
Dina kaget, karena dari telepon yang diterima Maya, didapat kabar Sasan ada di depan pagar rumah.
Hari ini mendekati jam 11.30 malam.
Dina berserta yang lain sebenarnya belum tidur. Menemani Ami yang baru terbangun dan mereka sedang main Ludo di ponsel Meri.
Hingga Maya dapat telepon dari Dayat, ayahnya.
Kata Dayat di telepon, di depan pagar rumah ada seorang pria setengah baya yang berdiri dengan wajah bingung. Sudah beberapa kali pria tersebut mengucap salam, tetapi tak ada yang menjawab dari dalam rumah.
Setelah itu Dina berjalan keluar diikuti yang lain. Saat pintu terbuka, di depan pagar berdiri Sasan ditemani Dayat dan pak RT Andi.
"Dina," panggil Sasan.
"Bapak," sambut Dina yang terus berjalan ke arah pagar rumah untuk membuka gembok pagar.
Di tangan Dina ada membawa anak kunci.
Begitu pagar terbuka, bapak dan anak itu saling berpelukan sejenak.
"Betul kan Pak, saya ini Bapaknya Dina. Lihat, wajah kami mirip!" Sasan menunjuk ke arah wajah Dina.
Padahal antara Sasan dan Dina, termasuk jauh dari kata mirip. Namun demi membuat hati Sasan senang, Dayat dan Andi terpaksa setuju.
"Iya, Pak. Mirip banget." Dayat lalu mengajak Andi pergi main catur lagi.
Tadi keduanya sedang asyik main catur di depan rumah Andi, di jalanan gang. Begitu melihat Sasan datang malam-malam ke rumah Wati yang dihuni para anak gadis, karena Dayat bilang Maya dan Meri sedang menginap.
Karena curiga, mereka berdua mendatangi Sasan yang seperti orang bingung, berkali-kali mengucap salam tak dijawab.
Ami, Maya dan Meri pun berkenalan dengan Sasan. Waktu diajak masuk ke dalam rumah, Sasan meminta duduk di teras dulu. Mau bicara empat mata dengan Dina.
"Bapak kok bisa ke sini?" tanya Dina.
"Bapak disuruh Nini Ai ke sini, untuk bertemu dengan Suta. Kamu kenal kan Suta?" tanya Sasan.
"Yang namanya Suta kan ada banyak Pak. Aku betul ada teman bernama Suta," jawab Dina.
"Nah, kata Nini Ai, Suta yang Bapak cari itu ya Suta temanmu itu!" Sasan lalu mengeluarkan selembar kertas yang dari saku kemeja batiknya.
__ADS_1
Ya, Sasan datang dengan memakai batik dan celana panjang hitam, tetapi dia tak pakai sepatu. Hanya sendal kulit dan juga sebuah tas kecil.
Dina menerima surat itu dan dibacanya.
'Jika mau bertemu dengan anak cowokmu, temui Dina.'
"Sayangnya, surat itu Bapak temui sekitar jam 1-2 siang. Terus buru-buru ke sini. Mana Suta? Apa dia ada di sini?" tanya Sasan dengan wajah gembira.
Saat itu Ami keluar sambil membawa segelas kopi. Dia sempat mendengar pertanyaan Sasan.
"Bapaknya Dina, kok mencari Suta? Kenapa dengan Suta?" tanya Ami.
"Suta itu anakku, beda Ibu dengan Dina. Dina yang pertama lahir dan Suta yang kedua," jelas Sasan.
"Di sini memang pernah ada yang tinggal namanya Suta. Tetapi apa itu Suta anak Bapak?" tanya Ami yang berdiri di depan pintu.
Maya dan Meri lalu ikut bergabung.
"Ya, nggak tahu juga, sih. Asal aku bisa lihat tanda Suta, bisa jadi dia Suta anakku!" jelas Sasan.
"Tanda apa Pak? Tanda lahir?" tanya Maya.
"Dina, kamu masih ingat nggak apa Suta punya tanda luka itu?" tanya Maya yang teringat masa lalu saat SD dulu.
"Ya, waktu kita berenang dan kita sempat tanya, itu luka di punggung bekas apa?" Dina menimpali ucapan Maya.
"Tapi waktu itu Suta bilang tidak tahu, kan?" ucap Maya lagi.
"Gue juga pernah lihat waktu naik ke atas mau angkat jemuran karena hujan. Pikiran di atas nggak ada Suta. Ternyata dia sedang sibuk angkat jemuran. Dia nggak pakai baju. Gue lihat ada tanda panjang luka di punggung bagian kiri, dekat tulang belikat. Kalau nggak salah dari arah pundak," jelas Ami.
"Betul, betul... itu tanda luka Suta. Dia tak ingat karena kejadian itu waktu dia berusia 3 tahun. Ah, kalau ingat kejadian itu ngeri!" Sasan wajahnya sedikit pucat.
"Tapi Suta tak ada di sini," ucap Ami.
"Ke mana dia?" kaget Sasan.
"Tinggal sama marbot musholla," jawab Maya.
"Dina, mau kan antar Bapak?" Sasan menatap Dina.
__ADS_1
"Mending kita semua aja ke sana? Kan seru melihat pertemuan Bapak dan anak," saran Meri.
"Setuju!" sambar Maya.
*
Suta begitu masuk ke dalam kamar, lalu naik ke atas kasur lantai yang telah disiapkan Said. Said sudah pulas tidur, pintu tak dikuncinya hingga Suta bisa bebas masuk.
Waktu itu Suta yang banyak pikiran, berusaha untuk tidur. Namun dia hanya memejamkan mata, belum benar-benar pulas.
Sementara itu dari arah sudut musholla, tempat tumbuhnya pohon mahoni, terlihat ada sesuatu yang bergerak. Tak cuma satu, dua atau tiga. Mungkin ada belasan, puluhan atau ratusan, entahlah. Karena bayangan yang bergerak itu seperti gelombang ombak, besar dan kecil.
Bau amis tercium, hawa racun menguap ke langit. Gelombang itu bukan main-main, karena itu sekumpulan barisan ular yang mengarah ke kamar.
Di belakang barisan ular, melayang sosok berwajah cantik dengan seluruh kulit bersisik ulat hitam. Nyi Malini yang datang.
Nyi Malini lalu turun di depan barisan ular yang dalam jarak dua meter berhenti di depan pintu.
Sayangnya malam ini sedikit mendung, hingga tak ada orang yang berjalan melewati depan musholla. Meski pun begitu, juga tak akan membuat jiwa Suta dan Said selamat, kecuali jika Nyi Malini bertemu lawan.
Suta yang belum benar-benar tertidur itu bangkit duduk, ketika dia mendengar suara pintu kamar terbuka keras. Perasaan dia sudah mengunci pintu itu.
"Masuk dan habisi!"
Suta mendengar kata perintah itu. Tetapi siapa yang bicara dan untuk apa perintah itu, dia tak tahu.
Ketika Suta mau membangunkan Said, dia mencium bau amis yang kuat dan matanya terbelalak ketika melihat satu, dua, tiga ular masuk ke dalam kamar. Tak hanya itu, lalu bak air bah para ular berdatangan.
"Hah, ular!" teriak Said yang baru terbangun.
Seharusnya bisa saja mereka berdua meloncat melalui jendela, tetapi untuk itu mereka harus berkorban badan menerjang kaca jendela.
Tetapi sayangnya mereka sedang panik dan tak biasa melihat ada puluhan ekor ular masuk ke dalam kamar dan bersikap ganas menyerang mereka.
Yang bisa Suta dan Said lakukan hanyalah berteriak. Teriakan yang tak mengundang orang datang, karena begitu satu dua ekor ular mematuk mereka, racun ular membuat saraf mereka lumpuh.
Mati.
Suta dan Said mati dalam keadaan yang mengerikan, ratusan luka gigit di tubuh mereka menjadi tandanya. Tubuh mereka pun berubah menjadi hitam keunguan.
__ADS_1
"Mari kita pulang!" seru Nyi Malini yang tersenyum puas saat berdiri di depan pintu kamar.