
Abay datang ke rumah Wati, ketika waktu isya baru masuk. Sementara dia menunggu di teras rumah, karena Wati sedang sholat. Ami keluar dari dalam rumah.
"Eh, ada Papa Abay. Kok, nggak masuk ke dalam Pa?" tanya Ami.
"Habisin ini dulu!" Abay perlihatkan rokoknya.
"Memangnya Papa nggak ada niat berhenti gitu?" Ami menatap Abay.
"Iya, nanti berhenti kalau udah nggak bisa lagi hisap rokok." Abay tersenyum.
"Oh, itu mah udah mati, dong! Orang mati mana bisa lagi merokok," ucap Ami berani.
"Hahaha, lagian Papa juga merokok nggak sering-sering, kok. Oya, kamu mau ke mana? Jangan bilang mau pacaran, ya! Kamu masih kecil." Abay matikan rokoknya.
"Idih, siapa juga yang mau pacaran. Sekarang ini aku sekedar berteman kok, Pa. Tetapi kalau ada cowok yang suka sama aku, masa iya aku larang." Ami duduk di kursi sebelah Abay. "Aku rencananya mau ke rumah Maya."
"Oh, begitu."
"Oya, Pa... aku mau cerita!" seru Ami dengan wajah serius.
"Cerita apa?" Abay menduga dalam hatinya, Ami mau cerita tentang pertemuan dengan Nyi Malini.
"Aku curiga sama Dina," ucap Ami sebelum memulai cerita.
"Curiga atas dasar apa?" tanya Abay penasaran.
"Curiga kalau manusia ular yang aku lihat semalam itu kiriman Dina," jawab Ami memulia dengan usahanya menjelekan Dina.
"Manusia ular apa?" Abay pura-pura kaget. "Terus apa hubungannya dengan Dina?"
Ami menarik napas panjang terlebih dahulu, lalu dia benarkan posisi duduknya agar lebih nyaman. Setelahnya dia baru mulai mendongeng.
"Jadi semalam itu aku tak bisa tidur Pa. Begitu melek mata, kira-kira jam dua belasan gitu, eh ada manusia ular nongkrong di depan pintu. Cantik, seksi tapi dingin dan kejam. Terus...."
"Apa lagi?" serobot Abay.
"Terus dia bilangan, aku mau dia korbankan. Tapi yang aku bingung, masa iya manusia ular itu sebut Mamaku ada di istananya dan yang nyuruh dia itu Papa Abay." Mata Ami menatap tajam.
Abay kaget setengah mati. Tetapi itu hanya di dalam hatinya. Namun untuk menutupi rasa bersalahnya, dia wajib membantah.
__ADS_1
"Itu bohong!" seru Abay.
"Ya, aku juga yakin manusia ular itu bohong. Papa Abay aja baik padaku, sering kasih uang. Masa iya Papa Abay yang suruh manusia ular itu. Karena itu aku menebak, ini pasti ulah Dina!" tegas Ami.
"Tetapi kenapa kamu tuduh Dina?" tanya Abay.
"Aku tak menuduh, ini berdasarkan fakta yang aku temui. Oya, sebelum itu... aku diserang si manusia ular. Tetapi usahanya gagal, meski aku tak begitu tahu apa yang terjadi karena aku pingsan. Namun aku yakin, Dina yang gagal membuat aku celaka berpura-pura baik dengan membangunkan aku dari pingsan."
Abay lantas tahu, jika dia ingin mengorek rentang bayangan halus orang tua yang keluar dari dalam tubuh Dina, sesuai cerita Nyi Malini, maka tak bisa diketahui dari mulut Ami.
"Nah, sekarang kita bicara fakta ya, Pa. Fakta pertama, Dina tidak takut sama binatang ular. Fakta kedua, dia pergi dari rumah ini, tentunya setelah usahanya membunuh diriku gagal!" tegas Ami penuh keyakinan.
Abay tak berkomentar. Karena dia tahu pasti apa yang diucap Ami ini tak masuk hitungan. Nyi Malini gagal karena Ami sudah tak lagi perawan akibat selaput daranya pecah karena kecelakaan. Terus juga bukan Dina yang menyuruh Nyi Malini, tetapi dirinya.
"Tetapi aku maafkan Dina kok, Pa. Pada dasarnya Dina itu anak baik, tak seperti aku yang jahat dan tak disukai Oma." Ami mulai jalankan aksi berikutnya. Menangis itu senjata utamanya.
"Kamu jangan nangis, setidaknya kamu bisa selamat kan?" bujuk Abay.
"Iya, Pa. Tetapi aku ingin minta maaf sama Dina, jika aku punya kesalahan kenapa harus dibayar dengan nyawaku, apa tak cukup aku minta maaf?" Ami terus saja menangis.
Abay bingung sendiri. Dia tak tahu cara membujuk Ami, sebab dia saja tak pernah bujuk Dina. Karena Dina tak pernah seperti Ami, menangis di depannya.
"Oma mana mau percaya Pa! Oma kan sayang sama Dina. Aku ini masih di sini karena aku tak punya tempat tinggal lain. Udah gitu, aku juga sayang sama Oma. Cuma balasan Oma... ah, sudahlah Pa! Sebaiknya aku pergi main ke rumah Maya." Ami dengan cepat berhenti menangis. Lalu berdiri siap untuk berangkat.
"Tunggu!" tahan Abay..
"Ada apa Pa?" tanya Ami.
"Buat kamu jajan malam ini!" Abay keluarkan uang dua lembar seratus ribuan.
Tentu saja Ami dengan senang hati menerima. Namun dia menjual nama Maya di hadapan Abay.
"Wah, Maya pasti senang malam ini bisa jajan makan bakso. Terima kasih ya Pa!" Ami pun berjalan dengan langkah lebar.
"Ah, iya... kenapa aku tak ingat Maya. Dia kan mudah untuk jadi korban. Tinggal kasih uang agak banyak saja ke dia," desis Abay.
"Eh, tapi tidak, jangan! Maya teman Dina, aku tak mau membuat Dina bersedih hati." Abay geleng-geleng kepala.
Ketika itulah Wati muncul dari dalam rumah. Tadinya dia bermaksud ingin menutup pintu yang dibiarkan Ami terbuka. Tetapi saat dia melihat Abay duduk di teras rumah dan bermaksud menyalakan rokok lagi, dia pun menegur ayah tirinya Dina itu.
__ADS_1
"Kapan kamu datang Bay?" tanya Wati sambil berjalan ke arah kursi teras yang kosong.
"Sejak tadi Bu. Waktu Ibu sholat Isya," jawab Abay jujur.
"Kamu mau kopi?" Wati siap berdiri.
"Tidak, tadi sore udah minum kopi, Bu."
Wati mengangguk.
"Oya, tadi sore di telepon Ibu cuma bilang mau bicara hal penting dan suruh aku ke sini. Ada apa ya Bu?" tanya Abay.
"Sebelumnya Ibu minta maaf, maksud Ibu itu mau pinjam uang untuk bangun kamar di atas. Ya nggak perlu pakai bahan beton, cukup bikin lantai atas itu dengan bahan kayu," ucap Wati.
"Kamar buat siapa Bu?"
"Suta."
"Suta itu siapa?" tanya Abay dengan wajah bingung.
"Itu, temannya Dina eh bukan... saudara se-Ayah sama Dina. Yang tadi pagi ada di sini dan mendapatkan telepon rumahnya kebakaran," jelas Wati.
"Suta saudara se-Ayah sama Dina?" Wajah Abay semakin bingung, namun hanya sesaat saat dia teringat pada Sasan. "Apa Suta anak dari Sasan?"
"Menurut pengakuannya begitu. Almarhumah Ibunya, bernama Lala. Kamu kenal?" tanya Wati.
"Apa? Lala sudah meninggal dunia?" Abay benar-benar kaget.
"Iya, Lala jadi korban kebakaran bersama suami dan adiknya Suta."
Abay termenung. Walau dia tak terlalu dekat dengan Lala, setidaknya Lala itu teman satu kampung dengannya.
"Karena itu Ibu berniat mengajak Suta tinggal di sini. Di rumah ini tak ada yang berjenis kelamin pria. Ya, hitung-hitung tenaganya bisa dipakai buat menjaga rumah. Untuk pakai kamar Dina, Ibu pikir tak baik. Karena Dina akan pulang 2 tahun lagi. Menurutmu gimana?" tanya Wati.
"Aku setuju, tapi aku punya satu syarat dan Ibu harus berjanji," ucap Abay.
"Baik, apa yang harus Ibu janjikan?" tanya Wati.
"Jangan cerita ke Dina, kalau Suta itu saudara se-Ayah dengannya. Nah, silahkan Ibu berjanji!" pinta Abay.
__ADS_1
Wati meski tak tahu apa maksud Abay, namun dia sudah terlanjur setuju untuk berjanji. Keputusan yang membuat celaka di masa depan nanti.