ISTRI RAHASIA

ISTRI RAHASIA
Istri Rahasia Bab 74


__ADS_3

"Bang Aep sendiri gimana kehidupannya? Apa bahagia dengan keadaan seperti ini? Apa tak mau menjadi hartawan?" tanya Abay.


"Kehidupanku ya biasa-biasa saja. Bangun pagi, siapkan barang jualan, terus keliling jualan. Tak ada yang spesial. Apa aku bahagia? Setiap individu itu menilai berbeda masalah kebahagiaan itu. Mungkin orang merasa bahagia ketika mempunyai uang yang banyak, ada juga yang bahagia ketika cintanya terbalas, bahagia saat bisa menjalani ibadahnya tanpa gangguan dan lainnya." Aep mengambil napas, lalu melanjutkan.


"Aku sendiri merasa bahagia ketika bisa membayar hutang." Aep tersenyum. "Bicara tentang apa aku ingin menjadi hartawan? Jujur, ada keinginan itu. Tetapi entahlah, apa mimpi itu bisa terwujud atau tidak."


Sinar mata Abay tampak bergairah, dia tertawa dalam hati. Jaringnya sudah terkembang, tinggal menangkap saja dan Aep akan ikut bersamanya menjadi hamba bagi Nyi Malini.


Entah siapa nanti yang akan dikirim Nyi Malini untuk jadi istri rahasia Aep, Abay tak mau tahu urusan itu.


Bagi Abay, cukup dia bisa membantu Nyi Malini mendapatkan hamba baru.


"Nah, kalau Bang Aep mau, aku bisa ajak Bang Aep ketemu seseorang. Eh, bukan... aku berikan alamat rumah Ki Jabaya, dia bisa membantu. Sebentar saja, sepeda akan berganti motor. Tak perlu jualan kopi keliling, karena Bang Aep bisa saja membeli ruko," jelas Abay.


'Oh, apa Ki Jabaya ini orang sakit? Eh, maaf orang sakti?" Aep meralat ucapannya.


"Iya. Aku saja bisa punya motor setelah berkenalan dengan Ki Jabaya." Abay menunjuk ke motornya.


Aep mengangguk.


"Gimana, apa Bang Aep tertarik kenal sama Ki Jabaya?" selidik Abay.


"Tertarik sih. Tapi...." Aep menggaruk kepala belakangnya.


"Tapi apa Bang? Masih ragu, ya?"


Aep tak menjawab.


"Nggak usah ragu Bang. Jujur saja, tak akan ada tumbal kok," ujar Abay.


Mendadak sebuah mobil berhenti. Mobil keluarga kecil yang disukai banyak kalangan.


Jendela mobil itu terbuka, Aep berjalan mendekati. Entah apa yang dibicarakan, Abay tak tahu. Lalu Aep kembali menemani Abay, sementara mobil berjalan pergi.


"Siapa itu Bang? Tanya alamat ya?" tanya Abay.


Aep sekedar tersenyum.


Mendadak ada motor berhenti dengan pengendaranya seorang pemuda tanggung.


"Ayah, tadi Bang Angga ke sini nggak?"


"Iya, baru saja pergi." Aep berdiri, lalu berjalan mendekati si pemuda. Dia keluarkan uang dari dalam tas pinggangnya.


Abay melihat Aep berikan sejumlah uang pada si pemuda. Lalu terdengar ucapan terima kasih dan pemuda itu pun pergi.

__ADS_1


"Maaf ya, Bang. Itu tadi anak pertamaku datang ke sini, minta aku talangi dulu uang sejumlah dua ratus ribu untuk jajan adiknya. Soalnya, anak pertamaku itu terburu-buru pergi ke luar kota, sementara dia lupa sudah janji pada si kecil." Aep tanpa diminta terus saja bercerita.


Abay terdiam.


"Nah, masalah penawaran Bang Abay itu, aku juga minta maaf. Aku punya syariat sendiri dalam menjalankan usaha, pesugihan melalui doa dan usaha yang halal. Jadi, aku tak bisa bertemu dengan Ki Jabaya itu. Bang Abay tak marah kan?" tanya Aep.


Abay mengangguk.


"Kalau begitu, aku pergi dulu ya Bang. Sudah waktunya pindah tempat. Kopi tak perlu bayar, anggap saja hadiah perkenalan." Aep bersiap untuk pergi.


"Bang, biar aku bayar saja!" Abay keluarkan uangnya.


"Tak perlu, Bang! Oya, kalau bisa Bang Abay berhenti jadi marketing. Takutnya uang yang Bang Abay dapat itu uang haram." Aep lalu naik ke sepedanya dan berlalu dari hadapan Abay.


*


Waktu dua tahun berjalan sangat cepat.


Dina tumbuh tinggi lebih cepat daripada Ami. Sekarang saja dia mempunyai perbedaan sepuluh sentimeter dari Ami yang terbilang tinggi untuk anak seusia lima belas tahun, tinggi Ami tepat 160 cm.


Tubuh Dina tinggi ramping, sementara Ami sedikit lebih berisi. Walau Dina cantik, Ami jauh lebih menarik.


Dina terlihat anggun dan dingin, sementara Ami tampak cantik dan panas. Dina menjadi gadis remaja pendiam, Ami berubah menjadi gadis yang aktif dan genit.


Selama waktu dua tahun, di mana usia Dina sekarang sudah lima belas tahun lewat tiga bulan, ada beberapa kali friksi antara dia dan Ami. Tetapi dia menurut pesan Wati untuk mengalah pada Ami.


Hanya saja, Wati juga menyimpan beban hati. Semua karena Ami. Memang Ami tak pergi ke mana-mana, hanya saja teman-temannya yang datang main ke rumah itu kebanyakan anak cowok.


Lucunya, setiap ada Abay. Ami tak ijinkan teman cowoknya main ke rumah.


Namun sore ini, Abay yang biasanya memberi kabar kapan dia datang ke rumah Wati. Mendadak hadir dan kaget melihat di teras rumah hanya Ami yang satu-satunya anak cewek, tiga lainnya anak cowok.


"Hahaha, gue setuju sama ide lo, Mi. Buat ulang tahun si Adit nanti, kita kasih surprise yang lain. Nggak sekedar tepung sama telor nyangkut di kepalanya," ucap salah satu teman cowok Ami.


Tetapi Ami yang baru saja mau membuka mulut, kaget karena mendapati motor Abay masuk ke dalam rumah begitu saja. Pintu pagar terbuka lebar, jadi Abay tak perlu berhenti dulu di depan pagar.


"Eh, ada Papa Abay!" seru Ami sedikit takut.


"Loh, ada tamu toh. Tapi udah sore, apa tamunya mau numpang mandi di sini?" sindir Abay.


Ketiga teman cowok Ami terdiam, lalu diawali salah satu orang yang berkata pamit, sisa keduanya pun cepat mengucap kata yang sama pada Ami.


Abay menatap ketiga teman Ami dengan pandangan tajam. Sampai-sampai kepala ketiga teman Ami itu tertunduk kala berjalan pulang.


Semua teman cowok Ami tahu, kalau Abay papanya Dina itu galak. Ami yang cerita.

__ADS_1


"Ami, kita bicara di dalam!" Abay menyuruh Ami masuk ke ruang tamu.


Ami menatap benci Abay, tapi dia tak membantah. Dia pun masuk lebih dulu ke dalam rumah, lalu duduk di ruang tamu. Menunggu Abay.


Abay masuk setelah dia menutup pagar. Pintu rumah pun ditutupnya.


"Oma-mu mana?" tanya Abay.


"Di kamar," jawab Ami pendek.


"Dina?"


"Di rumah Maya."


Setelah tanya jawab yang singkat, Abay lalu mengambil duduk tepat di sebelah Ami yang duduk di kursi panjang.


Tangan Abay terulur mengusap rambut Ami.


Ami merasa heran, dia tadinya berpikir akan kena omel Abay. Ternyata malah rambutnya dibelai Abay.


"Ami, berapa usiamu sekarang?" tanya Abay.


"Enam belas lewat, Pa." Ami menatap Abay.


"Dua tahun lagi," ucap Abay.


"Dua tahun apa Pa?"


"Dua tahun lagi kan kamu lulus sekolah, ya?"


"Tepatnya dua tahun lebih beberapa bulan Pa."


"Ya, sekitar itu."


Suasana mendadak hening sesaat.


"Kamu harus sabar, Mi!"


"Sabar untuk apa Pa?"


"Pacaran. Tunggu setelah kamu lulus sekolah dulu."


Ami mendengus.


"Kamu marah?" tanya Abay.

__ADS_1


"Iya. Siapa yang bikin fitnah Pa? Aku itu sekedar berteman. Tak ada satu pun dari mereka itu pacarku. Apa Dina yang melapor pada Papa? Asal Papa tahu, Dina itu yang punya pacar. Itu Suta namanya. Jadi lebih baik Papa urus saja Dina!" Ami berdiri, lalu berlari kecil masuk ke dalam kamarnya.


Pintu kamar terbanting keras!


__ADS_2