ISTRI RAHASIA

ISTRI RAHASIA
Istri Rahasia Bab 67


__ADS_3

"Siapa Bapak?" tanya Igor menegur Abay.


"Kang Abay, panggil saja aku itu. Kamu Igor, kan?"


"Darimana Kang Abay bisa tahu namaku?" Igor tampak kaget.


"Tak perlu tahu darimana, yang pasti aku datang sebagai bintang penolong atas masalahmu. Hutangmu akan segera lunas dan dirimu tak harus kehilangan istri tercinta. Tak usah memberikan istrimu sebagai barang bayaran hutang." Abay tertawa ringan, tapi dalam hatinya dia berkata. "Cuma harus menjadi budak di kerajaan Nyi Malini."


Igor semakin kaget, dia lantas curiga.


Abay terus memandangi perubahan wajah Igor.


"Kang Abay menguping pembicaraanku dengan Jibon?" tanya Igor menyelidiki.


"Kalau kamu sudah tahu, ya aku mengaku saja. Tetapi kamu jangan takut dan kuatir, jalan yang aku berikan ini tak perlu kamu bayar. Cukup asal kamu yakin dan mau, hutangmu lunas dan malah kamu akan dapat keuntungan lainnya."


"Benarkah?" tanya Igor cepat.


"Benar. Tetapi kita bicara di tempat lain," ajak Abay yang berdiri lebih dulu.


Abay tak menengok ke belakang, karena dia percaya Igor akan mengekor di belakangnya.


Igor duduk diam beberapa detik, dia menatap punggung Abay. Setelah membuang napas berat, lalu dia berdiri dan berjalan mengikuti Abay keluar dari cafe. Semua biaya makan dan minum sudah dibayar lebih dulu, jadi tak harus repot mengantri di meja kasir.


Di parkiran, Igor melihat Abay sedang menghampiri datang dengan motornya.


"Ikuti aku ya!" pesan Abay.


Igor mengangguk pelan, lalu dia masuk ke dalam mobil sedan bututnya.


*


Dina masuk kamarnya lebih dulu. Dia enggan lama-lama nongkrong di teras rumah bersama Ami, Maya, Suta, Milo dan Adul.


Acara tahlil sudah usai. Tetapi tidak bagi para remaja itu yang asyik mengobrol di teras duduk di lantai, masih ada cukup banyak sisa kue dan buah yang belum habis.


"Itu si Dina kenapa masuk?" tanya Suta.


"Kecapaian kali. Kan tadi sibuk bikin kue bolu sama masak-masak," jawab Ami.


"Hebat, dong. Dina pintar masak, ya? Kenapa nggak ikut ajang pencarian koki yang di televisi aja? Kalau pun nggak menang, siapa tahu dia bisa jadi artis sinetron. Kan dia cantik," sahut Milo.


"Perasaan yang cantik bukan Dina aja, Ami juga tuh!" celetuk Adul.


"Hihihi, Maya juga dong. Dia selain cantik, juga tadi ikut bantu-bantu." Ami menyebut nama Maya.

__ADS_1


"Paling bantu makan, doang!" sambar Suta.


"Loh, kok tahu? Aku bagian yang makan kue bolu hangus-nya." Maya tertawa lepas.


Begitu juga yang lainnya.


Dina mendengar itu semua dari dalam kamarnya. Habisnya kelima remaja di teras rumah itu bicara dengan suara lantang. Di tambah suasana dalam rumah sepi dan sunyi. Wati sudah ada di dalam kamar terlebih dahulu.


Dina bukan sombong dan tak mau bergabung dalam waktu yang lama. Hanya saja, dia kelelahan. Bukan lelah fisik, tapi lelah hati. Mau tak mau, senang tak senang dia harus mendengar bisik-bisik para bapak yang datang mengenai ketidak hadiran Abay.


Malah ada kabar yang cukup membuat Dina kaget, ada yang masih ingat dan menyinggung tentang ketidak pedulian Abay di kala Santi meninggal dulu.


Waktu itu Dina masih anak kecil, kenangan akan masa lalu tak banyak bisa diingat. Hanya saja dia teringat satu hal, ular.


Ya, ular besar yang menanti di lubang kubur Santi. Dina ingat itu, dia ingin berteriak kala itu, tetapi ketakutannya membuat dia tak bisa bicara.


Namun berbeda dengan Sanusi, waktu mayat Sanusi bertemu dengan tanah merah lubang kubur, Dina tak melihat adanya ular besar serupa dengan yang ada di liang lahat Santi.


Sayangnya, ketika Dina sedang berpikir tentang Abay, Santi dan ular, mendadak pintu kamarnya terbuka.


"Lo gimana sih? Teman masih ada di luar, pakai masuk tanpa permisi." Ami berjalan masuk.


"Aku lelah, Kak." Dina yang sejak tadi berbaring, kini bangkit duduk dan turunkan kakinya menjejak lantai kamar.


"Iya, aku tahu salah." Dina berdiri.


"Mau ke mana?" tanya Ami yang berdiri di depan Dina.


"Keluar temui yang lain," ucap Dina.


"Telat, mereka udah pada pulang!"


"Oh!" Dina terus duduk lagi.


"Oya, Papa Abay kenapa tak datang?" tanya Ami.


"Papa bilang dia ada bisnis," jawab Dina kelu.


"Apa lo percaya?" tanya Ami yang lalu ikut duduk di sisi Dina.


"Apa Kak Ami tahu Papa berbohong?" Dina malah ajukan pertanyaan.


"Hihihi, darimana gue tahu! Urusan bohong atau jujur kan itu urusan masing-masing hati orang." Ami tertawa.


Dina membisu.

__ADS_1


"Oya, Papa Abay kasih lo uang nggak?" tanya Ami.


"Belum. Kenapa Kak?"


"Begini, gue ada rencana jalan sama Adul. Nonton gitu, deh. Nah, gue nggak punya uang. Lo punya nggak uang?" tanya Ami.


"Kak Ami mau pinjam uang?"


"Bukan, tapi minta. Nggak banyak, lima puluh ribu aja deh. Pegangan kantong, gue sih tahu Adul yang bakal bayarin. Cuma ya gue nggak enak aja, masa cuman nonton doang!"


"Kak Ami pacaran sama Adul?" kaget Dina.


"Gue cuma mau nonton doang, bukan pacaran. Kan masih kecil!" Senyum Ami mengembang.


"Oh, apa iya?" Dina tak percaya.


"Urusan gue, lo nggak usah ikut campur deh! Lo tenang aja, gue itu udah paham... masih kecil itu tugasnya belajar menuntut ilmu. Tapi bukan berarti tak boleh berteman kan? Lagian gue nggak berdua, ada Maya, Milo sama Suta juga ikut. Kalau lo mau ikut juga boleh," jelas Ami.


"Aku malas Kak." Dina lalu berdiri dan berjalan ke meja belajarnya.


Tangan Dina mengambil satu buku, dia buka halaman buku tepat di tengah-tengah. Tersimpan dua lembar uang seratus ribuan.


"Ini buat Kak Ami!" Dina serahkan selembar.


"Ikhlas kan?" tanya Ami.


Dina tak menjawab.


"Ok, gue tidur dulu! Terima kasih ya, Din!" Ami pun keluar dari kamar Dina.


Dina lalu kembali ke kasurnya untuk berangkat tidur. Tanpa dia tahu, jika Ami saat ini sedang tertawa di belakangnya.


*


Di taman bunga dan bermain yang berada di perempatan jalan, di depan pagar taman berdiri beberapa lapak warung makanan. Ada sekitar lima lapak tenda yang menjual makanan dan minuman berbeda. Ada yang jual sate, pecel ayam dan lele, nasi bakar, nasi goreng dan ada gerobak pedagang kopi.


Abay mengajak Igor berhenti di depan gerobak pedagang kopi. Tetapi mereka memilih duduk bersandar pagar taman yang alasnya diberi spanduk bekas.


Di dekat mereka sudah tersedia dua gelas kopi dan dua piring sate ayam tanpa lontong, yang turut di pesan.


"Begini, aku punya kenalan namanya Ki Jabaya. Bisa dibilang dia juru kunci untuk mendapatkan harta, tak perlu bekerja. Kamu juga tak usah takut, tak ada tumbal," jelas Abay.


"Apa pesugihan?" tanya Igor.


"Ya, bisa dikata begitu. Gimana, apa kamu mau?" Abay menatap Igor. Tangannya memegang satu tusuk sate.

__ADS_1


__ADS_2