ISTRI RAHASIA

ISTRI RAHASIA
Istri Rahasia Bab 91


__ADS_3

Suta terdiam. Dia sebenarnya ingin menolak keinginan Maya. Tetapi melihat gadis itu tampak bersedih hati, dia tak tega.


Maya tadinya dengan penuh semangat bercerita, kalau dia punya niat memasak nasi goreng buat Suta. T


Tetapi reaksi Suta tak terlalu positif. Hanya diam dan diam, meski Maya sedikit mendesak dengan pertanyaannya 'mau nggak?' beberapa kali.


"Ya, sudah deh! Kalau kamu memang tak mau mencicipi nasi goreng buatanku, aku bisa bilang apa. Paling aku sekedar bertanya, apa masakan terlalu asin atau tak enak?" sedih Maya. Meski matanya menyorot kecewa, tetapi masih tersisa setitik sinar cinta.


Suta bukan tak tahu Maya mempunyai gelora cinta padanya. Gelombang kasih sayang Maya itu dilihatnya terpancar dengan jelas. Bukan sekali dua kali Maya memberikan perhatian baginya. Cukup sering, malah hampir tiap hari dan tiap kali bertemu.


Namun itu cerita masa lalu dan masa kini. Hanya saja bagi Suta, cerita masa depannya itu Dina.


Ya, Suta menaruh cinta pada Dina. Tak hanya gadis itu cantik, tapi juga pintar dan tampak dewasa. Selain itu dingin seperti gunung es, sebuah tantangan yang menarik.


Bukan berarti Maya jelek. Dulu waktu Maya masih berbadan besar saja bisa dibilang cukup manis. Sekarang tubuh Maya sudah banyak berkurang bobotnya, walau masih sedikit lebih gemuk dari Ami, tetapi terlihat lebih manis lagi.


Sayang, cinta Suta terpaku pada Dina.


Andai saja Suta tahu siapa Dina sebenarnya, entah apa dia masih mencintai Dina seperti saat ini atau dia menaruh rasa kesal, karena sejatinya mereka berdua tak bisa bersatu, sebab memilik darah ayah yang sama.


"Aku pulang nih, ya!" Maya beranjak dari duduknya. Tetapi dia belum benar-benar pergi.


Suta mengangkat kepalanya. Matanya mengawasi air muka Maya yang tampak keruh.


"Aku pulang dulu, ya!" lirih Maya berharap Suta mau menahan dirinya.


Suta ingin menggigit bibirnya sebagai cara untuk mengeraskan hatinya. Tetapi dia tak sanggup, karena air mata Maya mulai berkaca-kaca.


Suta bingung, dia ingin menahan Maya dan sekaligus ingin Maya segera pulang, karena dia butuh istirahat. Menahan Maya hanya akan membawa kerepotan lebih jauh.


Sementara itu mereka berdua tak tahu, jika ada Ami sedang menguping di balik pintu rumah. Sedangkan Suta dan Maya duduk di teras rumah.


"Kalau begitu, aku pulang dulu, ya!" Tiga kali sudah Maya mengucap pamit, tiga kali pula Suta membisu.


"Aduh, kalau mau pulang tinggal suruh tuh kaki melangkah maju. Ini masih aja bertahan di sini, malu dong kalau udah ditalak eh ditolak," kekeh Ami yang tak tahan untuk keluar dari persembunyiannya.


"Kak Ami!" kaget Maya dan tanpa bisa dicegah, air matanya pecah. Malu karena kena diledek Ami.

__ADS_1


"Aku bukannya menolak Maya, Kak. Tapi wajahku sakit kalau banyak ngomong." Akhirnya Suta mengeluarkan suaranya juga. Bukan maksud dia membela Maya, hanya saja dia tak ingin melihat Maya melepaskan air mata.


Tetapi Maya menyangka berbeda. Dia senang, karena Suta membela dirinya, walau hanya sebatas ucapan pendek.


"Ya, kalau begitu lo terima cinta Maya, ya? Gue tahu kok, kalau Maya itu suka sama lo? Aih, kalau bisa sih jangan, deh!" sungut Ami.


"Loh, kenapa memangnya Kak?" tanya Maya tak suka.


"Gue kasih pinjam kaca mau nggak?" Ami bertanya santai pada Maya. Matanya bersinar mengejek.


"Kak Ami bilang aku jelek?" kaget Maya.


"Ah, gue sih nggak bilang. Tapi lo sendiri kan?" ejek Ami menjadi-jadi.


Suta ingin membela Maya, namun Maya sudah lebih dulu berlari pergi, setelah sebelumnya menjejakkan kaki karena kesal pada Ami.


"Maya tunggu!" Suta berteriak dan anehnya dia tak meringis kesakitan.


Mata Ami melihat itu dan dia tertawa menghina.


"Oh, mulut gue sendiri kan, jadi bebas dong mau ketawa apa nggak! Tetapi, biar lo nggak penasaran, gue cuma merasa lucu aja sama lo, ngaku nggak bisa ngomong banyak karena masih merasa sakit di wajah. Eh, tahunya pas teriak nggak ada tuh ngerasain sakit. Udah, kalau memang nggak cinta sama Maya, bilang aja! Jangan jadi lelaki pengecut!" Ami menatap tajam Suta.


"Aduh, wajahku sakit!" Suta segera berpura-pura sakit dengan memegangi pipinya yang kena dicolek tinju Leo.


Suta melewati tubuh Ami untuk berlari naik ke kamarnya yang berada di lantai atas. Dia merasa ngeri, karena sekilas dia melihat sorot mata Ami mirip seperti sinar yang ada di mata Maya.


Suta menebak, Ami mencintai dirinya. Sementara dia sekedar menganggap Ami sebagai kakak.


*


Abay berhenti di depan rumah Maya. Karena dia merasa heran, dari kejauhan dia melihat Maya keluar dari rumah Wati sambil berlari menangis. Karena itu Abay sedikit menaikkan gas motornya dan berhenti sebelum Maya masuk ke dalam rumahnya.


"Maya kenapa menangis? Apa kamu adu mulut sama Ami?" tanya Abay yang sudah tahu, mulut Ami berbahaya.


Abay sudah menyadari, selain mulut Ami manis, tetapi mengandung racun. Beberapa kali dia sudah mendengar cerita Wati tentang Ami.


Namun Abay ragu untuk memarahi Ami. Selain Ami bukan siapa-siapa dirinya, juga dia punya kesalahan, yaitu menikahi Poppy ibunya Ami tanpa anak itu tahu.

__ADS_1


Jadi meski Ami termasuk anak tirinya, karena Abay pernah menikah dengan Poppy. Namun Abay memilih Ami tak tahu saja. Jika Ami tahu, lalu bertanya tentang Poppy, apa yang harus dia jawab.


Daripada menambah kerepotan, sebaiknya mengurangi kerepotan. Lagipula Abay sudah terlampau sering berbohong dan berbuat dosa.


Maya tadinya mau menjawab iya. Tetapi dipikir-pikir dia tak mau membuat Ami kena omel Abay. Karena itu dia menggelengkan kepala.


"Lah, terus kenapa kamu menangis?" Abay ingin tahu.


"Karena Suta," jawab Maya tanpa berpikir panjang.


"Oh, kalian bertengkar karena cinta apa cemburu, nih?" tanya Abay tertawa menggoda.


Maya tak menjawab, karena dia tak tahu pada siapa dia cemburu. Tetapi mendadak dia teringat pada Dina. Ah, jangan-jangan Suta mencintai Dina.


Maya teringat pada waktu Dina masih berada di rumah Wati dan sebelum Suta tinggal bersama Wati, dia sering lihat Suta curi-curi pandang ke Dina. Pernah juga menitip salam untuk Dina melalui dirinya.


"Oh, apa mungkin Suta mencintai Dina?" tebak Maya dengan nada sedikit keras.


"Eh, apa? Tak boleh! Dina tak boleh cinta sama Suta dan sebaliknya!" Emosi Abay melonjak. Dia pun ingin segera bertemu Suta.


"Kenapa tak boleh Pa?" tanya Maya yang memanggil Abay itu Papa, mengikuti Dina dan atas kemauan Abay.


Abay tak menjawab, karena dia tak ingin Maya tahu riwayat Dina dan Suta, yang ujungnya dia akan ditanya-tanya. Merepotkan sekali. Kalau saja Wati tak bercerita Suta itu anak Sasan dan Lala, mungkin dia pun tak akan pernah tahu.


"Pokoknya tak boleh ya tak boleh. Aku kan Papanya Dina," jawab Abay tegas.


Maya sekedar mengangguk.


Abay pun berpamitan, tetapi sebelum benar-benar pergi dari hadapan Maya, dia teringat pada perintah menyediakan tumbal Nyi Malini.


Abay mengincar Maya.


*


Isak tangis Euis sangat kencang. Selain bersedih hati kehilangan Dina, dia pun takut kena omel Sasan dan Nini Ai.


Mendadak terdengar teriakan banyak orang yang membuat wajah Euis pucat pasi.

__ADS_1


__ADS_2