"Mau apa datang ke sini?" tanya Dina sambil menutup pintu kamar, lalu menguncinya.


Kepala ular itu terangkat ke atas. Lidahnya menjulur keluar dengan sepasang mata mengawasi Dina.


"Tak mau bicara? Baiklah, jangan ganggu aku!" Dina lalu melangkah ke arah, dia pun duduk tanpa peduli dirinya dipatuk ular atau tidak.


Dina duduk bertopang dagu hanya dengan tangan kanannya sambil menatap pintu kamar.


Ular belang hitam putih mulai merayap menghampiri Dina, lidahnya yang bercabang dua dan berwarna merah segar itu menjilat lengan kiri Dina.


"Jalan keluar dari masalah hatimu itu mudah, biar aku gigit saja mulut Ami. Hihihi, biar kedua bibirnya membesar seperti balon itu pasti lucu ketika dilihat!"


Dina melirik sekilas ke arah ular belang hitam putih yang kini menaruh kepala di lengan kirinya.


"Kalau kamu diam, itu tandanya setuju. Aku pergi temui Ami dulu!"


Ular belang hitam putih bersiap merayap pergi.


"Aku hanya ingin bicara dengan Bwalika alias Lika dalam bentuk manusia, bukan dengan ular. Karena aku tak mengerti bahasa ular," ucap Dina datar.


"Hihihi."


Tawa yang panjang itu baru berakhir, kala tampilnya wujud gadis cantik berusia remaja duduk di sebelah Dina. Ular belang hitam putih pun menghilang dari pandangan.


"Kamu terlalu tenang, tak pantas rasanya anak sepertimu bersikap layaknya patung," ejek Bwalika.


Dina paham sindiran Bwalika itu, yang berkata seolah dia tak memiliki perasaan marah pada Ami, atas apa yang dialaminya sore ini.


"Kak Lika... boleh kan aku panggil dirimu Kakak?" tanya Dina.


"Boleh saja. Bicara soal umur, ya perbedaan kita terlalu jauh. Ratusan tahun jaraknya. Tetapi boleh dibilang, jika aku manusia sepertimu... aku itu berusia remaja." Bwalika tersenyum.


"Sayangnya kita berbeda." Dina balas tersenyum.


"Ya," jawab Bwalika pendek.


Dina mengalihkan perhatiannya pada pintu kamar. Perlahan dia bangkit berdiri, sebab terdengar suara memanggil namanya dan bunyi ketukan pintu.

__ADS_1


Bwalika tak perlu melarikan diri, dia tetap duduk di tempatnya. Karena tak akan ada yang bisa melihat keberadaannya, kecuali Dina atau pada orang lain yang memiliki kemampuan mata batin.


Pintu dibuka Dina. Dia dapati Wati berdiri dengan sorot mata kasihan sedang menatapnya.


"Kasihan kamu, Dina!" Wati menerobos masuk ke kamar. Dia usap kepala Dina.


"Kenapa Oma kasihan padaku? Kan bukan aku yang sedang sial hari ini?" tanya Dina tenang.


Namun begitu, hati Wati serasa diiris sembilu dengan pertanyaan Dina yang memakai kata 'sial'.


"Tidak, karena Oma tak percaya cerita Ami! Sejak Ami datang ke rumah ini, dari hari pertama saja kamu sudah sial. Terusir dari kamarmu dan mengisi kamar belakang ini. Lalu...."


"Tapi Oma, aku suka di sini. Setidaknya tak ada kamar yang tak terisi. Biar tak dihuni setan dan jin!" Dina melirik ke arah Bwalika.


Bwalika tertawa kecil, yang mana hanya telinga Dina yang bisa menangkap suara tawanya.


"Kamu hebat Dina, mau bersabar dan mengalah!" puji Wati.


"Tidak, Oma! Aku tak hebat, sebenarnya aku itu anak yang lemah! Aku tak mungkin bisa melawan Kak Ami yang kakinya jauh lebih kuat untuk berdiri. Beda dengan aku, sekali didorong tak akan ada tangan yang mau membantuku!"


Wajah Wati berubah, meski ucapan Dina itu terdengar halus dan lembut. Namun perasaan hatinya tersinggung dan berkata, Dina menuduh dirinya dan Sanusi menjadi penopang bagi Ami dan membiarkan Dina sendirian.


"Oma dan Opa tak bermaksud membela Ami. Kamu jangan salah paham. Kami...."


Wati tak menjawab, tetapi dari sorot matanya sudah menggambarkan isi hatinya yang sedih. Maksud hatinya untuk menenangkan Dina, malah ditolak mentah-mentah anak itu.


Dengan langkah lemah, Wati pun melangkah keluar dari kamar Dina.


Begitu Wati pergi, Dina menutup pintu kamarnya lagi. Baru saja pintu tertutup, suara tawa Bwalika pecah.


"Hihihi, kecil-kecil kamu bisa juga menyindir orang dewasa. Lihai sekali mulutmu!" puji Bwalika.


"Tetapi tak sepintar Kak Lika. Dibalik kata puji tersimpan kata sindiran, Dibalik perbuatan baik ada niat jahat di dalamnya," balas Dina.


"Ah, aku kan berbuat baik itu demi dirimu juga. Kalau ada orang yang jahat padamu, biar aku saja yang membalasnya. Kamu akan tetap terlihat sebagai orang baik!" Bwalika berdiri, tetapi tak lama dia duduk lagi karena Dina sudah duduk di tepi ranjang.


"Aku berbuat baik bukan untuk mencari nama, Kak. Aku pun mewanti-wanti diriku untuk tak berbuat jahat. Meski baik dan jahat itu tipis perbedaannya."


"Sesukamu, lah! Hanya saja, aku ingin sekali memberi hukuman pada Ami."

__ADS_1


"Tak perlu, Kak! Suatu hari nanti, Kak Ami juga akan sadar. Kalau perbuatan jahat itu akan ada balasannya," cegah Dina.


"Kalau ternyata tak ada dan dia sampai menjelang mati tetap menjadi orang jahat. Apa kamu tak akan kecewa?"


"Balasan akhirat itu pasti, Kak. Suatu bentuk hukuman dan hadiah yang sudah ditetapkan. Jadi ya, kenapa harus kecewa? Yang ada aku malah kasihan pada Kak Ami. Hanya sebatas itu saja!"


"Kamu terlalu dewasa dengan usiamu yang sekarang. Baiklah, aku menyerah membujuk dirimu. Aku pergi dulu, sudah mau masuk waktu ibadahmu!" Bwalika berdiri.


"Apa Kak Lika tak mau ikut ibadah?" tanya Dina.


"Aku, ibadah?" Bwalika tertawa geli. "Aku ini jin Dina dan aku...."


"Manusia dan jin itu tercipta kan untuk beribadah, Kak. Ya, itu yang aku pahami dari agama yang aku anut," potong Dina.


"Sayangnya, aku belum memahami itu!" dengus Bwalika.


"Kalau begitu, aku tak bisa berkata apa-apa lagi, Kak! Setiap makhluk punya hak untuk mempercayai apa yang bisa dia percaya, bukan dipaksa untuk percaya!" Dina tersenyum lebar.


"Aneh, usiamu muda pikiranmu tua." Bwalika berdecak.


"Dunia kan punya banyak keanehan, Kak. Seperti aku yang bisa berbincang dengan Kak Lika, di pandangan orang lain aku akan disebut aneh karena bicara seorang diri. Jadi, aku tak harus kaget!"


Bukannya Bwalika yang pergi dari kamar, malah Dina yang keluar dari kamar lebih dulu. Sebab azan sudah memanggil mereka yang bersedia untuk menjalankan kewajiban ibadahnya.


*


Wati yang tak mendapat respon yang baik dari Dina, berjalan keluar dengan wajah sedih. Dia tak memperhatikan kepala Ami yang nongol dibalik pintu kamar.


Langkah Wati terus tertuju pada kamarnya. Begitu pintu kamar terbuka, Ami sudah berdiri di belakangnya.


"Oma jahat!" seru Ami.


Wati kaget, dia tahu siapa yang bicara. Karena itu dia tak perlu terburu-buru memutar tubuhnya.


"Oma jahat!" ulang Ami.


"Kenapa kamu bilang seperti itu?" tanya Wati tak suka.


"Habisnya Oma lebih memilih Dina dari pada aku yang punya hubungan darah dengan Opa dan Oma. Dina kan orang lain, Oma!" terang Ami.

__ADS_1


"Ami, jaga mulutmu! Kalau Opa dengar, dia akan marah padamu!" seru Wati.


"Opa tak akan dengar, karena dia sedang di musholla. Tapi aku berani bilang, Oma dan Opa jahat padaku. Hanya terlihat membela aku, padahal dalam hati benci padaku! Aku pergi saja dari sini!" Ami memutar tubuhnya, ada isak tangisnya terdengar.


__ADS_2