
Kehadiran Dina dan Abay disambut gembira Sasan, Ami, Maya dan Meri. Keempat orang itu baru saja usai berdoa setelah isya, kala Dina dan Abay masuk ke dalam rumah.
Tetapi ketika melihat keadaan Abay yang seperti orang linglung, suasana kegembiraan pun sedikit berkurang.
"Aku bawa Papa Abay ke kamar dulu!" ucap Dina dan dia menyentuh tangan Abay.
Saat mereka menyusuri jalan pulang, Dina dan Abay tak bersentuhan tangan. Namun saat ini, ketika tangan Abay tersentuh Dina, dia menjerit.
"Tidak, jangan Santi... jangan Santi yang kamu ambil Nyi Malini!" teriak Abay.
"Nyi Malini itu siapa?" tanya Ami.
Abay yang mendengar suara Ami, lalu menengok. Wajahnya pun memucat, tapi hanya sesaat dan kemudian dia terlihat senang.
"Poppy!" Abay memeluk Ami.
Namun mendadak pelukan itu dilepaskan Abay, karena lengannya sudah tak lagi tersentuh Dina.
"Kamu siapa? Kamu bukan istriku, Poppy," ucap Abay ketus.
Ami dan Dina kaget. Kenapa bisa Abay menyebut Poppy, mamanya Ami sebagai istrinya.
Maya dan Meri meski tahu Ami punya ibu yang tak pulang-pulang, tetapi mereka tak kenal siapa namanya. Sasan, dia tak paham jalan cerita Abay karena sudah sangat lama tak bertemu, terakhir bertemu kala dia mencari Lala dan Suta yang masih kecil dulu.
"Aku ini Ami, anak dari Poppy. Apa betul Papa menikah dengan Mamaku?" tanya Ami dengan wajah aneh.
Abay tak menjawab, kepalanya terangkat dan menatap ke sekeliling ruangan. Dia merasa asing dengan keadaan ini, meski sebenarnya dia sudah sering ke rumah Wati. Itu saat dia masih sadar dulu.
Waktu ini, meski jiwa Abay telah terlepas dari perbudakan Nyi Malini, bahkan dia pun bisa berjalan-jalan di dunia lagi, tapi keadaan dirinya berubah. Kesadaran Abay banyak menghilang, bisa sembuh jika Dina sering-sering memegang tubuhnya.
Namun Dina tak tahu akan hal itu, begitu juga Abay.
"Katakan, apa Papa menikah sama Mamaku?" teriak Ami sambil memegang kedua lengan Abay dan mengguncang-guncangnya.
Tetapi Abay tetap diam. Dia menatap kosong pada Ami.
"Katakan Pa, di mana Mama? Di mana Mama?" tanya Ami histeris.
"Kak Ami, nanti aku jelaskan. Tapi sebaiknya Papa Abay istirahat dulu. Sepertinya dia sedang sakit," ucap Dina sambil memegang kedua bahu Ami.
Ami menatap Dina, lalu dia mengangguk dan melepaskan tangan Abay.
Dina lalu mengambil koper Abay dan menarik masuk ke dalam kamarnya. Abay seperti robot saja, ke mana Dina pergi dia pun ikut.
Sesampainya di dalam kamar, Dina meminta Abay untuk duduk diam di tepi ranjang.
Abay menurut, lalu dia duduk diam seperti patung. Menatap ke arah Dina dengan sinar mata yang tak bergairah.
Dina yang mau keluar dari dalam kamar, hanya bisa menghela napas. Lalu dia menutup pintu dan melihat Ami yang melambaikan tangan ke arahnya.
__ADS_1
Ami berdiri di depan pintu bekas kamarnya yang dulu. Melihat Dina berjalan mendekat, dia pun masuk lebih dulu.
Sebelum Dina masuk, ada terdengar suara sapa dari tamu undangan pengajian. Sasan menjawab, dia saat ini bertindak sebagai wakil tuan rumah.
Sementara itu mata Dina masih sempat melirik Maya dan Meri berpindah tempat ke bagian dalam rumah, karena pengajian Yasin sudah mau dimulai, buat Suta dan Said yang mati bersamaan.
Di dalam kamar, Ami duduk di atas kasur merapat tembok. Dina pun naik ke atas kasur.
"Lu tahu apa yang terjadi sama Mama gue?" tanya Ami.
Dina mengangguk.
"Ya, jangan cuma mengangguk! Ngomong, dong!" pinta Ami.
"Mama Poppy sudah meninggal," ucap Dina.
Ami menangis. Air matanya turun tanpa bisa dibendung.
"Apa lu tahu gimana Mama gue bisa meninggal dunia?" tanya Ami.
Dina menggeleng.
"Lu aneh!" Ami menatap marah. "Lu bilang tadi Mama gue meninggal dunia, tapi lu sekarang jawab nggak tahu cara apa Mama gue melepas jiwanya. Yang benar yang mana ini?"
"Kak Ami mau kan janji, jangan sampai bocor cerita ini." Dina menatap Ami serius.
"Iya, gue sumpah nggak akan bocor!" Ami cepat ucapkan janjinya, karena dia ingin cepat-cepat tahu gerangan apa yang terjadi pada Poppy.
"Jadi Papa Abay bersekutu dengan jin ular. Nyi Malini itu?" tanya Ami selepas Dina bercerita.
"Iya, Kak."
"Oh, tapi gue belum percaya sebelum dengar langsung dari mulut Papa Abay," ucap Ami.
"Tapi Papa seperti orang linglung, kehilangan kesadaran. Gimana cara bikin dia ketawa?" tanya Dina bingung.
"Tadi gue lihat, pas lu sentuh tangan Papa Abay, dia bisa bicara jelas. Mungkin lu harus sentuh dia lagi kali," saran Ami.
"Baik, nanti kita coba ya Kak. Setelah pengajian." Dina setuju.
Ami mengangguk.
*
Hujan air mata terjadi di dalam kamar Dina. Tak hanya Ami yang menangis, tapi juga Dina.
Abay dengan berterus terang menceritakan tentang pesugihan yang dia jalani, lalu juga tentang tumbal yang harus dia berikan pada Nyi Malini.
Tak lupa Abay ceritakan pula apa yang terjadi pada Poppy. Sementara itu tangan Dina terus menempel di punggung papa tirinya itu.
__ADS_1
"Waktu Papa melihat mayat Mamamu hati ini hancur, batin menangis. Kehilangan anak dari benih Papa sendiri, anak yang mungil dan bisa jadi Adikmu," ucap Abay.
"Mamamu yang dalam keadaan hamil muda, mati dengan perut robek besar. Itu semua ulah Nyi Malini. Tapi Papa bawa uang yang banyak buat kamu, ada perhiasan emas juga. Itu di dalam koper!" Abay menunjuk ke kopernya. "Ambil Amy, ambil buat kamu semua!"
"Percuma Pa, nyawa Mama tak akan kembali meski dibayar dengan harta seluruh yang ada di bumi ini. Biarlah, aku sudah ikhlas," ucap Ami yang duduk di depan Abay, dia duduk dengan bangku belajar Dina.
"Tapi kamu lihat dulu apa yang ada di koper itu!" desak Abay.
Ami mengiyakan, dia lalu berjalan ke arah koper. Dina tak lepaskan tangannya dari punggung Abay, sebelumnya dia sudah berkata pada Abay cukup duduk saja.
Waktu koper terbuka, ketiga pasang mata menatap heran. Tak ada uang, yang ada hanyalah lembaran kulit ular.
Abay melompat berdiri dan memburu ke arah kopernya. Mungkin karena cukup lama Dina menyentuh tubuhnya, Abay masih punya sedikit kesadaran.
Tangan Abay cepat membuka kotak perhiasan dan waktu dibuka, isinya sisik ular dan juga batu sungai.
"Mana uangnya? Mana emasnya? Mana?" teriak Abay dan setelah itu dia mendadak bengong. Kembali ke asalnya.
"Sudah cukup Dina!" Ami berdiri dan berlalu dari kamar Dina. "Oya, rahasia ini tak akan pernah bocor keluar, kamu tenang saja ya Adikku yang cantik!"
Dina bengong, ucapan Amy tadi sangat lembut, tetapi membuat dia berpikir ada apa gerangan dengan Amy.
Dina pun menyuruh Abay tidur, baru dia keluar dari kamar.
*
Esok harinya, di jam makan siang.
Dina dan Sasan baru saja keluar dari warung nasi yang berada tak jauh dari gang rumah, ketika mereka bertemu dengan Marina, ibunya Maya.
"Loh, kenapa beli nasi? Kan bisa makan di rumah Mama," ucap Marina ke Dina.
"Terima kasih Ma. Nggak enak, di rumah kan ada empat mulut yang harus makan," ucap Dina.
"Mau sepuluh mulut juga tak masalah. Eh, iya... di rumahmu apa banyak tikus Dina?" tanya Marina yang dari tas kresek yang dia bawa, seperti baru pulang dari minimarket.
"Tidak, kenapa Ma?" tanya Dina.
"Tadi waktu Mama masuk ke minimarket kalau nggak salah 15-20 menit lalu, melihat Ami lagi bayar obat racun tikus di kasir. Dia bilang ke Mama, di rumah lagi banyak serangan tikus," ucap Marina.
"Papa Abay!" Dina berlari terlebih dahulu ke rumahnya.
Saat Dina sampai di rumah, dia temukan Abay dan Amy sama-sama tergeletak dengan mulut mengeluarkan busa di ruang tamu, di atas tikar yang rencananya nanti malam akan dipakai lagi untuk pengajian.
Di dekat keduanya ada dua gelas kosong dan selembar kertas.
Ketika Dina membuka lipatan kertas, dia temukan satu kalimat pendek.
'Maafkan aku Dina. Rumah ini jadi milikmu.'
__ADS_1
END