
Ketika Abay masuk ke dalam rumahnya, yang dia temukan adalah ular. Ular yang banyak.
Ada ular yang memenuhi kursi ruang tamu yang jarang diduduki manusia, di atas meja, melingkar di lampu gantung, di lantai dan di mana tempat. Hampir seluruh bagian dalam rumah berisi ular.
Kepala para ular terangkat ketika Abay membuka pintu. Lidah mereka terjulur keluar masuk dan sebagian dalam posisi siaga.
Abay dilanda rasa takut. Dia ingin kabur, tetapi tempat teraman saat ini ya rumahnya. Tak akan ada orang yang berani masuk ke dalam rumahnya.
Sebab Abay pernah mendengar rumor, rumahnya itu angker. Jadi hal ini menguntungkan buat dirinya.
"Masuk ke kamar!"
Suara Nyi Malini terdengar dan itu membuat Abay semakin takut.
Tetapi Abay teringat akan pesan Nini Ai, Dina akan datang ke rumahnya.
Karena itu dengan memberanikan diri, Abay melangkah masuk ke dalam rumah. Para ular yang tadinya menutupi jalan, kini menyingkir dan memberi celah bagi kaki Abay maju selangkah demi selangkah.
Namun Abay masih berada dalam kurungan ular.
Ketika mendekati kamarnya, Nyi Malini merayap keluar dari dalam kamar. Wajahnya begitu menyeramkan dengan sorot mata tajam dan sisik ular memenuhi mukanya. Rambutnya pun terdiri dari ular-ular kecil berwarna hitam dan putih.
Tak ada kata cantik di bentuk Nyi Malini saat ini. Tak ada kata seksi di bentuk tubuhnya saat ini, karena seluruh bagian tubuhnya memiliki sisik ular, sisik warna hitam dan putih.
Manusia ular Nyi Malini berdiri dengan ekornya di depan Abay.
"Kamu tahu apa salahmu?" tanya Nyi Malini.
"Ya, istriku," jawab Abay merayu.
"Aku sudah bukan lagi istrimu, aku musuh bagimu. Karena kamu hampir saja membuat aku celaka tiga kali Abay." Nyi Malini melotot.
Abay menundukkan kepalanya.
"Tiga kali pula kamu gagal memberikan aku tumbal. Meski aku mencintaimu, tetapi aku harus tetap memberi hukuman bagimu."
Abay masih terdiam.
"Kamu harus menerima takdirmu, ikatan janji yang kita buat. Mari, ikut aku dan menjadi budak di istanaku sampai tiba hari akhir nanti."
Abay tetap terdiam.
"Anak-anakku, laksanakan hukuman!" Nyi Malini lalu mendesis.
__ADS_1
Abay tersentak kaget. Tadinya dia berpikir Nyi Malini paling akan mencekik dirinya seperti di rumah Wati tadi.
Tetapi nyatanya tidak.
Yang disebut anak-anak oleh Nyi Malini itu para ular beraneka macam warna dan bentuk. Saat Nyi Malini mendesis dengan nada tinggi tadi, para ular bergerak menyerang Abay.
Beberapa ekor ular mematuk kedua kaki Abay, hingga dia terjatuh. Lalu tubuhnya pun dikerumuni ular, hingga membentuk bukit ular.
Nyi Malini tertawa terkekeh-kekeh.
Tak lama terlihat Abay bangun berdiri. Tetapi bukan badan kasarnya, yang berdiri itu badan halus dari Abay.
Ketika badan halus Abay dalam kebingungan, mendadak muncul dua manusia ular lainnya. Satu memegang tombak berujung tajam dan satu lagi membawa rantai.
Abay tahu dia tak bisa melarikan diri. Karena dirinya ditodong ujung tombak.
Hingga Abay membiarkan lehernya diikat rantai, lalu tangannya pun terikat rantai. Begitu juga kakinya terikat rantai di kedua pergelangan dan anehnya entah darimana datangnya, di rantai kakinya itu ada lagi rantai pendek yang membawa bola besi.
Ujung rantai yang membelenggu tangan pun dipegang salah satu manusia ular. Sementara manusia ular yang lainnya berdiri di belakang Abay dengan ujung tombak berada di punggung Abay.
Sebenarnya tanpa diancam dengan tombak sekalipun, Abay tak akan mungkin bisa lari. Karena bola besi yang terikat di rantai kakinya itu sudah membuatnya sulit berlari.
"Bawa dia ke penjara terlebih dahulu!" perintah Nyi Malini.
Kemudian Abay diseret pergi dari hadapan Nyi Malini.
Nyi Malini sekali lagi melihat bukit ular yang tercipta di dalam rumah Abay.
"Anak-anakku, jaga dengan baik tubuh kasar Abay," ucap Nyi Malini lalu dia menghilang.
***
Suta merapikan bajunya yang sekiranya layak dia bawa. Lalu tak lupa membawa gitar miliknya. Dia telah bersiap untuk pergi dari rumah Wati. Karena merasa Wati tak akan bisa kembali sehat.
Tujuan Suta itu musholla untuk tinggal bersama Said, penjaga musholla. Sesuai kesepakatan antara Pak RT dan bapaknya Maya.
*
Dina dan Meri telah sampai di rumah sakit. Saat mereka mau melewati pintu lobi rumah sakit, Dina melihat penampakan dia yang telah lama tak ditemuinya, dia Bwalika adanya.
Bwalika berdiri di sudut luar lobi rumah sakit. Dari tempat Dina berdiri menghadap pintu lobi, maka Bwalika ada di sudut kiri.
"Meri, aku ada teman. Kamu masuk lebih dulu, ya!" bisik Dina.
__ADS_1
"Teman, teman siapa? Apa aku kenal?" tanya Meri.
"Tidak, kamu tidak kenal dia. Aku pergi dulu!" Dina tak menunggu jawaban Meri.
Karena saat itu Bwalika telah berjalan pergi.
Meri sejenak melihat Dina berjalan ke arah parkiran, setelah itu dia masuk ke dalam lobi rumah sakit. Setelah bertanya pada suster jaga, dia pun mengarah ke ruangan di mana Wati dirawat.
Sementara itu Dina terus mengikuti Bwalika yang mengajaknya ke tempat yang sepi. Di bawah sebuah pohon di parkiran rumah sakit, ada sebuah bangku besi yang cat-nya sudah banyak terkelupas.
Bwalika duduk di situ. Lalu Dina menyusul duduk.
"Kak Lika," panggil Dina.
"Bagaimana hasil belajarmu dengan Nini Ai?" tanya Bwalika menatap serius Dina.
"Aku tak bisa bilang aku sudah lulus. Tetapi setidaknya aku bisa memahami beberapa hal," ucap Dina.
"Bagus. Nah, kamu tahu siapa itu Nini Ai?" tanya Bwalika lagi.
"Guruku," jawab Dina dengan kening berkerut. Dia merasa heran dengan pertanyaan Bwalika.
"Betul, tetapi dia juga Nenekmu. Adik dari Kakekmu. Juga teman dari Ibu dari Abay," terang Bwalika.
"Oh, Nini Ai itu Nenekku sendiri?" kaget Dina. Namun dalam hatinya dia percaya keterangan Bwalika, karena perhatian Nini Ai lebih dari sekedar guru terhadap murid, lebih mirip seorang nenek pada cucunya.
"Ya, dia Nenekmu." Bwalika mengangguk.
Sejenak suasana hening tercipta.
"Oya, kamu harus berhati-hati dalam hidupmu, terutama masalah cinta," ucap Bwalika.
"Aku saat ini sedang tak memikirkan cinta," ucap Dina.
"Itu bagus. Hanya saja berhati-hati dengan pria yang berada di dekatmu. Jika dia mulai tunjukkan rasa cintanya, kamu harus segera menghindar."
Dina baru mau bertanya, tetapi Bwalika mengatakan dia harus segera pergi. Karena dia merasa ada sesuatu hal yang aneh sedang terjadi dan bermaksud mencari tahu.
"Saat aku sudah dapat kabar baru, aku akan mendatangimu lagi."
"Tapi Kak, apa aku harus percaya pada Kak Lika?" tanya Dina tajam.
"Hihihi, itu urusanmu. Karena aku paham, aku adalah jin dan tipu daya jin itu besar adanya." Bwalika tak merasa marah.
__ADS_1
Setelah Bwalika pergi, Dina kembali berjalan ke arah lobi rumah sakit dan dia bertemu seseorang yang berjalan keluar dari rumah sakit.