ISTRI RAHASIA

ISTRI RAHASIA
Istri Rahasia Bab 108


__ADS_3

Dina menangis. Kabar yang baru dia terima dari Mery dibantu bicara Sekar ibunya, sungguh mengguncang hati Dina yang rindu pada Wati.


Wati sakit dan masuk rumah sakit.


Saat ini Dina duduk menatap hujan yang masih turun dengan derasnya diikuti badai angin dan petir yang beberapa kali menyambar turun.


Bentuk petir seperti ular di mata Dina. Ular, teringat itu Dina terkenang pada Bwalika. Sejak dia bersama Nini Ai, Bwalika tak pernah hadir.


Meri tuan rumah baru saja keluar dan menemui Dina yang duduk seorang diri di teras. Di kedua tangan Meri ada mangkuk berisi mie rebus campur telur dan irisan kol serta toge, tak lupa ada potongan cabai dan juga bawang goreng.


Di belakang Meri menyusul si kecil Marko, yang sudah tumbuh besar. Dua tahun lalu, Marko baru berusia 5 tahun.


"Kak Dina makin cantik! Jempol, deh!" Marko yang baru menaruh toples kerupuk ke meja teras, terus saja memuji dan berikan dua jempol pada Dina.


"Eh, anak kecil udah tahu mana yang cantik. Udah gede mau jadi apa?" celetuk Meri.


"Kak Meri yang terpaksa aku bilang cantik, kalau udah gede nanti aku mau jadi pemain bola main di luar negeri." Marko tepuk dadanya sendiri.


"Lah, lah, lah... kenapa terpaksa bilang Kakak cantik, apa alasannya?" tanya Meri dengan wajah sedikit kesal pada adik bungsunya itu yang berbeda cukup jauh, 10 tahun.


Meri seusia Dina, tetapi tidak terlalu akrab seperti Maya dengan Dina. Karena mereka berbeda sekolah dan di rumah pun, Meri lebih sering berada di dalam rumah. Sedikit kutu buku, meski tak memakai kacamata.


Waktu itu, kesedihan hati Dina sedikit terobati berkat pembicaraan Meri dan Marko. Ditambah pula, hidungnya sudah mencium aroma bawang goreng yang menggugah selera.


"Kalau aku bilang Kak Meri jelek, nanti Mama dong yang ajarin aku belajar. Ngeri, Kak... cubitan Mama pedas kayak makan sambal," ucap Marko serius.


"Terus juga, kan aku butuh uang jajan tambahan dari Kakak. Jadi ya, aku puji deh Kak Meri cantik, meski kalah cantik sama Kak Dina," ucap Marko menambahkan.


Dina tertawa kecil. Dia dari dulu sedikit suka sama Marko yang cerewet dan bawel. Dulu itu dia sering mengamati waktu Marko main sama temannya dan terdengar yang paling ramai ya Marko.


"Udah, sana masuk ke dalam! Ini Kak sama Kak Dina mau bicara urusan anak gede!" Meri melotot pada Marko.


Marko segera berlari masuk.


Di atas meja teras, ada dua mangkuk mie rebus, toples kerupuk kecil-kecil warna merah muda, lalu sebotol air yang sudah ada sejak tadi dan dua gelas.


"Dasar itu bocah, kebanyakan nonton film yang pemerannya cewek cantik. Udah gitu, guru di sekolahnya juga cantik, sih. Itu bocah jadi tambah semangat belajar, jarang bolos!" ucap Meri sedikit memuji Marko.

__ADS_1


"Namanya juga cowok, naluri untuk memuji cewek cantik. Seperti kita, memuji cowok ganteng," ucap Dina yang mencoba menimpali ucapan Meri.


"Ngomong-ngomong ganteng, kamu tahu kalau Oma Wati itu mengasuh cowok ganteng dan tinggal di lantai atas rumah?" tanya Meri.


Pertanyaan yang tentu saja dijawab tidak oleh Dina.


"Katanya sih temanmu waktu sekolah dulu. Itu loh, Suta. Dia ganteng loh sekarang," ucap Meri melanjutkan.


"Suta tinggal sama Oma?" kaget Dina.


"Eh, makan dulu, yuk! Nanti kalau dingin, mie malah nggak enak!" Meri serahkan mangkuk mie ke tangan Dina.


*


Hujan sudah berhenti sejak tadi. Suta pun sudah berada di rumah Yuri. Ingin meminta cincin yang dia pinjamkan itu, hatinya yang mengatakan dirinya harus mendatangi Yuri.


Saat Suta datang, Yuri baru saja mau pergi dengan temannya yang sudah duduk di atas motor listrik.


"Bang Suta," panggil Yuri dengan wajah senang.


Teman Yuri itu seorang anak gadis juga. Sepasang bola matanya tertuju pada Suta, ada sinar keheranan sekaligus memuji Suta.


"Iya. Tapi sebentar aja kok, cuma mau beli makanan kecil teman nonton drama Asia," jawab Yuri.


"Yuri, kalau gitu biar aku aja yang berangkat sendiri, deh!"


"Maaf ya, Bestie. Aku kedatangan Bang Suta, nih!" Yuri tersenyum pada Suta.


Suta mengeluh dalam hati. Dia mengerti arti senyum dan tatapan Yuri. Gadis itu jatuh cinta padanya.


"Iya, paham. Tapi ingat, jatuh cinta boleh belajar jalan terus!" kekeh temannya Yuri yang segera berangkat.


"Bang Suta, masuk yuk!" ajak Yuri yang wajahnya berselimut warna merah, malu karena godaan temannya tadi.


"Di sini aja. Aku juga tak lama, kok. Cuma mau minta cincin yang kemarin," ucap Suta melirik ke arah jari Yuri. Cincin itu ada di jari manis kiri si gadis.


"Ya, kirain cincinnya buat aku. Hihihi. Tapi gini, aku mau kasih asal Bang Suta masuk dan dengar ceritaku!" tegas Yuri.

__ADS_1


"Cerita apa?" tanya Suta penasaran.


"Tentang kejadian semalam."


Suta yang ingin tahu, lalu setuju untuk duduk di teras rumah Yuri dan mendengar gadis manis itu bercerita.


Yuri memberikan kopi terlebih dahulu untuk Suta, baru dia mulia bercerita.


"Jadi semalam itu ada kejadian horor, aneh dan menakutkan. Tetapi waktu itu juga, aku merasa timbul keberanian!" Yuri memulai ceritanya.


"Kejadian apa?" tanya Suta.


"Aku didatangi wanita ular yang cantik, Bang. Udah begitu dia bilang aku mau dijadikan tumbal. Tetapi aku melawan. Bang Suta tahu nggak gimana cara aku melawan?"


"Gimana caranya?"


Yuri memperlihatkan tinjunya.


"Aku tinju Bang. Karena tanganku ini seperti pakai sarung tinju bersinar hijau keputihan. Begitu aku tinju sekali, manusia ular itu pergi. Eh, itu dia!" Yuri meloncat kaget, lalu berlari ke arah pagar rumah.


Suta ikut berlari dan dia masih sempat melihat bayangan Abay yang membonceng sepeda motor.


Suta pun menatap curiga Yuri.


"Bang Suta, itu tadi Bapak yang dibonceng itu, aku curiga padanya!" Yuri menunjuk ke Abay yang sudah pergi jauh.


"Curiga kenapa?" tanya Suta bingung.


"Kemarin itu, waktu aku pulang sekolah. Bapak itu mendadak berikan aku hadiah uang. Dia bilang padaku, aku cantik dan cocok tinggal di istana. Aku tertawa waktu itu. Aku tolak pemberian uangnya, tetapi Bapak itu bilang, dia tulus kasih uang padaku. Katanya juga, kalau pun aku tak mau terima kan bisa dikasih ke orang lain. Setelah itu dia pergi."


"Terus apa kaitannya dengan curiga yang kamu miliki? Suta bertanya lagi, meski dia sedikit meraba ucapan Yuri. Abay ada kaitan dengan si wanita ular.


"Si wanita ular itu bilang, aku mau dijadikan budak di istananya," jawab Yuri tegas.


Suta bengong. Kini dia dapat memahami sedikit hal, Abay memang ada kaitannya dengan manusia ular itu. Tetapi apa garis besarnya.


Suta melamun dan saat itulah dia mengucap sesuatu.

__ADS_1


"Pesugihan!" desis Suta.


__ADS_2