
Suta pulang dengan wajah kecewa. Saat ini sudah jam 10 malam. Hampir 2 jam bertemu dengan Dina dan hasilnya nol besar.
Entah Suta yang terlalu terburu-buru? Atau memang Dina tak pernah punya hasrat untuk mencintainya selayaknya kekasih?
Ketika tiba di depan pintu kamar halaman musholla, tempat Suta dan Said tidur. Suta tak langsung masuk, dia duduk di bangku kayu panjang yang menempel tembok kamar, di sebelah pintu masuk kamar yang tertutup.
Mata Suta menatap langit. Langit cerah malam itu tak membuat hatinya senang.
Suta masih terpikir kejadian setelah pengajian usai. Tepatnya 15 menit setelah tahlil untuk Wati rampung.
*
Jam 8.25 malam.
Dina bersama Maya dan Meri dibantu Suta baru saja selesai beres-beres bekas pengajian. Piring-piring yang masih berisi makanan disatukan. Buah jeruk yang masih utuh dimasukan ke dalam plastik, begitu juga buah salak.
Sampah bekas plastik kue, kacang kulit, kulit buah jeruk dan salak dan abu rokok disatukan dalam satu plastik. Gelas bekas air mineral dikumpulkan juga dalam satu plastik khusus, buat nanti kalau ada pemulung yang beruntung boleh bawa pulang limbah gelas plastik.
Setelah itu, Maya dan Meri pun mulai masak nasi goreng. Tadinya Dina mau bantu, tetapi Suta meminta waktunya.
Meski Dina sebenarnya enggan, tapi dia tak kuasa menolak.
Sementara itu Ami sejak tadi tidur di dalam kamar, dia terlalu lelah dan kebanyakan berpikir. Hingga tanpa sadar, dia pun tertidur lelap.
"Ada apa Suta?" tanya Dina menemani Suta duduk di lantai teras yang masih terpasang tikar. Belum dirapikan.
"Selama 2 tahun ini kamu ke mana saja?" tanya Suta.
"Loh, kamu mau apa tahu itu?"
"Sekedar mau tahu, apa tak boleh?"
"Boleh saja. Ok, aku jawab jujur, selama 2 tahun itu aku tinggal bersama Papa kandungku."
"Maksudmu, Papa Abay bukan Papa kandungmu?"
"Iya, dia Papa tiriku."
"Oh, enaknya. Aku juga punya Papa kandung. Tetapi entah di mana dia dan namanya aku lupa. Hanya ingat Sa... Sani, Sandi, Samsul. Entahlah, aku lupa!" Suta menepuk pelan kepalanya sendiri.
Kalau saja Dina sebut nama Sasan, mungkin Suta akan kaget. Namun tidak, Dina tak menerangkan dan Suta juga tak bertanya.
"Kalau kamu memang sudah bertemu dengan Papa kandungmu, kenapa masih pulang ke sini? Apa karena kangen aku?" tanya Suta.
__ADS_1
"Idih, kepedean. Nggak lah, aku mau bertemu Oma Wati dan juga Papa Abay."
"Oma Wati orang baik. Selama 2 tahun aku tinggal di rumah ini, tak pernah aku kena omel. Papa Abay juga baik, beberapa kali aku suka dikasih uang jajan berlebih." Suta menatap ke dalam rumah.
Terkenang oleh Suta, ruang tamu merupakan tempat favoritnya, dia bisa berbicara banyak dengan Wati. Terutama meja makan, dia bisa makan sebanyak yang dia mau.
Sejenak kedua remaja itu larut dalam kenangan akan kehidupan masa lalu. Saat masih bersama Wati.
"Oya, Dina... apa kamu sudah punya pacar?" tanya Suta mendadak.
"Pacar? Aku belum kepikiran akan hal itu!" Dina menggeleng.
"Kalau teman dekat pria?" tanya Suta lagi.
"Loh, kamu kan temanku. Dekat sih nggak, tapi ya aku menghormatimu."
"Kalau semisalnya aku minta lebih dari itu?" tanya Suta yang ingin tahu apa dia punya kesempatan untuk mendapat cinta Dina atau tidak.
"Minta foto apa tanda tangan? Kalau itu, aku bukan artis. Jadi maaf, aku tak bisa kasih!" Dina tersenyum.
"Bukan itu, tapi aku ingin kamu jadi pacarku, apa kamu mau?" Suta menatap Dina. Dia bukan pria romantis, jadi dia tak tahu cara untuk membuat hati seorang anak gadis berbunga-bunga.
"Nggak mau. Kamu itu sudah jadi bagian keluarga ini. Karena Oma Wati pun sayang padamu."
"Maaf, aku tak bisa. Meski kita tak punya hubungan darah sekalipun, tapi aku belum mau pacaran. Hidupku masih cukup panjang."
"Kalau nanti, setelah kita sama-sama dewasa? Saat aku sudah punya pekerjaan dan usia kita sudah cukup untuk membina keluarga, apa kamu mau?"
"Kamu lucu! Selesaikan dulu sekolah kita dan jangan bicara terlalu jauh akan jodoh. Kita masih kecil, pikiran gampang berubah." Dina menggeleng.
"Tapi hatiku tak akan berubah Dina. Asal kamu tahu, ada banyak anak gadis yang suka padaku. Tetapi aku tolak, karena hatiku hanya buat kamu."
"Oh, apa aku harus merasa bangga dan senang akan itu? Tidak, Suta. Aku sudah kenal kamu sejak jaman SD dulu, sejak itu pula kamu sahabatku. Aku tak mau dari temen jadi demen, dari sahabat jadi terikat. Lebih baik kamu sama Yuri saja, dia gadis yang cantik."
"Kenapa kamu bawa-bawa Yuri?"
"Karena dia bilang padaku, kamu sudah mengikat dia. Itu artinya kamu sudah berikan sesuatu padanya. Aku tak menyangka, kamu masih kecil tapi kok bisa kepikiran untuk memberikan cincin pertunangan ke Yuri," ucap Dina.
"Cincin pertunangan? Cincin apa?" Suta tak mengerti.
Ketika itu terdengar teriakan Meri.
"Nasi goreng udah jadi, ayo kumpul makan!"
__ADS_1
Pembicaraan Suta dan Dina berhenti, mereka masuk ke dalam ruang tamu yang sama dengan di teras, tikar masih tergelar.
Sementara itu Maya masuk ke dalam kamar Wati yang ditiduri Ami. Dia bangunkan Ami untuk sama-sama makan nasi goreng.
"Loh, memang udah selesai acara ngajinya?" tanya Ami yang berjalan di belakang Maya.
Ami pikir, dia hanya tidur baru 5-10 menit saja.
"Udah jam 9 malam lebih, Kak. Jadi udah usai sejak tadi," jawab Dina.
"Wah, aku ketiduran. Oya, Suta kok masih di sini?" Ami menatap Suta.
"Mau makan nasi goreng dulu, Kak. Lapar nih!" Suta usap perutnya.
"Cobain deh Kak. Ini hasil dari aku sama Maya yang masak," ucap Meri.
"Wah, apa rasanya enak?" Ami mulai duduk. Tadi dia bicara sambil berdiri, sementara yang lain sudah duduk.
Ami duduk diapit Meri dan Maya. Sementara Suta bersebelahan dengan Dina.
"Moga-moga sih nggak keasinan," jawab Meri.
"Ya, udah. Ayo, di makan. Oya, Meri dan kamu Maya, terima kasih sudah mau masak nasi goreng yang kelihatannya enak," ucap Ami.
"Sama-sama, Kak." Maya mewakili Meri.
"Kak Ami, ayo duluan nyendok nasi gorengnya!" seru Dina.
Saat itu nasi goreng berada di dalam mangkuk besar. Sementara itu ada juga lima piring dan lima sendok. Lima gelas air mineral pun disiapkan Suta.
Nasi goreng bercampur telor dan irisan cabai rawit di dalamnya terlihat menggoda, lalu ada juga irisan kol mentah yang ditaruh di pinggir mangkuk. Yang kurang itu bawang goreng dan kerupuk.
Namun Ami yang mendapat kehormatan untuk menyendok nasi goreng terlebih dahulu, malah mengalah dan menyuruh yang lain lebih dulu.
Setelah makan nasi goreng, tak ada kesempatan buat Suta untuk bicara empat mata dengan Dina. Hingga dia pun pulang.
*
"Cincin pertunangan," desis Suta yang teringat akan ucapan Dina.
"Ah, apa cincinku ada sama Yuri!" Suta pun teringat akan cincinnya yang hilang.
Suta lalu masuk ke kamar dan besok pagi dia berencana menemui Yuri, meminta kembali cincinnya.
__ADS_1
Namun tanpa dia sadari, ada beberapa pasang mata yang menatap ke dirinya dari sudut musholla yang tertanam pohon mahoni.