
Sejak sampai di rumah, Dina mengurung diri di dalam kamarnya. Pertemuan dengan Bwalika yang sudah lama berpisah, berhasil membuat kepala Dina pusing tujuh keliling.
Ami yang hari ini berbaik hati dengan membawa bakso aci yang enak dan maknyus, serta ingin makan bersama, harus kecewa. Pintu kamar Dina terkunci dari dalam dan tak mau dibuka.
Dina tenggelam dalam lamunan dan renungan akan ucapan Bwalika.
"Usiamu mendekati tiga belas tahun, ada waktu dua tahun lebih bagimu untuk tetap bersama Opa dan Oma-mu. Setelah tiba waktunya itu, kamu harus pergi. Pergi yang sangat jauh, ke sebuah tempat di mana kamu bisa belajar sebuah ilmu. Ilmu yang baik, yang tak hanya bisa menyelamatkan dirimu. Tetapi juga orang-orang yang kamu cintai," ucap Bwalika yang diingat Dina.
Tentunya setelah kepergian Maya dan Westi yang Dina usir secara halus untuk pulang lebih dulu. Dina sendiri, berjalan pelan berbeda arah dengan Maya dan Westi, lalu mencari tempat sepi di mana dia bisa duduk dan mendengarkan celotehan Bwalika.
Di pinggir jalan sepi, di bangku terbuat dari semen, Dina duduk seorang diri. Ada beberapa kali sepeda, motor maupun mobil lewat. Tetapi tak ada satupun yang tampak memperhatikan Dina. Mata pedagang makanan keliling yang lewat pun sepertinya tak tahu keberadaan Dina.
Tubuh Dina seperti tak ada, tak terlihat sedang duduk di bangku semen pinggir jalan yang tak jauh dari jembatan kecil di balik pengkolan.
"Paling tidak, kamu harus belajar dan bersembunyi di tempat itu sampai usia tujuh belas tahunmu lewat. Jika kamu sayang nyawamu, lakukan pesanku ini sepenuh hati," bisik Bwalika.
"Tetapi untuk apa aku pergi dari rumah Opa dan Oma?" tanya Dina.
"Aku kan sudah bilang, kalau kamu sayang nyawamu dan ingin menolong orang-orang yang kamu cintai. Apa hal itu belum jelas?" tanya Bwalika gemas.
"Belum, belum jelas. Pertanyaanku selanjutnya, kenapa bisa jika aku tak pergi nyawaku bisa terancam? Sementara itu... kenapa aku diharuskan menolong orang-orang yang aku cintai, jika aku sendiri tak tahu mereka terancam oleh apa dan siapa?" Dina menatap Bwalika yang hadir dengan wajah kusut.
"Nyi Malini... dia sudah merasa dirimu itu ancaman baginya. Ada sesuatu di dirimu yang dia takuti. Tetapi apa, hal ini belum jelas. Bisa jadi darah dari Moyangmu. Kebenaran itu bisa terungkap, jika kamu berjalan pergi dari rumah Opa dan Oma-mu."
"Keterangan Kak Lika belum jelas, aku tak kenal Nyi Malini. Terus ke mana aku harus pergi?"
"Apa kamu lupa, aku pernah bercerita tentang Nyi Malini, Ratu ular yang aku ikuti? Ke mana kamu akan pergi, suatu hari nanti kamu akan tahu, sebelum usia lima belas tahunmu hadir."
"Entahlah, apa aku lupa atau belum pernah mendengar, aku tak tahu! Tetapi untuk apa Nyi Malini takut padaku?"
"Sudah sejak lama, dirimu diincar Nyi Malini untuk dijadikan tumbal."
"Tumbal?" Mata Dina melotot. "Apa itu tumbal?"
__ADS_1
"Bayaran atas kerjasama yang telah dibuat antara manusia dan jin."
"Kenapa diriku bisa dipilih sebagai tumbal? Siapa manusia yang bekerjasama dengan jin itu?"
Bwalika ingin menjawab. Tetapi dia mendengar suara aneh. Begitu juga telinga Dina.
"Aku harus pergi!"
Bwalika cepat berlari dan mengubah dirinya menjadi ular, untuk celah merayap ke arah kali kecil yang tak jauh dari tempat Dina duduk.
Dina ingin mencegah, namun gagal. Karena Bwalika telah menghilang dengan cepat. Sementara itu ada seseorang yang berdiri di dekatnya.
"Syukurlah, aku kira siluman ular tadi ingin mencelakai dirimu. Kalau dia sudah pergi, itu artinya kamu selamat. Sudah, sana pulang!"
Dina menengok dan dia melihat seorang nenek berwajah welas asih. Bentuk wajah yang bulat dengan sebuah tanda lahir besar di atas alis sebelah kiri.
"Nenek siapa?" tanya Dina.
Selesai berkata, si nenek asing itu pun berlalu pergi. Beberapa saat Dina terdiam, lalu dia beranjak pulang bersama Suta yang bertemu secara tak terduga.
Suta sudah mengganti baju dan sedang naik sepeda listrik. Dari tas yang dibawanya, dia terlihat ingin pergi main bulutangkis.
Melihat adanya Dina, Suta pun berhenti dan menawarkan diri mengantar Dina pulang.
"Boleh, tapi jangan ajak aku bicara, aku sedang puasa ngomong!"
Syarat Dina itu dipenuhi Suta.
Meski selama perjalanan pulang Suta tak bisa bicara dengan Dina, tetapi hatinya sudah senang karena bisa mengantar pulang gadis pujaannya itu. Suta sudah terkena virus cinta monyet.
Begitu sampai rumah, tak terasa sudah jam dua siang. Padahal Dina merasa dia bicara dengan Bwalika singkat saja, tetapi ternyata waktu berjalan sangat cepat.
Setelah melihat Dina masuk rumah, Suta pun kembali pergi ke GOR olahraga untuk berlatih bulutangkis bersama rekan klubnya.
__ADS_1
Sejak pulang itulah, Dina mengurung diri di dalam kamarnya. Mencoba mengingat lagi seluruh ucapan Bwalika dan juga merenung.
"Apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus percayai ucapan Kak Lika, di mana yang aku tahu jin itu makhluk pembohong? Tetapi masalahnya, Kak Lika terkesan baik padaku!" desis Dina sambil menatap pintu kamarnya yang tertutup.
Dina kala itu sedang duduk di tepi kasurnya.
"Terus, siapa manusia yang bekerjasama dengan jin itu? Apa ada hubungannya denganku? Lalu apa bentuk kerjasama manusia dan jin itu? Apa keuntungan yang didapat? Ah, bikin pusing saja!" Dina menghela napas berat.
Lalu Dina naikkan kakinya ke atas kasur dan tubuhnya pun berbaring dengan kepala menempel bantal. Matanya menatap langit kamar.
"Nenek asing tadi siapa, ya? Kok, bisa mengetahui keberadaan Kak Lika dan membuat Kak Lika kabur?" tanya Dina yang jawabannya tak bisa dia dapati.
"Mending tidur saja, deh!" Selepas bicara tentang tidur, pelupuk mata Dina pun terpejam.
*
Jajang menekan tombol bel yang terpasang di tembok pagar sebuah rumah. Rumah yang tak terlalu besar, tetapi terkesan angker. Karena rumah berada tak jauh dari area pemakaman umum. Sementara jalanan di depan rumah bukan tempat yang dipilih para pengguna jalan.
Pintu rumah terbuka, seorang kakek tampak keluar rumah. Dari jauh saja, Jajang sudah melihat senyum kakek itu terkembang seperti menyambutnya ramah.
Jajang mana tahu, kakek yang dilihatnya muncul dari dalam rumah itu Abay adanya.
Jadi Abay yang sudah mengenal Jajang pun perlihatkan wajah ramah dan bersahabat, biar Jajang tak lari pergi.
"Kamu Jajang, kan? Aku Ki Jabaya, mari masuk!" Abay alias Ki Jabaya membuka pagar rumah.
"Ki sudah tahu namaku?" tanya Jajang heran dan matanya menatap Ki Jabaya yang bergaya tak selayaknya dukun atau orang pintar.
Waktu Abay bercerita tentang Ki Jabaya, Jajang berpikir Ki Jabaya itu berwajah angker dan memakai baju hitam-hitam, lalu Ki Jabaya pasang gelang akar bahar dengan memakai cincin akik besar, belum lagi memakai ikat kepala.
Eh, tahunya Ki Jabaya yang berada di depan saat ini memakai kaos bermerek, celana panjang jeans dan wajahnya tak ada angker-angkernya. Tak memakai ikat kepala maupun aksesoris yang aneh-aneh.
"Kamu tak berani masuk? Apa tak berani jadi orang kaya?" tanya Ki Jabaya.
__ADS_1