
"Aku tak mau ribut ya, Kak," ucap Dina kesal.
"Apa lu? Lu mau bilang gue jahat apa? Yang jahat Papa lu, tuh! Mana dia, nggak nongol sampai sekarang?" Ami malah menyalahkan Dina dan Abay.
"Aku mana tahu!" Dina mengangkat kedua pundaknya.
"Tahu lu apa memang? Lu enak-enakan di rumah Maya, sementara gue di sini sibuk berbenah. Tahu diri dong lu, beres-beres rumah ini, kek. Sama beresin tuh kamar bekas Suta. Kalau lu mau tinggal di sini, lu tidur di atas. Kamar lu sama kamar gue, mau gue sewain aja. Gue pindah ke kamar Oma!" Ami lalu pergi.
Entah perasaan Dina senang atau marah. Sebab dia menyadari satu hal, meski Ami galak padanya, ternyata tidak mengusirnya pergi.
"Dina, habis beres-beres jangan lupa mandi. Udah sore!" teriak Ami dari dalam kamar Wati.
Dina tertawa kecil, dia teringat masa kecilnya dulu. Waktu menjelang sore, Wati akan berteriak.
"Dina udahan mainnya dan jangan lupa mandi. Udah sore!"
*
Suta baru saja selesai membersihkan kamar mandi musholla. Ketika dia mendatangi kamar Said. Dari dalam kamar muncul Said yang membawa dua gelas kopi, serta seplastik gorengan.
"Pas banget kamu selesai kerja. Ayo, ngopi dan makan gorengan dulu!" ajak Said.
"Terima kasih, Pak."
Suta lalu duduk di sebelah Said, di bangku panjang bersandar tembok kamar. Ada meja kecil di depan mereka, sebenarnya tak pantas di sebut meja, karena itu meja itu limbah dari papan gulungan kabel, berbentuk bulat dan tak terlalu besar. Tetapi lebih dari cukup untuk menaruh gelas kopi maupun plastik gorengan.
Said mengambil gorengan bakwan, sementara Suta mengambil pisang goreng.
Keduanya asyik makan, belum ada yang membuka mulut memulai pembicaraan.
"Gimana, senang tinggal di sini?" tanya Said.
"Senang, Pak. Kan tak hanya dapat tempat buat tidur, tapi juga dapat makan."
"Jangan lupa, kamu masih bisa terus sekolah!" sambung Said.
Suta mengiyakan.
"Tapi kamu tak masalahkan harus bantu bersih-bersih di sini?" tanya Said.
"Aman, Pak."
"Oya, aku mandi sore dulu, ya!" Said meneguk sedikit kopinya, lalu berdiri untuk mandi sore.
Suta makan gorengan sekali lagi, baru setelah itu dia masuk ke dalam kamar. Kamar yang mulai nanti malam akan dia tempati bersama Said.
Suta bergerak ke arah tas miliknya yang berisi baju. Dia belum dapat lemari pakaian, jadi bajunya masih di dalam tas.
__ADS_1
"Suta."
Suta yang baru mau membuka tas, batal karena mendengar suara panggilan. Dari suaranya, pak RT Andi yang datang.
Begitu Suta keluar kamar, dia melihat Andi tak sendiri. Ada Adit anaknya Andi yang baru berusia 13 tahun, tetapi badannya besar.
Selain itu ada sebuah lemari plastik kabinet 4 pintu susun, warna biru.
"Suta ini lemari buat tempat baju kamu," ucap Andi.
"Wah, Pak RT hebat. Kok, bisa tahu aku butuh lemari." Suta memuji Andi.
"Hebat darimana Bang, kan Papa udah ngobrol sama Pak Said, kalau tak ada lemari buat baju Bang Suta," jawab Adit.
"Nah, itu betul." Andi tertawa.
"Bang, gorengan masih banyak. Bagi, ya!" pinta Adit.
"Hush, nanti kita beli." Adit melotot pada Adit.
"Nggak apa-apa, makan aja Dit." Suta memberi ijin kepada Adit.
"Ya udah, kamu yang betah di sini. Bantu Pak Said, setelah kamu lulus sekolah nanti, kamu mau tetap tinggal di sini atau pergi terserah kamu. Tapi pastikan dulu, kalau mau pergi harus sudah punya pekerjaan, biar nggak hidup luntang lantung," jelas Andi.
"Ya, Pak. Terima kasih atas nasihatnya." Suta tersenyum senang.
"Bang, aku pulang dulu ya." Adit melambaikan tangan yang dibalas Suta.
Suta membalas, lalu dia mengangkat lemari plastik ke dalam kamar.
Setelah menaruh lemari di sebelah lemari pakaian kayu milik Said, Suta lalu membuka tasnya lebar-lebar. Dia memasukkan bajunya ke dalam lemari, berikut buku pelajarannya di rak paling bawah.
Saat itulah Suta terlihat bingung. Waktu Said masuk ke dalam kamar, dia melihat Suta sedang mencari sesuatu di dalam tas.
"Barang berhargamu ada yang hilang?" tanya Said.
Suta mengangkat kepalanya, lalu mengangguk.
"Wah, kok bisa? Setahuku, tak ada yang berani masuk kamar ini. Kalau kita lagi di musholla, pintu kamar juga digembok," jelas Said.
"Sebenarnya sih tak berharga banget sih, Pak. Aku kehilangan cincin batu biasa aja, kok."
"Kalau biasa, kenapa wajahmu seperti itu?" tanya Said.
"Seperti apa Pak?"
"Kusut kayak kanebo kering. Sudah mandi sana, sudah mau maghrib."
__ADS_1
"Iya, Pak."
Suta lalu mengambil handuknya dan berjalan ke arah kamar mandi. Dalam perjalanan itu, dia teringat Yuri.
*
Nyi Malini mendadak membuka matanya, dia melihat ada tiga gadis ular yang berjalan masuk ke dalam kamar pribadinya. Tampak gadis ular yang berada di tengah-tengah itu seperti pesakitan.
"Ada apa ini?" tanya Nyi Malini.
*
Bwalika terlihat seperti sedang mencari sesuatu. Dia merayap hilir mudik di sekitaran rumah Abay.
Saat itu Bwalika berwujud ular dan berada di dalam tanah kosong yang dipenuhi semak belukar, rumput yang tumbuh setinggi lutut, pohon mangga yang sepertinya sudah tak berbuah lagi.
Tanah yang sudah lama kosong dan berada di depan rumah Abay, di seberang jalan.
Hanya saja Bwalika tak tahu, apa rumah yang terlihat sepasang mata ularnya itu rumah Abay apa bukan.
Namun Bwalika curiga, karena itu dia mengubah wujudnya menjadi gadis yang cantik, tetapi tetap bukan gadis yang bisa terlihat manusia.
Tanpa disadarinya, di belakang Bwalika di atas dahan pohon mangga yang cukup tinggi duduk dua gadis ular yang lain.
Ketika Bwalika menyebrang jalan menuju rumah Abay, kedua gadis ular itu meloncat turun.
Saat menjejak tanah, kedua gadis ular itu terus saja merayap pelan mengikuti Bwalika yang juga merayap dan sudah sampai di depan pintu rumah Abay.
Bwalika sejenak berhenti, tangannya agak gemetar ketika mau melewati pintu. Sebab hidungnya telah mencium bau busuk ular yang sangat kuat.
Tetapi dengan paksakan diri, Bwalika menerobos pintu rumah Abay. Begitu kepala Bwalika menerobos daun pintu, dia melihat sekumpulan ular membentuk seperti bukit dan dia sempat melihat ada sepasang kaki.
"Oh, apa ini rumah Abay?" desis Bwalika.
"Hei, siapa kamu?"
Bwalika terperanjat, dia cepat memutar tubuhnya. Kepalanya yang tadi sempat menerobos pintu, sudah ditariknya kembali dan dia melihat sepasang gadis manusia ular berdiri di depannya.
"Dina, rumah Abay di dekat kuburan!" pekik hati dan pikiran Bwalika.
Lalu Bwalika berusaha melarikan diri, karena dia merasa tak akan menang dari kedua gadis ular.
*
"Dina, rumah Abay di dekat kuburan!"
Dina yang sedang menyusun buah jeruk di atas piring, kaget dan melempar jeruk di tangannya.
__ADS_1